Cinta Vania

Cinta Vania
Kenapa Harus Dia


__ADS_3

"Jika tahu kamu bekerja sebagai asisten pak Linggar, aku pasti akan melarangnya" kata Devan sambil berdiri mengembalikan kotak obat ke tempatnya.


"kenapa?"


"aku tahu betul alasan para asistennya dulu keluar, ya karena itu tadi" jawab Devan santai, "sebenarnya aku sudah menduga hal ini akan terjadi lagi, tapi karena kinerja pak Linggar yang sangat bagus, aku mempertahankan untuk tidak memecatnya. Namun tidak untuk sekarang, aku benar-benar tidak terima perlakuan istrinya terhadapmu" lanjutnya.


"tapi pak Linggar orang baik"


"Ya, itu benar, tapi selama ia masih bersama istrinya yang arogan itu, aku yakin kejadian itu akan tetap terulang kembali" kata Devan.


"jadi maksudmu, pak Linggar dikeluarkan dari sini? kan kasihan beliau..."


"aku tahu itu, tapi aku tidak mungkin mempertahankannya lagi sementara sudah terlalu banyak yang dikorbankan karena perilaku istrinya" kata Devan sambil duduk kembali di sofa.


"lalu?"


"apa?" tanya Devan dengan senyumnya


"bossku siapa?"


"aku lah" jawab Devan santai


"nggak mau" tolak Vania cepat sambil manyun


"kenapa?"


"aku nggak mau bareng si Ronald,"


"kok gitu, kenapa?"


"galak, dia udah kaya polisi"


Devan tertawa mendengar jawaban Vania. Padahal sebenarnya dia hanya menggoda gadis itu saja.


"bercanda, , , Biar besok digantikan oleh perwakilan anak cabang kepercayaanku"


"baik nggak?"


Devan mengangguk "aku pastikan hal seperti ini tidak akan lagi terjadi padamu" kata Devan menatap lekat wanita di dekatnya.


Vania tersenyum senang dengan pernyataan Devan.


"Boleh aku tahu sesuatu?" tanya Devan dan Vania mengangguk pelan


"kenapa harus kau sembunyikan identitasmu disini padaku?"tanya Devan serius.


"emm... aku takut kamu menolakku bekerja disini" kata Vania.


"apa alasan itu bisa ku terima?


"emm..aku..emm....baiklah kalau gitu, aku balik dulu... aku nggak mau yang lain pada curiga" ucap Vania berdiri. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan dengan Devan karena merasa guhup


"mau kemana?"


"kerja... kembali ke ruanganku"

__ADS_1


"dengan kondisi seperti ini?" Devan mengkerutkan keningnya. Ia merasa khawatir dengan gadis ini.


Vania mengangguk dengan melipat bibirnya, "udah mendingan kok, makasih ya" katanya lembut.


"apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu?"


"enggak, banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan"


"baiklah,, aku tidak mungkin memaksamu"


Devan pun membiarkan Vania keluar dari ruangannya. Meski ada rasa kecewa di hatinya, namun setidaknya ia merasa tenang gadis itu sudah lebih baik.


Vania keluar dari ruangan Presdir dan menuju ke lift untuk mengantarnya ke ruangannya.


Sesampainya di lantai tiga, Vania terkejut mendapati David yang sudah menunggu di ruangannya.


"kamu ngapain disini?" tanya Vania ke David.


"Van, aku khawatir sama kamu... kamu nggak apa-apa kan? tanya David yang hanya diangguki oleh Vania.


"bagaimana lukamu?"


"sudah dibersihkan dan diobati" jawab Vania


"pak Devan orangnya?" tanya David sedikit resah. Pria itu terlihat cemas menyebut nama presdir mereka.


Vania mengangguk lagi.


Devan menghela nafas pelan. Ia nampak kecewa dengan jawaban Vania. Lebih tepatnya ia cemburu pada Devan.


