Cinta Vania

Cinta Vania
Jangan menghilang


__ADS_3

Sudah seminggu sejak kepergian Devan ke Kalimantan. Lelaki itu belum juga memberikan kabar sedikitpun pada istrinya. selama tujuh hari itu juga Vania tak begitu bersemangat menjalani aktifitasnya di resto.


Vania yang baru pulang dari resto duduk di lantai kamarnya sambil menatap foto Devan layar ponselnya. Ia ingin menghubungi langsung nomor suaminya, sayangnya ia sudah menghapus nomor itu sejak tiga tahun lalu. Ia hanya menyimpan nomor mama dan kakaknya saat pergi meninggalkan Jakarta.


Vania membuka sosial media yang Devan miliki. Namun sama saja, lelaki itu tampak tak meninggalkan jejak selama seminggu yang lalu.


Vania semakin gusar. Ada rasa takut Devan meninggalkan dan melupakannya. Sesaat air matanya menetes diiringi oleh guncangan tubuhnya yang cukup kuat karena rasa takut dan cemas.


Rindu dan cemas. Iya, rasa itulah yang kini menghinggapi benaknya.


Satu-satunya yang bisa ia mintai informasi hanya Ronald. Tapi Vania tak punya akses apapun untuk ke lelaki itu.


Vania menghempaskan tubuhnya diatas kasur busa kamarnya. Ia tengkurap dan membenamkan wajahnya di bantal yang biasa ia gunakan tidur. Suara tangisnya terdengar semakin terisak karena tak mampu lagi menahan rasa sesak di dadanya.


Samar-samar ia mendengar dering panggilan dari ponselnya. Ia sudah tak berniat melihat dan mengangkat panggilan itu karena yakin tak mungkin Devan yang melakukannya.


Suara dering itu terus saja berbunyi tanpa dijawab oleh penerimanya hingga tak terdengar lagi. Vania sudah tak peduli keadaan di sekitarnya. Ia terus saja pada posisinya tanpa bergerak sedikitpun dengan air mata yang sudah membasahi bantalnya.


Suara dering panggilan untuk yang ketiga kalinya membuat Vania mendongakkan wajahnya. Ia mencoba meraih ponsel yang tergeletak di samping kasur busanya.


Panggilan suara dari nomor baru. Itulah yang coba di baca oleh Vania. Vania menggeser tombol hijau dan meletakkan ponsel itu di telinganya tanpa bersuara.


"Hallo sayang, Assalamualaikum"


Terdengar suara yang sangat familiar di telinganya. Sontak membuat Vania bangun dan duduk.


"Waalaikumsalam, mas" jawab Vania dengan suara masih terisak dan air mata yang semakin deras.


"Hey, kamu kenapa?" tanya Devan terdengar khawatir dan cemas.


"Enggak apa-apa. Kenapa baru telepon?"


"Maaf, sayang. Ponselku jatuh dan rusak. Jadi aku harus menunggu di perbaiki dulu baru bisa menghubungimu"


"Kenapa nggak beli baru aja"


"Aku bisa saja membeli baru, sayang. Semua data kerjaku juga bisa ku pindah di ponsel baru. Tapi bagaimana denganmu? nomor kamu terlanjur ku simpan di memory telepon. Aku nggak mungkin membiarkan begitu saja tanpa mengetahui kabarmu"


"Kamu nggak bohong, kan?"

__ADS_1


"Kapan aku aku pernah berbohong padamu, sayang. Sekarang katakan padaku. Apa yang terjadi padamu? kenapa suaramu terdengar seperti sedang menangis?"


"Enggak ada. Aku hanya merasa sedikit lelah bekerja" kata Vania berbohong.


"Kamu sakit? kamu itu harusnya nggak boleh terlalu capek"


"Enggak"


"Terus kenapa menangis?"


"Aku nggak kenapa-kenapa, mas" jawab Vania seakan memaksa suaminya untuk berhenti bertanya.


"Baiklah kalau begitu angkat panggilan Videoku"


Vania menatap layar ponselnya. Benar saja, Devan mengubah panggilannya ke video. Namun Vania mengabaikan dan menolaknya. Ia tidak ingin Devan melihatnya menangis. Terlalu memalukan baginya jika suaminya tahu ia menangis karena merindukannya.


"Kenapa malah ditolak? Aku ingin melihatmu, yang".


