
Nadya memilih jurusan yang sama dengan Vania. Dan kebwtulan mereka juga ada di kelas yang sama.
Hari ini, mereka ada jam kuliah sampai jam 11.00 siang. Selesai kuliah, mereka pulang bersama pasangan masing-masing.
Ditya yang kala itu tidak mempunyai jam kuliah sudah menunggu kekasihnya lebih awal dengan motor maticnya. Vania segera menghampiri Ditya setelah berpamitan dengan Nadya. Mereka akan pergi ke toko buku sekalian makan siang
Sedang Nadya harus menunggu Andre yang masih belum keluar juga dari kelasnya. Ya, Andre juga satu kampus dengan mereka. Ia sudah dua semester diatas Nadya dan memilih jurusan hukum.
Berbeda dengan mereka semua, Devan melanjutkan kuliah di Universitas Oxford London sesuai permintaan ayahnya sekaligus belajar mengurus perusahaan milik ayahnya yang akan diturunkan kepada Devan sebagai pewaris tunggal.
Ditya hanya membutuhkan waktu tiga tahun saja untuk menyelesaikan kuliahnya. Ia mengambil jurusan economics and management di kampus itu. Devan belajar sangat keras disana. Tak heran ia mampu mempelajari manajemen perusahaan dengan cepat hingga Ia mampu memegang kendali perusahaan dengan baik meskipun ia belum lulus. SA Group menjadi maju pesat setelah diambil alih oleh Devan.
Devan merupakan mahasiswa Indonesia yang cukup tenar di kampusnya. Selain karena kekayaan yang ia miliki, ia juga dikenal sebagai mahasiswa muda sukses dan cerdas. Banyak para gadis mendekat dan menggodanya. Salah satunya Alline, dia adalah seorang mahasiswi dari Indonesia yang juga berkuliah disana. Dia begitu terobsesi ingin mendapatkan Devan. Ia menggunakan segala cara untuk mendekati Devan. Namun, semua usahanya selalu gagal. Devan tak pernah sedikitpun menoleh ataupun peduli karena hatinya sudah terpatri pada Vania seorang.
Sudah hampir tiga tahun Devan tidak pernah mengunjungi tanah air. Kesibukannya benar-benar membuatnya tidak bisa bergerak dari London. Setiap ia rindu dengan orang tuanya, mereka sendiri yang akan menemui putranya di London. Dan bulan ini, ia mendapatkan libur satu bulan yang akan ia manfaatkan untuk pulang ke tanah air karena pamannya yang akan menghandle perusahaan sementara.
Kepulangan Devan sampai juga di telinga anak cabang perusahaan-perusahaan milik ayahnya. Salah satunya perusahaan yang dipimpin oleh papa Vania. Pak Firman begitu penasaran dengan sosok Ditya, anak sahabat sekaligus atasannya yang selalu gagal saat melakukan pertemuan keluarga dulu.
Devan akan sampai di tanah air sabtu pagi. Masih ada waktu tiga hari baginya untuk berkemas dan mempersiapkan liburannya. Ia merasa senang bisa pulang. Selain rindu dengan teman-temannya, ia juga ingin melihat wajah pujaan hatinya meski tak bisa menyentuhnya.
Di tempat lain, Vania sedang makan siang di sebuah kafe bersama Ditya setelah dari toko buku. Ia menikmati makanannya sambil mengobrol santai.
Tiba-tiba Ditya melepaskan sendok dan garpunya. Wajahnya berubah pucat. Dia memegang kepalanya seperti menahan sakit. Vania yang melihatnya menjadi khawatir.
__ADS_1
"kamu kenapa?" tanya Vania khawatir
Ditya hanya terdiam menunduk sambil terus memegang kepalanya dan menjambak rambutnya sendiri.
"yank....kamu nggak apa-apa? jangan bikin aku takut donk..." lanjut Vania masih dengan perasaan tak karuan.
Ditya mengangkat wajahnya. Ia tersenyum kearah Vania. Raut mukanya mulai berubah. Tangannya juga sudah terlepas dari kepalanya.
