Cinta Vania

Cinta Vania
Mas?


__ADS_3

"Kamu kenapa sayang" teriak Devan dari luar saat terdengar Isak tangis Vania. Namun, lelaki itu tak berani masuk tanpa persetujuan istrinya.


Namun tak ada sahutan dari dalam. Membuat Devan semakin cemas.


"Sayang..." teriaknya lagi. Namun hasilnya masih sama. Tak ada jawaban dari istrinya.


Devan terpaksa menerobos masuk karena khawatir terjadi apa-apa pada Vania.


Devan terkejut mendapati Vania terduduk di lantai kamar mandi sambil menangis. Ia segera berlari menghampiri istrinya.


"Kenapa? apa yang terjadi?" tanyanya khawatir sambil menyentuh lengan istrinya.


Vania hanya menggelengkan pelan.


"Hey, lalu kenapa kamu menangis? kamu mau mandi?"


Vania mengangguk pelan.


"Ya sudah mandilah dulu, aku akan menunggumu di sofa kamar" kata Devan sambil berdiri.


Saat Devan akan melangkah pergi, Vania memcegahnya dengan menarik pelan ujung celana pendek suaminya.


"Ada apa?" jawab Devan kembali menoleh ke belakang.


"Bantu aku duduk disana, aku akan mandi sambil duduk" kata Vania sambil menunjuk ke arah closed.


"Apa itu tidak semakin menyusahkanmu? itu terlalu jauh dengan shower" tanya Devan bingung sambil mengernyitkan dahinya.


"Tidak, aku tidak bisa berdiri terlalu lama"


"Kenapa? kakimu sakit?"


Vania menggeleng. Ingin jujur tapi malu.


"Kenapa diam? Jangan bikin aku khawatir, sayang..."


"Area sensitif ku bengkak" kata Vania ragu-ragu sambil menunduk karena malu.


Devan terkejut mendengar jawaban Vania. Separah itukah perlakuan kasarnya hingga istrinya harus merasakan sakit seperti ini.


"Maaf sayang... sakit banget?" tanya Devan namun Vania hanya diam.


"Atau ku bantu kau mandi?" lanjutnya bertanya. Kali ini ia tidak bercanda. Ia serius ingin menolong istrinya.


Dengan cepat Vania menggelengkan kepalanya, "Enggak!!!"


"Aku janji tidak akan melakukan yang aneh-aneh"


"Enggak mau, aku akan mandi sendiri. Aku hanya ingin mandi sambil duduk".

__ADS_1


"baiklah, tunggu sebentar"


Devan berlari keluar untuk mencari kursi plastik di taman belakang dan membawanya ke kamar mandi.


"duduklah disini, dengan begini kau tidak akan kesulitan" katanya sambil meletakkan kursi tepat di bawah shower.


Devan membantu istrinya bangun dan duduk diatas kursi plastik yang ia siapkan.


"Makasih ya" kata Vania tersenyum.


"Iya... Mandilah, aku akan menunggumu di luar" katanya sambil mencium ujung kepala Vania.


Setengah jam kemudian, Vania berjalan hati-hati menuju pintu dengan berpegangan pada tembok.


Dengan cepat Devan berdiri dan menghampirinya saat melihat Vania keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi dan sebuah handuk yang melilit rambut di kepalanya.


"Kenapa nggak bilang kalau sudah selesai, aku bisa menggendongmu keluar" katanya kesal karena melihat istrinya memaksakan berjalan dalam keadaan sakit.


"Udah agak mendingan kok" jawab Vania sambil memaksakan senyum.


Devan mendudukkan istrinya di depan meja rias. Sedang ia duduk berlutut di depan istrinya sambil memegang kedua tangan istrinya.


"Maaf atas kekhilafan yang sudah ku lakukan. Semua itu benar-benar diluar kesadaranku" Kata Devan tulus menatap lekat wanita di depannya.


Vania melihat ketulusan dari mata Devan. Ia merasa terharu dengan perkataan suaminya. Jauh dari dalam benaknya menyimpan rasa bangga dan senang mempunyai suami yang sangat mencintainya dan begitu perhatian


"Semua sudah terjadi. Lagi pula aku istrimu, sudah menjadi hakmu untuk menyentuhku. Aku hanya menyayangkan semuanya terjadi karena paksaan" Kata Vania tersenyum lembut.


