Cinta Vania

Cinta Vania
episode 25 Nadya 2


__ADS_3

"kalian bukan mengincar orang yang sama kan?" tanya bunda yang membuat kedua pria itu menoleh ke bunda.


"ya nggak lah bund" jawab Devan cepat


Bu Dewi tersenyum lega mendengar jawaban Devan. Awalnya ia berfikir mereka sedang memperebutkan seorang gadis.


"bunda mau tahu sesuatu?" tanya Andre sedikit berbisik


"apa?"


"putra semata wayang bunda lagi jatuh cinta"


"hah, benarkah? siapa gadis itu?" tanya bunda terkejut, ia tampak senang mendengar yang dibicarakan Andre.


"kalian ngomongin apa sih?" tanya Devan penasaran karena tak bisa mendengar bundanya dan Andre berbisik-bisik.


"enggak....cuma mau minta solusi" jawab Andre berkilah


"solusi?" Devan mengkerutkan keningnya.


"solusi buat deketin cewek" sahut bunda santai.


"buahahahaha" tawa Devan pecah," nggak salah ku minta solusi nyokap gue? yang ada lu di laporin ke nyokap lu biar di jodohin" lanjutnya


"ihh...asal aja kalau ngomong, gini-gini juga bunda pernah muda.. bunda masih ingat betul cara ayahmu dulu ngejar-ngejar bunda, padahal bunda udah punya pacar, tapi nggak nyerah juga... nanti bisa bunda ceritain ke Andre" kata bunda


"oke itu bund....tapi kayaknya lebih cocokan Devan yang dengerin deh..soalnya itu pas banget sama Devan" sahut Andre menyindir sahabatnya


"sialan lu ya" umpat Devan


"beneran? kol kami nggak jauh-jauh kayak ayah kamu sih nak" tanya bunda


"bedanya bund, anak kesayangan bunda ini keok... bisanya nyerah duluan sebelum perang" Andre semakin menyudutkan Devan.


Devan hanya diam memonyongkan bibirnya karena kesal rahasianya dibongkar di hadapan bundanya


"jadi siapa gadis itu?barang kali bunda bisa bantu" tanya bunda semakin penasaran


"namanya itu...."


Belum selesai Andre melanjutkan bicara, Devan sudah membungkam mulut Andre dengan tangan kanannya.


"nggak siapa-siapa kok bunda, nggak usah dengerin orang gila ini bund" kilah Devan


Bunda hanya tersenyum melihat tingkah mereka. " ya sudah kalau nggak mau cerita sekarang...bunda yakin besok-besok pasti kamu nyariin bantuan bunda"


"oo iya sayang...anaknya oom Firman juga satu sekolah sama kamu lho, cuma masih kelas X sih, sekarang udah remaja, makin cantik dan manis" lanjut bunda


"oom Firman yang mana bund?"

__ADS_1


"itu lho..sahabat dekat ayah, yang kemarin bunda sama ayah kesana, kamu diajakin nggak mau." jawab bunda mengingatkan


"oo...yang malam-malam itu"


"iya... tapi bunda lupa nama anaknya siapa..Nia Nia gitu lho kayaknya..." kata bunda memutar bola matanya dan mengangkat jari telunjuknya sambil berfikir.


Devan dan Andre tak menghiraukan nama yang disebut oleh bunda. Bagi mereka paling juga enggak bakalan kenal.


"kapan-kapan bunda undang deh kesini, kita makan malam bareng" lanjut bunda


"terserah bunda aja" kata Devan lembut.


"ya udah kalian lanjutin lagi..bunda ke dalam dulu..nanti biar bi Siti bawain cemilan dan minum kesini" pamit bunda sambil beranjak dari duduknya


"makasih bunda" sahut Andre


"nggak usah sungkan...kamu udah kayak anak bunda sendiri" lanjut bunda yang kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah


"sumpah gue nyaman banget sama nyokap lu...nyokap rasa sahabat, bisa menyesuaikan situasi.. gaul abis..kalau gue jadi lu, gue nggak bakal jauh-jauh buat cari tempat curhat,, bunda segalanya mampu memberi solusi..sayangnya, anaknya nggak pernah nyadar" kata Andre panjang lebar setelah bunda Devan tak terlihat


"bukannya nggak nyadar... gue cuma belum siap aja buat cerita ke bunda"


"kenapa?"


"ya....gue masih malu lah...apa lagi" jawab Devan santai "jadi gimana masalah lu"


"terus"


"ya gue berusaha buat deketin, tapi nggak tau akhir-akhir ini dia kayak sengaja menjauh"


"maksud lu?"


