Cinta Vania

Cinta Vania
Malam Pesta


__ADS_3

Malam ini Vania tengah bersiap di sebuah kamar hotel ditemani oleh seorang perias beserta asistennya yang akan membantunya untuk merias dan mempercantik dirinya. Tentu saja semua itu karena Devan yang melakukannya. Ia menyuruh sekertarisnya untuk menyiapkan seorang perias untuk membantu istrinya.


Devan yang sudah siap dengan pakaian resminya dengan sabar menunggu di sofa yang ada di ruangan kamar hotel. Ia memainkan ponselnya untuk mengisi kekosongan agar tidak jenuh sambil sesekali melirik pada istrinya yang sedang duduk dirias di depan cermin.


Vania telah selesai mengganti pakaiannya dengan sebuah dress berwarna peach selutut yang telah dibelinya bersama Devan siang tadi di sebuah butik ternama. Dress berbentuk shoulder off dengan manik-manik kecil berbentuk bunga yang menambah kesan manis dan mewah pada gaun itu membuat pemakainya nampak sangat cantik dan anggun. Apalagi disertai dengan make up flawless seperti permintaan Vania agar tak terlihat menor dan berlebihan. Rambutnya yang digelung rapi tak lupa diberi hiasan diatasnya. Dengan membiarkan beberapa helai bagian depan yang dibiarkan terhelai semakin menambah kesan manis dan ayu wanita yang selalu tampil mendekati sempurna itu.


Sejenak tatapan mata Devan terpukau akan penampilan istrinya yang begitu mengesankan. Setelah sesaat kemudian ia dikejutkan oleh suara perias yang sedang bertanya padanya.


"Bagaimana penampilannya, tuan. Apa ada yang kurang?"


Pertanyaan wanita yang bertugas sebagai perias untuk Vania membuat Devan tersadar akan lamunannya yang tengah terkesiap dengan penampilan istrinya yang begitu menawan.


"Iya, aku suka" kata Devan gelagapan.


Perias bersama asistennya tersenyum lega mendengar jawaban Devan yang sabgat memuaskan.


"Emm... tapi tolong untuk sepatunya tolong diganti dengan yang sudah saya siapkan tadi" kata Devan mengoreksi.


"Baik, tuan. Kami akan segera melakukannya"

__ADS_1


"Sepatu?" celetuk Vania bertanya karena dirinya tidak tahu menahu tentang sepatu pilihan suaminya. Ya, Devan sengaja membeli sepasang sepatu baru dengan hak tinggi untuk istrinya sebagai hadiah mengingat semenjak istrinya kembali tak pernah sekalipun ia memberikan hadiah.


"Iya... Aku membelinya dua hari yang lalu untuk dirimu" kata Devan dengan sudut bibir yang melengkung.


Vania tersenyum haru dengan senyum yang merekah. Ia merasa begitu bahagia dengan kehidupannya kini. Berada di tengah-tengah orang yang begitu menyayangi dirinya sepenuh hati, terutama Devan, suaminya.


"Makasih ya, mas" ucapnya penuh haru.


"Udah jangan nangis. Aku tidak mau riasanmu rusak dan memakan waktu untuk memolesnya lagi dengan make up"


Celoteh Devan membuat Vania berubah kesal. Padahal awalnya dirinya terharu dan terenyuh akan ucapan suaminya.


*****


Ballroom tempat dimana diadakan acara pesta sudah nampak ramai akan para tamu undangan yang telah hadir. Tak terkecuali Pak Surya dan Bu Dewi yang sudah sengaja datang jauh-jauh dari London untuk menyaksikan acara ulang tahun perusahaan sekaligus perayaan kesuksesan putranya dalam mengembangkan bisnis dan usaha. Begitu pula Bu Karina dan Adit beserta istri dan anaknya yang juga hadir sebagai keluarga sekaligus rekan kerja.