"Kalau kakak terus seperti ini, lalu kapan aku mengganti pakaianku?" kata Vania bercanda mengalihkan kesedihan suaminya.


Devan tersenyum lembut. Ia melepaskan pelukannya. "Ya sudah, gantilah pakaianmu, aku akan menunggu di luar"


Vania segera mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian terdengar suaminya mengetuk pintu dari luar.


"Sayang, sudah?" tanya Devan sambil mengetuk pintu.


"Sudah, masuklah" jawab Vania sedikit berteriak agar Devan mendengarnya


Devan masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya. Ia mendekat dan mengambil handuk dari tangan Vania.


"Ku bantu keringkan rambutmu"


Devan berdiri disamping istrinya yang duduk sambil menggosok lembut rambut Vania.


"Apa kau masih akan tetap minta tidur di kamar terpisah?" tanya Devan sambil terus melanjutkan kegiatannya.


"Mau mu?" tanya Vania


"Kita sekamar di lantai atas" jawab Devan santai

__ADS_1


"Aku masih belum bisa naik turun tangga dengan kondisi seperti ini"


"Aku bisa menggendongmu, Aku akan minta Bu Tini untuk memindahkan barang-barangmu ke atas"


"Terserah kau saja, aku akan menurut"


"Apa kau keberatan?" tanya Devan melepaskan tangannya dari kepala istrinya karena rambut yang sudah hampir kering. Ia duduk di samping istrinya sambil menatap lekat wajah cantik yang kini menjadi miliknya.


"Tidak, aku hanya takut merepotkanmu"


"Justru ini yang aku tunggu. Bisakah kita memulai kehidupan kita hari ini?" Tanya Devan. Sedang Vania mengangguk pelan sambil malu-malu.


"Aku mau kita tinggal bersama dan tidur di ranjang yang sama. Aku bisa memelukmu setiap saat kapanpun aku mau. Aku ingin kamu belajar mencintaiku dari hal-hal kecil. Anggap saja kita pacaran setelah menikah. Aku janji tak akan melakukan itu lagi sebelum kau benar-benar mencintaiku" Jelasnya mengarah ke kejadian tadi malam dimana ia menyentuh istrinya.


"Aku akan berusaha menerima apapun keputusanmu, Kak" kata Vania senyum.


Devan merengkuh tubuh Vania ke dalam pelukannya. Ia begitu bahagia hari ini.


"Boleh aku meminta satu lagi?" tanyanya setelah melonggarkan pelukannya.


"Apa?"


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku merasa seperti kakakmu" Katanya kesal membuat Vania terkekeh.


"Lalu? Aku sudah terbiasa. Aku nggak mungkin hanya memanggil namamu. Kedengarannya aneh" Vania tertawa geli karena wajah suaminya yang kesal.


"Pokoknya aku mau yang lain"


"Mas?" Tanya Vania meminta pendapat.


"Tidak begitu buruk. . . Jauh lebih baik daripada aku seperti kakakmu" kata Devan senyum menyeringai. "Baiklah ayo makan, aku sudah lapar sejak tadi belum sarapan,"


"iya kak, eh Mas, maaf... aku belum terbiasa"


"Nggak apa, pelan-pelan saja nanti juga terbiasa" jawab Devan senyum. Ia segera membantu istrinya berdiri dan memegang bahu Vania untuk membantunya berjalan menuju meja makan.


Sepasang suami istri itu makan dengan tenang. Kebahagiaan nampak terpancar dari wajah keduanya.


"Minum obatmu ya, biar cepet sehat" Katanya sambil menyerahkan tiga butir pil setelah istrinya selesai makan.


Vania mengambil obat dari tangan Devan dan meminumnya dengan segelas air putih.


"Aku sudah pesankan obat luar untuk menyembuhkan bengkak di apotek lewat ojol, sebentar lagi juga sampai"


"Tapi ini nggak bisa sembarang salep lho" kata Vania. Ia khawatir suaminya salah memilih obat.


"Aku tahu sayang, Aku sudah pesankan merk khusus itu"


"tahu darimana?"

__ADS_1


"Internet lah" jawabnya santai, membuat Vania mendengus kesal karena merasa malu.


__ADS_2