
Siang itu Devan pulang lebih awal dari perusahaan. Sesampainya di rumah, ia bergegas menemui wanita yang dirindukannya. Dilihatnya wanita itu sedang berdiri di depan almari mengambil beberapa potong pakaiannya untuk dipindahkan ke dalam koper setelah mendapatkan kabar dari suaminya jika hari ini mereka akan kembali ke tanah air.
"Belum beres, yang?" tanya Devan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Eh udah pulang, mas... Bentar lagi selesai kog" kata Vania.
Devan melepaskan pelukannya. Tidak ingin terus mengganggu aktifitas istrinya, ia beralih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selepas mendapatkan kabar tentang penerbangannya, Devan dan Vania berpamitan pada kedua orangtuanya sebelum meninggalkan rumah. Bunda Dewi nampak sedih karena harus berpisah kembali di dengan anak dan menantunya. Tapi ia tak boleh egois. Kini anaknya punya tanggung jawab yang besar untuk keluarga kecilnya.
Sesampainya di Jakarta, Devan segera menyiapkan dana yang akan ia gunakan untuk menyelesaikan permasalahan proyeknya di London. Ia mengirimkan sejumlah uang dari tabungan miliknya dan Vania untuk dikirim ke rekening ayahnya.
Malam harinya Devan kembali dengan aktifitasnya sebagai seorang suami. Ia menemani istrinya di kamar untuk sekedar mengobrol menjelang keduanya tidur. Vania nampak duduk bersandar di dada bidang suaminya yang tengah duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil mengelus rambut panjang istrinya.
"Mas, boleh nggak aku minta sesuatu?" tanya Vania di tengah obrolannya.
"Apa?"
"Aku pengen tinggal di rumah utama, boleh?"
Devan diam dengan permintaan istrinya. Ia merasa aneh dengan apa yang diucapkan Vania. Tak biasanya istrinya itu tiba-tiba meminta sesuatu.
"Mas... kenapa diam?" tanya Vania mendongakkan wajahnya agar bisa melihat suaminya.
"Emm... kamu yakin? Kenapa tiba-tiba minta pindah?"
"Yakin lah...Lagian kan rumah utama sepi nggak ada yang nempatin. Emang kenapa sih? Nggak boleh ya?" tanya balik Vania.
"Boleh, sayang. Apapun yang kamu minta asal aku masih sanggup. Tapi bagaimana dengan rumah ini? Bukankah rumah ini menyimpan banyak kenangan untuk kita?"
Vania memutar badannya dan duduk tegak menghadap suaminya.
"Mas... apa arti sebuah kenangan? kehidupan kita yang sebenarnya kelak akan jauh lebih penting dari sebuah kenangan. Yang penting kita selalu bersama dan bahagia. Tidak peduli dimanapun kita berada, kita pasti akan selalu menyimpan sebuah kenangan" kata Vania meyakinkan suaminya. "Kalau mengenai rumah ini, kita bisa menjualnya" lanjutnya.
"Menjual?" tanya Devan merasa aneh.
"Iya"
__ADS_1
"Kan sayang, yang. Kita juga nggak butuh uang banget. Lagi pula uang tabungan yang kemarin masih sisa setelah aku hitung meskipun tidak banyak" jawab Devan ragu.
"Kenapa sayang, mas? Kita butuh uang untuk pengobatan dan program kehamilanku. Apa kamu nggak ingin aku hamil?" tanya Vania dengan suara pelan di akhir kalimat pertanyaannya.
"Sttt" Devan menempelkan jari telunjuknya di bibir Vania sebagai isyarat agar istrinya berhenti mengatakan hal itu lagi. "Jangan bertanya seperti itu lagi, yang. Aku menerima apapun keadaanmu. Anak itu rejeki dari Tuhan. Jika memang kita belum ditakdirkan untuk memilikinya, kita bisa mengadopsi seorang bayi. Itupun kalau kamu mau. Soal mengikuti program hamil, apapun akan aku lakukan jika kau menginginkannya. Tapi ingatlah... Aku tak pernah memaksa dan menuntutmu untuk semua ini. Aku tulus mencintaimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu walau keadaan apapun" kata Devan dengan tatapan lembut penuh kejujuran.
Vania tersenyum haru hingga air matanya tergenang di pelupuk matanya. Ia memeluk tubuh kekar yang kini menjadi sandaran hidupnya.
