Cinta Vania

Cinta Vania
Lapaskan tanganmu


__ADS_3

Sudah dua hari sejak kepergian Devan ke London. Namun lelaki itu belum juga menghubungi ataupun mengirimkan pesan padanya. Vania merasa gusar karena sejak kemarin ponsel milik Devan juga tidak bisa dihubungi. Setiap ia menghubungi Ronald untuk menanyakan keadaan suaminya, jawabannya selalu sama


"Tuan sedang ada meeting, Nona. Saya akan memintanya untuk menghubungi anda"


Namun kenyataannya tak ada satupun penggilan dari Devan yang sampai di ponselnya.


"Kamu belum tidur, sayang?" tanya Mama Karin yang melihat lampu kamar yang masih menyala dan pintu kamar putrinya masih terbuka sebagian. Ia melihat putrinya sedang duduk di atas tempat tidur dengan ponsel di tangannya.


"Belum, Ma" kata Vania menoleh.


Mama Karina masuk dan duduk di samping putrinya, "kenapa?".


"Mas Devan sampai sekarang belum bisa dihubungi, Ma. Aku takut terjadi sesuatu sama dia" Kata Vania cemas sambil kembali menatap layar ponselnya.


"Berfikir positif, sayang. Mungkin dia memang lagi banyak kerjaan. Doakan saja semuanya baik-baik saja" kata Mama menasehati.


Vania menganggukkan kepalanya meski hatinya terasa berat.


"Tidurlah... sudah malam, mungkin besok pagi Devan menghubungimu" kata Mama Vania agar putrinya tenang. Ia keluar dari kamar putrinya dengan meninggalkan kecupan singkat di kening Vania.


*****


Di tempat lain, Devan yang baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan Royal Company yang dipimpin oleh Stella segera keluar menemui Ronald yang sedang mengurus surat-surat dengan asisten Stella.


"Tuan muda, Nona Vania berulang kali menghubungi saya menanyakan keadaan anda" kata Ronald ke Devan.


"Sial,,, Jadwal disini begitu padat hingga aku lupa untuk menghubunginya" kata Devan cemas. Ia melirik ke arah jarum jam yang ada di tangannya. waktu menunjukkan pukul lima sore waktu London, itu artinya di Jakarta sekarang pukul dua belas malam. Ia tidak mungkin menghubungi istrinya selarut itu karena hanya akan mengganggu jam istirahatnya saja. Perbedaan waktu antara Jakarta dan London membuat komunikasi diantara mereka terganggu.


Devan dan Ronald akan kembali pulang. Namun langkahnya terhenti saat Stella memanggilnya.


"Permisi Mr. Devan" panggil Stella.


"iya" Devan menoleh dan menunggu Stella berjalan ke arahnya.


"Bisakah kita pergi bersama untuk sekedar minum?" pinta Stella.


Ya, wanita itu belajar beberapa bahasa dua tahun terakhir ini. Tak heran jika ia bisa mengucapkan bahasa yang Devan pakai meski masih sedikit kaku.

__ADS_1


"Terimakasih Mrs. Tapi saya sangat lelah dan harus pulang untuk istirahat. Lain kali akan saya usahakan untuk menerima tawaran anda" kata Devan ramah.


"Oh...oke..don't worry"


"Saya permisi dulu Mrs...."


"Oke..hati-hati"


Devan dan Ronald melangkah meninggalkan Royal Company untuk pulang menuju mansion.


Devan merebahkan diri diatas tempat tidurnya setelah selesai membersihkan diri. Ia meraih ponselnya yang sudah dua hari ini tidak diperhatikannya. Ada beberapa panggilan dan puluhan pesan whatsapp masuk dari nomor istrinya. Dengan cepat ia membuka pesan itu. Pesan terakhir tertulis "hubungi aku kapanpun kamu ada waktu". Devan merasa bersalah mengabaikan istrinya. Ada rasa sedih dan rindu ingin mendengar suaranya. Ia melihat room chat Vania. Wanita itu terakhir aktif lima belas menit yang lalu. Ia ingin menghubungi Vania tapi takut jika istrinya itu sudah tidur.


Devan beralih ke story whatsapp Vania. Istrinya itu setengah jam yang lalu baru saja mengunggah foto sebuah langit-langit ruangan dengan penerangan yang minim dengan caption emoticon sedih.


