
sudah seminggu sejak kepergian Ditya, dan Devan masih dengan setia menemani bapak dan ibunya.Tiap malam ia tidur disana dan selalu mengikuti rangkaian pengajian yang diadakan untuk mendoakan almarhum. Meski paginya ia harus pergi ke kantor dan kembali pda sore hari di rumah itu.
Devan hampir melupakan rumah tempat ia tinggal dan sahabatnya. Ia begitu fokus dengan keluarga barunya akhir-akhir ini. Semua ia lakukan demi menguatkan bapak ibunya agar bisa ikhlas dan sabar menerima takdir. Namun ia tetap menghubungi orang tua yang melahirkan dan membesarkannya. Beruntungnya ayah dan bundanya bisa mengerti dengan keadaan itu. Mereka justru merasa bangga putra kesayangannya mampu melaksanakan hal mulia.
Vania sesekali juga datang dan mengikuti acara pengajian. Ia tampak murung dan tak banyak bicara. Dulu memang Vania cukup pendiam dan hanya akan berbicara seperlunya. Ia akan ceria dan banyak bicara saat bersama kuarga dan sahabatnya. Namun tidak dengan sekarang. Ia semakin menjadi pendiam. Devan selalu memperhatikannya setiap Vania datang ke pengajian bersama kakaknya.
Kini Devan mulai mengerti status Vania sebagai putri dari sahabat ayahnya yang kini juga sebagai partner kerjanya.
Status Vania yang bukan kekasih siapa-siapa lagi membuat antusias Devan mendekati Vania semakin menggebu. Ia berjanji setelah tujuh hari kematian Ditya ini dia akan memulai untuk mendekati Vania. Dia akan tetap bersabar menunggu Vania membuka hati kembali mengingat rasa cintanya ke Ditya begitu besar dan dalam.
Pagi berikutnya, Pak Satria meminta putranya untuk melakukan kunjungan ke perusahaan anak cabang. Karena banyaknya anak cabang perusahaan yang mereka miliki, mereka harus berbagi tugas. Sebagian akan dikunjungi oleh pak Satria dan sebagian lagi dikunjungi putranya. Kebetulan salah satu yang akan Devan kunjungi adalah perusahaan dibawah kepemimpinan pak Firman. Devan harus memeriksa data perusahaan setiap tiga bulan sekali seperti yang biasa dilakukan sebelum-sebelumnya oleh pihak perusahaan induk.
Devan menggunakan kesempatan itu untuk mengorek tentang kehidupan Vania dari papanya. Dengan begitu ia akan mendapatkan banyak informasi tentang kondisi Vania sekarang.
Devan ditemani sekertaris ayahnya sampai di lobi perusahaan itu disambut oleh asisten pak Firman yang akan menuntunnya menuju ruangan direktur. Ruangan yang ditempati oleh pak Firman.
tok.tok.tok... suara pintu ruangan diketuk dari luar
"silahkan masuk" Suara pak Firman mempersilahkan dari dalam
Ketiga orang laki-laki itu membuka pintu dan memasuki ruangan.
Pak Firman langsung berdiri dan menyambut kedatangan Devan dengan berjabat tangan dan memeluknya.
"selamat datang tuan muda Devan"
"jangan panggil seperti itu oom"
"mana mungkin bisa seperti itu, ini kan di kantor" jawab pak Firman mengelak
__ADS_1
"saya lebih nyaman dengan kata itu oom, panggil saja seperti biasa"
"baiklah nak Devan.. Mari silahkan duduk" ajak pak Firman menuntun Devan ke sofa.
Mereka berempat membicarakan tentang masalah perusahaan. Asisten pak Firman menunjukkan beberapa file pada Devan dan sekretarisnya.
Setelah dirasa tidak ada masalah dengan data-data perusahaan yang telah dijelaskan, asisten pak Firman segera meninggalkan ruangan bosnya untuk melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda.
Begitu juga dengan sekretaris pak Satria yang dibawa Devan. Ia diminta untuk kembali ke perusahaan induk karena di tempat pak Firman merupakan perusahaan terakhir yang mengikuti peninjauan hari itu.
Di dalam ruangan yang cukup besar itu hanya tertinggal pak Firman dan Devan. Mereka mulai mengobrol santai.
"o iya dari tadi saya nggak lihat kak Adit dimana oom?" tanya Devan karena sejak sampai di perusahaan itu sampai sekarang belum juga muncul yang dimaksud.
"oo....Adit hari ini harus keluar kota untuk menemui klien yang akan bekerja sama dengan kami" berhenti sebentar menghirup nafas " oom sudah tidak sekuat dulu nak untuk harus bolak-balik keluar kota, jadi oom memutuskan Adit yang menggantikan oom"
"oom kenapa?" tanya Devan karena melihat pak Firman sering menghela nafas seperti orang habis lari maraton
"jangan terlalu lelah bekerja oom, kan ada kak Adit yang siap bantu oom, yang penting banyak istirahat saja di rumah"
"oom sedih kalau sering di rumah"
"kenapa oom?" tanya Devan mengkerutkan keningnya karena bingung
"oom sedih lihat Vania yang makin lama sering murung dan diam" menundukkan kepala.
"oom..." Devan menepuk bahu pak Firman pelan, "yakinlah semua akan baik-baik saja"
"oom belum bisa tenang sebelum melihat kembali keceriaan putri oom"
__ADS_1
"semua hanya tentang waktu, lambat laun Vania pasti bisa menerima keadaan"
"oom harap juga seperti itu, terimakasih nak Devan sudah mau menjadi pendengar setia oom, oom sedikit lega setelah mengungkapkan semuanya" kata pak Firman dengan senyum memaksa. Hatinya masih sedikit pedih mengingat putrinya. Tapi sesak yang ia rasakan bisa sedikit berkurang.
"tidak perlu sungkan oom, saya senang bisa sedekat ini dengan oom"
Pak Firman tersenyum mendengar jawaban Devan. Menurutnya Devan mempunyai jiwa sosial dan hati yang begitu tulus.
"o iya nak, kapan kamu akan balik ke London?"
"dua minggu lagi oom, tapi entahlah..." kata-kata Devan menggantung, dia terdiam dan menunduk "saya merasa begitu berat untuk kembali" lanjutnya
"kenapa nak?"
"saya begitu tidak tega meninggalkan bapak ibu dalam keadaan seperti ini. Bagi mereka saya adalah harapan satu-satunya untuk menemani kesendiriannya. Meski mereka bukan orangtua kandungku, namun aku sudah begitu menyayangi mereka. Beruntungnya ayah dan bunda bisa mengerti akan hal itu. Mereka selalu mendukungku" kata Devan. Pak Firman mengangguk mengerti dengan siapa yang dimaksud oleh Devan. Dia begitu kagum dengan kebaikan hati pria muda tersebut.
"bahkan gadis yang aku cintai selama ini juga ikut terpuruk" imbuh Devan membuat pak Firman mengangkat kepalanya cepat menatap Devan.
"kenapa dengan gadis itu nak?"
"oom ingat tentang gadis yang pernah ayah ceritakan kemarin" tanya Devan
"iya oom ingat, apa oom juga mengenalnya?"
"iya oom, sangat mengenalnya.. dan aku baru tahu kemarin jika dia ..." Devan terdiam, pak Firman dengan serius menunggu Devan melanjutkan kata-katanya, "dia adalah putri kesayangan oom, Vania" lanjut Devan pelan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
****Terimakasih atas like, vote dan komentar positifnya...
__ADS_1
Mohon maaf atas keterlambatan update,
Author mengucapkan minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin****'