
"Apa itu artinya kau masih marah dan menolak permintaan maafku?" tanya Devan memiringkan kepalanya agar bisa melihat jelas wajah istrinya.
Vania hanya diam saja tak menjawab. Rasa sakit di dadanya mengingat bagaimana Devan mengabaikannya tadi malam membuat air matanya kembali menetes.
"Sayang, tolong percaya padaku. Kau segalanya bagiku, Aku tidak akan pernah menghianatimu" kata Devan meyakinkan istrinya.
Vania menoleh menatap Devan dengan tatapan tajam.
"Lalu bagaimana kau meyakinkanku? Bukankah kau memintaku untuk belajar mencintaimu? Apa ini akhir yang harus aku dapatkan? Sakit mas..." kata Vania sambil menunjuk dadanya dengan uraian air mata.
"Sayang, maafkan aku sudah terlalu menyakitimu" kata Devan sambil menggenggam salah satu tangan istrinya. "Aku hanya ingin kau percaya padaku" lanjutnya lirih
"Tidak semudah itu mas... Setelah semua foto-foto itu? Setelah kau melupakan janji penting kita tadi malam? Apa mungkin kau menganggap hubungan kita hanya lelucon hingga kau melupakan janji makan malam denganku?" Vania masih merasa kesal dan emosi.
"Maaf, iya aku salah, Yang" Devan memeluk tubuh istrinya. "Bisakah aku mendapatkan jawabannya sekarang?" tanyanya melemah.
Vania memberontak melepaskan pelukan suaminya. "Tidak, Aku lelah. aku ingin tidur" jawab Vania malas.
Devan memegang tangan istrinya agar tetap diam di tempat, "Apa aku salah jika terlalu memaksamu mencintaiku?" tanya Devan pelan menatap lekat kedua mata Vania karena mulai kehabisan cara untuk menenangkan istrinya.
"Salah" jawab Vania cepat membuat Devan menautkan kedua alisnya, " Kau memintaku untuk belajar mencintaimu. Tapi setelah aku bisa melakukannya kau justru dekat dengan wanita lain dan mengabaikanku. Apa aku___"
Belum sempat Vania menyelesaikan pernyataannya, Devan sudah lebih dulu membungkam mulut Vania dengan bibirnya membuat Vania hanya diam karena terkejut. Tak ada penolakan ataupun perlawanan dari Vania.
Devan melepaskan ciumannya. Kedua tangannya menyentuh tengkuk Vania dengan kening yang saling menyentuh.
"Terimakasih sudah bisa mencintaiku" kata Devan lirih.
Ya, Vania kini sadar jika kemarahannya tak sengaja membuatnya mengakui perasaanya pada Devan.
"Vania istriku, Aku mencintaimu. Katakan kamu juga mencintaiku" kata Devan lirih namun Vania diam tak menjawab.
"Yang..." panggilnya lembut karena istrinya masih diam saja.
Air mata Vania kembali menetes, tenaganya serasa melemah mendengar permintaan Devan. "Iya, mas. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tolong jangan pernah sakiti aku lagi seperti itu. Aku____"
Devan kembali mencium bibir Vania dengan lembut membuat pemiliknya tak bisa melanjutkan kata-katanya. pelan-pelan ciuman itu berubah menjadi lu*atan-lu**tan kecil. Namun berbeda dengan ciuman kali ini. Vania memejamkan kedua matanya. Ia mulai terbawa dalam permainan Devan sehingga membuatnya membalas ciuman suaminya.
Devan menyeringai kecil. Ia sangat senang cintanya terbalaskan dan wanita itu mulai menikmati keromantisan bersamanya. Perlahan Devan mulai memperdalam ciumannya seolah tak ingin terlewatkan sedikitpun.
Devan melepas ciumannya saat dirasa nafas istrinya mulai terengah-engah. Ia beralih mencium kening istrinya sebagai tanda terimakasih karena sudah mencintainya.
"Bisakah kita melakukannya sekarang?" tanya Devan menatap lekat istrinya dengan jarak yang cukup dekat.
"maksudmu?" tanya Vania tak mengerti
__ADS_1
"Aku ingin kamu seutuhnya"
"Tidak" jawab Vania cepat.
"Kenapa?"
"Tidak untuk sekarang" jawab Vania membuat Devan kecewa. "Ini masih sore, mas. Lagi pula aku sangat lapar karena sejak siang tadi belum makan" jawab Vania mengerucutkan bibirnya membuat Devan tersenyum seketika.