"nggak apa-apa yank" jawabnya santai sambil memegang kembali
"yakin? tapi tadi kamu kayak kesakitan banget" tanya Vania intens
"beneran yank, aku udah nggak apa-apa. akhir-akhir ini kepalaku emang sering sakit, mungkin kebanyakan ngitung angka kali ya..." jawab Ditya tertawa seolah tidak terjadi apa-apa
"lho kok cuma bengong, ayo dong dihabiskan makananmu, apa perlu aku suapi?"
"em....eh enggak usah" jawab Vania gelagapan. Ditya tersenyum melihat reaksi Vania.
Vania buru-buru mengambil sendok dan garpu yang tergeletak diatas piringnya.
Setelah menyelesaikan makannya, Ditya mengantarkan Vania pulang. Baru ia kembali ke rumahnya.
Sesampainya Ditya di rumah. Ia merasakan kepalanya makin pusing. Ia berjalan sempoyongan menuju kamarnya sambil memegang kepalanya. Ibu Ditya yang melihat anaknya terlihat aneh mencoba untuk mendekat. Namun, belum sampai Ditya membuka pintu kamarnya tiba-tiba ia terjatuh dan pingsan di depan pintu. Ibunya segera berlari menghampiri putranya. Ia berteriak memanggil suaminya untuk meminta pertolongan.
__ADS_1
"bapak.....tolong pak...Ditya pingsan" teriak ibu Ditya sambil menangis.
Bapak Ditya berlari keluar kamar menuju suara teriakan istrinya.
"masya Allah... kita bawa ke puskesmas aja bu', cepetan ibu minta tolong pak Kadir biar bisa mengantar kita pakai mobilnya"
Ibu Ditya segera berlari keluar menuju rumah pak Kadir yang menjadi ketua RT setempat yang letaknya hanya berjarak dua rumah dari rumah Ditya. Dengan cepat Ditya dibopong oleh bapaknya menuju luar rumah dan menunggu kedatangan pak Kadir.
Tak lama pak Kadir sudah mengandarai mobilnya menuju rumah orang tua Ditya. Ditya segera dibawa ke puskesmas terdekat.
Sesampainya di puskesmas, pak Kadir diminta pilang oleh orang tua Ditya setelah mengucapkan terimakasih. Mereka tidak ingin semakin merepotkan ketua RTnya.
Ditya segera di bawa ke IGD untuk diperiksa. Ia mendapatkan penanganan cepat dari dua dokter umum yang berjaga saat itu. Salah satu dokter memeriksa keadaan Ditya dan satunya lagi meminta penjelasan atas kejadian yang yang menimpa pasien.
"dia sering mengeluh sakit di kepalanya pak dokter, saya pikir itu karena pusing biasa..tapi nggak tau kenapa tadi tiba-tiba pingsan" kata ibu Ditya bergetar karena menahan tangis.
Mendengar penuturan ibu Ditya, dokter menyarankan agar pasien melakukan pemeriksaan fisik dan juga tes CT scan di rumah sakit besar untuk memastikan penyakit yang di derita oleh pasien karena peralatan medis di puskesmas sangat minim.
Ibu Ditya menangis mendengar penjelasan dokter. Hatinya hancur mendengar putranya harus melakukan tes yang menurut mereka menakutkan. Belum lagi kendala soal biaya. Penghasilan kecil sebagai kuli bangunan membuat mereka hanya sanggup berobat di puskesmas. Mereka bingung harus membayar pakai apa. Sedang buat makan saja mereka masih dibantu oleh Ditya yang bekerja paruh waktu.
Ditya segera dipindahkan ke ruang rawat inap setelah orang tuanya mengurus administrasi.
Sudah dua jam Ditya berada di ruangan. Namun ia tak kunjung sadar juga. Ibunya yang duduk di kursi samping ranjang pasien mulai gelisah dan terus menangis. Ia menggenggam erat tangan Ditya berharap putranya akan bangun dan sadar.
__ADS_1
Bapak Ditya tida bisa berbuat apa-apa. Ia hanya diam mencoba menguatkan hati istrinya dengan berdiri disampingnya dan mengelus pundaknya. Ia mencoba kuat meski sebenarnya sangat sedih memikirkan nasib putranya.