Cinta Vania

Cinta Vania
#Bonus Chapter


__ADS_3

"Bagaimana rasanya jadi pendamping persalinan?" tanya Ayah satria pada Devan yang tengah duduk menjaga putrinya dalam pangkuannya. Lelaki yang resmi dipanggil kakek itu baru saja tiba beberapa menit yang lalu ke tanah airnya demi melihat langsung cucu kandungnya.


"Entahlah, ayah. Semuanya tidak bisa Devan ungkapkan. Rasa cemas, khawatir ,takut, bahkan stress berbaur jadi satu. Sebagai laki-laki, Devan yang hanya menyaksikan itu semua saja sudah hampir tidak sanggup apalagi istri Devan yang mengalaminya. Devan benar-benar kagum padanya. Tubuhnya yang lemah justru bisa merasakan sakit yang Devan yakin, Devan sendiri tidak akan kuat jika harus merasakannya" jawab Devan meringis. Ia mengingat semua bagaimana proses persalinan istrinya berlangsung. Bagaimana istrinya yang harus membawa bayinya kemana-mana dalam kandungan selama sembilan bulan. Bagaimana Vania menangis kesakitan. Keringat bercucuran dimana-mana. Dimana sebuah gunting harus digunakan untuk merobek bagian intim istrinya agar bayi mereka lebih mudah menemukan jalan keluar. Semua itu masih teringat jelas dalam ingatan Devan.


Devan mengambil nafas panjang mengingat peristiwa yang menegangkan itu.


"Sekarang coba lihat istrimu" ucap ayah Satria mengalihkan pandangan ke arah Vania yang tengah tidur di tempat tidurnya dengan selang infus yang masih terpasang. Devan ikut menggerakkan bola matanya ke arah Vania. "Perhatikan wajahnya yang polos. Lihatlah, ia begitu lelah. Namun ia tak pernah menunjukkan semua itu. Perhatian dan waktunya mungkin akan mulai berkurang denganmu, karena ia harus mengurus putrimu. Seluruh hari-harinya akan direpotkan oleh putrimu. Bahkan mungkin ia tak akan punya waktu lagi untuk mengurus dirinya sendiri hingga membuat penampilan dan kecantikannya berubah. Tapi ingatlah, semua itu demi anakmu. Demi anakmu ia akan rela tubuhnya berubah tidak secantik dan semenarik dulu. Jadi jangan pernah permasalahkan itu. Karena ia juga melakukan semua itu untuk dirimu, untuk keluarga kecil kalian" lanjutnya.


Mata Devan berkaca-kaca. Ia membayangkan hari-hari istrinya yang akan sibuk dan melelahkan mengurus putrinya sendirian saat dirinya bekerja. Ya, kedua mama dan papa baru itu memutuskan mengurus putri mereka sendiri tanpa bantuan babysitter.


"Seperti itulah yang ayah rasakan waktu mendampingi bunda. Sejak saat itu ayah berjanji tidak akan menyakiti bunda. Apapun dan bagaimanapun keadaannya. Itulah mengapa ayah selalu menuruti apapun perkataan bunda. Bukan karena ayah takut pada bundamu. Tapi semua itu karena ayah tahu bunda melakukan semuanya demi kebaikan keluarga kita. Sekarang, ikuti ayah. berkacalah dari rumah tangga kami yang selalu harmonis. Jadikan keluarga orang tuamu sebagai panutan. Jangan pernah menyakiti perasaan istrimu. Karena setetes saja air mata kesedihan yang kau buat jatuh membasahi wajahnya, disitulah awal kehancuran rumah tangga kalian".


"Devan mengerti, ayah. Devan janji akan selalu membahagiakannya. Devan akan berusaha agar kejadian di masa lalu tidak akan terulang lagi" ucap Devan berkaca-kaca. Ada keseriusan dari sorot matanya saat mengucapkan kalimat-kalimat itu.


Ayah Satria tersenyum dan menepuk-nepuk lengan putranya. "Kamu pergilah dulu mandi. Biar Alesya, ayah yang jaga"


Devan mengangguk dan memberikan Alesya pada eyangnya, sementara dirinya bersiap untuk mandi.


*******


Vania telah pulang dari rumah sakit. Tubuh dan tenaganya yang sudah membaik membuatnya meminta pulang lebih awal karena tidak tahan dengan suasana rumah sakit yang membosankan.


Kini Vania akan melewati hari-harinya sebagai seorang istri dan ibu dari putri cantik yang akan membuat hati-harinya terasa menyenangkan.


Dengan dibantu oleh Bu Tini, Vania menjaga Alesya selama Devan pergi bekerja. Beruntung Alesya tidak rewel. Sehingga mempermudah Vania dalam mengasuh dan merawatnya.


******


Hari terus berganti. Kini Alesya telah tumbuh menjadi gadis kecil yang menggemaskan. Pipinya yang bulat dengan tubuh yang tidak terlalu gemuk membuat orang-orang tertarik bermain bersamanya. Terlebih putri kecil yang kini berusia lima tahun itu tumbuh menjadi putri yang cantik yang menurun kecantikan ibunya.