Devan semakin gemas dengan tingkah istrinya, "Baiklah, aku akan memesankan makanan dulu" katanya sambil mengambil ponsel dari sakunya dan menggeser layar ponselnya memilih makanan yang akan dipesan.
"Bu Tini?"
"Aku menyuruhnya pulang" Devan meletakkan ponselnya diatas tempat tidur setelah selesai memesan makanan.
"Kenapa?" tanya Vania heran.
"Tentu saja karena aku hanya ingin berdua denganmu, sayang" kata Devan bersemangat sambil mencubit pelan hidung mancung istrinya.
Vania mengangguk membuat Devan kembali merengkuh tubuh yang selalu ia rindukan itu ke dalam pelukannya.
"Sebentar lagi makanan datang. Apa kau akan kembali tidur selama menunggu?"
"Tidak, aku akan mandi sekalian bersiap Maghrib"
Vania bergegas ke kamar mandi, sedangkan Devan turun ke bawah menuju garasi. Ia mengambil sebuah paperbag yang sudah sebulan ini ia simpan didalam bagasi mobilnya.
Beberapa menit kemudian makanan yang mereka pesan diantar oleh gojek.
Devan kembali masuk ke dalam rumah dengan menenteng paperbag dan kantong plastik di tangannya. Ia meletakkan kantong plastik berisi makanan ke meja makan.
Devan menuju ke kamarnya untuk bergantian mandi dengan istrinya. Dilihatnya Vania sudah memakai pakaian rumahannya. Devan meletakkan paperbag diatas tempat tidur dan meninggalkannya menuju kamar mandi.
Vania melirik paperbag di atas tempat tidur. Ia penasaran dengan isinya. Namun ia tak berani melihatnya karena tidak ingin dianggap lancang.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Mereka sudah selesai melaksanakan aktifitasnya seperti sholat dan makan.
Devan mengajak istrinya kembali ke kamar. Ia memberikan paperbag yang dari tadi tergeletak di atas ranjang pada istrinya.
"Aku mau kau memakainya"
"Apa ini? tanya Vania menerimanya. Namun belum sempat ia buka, Devan sudah lebih dulu menyuruhnya ke kamar mandi
"Bawalah ke kamar mandi, Kau akan tahu apa isinya"
Vania menurut saja perintah Devan. Ia masuk kamar mandi dengan membawa paperbag itu.
__ADS_1
Sudah setengah jam Vania berada di dalam kamar mandi. Namun ia tak kunjung keluar membuat Devan cemas.
"Yang,,, kamu nggak kenapa-kenapa kan? kenapa lama sekali?" tanya Devan mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya sebentar" jawab Vania. Dan tak lama kemudian pintu terbuka.
"Huh? kenapa kamu tidak memakainya dan malah memakai jubah mandi?" tanya Devan heran.
"Emm... Aku merasa aneh memakainya. Bajunya sudah seperti kurang bahan. Jadi aku menutupnya dengan jubah ini" kata Vania malu-malu.
Devan tersenyum mendengar jawaban istrinya. "Tidak apa, bukalah" kata Devan sambil membantu melepaskan jubah mandi yang membalut tubuh istrinya.
Devan tertegun menatap pemandangan indah di hadapannya. Istrinya memiliki tubuh yang sangat indah. Bahkan nyaris sempurna baginya. Lekuk tubuh dan ukuran dada yang pas membuatnya tak berkedip dan terus memandangnya.
•
•
•
•
•
•
Bersambung..... stop dulu sampai sini😁😁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Siapa nih yang dari kemarin udah gemes, kesel, pengen marah sama Vania? 😂😂
Maaf ya sudah bikin emosi kalian naik turun😁
Ini belum seberapa lho....Nanti kalau udah masuk alur klimaksnya, dijamin bakalan lebih greget.
Sebenernya author juga pengen ikutin saran dari kalian mengenai alur ceritanya. Tapi gimana ya... author udah punya gambaran sendiri mengenai kisah cinta mereka.
So, nikmati jalan ceritanya aja ya😊😊😊
Jangan lupa terus dukung author dengan memberikan Vote, Like, dan komentar positif biar author semakin semangat buat up ceritanya.
Makasih....
Salam Sayang Selalu....💗💗😘
__ADS_1