Cinta Vania

Cinta Vania
Dia milikku


__ADS_3

"Siapa itu" teriak Leo membuat semua orang yang ada disana beralih menatap ke arah pintu yang sudah didobrak.


"Lepaskan istriku" kata Devan melirik ke arah Vania. "Dan, kau baj*ngan" katanya menunjuk ke arah lelaki yang tadi datang. "Aku tak menyangka kau berani mengkhianati ayahku dan perusahaan".


Ya, laki-laki itu adalah Frans, Asisten dari Ayah Satria yang ternyata adalah sepupu dari Leo. Selama ini ia menyembunyikan identitasnya dimana tidak ada yang tahu jika ia bule berdarah Indonesia - London. Mereka mengira Frans adalah orang asli London mengingat wajah dan cara bicaranya yang sudah seperti orang asli London.


Frans yang identitasnya kini diketahui oleh Devan menjadi terkejut. Namun sesaat ia mampu kembali mengalihkan rasa terkejutnya menjadi dingin.


"Kalian yang terlalu bodoh dan percaya dengan orang lain" jawab Frans.


Devan hanya menyebutkan bibirnya dengan wajah yang sulit ditebak. Ia tersenyum licik diikuti guratan kecil di dahinya.


"Waktu kalian tidak lama. Sebaiknya kalian menyerahkan diri sebelum polisi menangkap kalian" kata Devan.


"Omong kosong apa yang kamu katakan. Siapa yang bisa menangkap orang hebat sepertiku. Kalaupun atas kasus penculikan, aku akan bebas dengan mudah hanya dengan sebuah jaminan. Hahaha" kata Leo diiringi gelak tawa.


"Benarkah?" tanya Devan dengan senyum meremehkan.


"Apa maksudmu" sahut Leo sedikit meninggi.


"Aku punya banyak bukti tentang bisnis ilegal dan penipuan yang kau lakukan. Semua tentang kejahatanmu" kata Devan dengan senyum entengnya.


Leo tertawa mendengar pengakuan Devan yang baginya hanya bualan belaka. Ia mengira lelaki yang menjadi saingannya itu hanya menggertak saja untuk menakutinya.


"Terserah kalau kau tak percaya. Dan sekarang, aku minta cepat lepaskan istriku" perintah Devan tegas.


"Istri kau bilang? Dia milikku yang kau rebut" bantah Leo.


"Omong kosong apa yang kau ucapkan. Aku tak pernah merebutnya dari siapa-siapa. Dia wanitaku dan selamanya menjadi milikku"


"Hahaha.... Benarkah? Apa aku tidak salah dengar? Dulu mungkin milikmu, tapi mulai sekarang dia akan menjadi milikku"

__ADS_1


"Sudah cukup kau ingin menghancurkanku dengan memanipulasi proyek milik perusahaanku. Tapi tidak untuk Vania. Aku tidak akan tinggal diam".


Leo berjalan mau mendekati Devan. Ia berdiri tepat berhadapan dengan lelaki yang menjadi saingannya itu.


"Kau bisa apa? huh?" tanya Leo yang kemudian tanpa aba-aba meninju perut Devan hingga membuat lelaki bertubuh tegap itu hampir saja tersungkur jika tubuhnya tidak seimbang.


"Mas...." Teriak Vania terkejut karena suaminya ditinju oleh Leo.


Devan dengan cepat menegakkan kembali tubuhnya dan membalas memukul Leo.


"Bar*ngsek" maki Leo yang kemudian memundurkan langkahnya. "Kalian cepat hajar dia" serunya ke para anak buahnya untuk menghajar Devan.


Devan pun terlibat adu jotos dengan orang-orang Leo yang berjumlah lima orang. Cukup mudah baginya untuk mengalahkan lima orang itu mengingat tubuh kekarnya yang sudah terlatih ilmu beladiri dengan baik.


Kini hanya tersisa Frans dan Leo sebagai lawan Devan. Leo menyuruh Frans untuk maju melawan Devan. Namun Frans yang tahu bagaimana hebatnya ilmu beladiri Devan memilih mundur dan takut. Namun Devan tak tinggal diam. Ia justru semakin mendekati Frans dan melampiaskan kekecewaannya pada pria itu dengan menghajar dan memukul lelaki berkulit putih itu. Frans jatuh tersungkur dengan wajah yang babak belur. Tangannya melingkar di perutnya yang terasa sakit akibat pukulan Devan yang begitu keras.