"dia nggak pernah bales chat gue, telepon juga nggak diangkat, gue samoeein juga buru-buru menghindar" kata Andre menjelaskan.


Obrolan mereka beehenti saat bi Siti datang membawa nampan berisi gelas minuman dan camilan. Bi siti meletakkannya diatas meja depan Devan dan Andre.


"makasih bi" kata Andre


"iya den" jawab bi Siti mendekap nampan di dadanya dan berlalu perg


Devan mengambil gelas berisikan jus dan meminumnya.


"jadi gimana?" tanya Devan melanjutkan pembicaraan sambil meletakkan gelas kembali di meja.


"gue belum tahu, gue bingung...besok gue bakalan jemput paksa lagi buat berangkat sekolah" kata Andre


"lu udah pernah ungkapin ke Nadya?"


"belum sih, gue nggak punya waktu buat bicara serius sama dia. Tapi tadi pagi pas gue jemput wajahnya kelihatan sendu kaya lagi sedih. pas gue tanya dia cuma diam aja" kata Andre sedih.

__ADS_1


"ya coba besok dulu... nanti reaksi Nadya gimana, gue bantuin lu deh buat ngungkapin perasaan lu ke dia"


"beneran?" tanya Andre sumringah


"nggak....gue cuma ngomong asal tadi" jawab Devan membuat Andre memonyongkan bibirnya karena jengkel. "ya beneran lah... masa iya gue bohong sama lu" lanjut Devan membuat raut muka Andre kembali berubah senang.


"yess....impas..gue bantuin cari informasi buat lu, lu bantuin gue jadian ama Nadya, oke?" sahut Andre mengulurkan tangan seolah membuat perjanjian.


"oke...asal lu nggak cuma main-main sama Nadya. kasihan dia. Dia anaknya baik" jawab Devan menyambut uluran tangan Andre


" ya nggak mungkin gue sia-siain orang yang gue sayang" kata Andre membuat garis bibir di wajahnya sedikit terangkat. Ia begitu puas dengan pernyataan sahabatnya.


*****


Pagi harinya Andre kembali menunggu Nadya di depan gang rumahnya. Cukup lama ia menunggu karena memang sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya.


Dari jauh ia melihat sosok Nadya berjalan menunduk keluar gang. Ia yakin Nadya tidak melihat keberadaanya. Ia menyalakan mesin mobilnya dan menghampiri Nadya yang telah selesai menyebrang.


Nadya terkejut dengan kehadiran Andre. Ia terdiam saat mobil Andre tepat berada di hadapannya. Andre turun dari mobil dan berjalan mendekati Nadya. Tanpa berkata sepatahpun, Andre menarik lembut pegelangan tangan Nadya untuk masuk mobil. Nadya hanya menurut dan mengikutinya tanpa perlawanan karena tak ada alasan lagi untuk menghindar.


Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil mereka hanya terdiam. Sesekali Andre melirik Nadya yang hanya membuang muka ke jalanan samping.


Nadya memutar kepalanya dan menghadap jalanan depan. Ia mencoba mengumpulkan kata-kata untuk diucapkannya pada Andre


"besok Nadya mohon kakak jangan jemput lagi" kata Nadya pelan. wajahnya menunduk tanpa menoleh ke Andre


Andre merasa terkejut dengan ucapan Nadya ia meminggirkan mobilnya di tepi jalan dan berhenti.


"maksud kamu?" tanya Andre menatap wajah Nadya yang masih menunduk


"aku nggak mau ngerepotin kakak"


"ini aku yang minta lho...kamu nggak suka aku jemput?" tanya Andre dan Nadya hanya mengangguk pelan


"cowok kamu marah? nggak mungkin kan? setahu aku kamu belum punya cowok"


Nadya hanya diam dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Nadya tatap aku" perintah Andre lembut. Nadya mengakat kepalanya namun tak mau menoleh ke Andre."


"kamu kenapa?" tanya Andre lagi karena Nadya hanya menjawab pertanyaannya dengan gerakan kepala tanpa suara


"jalan lagi aja kak, nanti telat" kata Nadya mengalihkan pembicaraan.


Wajah Andre sudah mulai memerah menahan emosi. Ia berusaha tetap tenang dan sabar menghadapi Nadya.


"nanti kita pulang bareng, aku belum puas dengan jawaban kamu" kata Andre datar dan memasukkan gigi mobil dengan kasar. Dia benar-benar marah.


Nadya merasa sedikit takut dengan reaksi Andre. Mereka diam saja selama perjalanan sampai sekolah.

__ADS_1


__ADS_2