Semua tamu sudah berkumpul dan saling berbaur dengan yang lain. Hanya sepasang sejoli pemilik acara yang belum juga nampak disana. Pesta digelar sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak media yang berdatangan meliput dan mengabadikan kemewahan acara. Bisa dikatakan tahun ini merupakan pesta terbuka untuk awak media. Tidak seperti sebelumnya yang selalu diadakan tertutup. Hiasan bunga berwarna putih dan pink diatur sedemikian rupa untuk mempercantik ruangan. Karpet merah yang telah digelar sepanjang pintu masuk ballroom menuju bagian panggung yang tersedia menambah kemewahan acara pesta. Banyak juga penyanyi ternama yang ikut meramaikan acara dengan menyumbangkan suara emasnya sebagai hiburan bagi penikmat pesta.


Semua mata menoleh dan menatap kagum pada pasangan sejoli yang baru saja memasuki pintu dan berjalan diatas karpet merah. Begitu pula sapaan senyum bahagia terpancar dari pasangan yang tengah mencapai kesuksesan dengan statusnya sebagai orang terkemuka di dunia bisnis sekaligus pemilik acara.

__ADS_1


Vania yang tak terbiasa dengan beberapa pasang mata yang tengah memperhatikannya serta beberapa lampu kamera dari media yang tengah meliput, hanya bisa memaksakan senyumnya sambil memegang erat lengan suaminya. Bahkan sesekali ia menyembunyikan wajahnya dibalik lengan kekar suaminya. Ya, jelas saja. Vania bukan berasal dari lingkungan yang terbiasa dengan sorot kamera.


Devan yang menyadari keberadaan orangtuanya segera memberitahukannya pada Vania. Senyum mereka mengembang sempurna saat mengetahui bukan hanya Pak Satria dan Bu Dewi yang hadir disana. Bahkan Bu Karina dan orang tua angkat Devan yang notabenenya bukan partner kerja pun ikut datang memberikan dukungan dan selamat atas kesuksesan pria muda yang begitu mengagumkan itu.


Berbagai kalangan hadir memenuhi ruang pesta. Banyaknya ucapan selamat atas keberhasilan yang telah dicapai oleh Devan membuatnya bangga dan terharu. Namun ada yang lebih penting dari pesta ulang tahun SA Group. Pesta ini sengaja dibuat oleh Devan untuk memperkenalkan Vania sebagai pasangan hidupnya di hadapan umum. Dimana ia akan mengumumkan pernikahannya nanti saat memberikan sambutan.


****


Rangkaian acara telah berlangsung dengan baik. Kini tiba saatnya pemilik pesta memberikan sambutan dalam acaranya pada seluruh tamu undangan dan media. Tak lupa ia menyampaikan niat awalnya mengadakan pesta ini yang tak lain untuk memperkenalkan sosok wanita yang ia cintai dan kini telah menjadi pendamping hidupnya. Ya, dia adalah Vania. Devan menunjuk ke arah Vania dengan tangan kanannya. Hal itu membuat seluruh pasang mata bahkan kamera menuju ke arah Vania.


Vania yang tak terbiasa dengan tatapan semua orang hanya menunduk malu-malu di samping mertuanya. Namun, meski begitu ia tak mampu menyembunyikan sorot mata harunya saat suaminya menyebut jika ia adalah wanita yang sepuluh tahun lebih diidamkannya.


Tepuk tangan para tamu undangan menggema seisi ruangan. Meski awalnya mereka terkejut saat mendapati pria tampan dan kaya yang diidolakan para wanita itu ternyata sudah beristri, namun mereka tetap senang dan bangga karena pria itu begitu mencintai istrinya.


Malam semakin larut. Perjamuan pun berubah menjadi lebih santai dan non formal. Sebagian tamu undangan yang sedikit berumur juga sudah mulai meninggalkan pesta, termasuk orang tua dan keluarga mertua dari Devan.


Devan menghabiskan waktu mengobrol dan berbincang dengan rekan bisnis mudanya. Ia tak sedetikpun melepas genggaman tangan istrinya. Lelaki itu benar-benar takut istrinya jauh sedikit saja darinya.


Kini wajah cantik Vania dikenal oleh seluruh rekan bisnis Devan bahkan publik sebagai istri sah dari Devan Satria Atmadja, seorang pengusaha muda sukses dan kaya dengan harta kekayaannya yang melimpah dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2