"Hebat juga kau ternyata" kata Leo menarik salah satu sudut bibirnya. Ia tak menyangka anak buah yang menurutnya ahli adu jotos itu mampu dikalahkan oleh Devan dengan mudah.


Devan terkejut melihat leher istrinya yang begitu dekat dengan benda tajam yang siap menebas lehernya. Ia bergerak melangkahkan kakinya hendak menyelamatkan istrinya. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah teriakan keluar dari mulut Leo.


"Diam atau ku gores pisau ini di lehernya" kata Leo.


"Tidak. Kau tak akan mungkin berani melakukan itu untuknya" kata Devan.


"Kenapa tidak. Lagipula dia juga tidak mau memilihku. Bukankah lebih baik baginya untuk mati saja" kata Leo yang diikuti dengan tawa lepasnya.


Ya, lelaki itu mungkin memang sudah gila. Ia sudah tak peduli pada keselamatan Vania yang katanya ia cintai. Padahal sebelumnya ia menentang siapapun anak buahnya yang mencelakakan Vania. Seketika Devan menghentikan langkahnya dengan perasaan cemas. Takut-takut jika tiba-tiba Leo melakukan hal yang tidak diinginkannya pada Vania.


"Leo, tolong jangan sakiti dia" pinta Devan dengan ekspresi sayu.


Leo tertawa mendengar permintaan Devan. Ia merasa puas menemukan kelemahan lelaki yang dibencinya itu.

__ADS_1


"Kau mau aku melepaskannya?" tanya Leo dan Devan mengangguk dengan cepat.


"Boleh saja. Tapi apa yang bisa aku dapatkan?" tanya Leo meminta imbalan.


"Apa yang kau mau?" tanya balik Devan.


"Aku mau kau gores wajahmu dengan pisau" kata Leo dengan senyum menyeramkan.


Vania yang mendengar perkataan Leo seketika sedih. Pelupuk matanya basah dengan air mata yang sudah tergenang dan siap jatuh kapanpun. Dalam hatinya ingin berontak. Namun ia tak bisa bersuara apalagi bergerak. Karena sedikit saja pisau tajam yang menempel di lehernya bisa saja menggores kulit lehernya.


"Baik" jawab Devan tegas. Apapun ia lakukan demi keselamatan wanita yang dicintainya agar tak terluka.


Air mata Vania langsung saja jatuh saat suaminya mengiyakan permintaan Leo. Sedang Leo sudah tertawa puas.


"Tapi jauhkan pisau itu dari lehernya" pinta Devan.


Leo menuruti permintaan Devan. Ia sedikit menjauhkan pisau dari leher Vania. Seketika membuat Vania berteriak meminta suaminya untuk tidak melakukan hal bodoh.


"Enggak, mas. Jangan" kata Vania dengan Isak tangisnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Tenang, sayang. Aku nggak apa-apa"


"Enggak, mas. Aku nggak mau kamu ngelakuin itu" pinta Vania terus mohon agar suaminya menolak.


"Ini nggak akan sakit, sayang. Dibanding dengan dirimu yang terluka. Aku akan melakukan apapun demi dirimu"


"Jangan, mas... Jangan" mohon Vania semakin khawatir.


Leo tertawa geli mendengar obrolan sepasang suami istri itu. "Hahaha... Sungguh pemandangan yang mengharukan. Suami istri yang saling menderita" katanya yang kemudian terus saja tertawa.


Devan menggerakkan langkah kakinya mengambil sebuah pisau yang tergeletak di samping salah satu anak buah Leo yang sudah terkapar setelah sesaat sebelumnya ia menekan sebuah tombol kecil di jam tangannya untuk memberikan petunjuk agar Ronald bersiap. Ya, Devan dan Ronald sudah saling mengatur rencana mereka sebelumnya dengan mengganti jam tangan milik Devan dengan jam tangan khusus yang sudah dilengkapi dengan alat khusus.

__ADS_1


__ADS_2