Cinta Vania

Cinta Vania
Bukan Orang Jahat


__ADS_3

Siang itu Devan sudah tiba di Surabaya. Ia meminta sopir perusahaan cabang untuk menyiapkan mobil sendiri untuknya di bandara..


Melihat jam menunjukkan pukul sebelas siang, Devan langsung menuju resto tempat Vania bekerja. Ia mengemudikan mobil sendiri dibantu oleh penunjuk arah yang terpasang di mobil.


Siang ini Devan kembali tanpa sepengetahuan istrinya. Ia sengaja menyembunyikan kedatangannya sebagai kejutan untuk Vania.


Sampai di depan resto, Devan memarkirkan mobil diantara beberapa kendaraan yang berjejer disana. Kemudian ia turun dari mobil dengan menenteng sebuah paperbag besar. Pandangan matanya beralih ke arah tempat parkir khusus pegawai. Devan mendekat dan mengamati satu persatu motor yang terparkir disana. Devan mengernyit heran karena tak ada motor matic yang dicarinya.


"Cari apa ya mas?" tanya pemuda tinggi kurus yang bertugas sebagai petugas parkir resto saat melihat Devan celingukan mencari sesuatu.


"Emm...itu mas, motor Scoopy putih yang biasa parkir disini kok nggak ada ya?" tanya Devan smabil menunjuk ke arah beberapa motor.


"Oo...motornya mbak Dhani?"


"Iya mas, apa hari ini nggak masuk ya mas?"


"Mbak Dhani emang nggak bawa motor mas, katanya bannya kempes, tadi dia berangkat naik taksi"


"Berarti dia ada di dalam?" tanya Devan


"Iya mas" jawab petugas parkir itu yang kemudian beralih paperbag yang dibawa Devan. "Masnya fans berat Mbak Dhani juga ya?" lanjutnya bertanya.


"Maksudnya apa mas, saya nggak ngerti" jawab Devan bingung.


"Semua orang tahu kalau mbak Dhani itu cantik dan banyak yang suka. Tapi saya kasih tahu ya mas, mending nyerah aja mas. Biar nggak bernasib sama kaya cowok-cowok lain yang sering kesini cuma buat mendekati mbak Dhani. Soalnya mbak Dhani itu orangnya cuek, mas. Jangan sampai sampeyan sakit hati juga kaya yang lain karena diabaikan" kata petugas parkir itu membuat Devan tersenyum lebar.


"Tenang aja, mas. Kali ini saya nggak mungkin ditolak" jawab Devan sambil menepuk pundak lelaki itu.


"Jangan terlalu percaya diri, mas. Jangan mas pikir bawa kado begituan terus mbak Dhani terima. Yang lain juga gitu. Tapi tetep aja pulang-pulang pada kecewa karena ditolak" jawab petugas parkir itu sambil menunjuk paperbag yang dibawa oleh Devan


Devan beralih menunduk melihat paperbag "Oh ini" kayanya sambil mengangkat paperbag yang dibawanya. " Kalau ini buat Juna, Mas"


"Oo...." jawab lelaki itu membulatkan bibirnya.


"Ya sudah saya masuk dulu ya, mas" kata Devan tersenyum ramah.


"Iya monggo, mas. Selamat berjuang" ucap lelaki itu mengangkat satu tangannya memberi semangat dan dijawab Devan dengan senyum lebarnya.


Devan melangkah masuk ke dalam resto. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Vania. Sejenak aktifitasnya berhenti saat seorang pelayan datang mendekatinya.


"Permisi, pak. Sudah ada reservasi sebelumnya?" tanya pelayan yang kebetulan adalah Kia.


"Emm... Saya kemari ingin bertemu dengan manager resto"


Kia memicingkan matanya menatap heran lelaki di hadapannya.

__ADS_1


"Nih orang kaya nggak asing. Wajahnya mirip artis. Kasihan kalau tampan-tampan gini bakal di tolak juga sama mbak Dhani" batinnya dalam hati


Devan menggerakkan tangannya di depan wajah Kia yang tampak bengong.


"Hallo...apa anda mendengar saya" tanya Devan.


"Ah iya, pak. Maaf... tunggu sebentar saya panggilkan" kata Kia ramah yang kemudian berbalik.


"Tunggu, Kalau boleh ijinkan, biar saya yang menemuinya"


Kia kembali menoleh ke belakang menghadap Devan. "Maaf pak, tidak bisa. Anda tunggu saja disini, biar saya sampaikan ke beliau"


Di waktu yang sama, Sherin keluar dari dalam hendak mengambil ponselnya yang tertinggal di mobil. Ia terkejut mendapati suami dari sahabatnya sedang berada disana.