"Alesya, ingat nanti di pesta bersikaplah sopan. Selalu berada di dekat mama, papa ataupun keluarga yang kamu kenal. Oke!" nasehat Vania ke putrinya yang akan diajak pergi ke sebuah pesta rekan kerja suaminya. Ia selalu menasehati putrinya berulang kali setiap akan mengajak putrinya pergi. Semua itu dilakukan karena putrinya adalah gadis yang super aktif dan tidak bisa diam. Ia suka berlarian ke sana kemari tanpa mengenal lelah.


"Iya, mama" jawab Alesya polos.

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo berangkat. Papa sudah menunggu kita di mobil" ajak Vania pada putrinya yang semakin cantik saja dengan gaun pesta anak yang indah dan rambut tergerai yang dihias dengan sebuah bando.


Sepanjang jalan menuju lokasi pesta, gadis kecil itu tak berhenti mengoceh. Ia menanyakan apapun yang membuatnya penasaran hingga membuat kedua orangtuanya lelah menjawab.


Mobil yang membawa mereka telah sampai di sebuah hotel mewah tempat diadakannya pesata.


"Ingat pesan mama tadi ya, sayang" ucap Vania memperingatkan sebelum turun dari mobil. Ia mengulang lagi nasehatnya agar putrinya terus mengingat.


Alesya mengangguk cepat diikuti senyum manisnya.


Devan yang merasa gemas mengusap-usap rambut putrinya hingga membuat pemiliknya kesal.


"Jangan begitu, papa. Echa tidak mau rambut Echa berantakan" Celetuk Alesya yang biasa menyebut dirinya Echa. Ia marah karena takut rambutnya tidak rapi lagi sebab ulah papanya.


"Eh, tidak boleh bicara seperti itu pada papa. Oke!" sahut Vania.


"Iya, mama" jawab Alesya menurut. Gadis kecil itu selalu menurut apa perintah mamanya.


Ketiga orang itu masuk ke dalam ruang pesta. Devan mengajak Vania dan putrinya berjalan menghampiri pemilik pesta untuk mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan. Ya, pesta itu adalah pesta pernikahan rekan kerjanya.


Melihat kedua orang tuanya yang sibuk menyapa para kerabat, Alesya memisahkan diri dari orang tuanya tanpa ijin untuk menghampiri balon yang digunakan untuk menghias ruangan. Ia berlari ke sudut ruangan dimana tempat balon berada. Namun, di tengah-tengah banyaknya tamu yang hadir, Alesya menabrak seorang anak laki-laki yang tengah membawa sepiring kue di tangannya hingga membuat kue itu mengotori jas yang dipakai.


"Kamu.. Kenapa lari-lari disini" marah anak lelaki itu.


"Kamu itu yang makan tidak mau duduk" bantah Alesya.


"Beraninya kamu, kamu tidak tahu siapa aku?"


"Apa pedulinya aku tahu"


"Aku pemilik pesta ini"


"Mana mungkin anak kecil pemilik pesta ini. Jangan suka bohong. Karena anak kecil yang suka bohong akan dibenci Allah"

__ADS_1


"Siapa kamu mengajariku. Mau kue ini aku korpri balik ke bajumu?"


"Tidak mau. Mama...mama..." panggil Alesya menangis membuat seisi ruangan mengalihkan perhatian mereka. Begitu pula Vania dan Devan yang menyadari suara putrinya. Ia segera berjalan menghampiri Alesya.


"Kenapa, sayang?" tanya Vania ke putrinya.


"Anak nakal ini ganggu Echa, mama". Alesya mengadu pada mamanya. Sedang Vania yang menyadari keusilan putrinya hanya menggeleng pelan.


"Oo...jadi namanya Echa, pantas manja sekali" batin anak itu.


"Echa sama papa dulu ya. Biar mama yang nasehati anak itu. Oke!" ucap Vania menenangkan putrinya.


Alesya berlari mendekati papanya dan meminta gendong. Gadis kecil itu benar-benar sangat manja. Ia mengajak papanya pergi menjauh dari anak itu.


Vania berjalan mendekati anak laki-laki yang tadi adu mulut dengan putrinya.


"Hai, anak tampan. Maafkan putri Tante ya... Dia memang begitu, sangat usil dan jahil" ucap Vania lembut diiringi senyum.


"Tidak apa-apa, Tante"


"Kamu sendirian, dimana orangtuamu?"tanyanya selembut mungkin.


"Itu, Tante" tunjuk anak itu pada wanita dan laki-laki yang berjalan mendekat.


Vania mengikuti arah telunjuk anak laki-laki itu menunjuk.


"Pak Sony, Bu Sony, jadi dia putri anda?" tanya Vania murah senyum.


"Iya, Bu Devan. Apa dia membuat masalah?" tanya ibu dari anak itu.


"Oo tidak sama sekali. Saya hanya ingin tahu siapa orang tua dari anak tampan ini" ucap Vania mengusap pipi anak itu. "Kalau begitu saya permisi dulu mau menemui suami dan anak saya" lanjutnya.


"Iya silahkan"

__ADS_1


Vania berjalan menjauh dari pemilik pesta untuk mencari keberadaan suami dan putrinya yang ternyata sedang mengobrol dengan salah satu tekan kerja mereka.


Pesta berlangsung hingga larut. Alesya tak lagi membuat ulah karena Vania selalu menggandengnya kemanapun ia pergi.


__ADS_2