Dengan cepat Devan menghubungi Vania. Tak butuh waktu lama panggilan itu tersambung.


"Hallo Assalamualaikum" Terdengar suara serak Vania di seberang telepon seperti orang sedang terisak.


"Waalaikumsalam. Kamu kenapa, yang?" Devan khawatir Vania kenapa-napa.


"Aku nggak apa-apa, Mas" Vania sedikit berbohong. Padahal saat ini ia sedang menangis karena rasa rindu dan khawatirnya pada suaminya.


"Enggak, Mas"


"Bohong. Aku video call ya"


"Enggak, mas. Udah begini aja" tolak Vania karena takut ketahuan kalau ia memang sedang menangis.


"Maaf ya dua hari ini aku tidak menghubungimu. Aku harus mengurus pekerjaan disini yang begitu padat"


"Iya mas, aku ngerti"


"Kenapa jam segini belum tidur?"


"Aku belum ngantuk, Mas"


"Jaga kesehatanmu, jangan sampai aku pulang nanti kamu malah sakit"

__ADS_1


"Iya Mas, kamu jadi pulang besok?"


"Sepertinya akan mundur, yang. Mungkin aku baru akan sampai Jakarta Sabtu pagi. Setelah itu aku akan mengajakmu ke Bandung"


"Baiklah..." jawab Vania kecewa.


"Ya sudah tidurlah... jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu"


"Iya Mas, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam".


*****


Siang harinya di gedung SA Group, Alline datang mewakili ayahnya untuk pertemuan membahas kontrak kerja. Seorang pegawai lobby mengarahkan Alline untuk menuju lantai tiga menemui pak Romi karena kontrak kerja dan semua yang berkaitan dengan perusahaan yang bekerja sama dengan SA Group sudah Devan limpahkan untuk sementara pada pak Romi selama ia berada di London.


Alline merasa kesal karena ia harus berhadapan dengan lelaki tua dan bukan Devan. Ia ingin segera menyelesaikan pertemuan yang baginya sangat membosankan itu.


Alline berjalan menuju pintu ruangan Pak Romi setelah bersalaman. Ia berjalan keluar ruangan. Diliriknya dua wanita yang duduk di meja kerja samping ruangan pak Romi yang semula hanya ada satu orang, kini masing-masing sudah ada penghuninya yang sedang sibuk menatap layar komputernya. Ia melihat wajah yang begitu ia benci. Tanpa basa-basi Alline menghampiri dan menggedor meja Vania membuat Vania dan Maya terkejut.


"Alline...apa maksudmu?" kata Vania setelah melihat pelakunya adalah orang yang dikenalnya.


"Hey wanita ja*ang, sudah lah tidak usah berpura-pura lagi. Jadi ini tujuanmu menikah dengan atasanmu? agar kau bisa mendapatkan jabatan yang tinggi di kantor ini, huh? Aku tak menyangka kau begitu murahan" Alline menghina Vania seenaknya di depan Maya.


Maya yang mendengar temannya dihina menjadi geram. Ia berdiri dari duduknya. "Nona Alline, tolong jaga sikap anda. Ini di kantor kami. Anda sebagai tamu disini"


"Bukan urusanmu... Lagi pula apa kau tidak salah membela wanita murahan ini?" bantah Alline menyedekapkan kedua tangannya di atas perutnya.


"Benar-benar anda ini tidak punya sopan" Maya semakin emosi karena ucapan Alline.


"Apa? Kau mau apa?" Tantang Alline.


"Alline ... cukup. Tolong pergi dari sini atau aku akan memanggil pihak keamanan untuk mengusirmu" sahut Vania.


"Kau!!!!" tunjuk Alline yang kemudian mencondongkan badannya dan menarik kuat rambut Vania hingga pemiliknya meringis kesakitan sambil memegang rambutnya. Ia ingin melawan namun posisinya yang masih duduk di kursi di balik meja membuatnya susah untuk bergerak.


"Nona, lepaskan tanganmu" bentak Maya sambil membantu melepaskan tangan Alline dari rambut Vania.

__ADS_1


"Ada apa ini?" teriak pak Romi yang baru saja keluar dari ruangan ya karena mendengar suara kekacauan di luar.


__ADS_2