"Udah begini aja, mas"


"Kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku? sampai nggak mau angkat panggilan videoku"


"Bukan, mas. Aku______"


"Baiklah" jawab Vania malas. Ia menatap layar ponselnya dan mengubah panggilannya ke video.


"Kenapa wajahmu tak terlihat. Atur kameramu dengan benar" kata Devan karena saat panggilan video tersambung ia hanya bisa melihat tembok dan sprei.


Vania menggerakkan kamera ponselnya hingga wajahnya dapat dijangkau oleh penglihatan Devan.


"Nah, gitu dong. Kan aku bisa lihat wajah istriku" kata Devan tersenyum. "Eh tunggu, kenapa matamu bengkak? hidungmu juga memerah. Kamu benar habis menangis kan?" lanjut Devan.


mendengar pertanyaan Devan, Vania kembali meneteskan air matanya.


"Kamu kenapa, sayang?"


"Aku merindukanmu. kamu nggak ada hubungi aku seminggu ini" jawab Vania tanpa malu-malu lagi. Ia semakin terisak saat mengucapkannya.


Devan tersenyum senang mendengar jawaban Vania. Ia merasa gemas dengan tingkah manja Vania yang selama ini ia rindukan.

__ADS_1


"Maafkan aku, sayang. Pekerjaan disini hampir selesai. Aku janji akan segera menjemputmu dan membawamu pulang"


"Kapan?"


"Aku belum bisa memastikannya, sayang. Tapi pasti dalam waktu dekat. Jangan nangis lagi ya, jangan bikin aku tidak fokus disini karena terus memikirkanmu"


"Jangan menghilang tanpa kabar lagi"


"Iya, sayang. Udah sekarang istirahat ya, sudah malam. Besok aku kan menghubungimu lagi".


"Iya, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Vania merasa lega setelah mendapat panggilan dari suaminya. Kini ia bisa tidur nyenyak tanpa harus memikirkan ketakutan lagi.


****


Sementara di tempat yang jauh disana, Devan senyum-senyum sendiri setelah menghubungi istrinya. Perasaan haru dan bahagia terasa di hatinya setelah mendengar pengakuan Vania. Ia tak menyangka tiga tahun lebih berjauhan membuat istrinya semakin manja dan bucin.


"Aku benar-benar tidak sabar menanti lusa untuk segera menjemputmu, sayang" kata Devan menatap foto istrinya yang dijadikan wallpaper di layar ponselnya.


*****


Seperti janjinya, Devan selalu menghubungi istrinya di saat waktu senggang. Meski hanya sebatas mengobrol menanyakan kegiatan dan aktifitas yang dikerjakan oleh Vania.


Pagi berikutnya Vania menuju ke resto dengan mengendarai taksi karena ban motornya kempes. Hari ini ia tak perlu pergi ke mall untuk menjemput Juna karena Sherin sudah membawanya terlebih dulu ke resto.


"Hari ini nggak ke resto cabang?" tanya Vania ke Sherin.


"Enggak, gue lagi pengen menghabiskan waktu disini aja sama Juna. Capek kalau harus wira-wiri" jawab Sherin


"Hahaha....tumben Lo kenal sama capek. Lo inget nggak dulu waktu hamil Juna, masih aja kesana kemari nyetir sendiri mantau resto cabang. Sampai akhirnya Lo maksa gue buat belajar nyetir biar gue sekalian jagain Lo" kata Vania mengingat perjuangannya saat pertama kali tinggal di kota kelahiran Juna.


Sontak Sherin ikut tertawa mendengarnya. Dulu ia memang mati-matian maksa sahabatnya itu agar bisa jadi supir sekaligus bodyguard buat dia yang sedang hamil. Dan kini, bisa dikatakan bahkan Vania justru lebih mahir dalam mengendalikan kendaraan bermotor tersebut dibanding Sherin.


Mereka saling bertukar cerita sambil tertawa mengingat kejadian waktu hamil Juna dulu.


"Mami, Juna mau eskim mami" kata Juna menarik ujung baju Sherin mengentikan tawa dua wanita cantik itu.

__ADS_1


"Oh, astaga... aku sampai lupa melupakan anak tampanku", ucapnya sambil menghapus ujung matanya yang sedikit basah karena terlalu asyik tertawa. "Mbak, tolong bawakan Juna semangkok kecil ice cream ya" katanya ke salah satu pegawainya.


"Baik, Bu"


__ADS_2