"Kak Devan" panggil Sherin antusias. "Kapan nyampe? kok nggak bilang kalau mau kesini" lanjut tanya Sherin.


"Baru aja, sengaja mau kasih kejutan buat Vania. Boleh ketemu langsung?" tanya Devan.


"Ya boleh dong" jawab Sherin tertawa. "Ki, anterin ke taman belakang ya" perintah Sherin ke Kia.


Kia mengangguk dengan mengernyit heran, seolah meminta kejelasan dari sikap atasannya yang tak seperti biasa.


"Suaminya mbak Dhani" kata Sherin yang sudah di belakang Devan. Ia menggerakkan bibirnya tanpa bersuara agar Kia mengerti.


Kia membulatkan matanya karena terkejut. Ia tak menyangka lelaki tampan itu memang ada hubungan khusus dengan managernya.


Langkah kaki Kia berhenti di sebuah taman belakang resto yang tak begitu luas dengan dua pohon besar di sisi ujungnya. Di tengah-tengah taman ada sebuah gazebo yang cukup besar. Nampak seorang duduk membelakangi pintu taman dan seorang anak kecil sedang bermain.


"Itu mbak Dhani lagi main sama mas Juna, Pak" kata Kia menunjuk sopan dengan 8bu jarinya.


"Makasih ya mbak" ucap Devan.


"Saya permisi dulu, Pak" pamit Kia kembali bekerja.


Devan mengangguk pelan membiarkan Kita kembali ke resto.


Devan berjalan menghampiri Vania yang duduk membelakanginya. Saat sudah dekat dan berdiri tepat di belakang Vania. Devan meletakkan paperbag yang dibawanya ke bawah lalu menutup kedua mata Vania dengan tangannya.


"Eh eh....siapa ini" ucap Vania terkejut membuat Juna menoleh.


Juna memandang Devan yang berdiri di belakang Vania dengan tatapan tajam. Ia langsung berdiri dengan tangan yang mengepal.


"Oom, jangan" teriak Juna ke Devan


"Oom?" ucap Vania memegang kedua tangan Devan. Namun Devan tak juga memindahkan tangannya.

__ADS_1


"Mama, itu Oom jahat" kata Juna merengek takut.


"Siapa ini, tolong lepaskan, jangan bikin putraku ketakutan" kata Vania memaksa tangan Devan untuk menyingkir.


Devan melepaskan tangannya. Dengan cepat Vania menoleh.


"Mas..." kata Vania pelan dengan penuh kegembiraan. Ia memeluk tubuh suaminya yang terhalang pagar kayu pendek sebagai pembatas ujung gazebo.


Juna meraih pundak Vania meminta pemiliknya untuk melepaskan dari pelukan Devan.


"Mama, jangan" kata Juna sambil menangis.


Vania menarik diri dari pelukan Devan dan menoleh ke belakang menghadap Juna.


"Kenapa, sayang?" tanya Vania ke Juna.


"Oom jahat. Juna takut" jawab Juna merengek ke Vania sambil matanya melirik ke arah Devan.


"Oom nggak jahat, sayang. Oom ini suaminya Mama, jadi dia Papanya Juna juga" kata Vania menjelaskan ke Juna.


Devan berjalan memindahkan tubuhnya dan duduk di samping Vania.


Juna menggelengkan kepalanya pelan, "Enggak... Oom ini angis mama" kata Juna.


Vania melirik ke suaminya dengan tatapan lembut. Devan membalasnya dan tersenyum kecil.


"Sayang, Juna... Oom bukan orang jahat. Kemarin mama nangis bukan karena Oom. Tapi karena mama sedang sakit. Juna nggak boleh marah sama Oom, ya" kata Vania menasehati putranya dengan lembut.


Juna hanya diam dan melirik ke Devan. Namun kini sorot mata yang semula tajam itu mulai berubah.


"Juna, ini Oom bawa mainan buat Juna" kata Devan menyodorkan paperbag ke Juna.


Juna mengambilnya dan membuka isinya.


"Wah... mainan lego" kata Juna senang.


"Bilang makasih sama Oom... Eh salah, papa" kata Vania mengoreksi ucapannya.


"Makasih Oom, eh Papa" kata Juna membuat Vania dan Devan tertawa.


"Usah nggak marah sama Papa kan?" tanya Devan dan Juna menggeleng.


Juna langsung berjalan agak menjauh membawa mainan barunya ke sisi gazebo ujung agar mempunyai tempat yang luas untuk bermain.


"Kamu nyogok dia, mas" Kata Vania tersenyum.

__ADS_1


"Semua sudah aku prediksi dan siapkan sejak awal, sayang" kata Devan bangga membuat Vania melipat bibirnya dan memukul pelan lengan suaminya.


__ADS_2