"Aku akan mengikuti permintaanmu. Kita akan segera pindah ke rumah utama dan menjual rumah ini. Mengenai pak Amin dan Bu Tini, aku akan meminta mereka untuk pindah kerja di rumah utama juga" kata Devan yang di tutup dengan mencium ujung kepala istrinya.
"Makasih, mas" katanya lirih.
"Ya udah sekarang ayo kita tidur, kamu pasti lelah" kata Devan yang kemudian melepas pelukannya.
*****
Devan sedang memperhatikan layar laptopnya di kantor. Ia sedang menghubungi orang ayahnya yang memberikan laporan tentang kejanggalan di proyeknya.
"Baik, terimakasih, ayah. Assalamualaikum" pamit Devan mengakhiri obrolannya.
"Waalaikumsalam" jawab ayah Satria.
"Ronald, tolong segera datangke ruanganku" perintahnya singkat lewat sambungan telepon.
Tak butuh waktu lama pintu ruangannya sudah diketuk dari luar. Itu tandanya Ronald sudah berdiri disana.
"Masuk" perintah Devan ke Ronald yang sedang mengetuk pintu.
Ronald pun membuka pintu pelan dan melangkah masuk ke ruangan atasannya.
"Duduklah" perintah Devan ke Ronald. "Apa kamu sudah menyelidiki penyebab dari semua ini?" lanjutnya bertanya
"Sudah, pak. Dan ini ada hubungannya dengan pak Leo. Saya yakin ada orang dalam yang mengkhianati kita dan bekerja sama dengan Galileo Corporation"
"Apa kamu yakin?"
"Yakin sekali, pak. Banyak petunjuk.yang mengarah kesana"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Aku tugaskan kau untuk berangkat ke London mengurus semuanya. Segera kerahkan orang-orang kita untuk mencari bukti-bukti kebusukan ba*ingan itu dan siapa yang sudah bekerjasama dengannya agar kita bisa segera menjebloskan mereka ke penjara" kata Devan menahan emosi mengingat kelicikan Leo yang ingin menghancurkan dirinya.
"baik, pak boss" jawab Ronald tegas.
Ronald kembali ke ruangannya untuk menghubungi istrinya dan memesan tiket untuk mengatur jadwal penerbangannya. Tak ingin terlalu mengulur waktu, ia segera pulang untuk bersiap. Baginya lebih cepat lebih baik agar Maslaah itu cepat selesai.
Sedang Devan yang tengah berada di ruangannya sedang menunggu informasi dari orang suruhannya yang ditugaskan untuk melaporkan gerak-gerik Leo.
drrttt....drrrrt....
Suara getaran di ponsel Devan. Kali ini bukan dari orang suruhannya. Melainkan dari istrinya.
"Assalamualaikum, sayang" sapa Devan saat mengangkat panggilan dari suaminya.
"Waalaikumsalam. Mas dimana?" tanya Vania terdengar cemas.
"Aku lagi di kantor, sayang. Ada apa? Suaramu terdengar tidak seperti biasanya"
"Itu... mas... Kata pak Amin di luar ada dua orang aneh yang dari tadi pagi berdiri di depan pagar nggak pergi-pergi" kata Vania sambil mengintip sosok yang dimaksud dari balik gorden jendela di kamarnya.
"Laki-laki semua?" tanya Devan memastikan.
"Iya, pake masker sama kacamata hitam. Gerak geriknya mencurigakan, mas. Aku takut"
"Ya udah kamu tenang ya. Tetap di dalam dan jangan keluar rumah. Bilang sama pak Amin untuk tidak membuka pintu gerbang. Aku akan segera pulang dan mengirimkan para pengawal untuk berjaga"
"Baik, mas. Ya sudah aku tutup dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam".
Devan meletakkan kembali ponselnya diatas meja kerjanya. Ia mendengus kesal menahan amarahnya.
"Tidak salah lagi, Leo pasti pelakunya. Ba*ingan itu sudah terlalu mencampuri rumah tanggaku" geram Devan mengepalkan tangannya.
Devan memakai kembali jas yang tadi ia gantungkan di kursi kerjanya. Ia meraih kunci mobil dan ponselnya yang ada diatas meja, kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangannya.
"Lia, aku akan pulang. Hubungi aku jika ada sesuatu yang penting" pesannya saat melihat Lia.
__ADS_1
"Baik, pak"