"Pak Devan adalah sahabat kakak dan papaku, dan kebetulan dia juga kakak kelasku dulu"


David lega mendengar jawaban Vania. Awalnya ia mengira Vania dan Devan ada hubungan khusus. Dengan begini, ia tak perlu lagi merasa takut tersaingi dan akan lebih bersemangat untuk mendapatkan hati Vania.


"baiklah kalau begitu, aku ke ruanganku dulu" kata David sambil senyum. Ia berlalu meninggalkan kedua wanita yang berdiri tak jauh darinya.


Jam pulang kantor pun selesai. Vania membereskan mejanya sebelum pulang.


drrtttt...drrttt...drrttt....


Ponsel Vania yang masih diatas meja bergetar membuat pemiliknya melirik ke layar ponsel yang menyala.


Hatinya berbunga-bunga setelah tahu siapa yang menghubunginya. Dengan cepat ia meraih ponselnya dan menggeser tombol hijau.


"hallo kak assalamualaikum"


"waalaikumsalam, lagi dimana?"


"aku masih di ruanganku, beres-beres buat pulang. Ada apa?" kata Vania


"pulang sama siapa?"


"ini mau pesan ojol"


"nggak usah, aku tunggu kamu di bawah"

__ADS_1


"maksudnya" tanya Vania berlagak bodoh padahal bibirnya sudah mengembang senyuman.


"kita pulang bareng"


"baik, bentar lagi aku turun"


Vania memutuskan panggilannya. Wajahnya nampak berbinar-binar. Dengan semangat ia meraih tasnya.


"mbak, aku duluan ya... udah ditungguin" pamit Vania ke Maya.


"iya hati-hati Van" jawab Maya.


"tumben tuh anak girang banget di jemput ojol" gumam Maya setelah melihat Vania berlalu.


Sesampainya di lobby, Vania bertemu dengan David yang sedang duduk di kursi depan lobby.


"Van" panggil David yang melihat Vania tergesa-gesa.


"iya, ada apa?"


"aku anterin pulang ya" kata David senyum menawarkan diri.


"maaf ya Vid, aku udah ditunggu sama pak Devan buat pulang bareng, lain kali aja ya"


"Oo.. gitu ya...baiklah" kata David kecewa.


Vania meninggalkan David dan berlari kecil menuju parkiran mobil Devan.


"Sorry, lama ya?" tanya Vania yang sudah memasuki mobil Devan.


"enggak kok, sudah?" tanya Devan senyum dan diangguki oleh Vania.


Devan menyalakan mesin dan melajukan mobilnya keluar dari area kantor. Dari jauh ada sepasang mata memperhatikan mereka. Wajahnya nampak sedih menyaksikan pemandangan yang begitu menyakitkannya.


"kenapa harus dia yang bersamamu" batin David.


Devan menyusuri jalanan kota Jakarta yang padat merayap dengan banyaknya kendaraan berlalu lalang karena bertepatan jam pulang kerja.


"kak, bisa minta tolong berhenti di musholla depan bentar nggak?" pinta Vania karena mendengar suara adzan maghrib berkumandang.


"emm, baiklah"


Devan pun menepikan mobilnya tepat di tempat yang Vania minta. Jalanan yang macet membuat mereka masih berada di jalanan di waktu maghrib.


"tunggu sebentar ya kak, aku turun dulu" kata Vania memegang handle pintu mobil.


"tunggu, aku ikut" kata Devan pelan.


Mereka turun dan menunaikan sholat berjamaah dengan imam setempat. Setelah selesai, Devan yang lebih dulu keluar dari musholla menunggu Vania di teras masjid sambil memakai kembali sepatunya.


"Sudah, Van?" tanya Devan saat melihat Vania keluar dari pintu musholla.


"maaf ya kak, lama..."


"enggak kok, ayo" ajak Devan kembali ke mobilnya.

__ADS_1


Vania tersenyum mengikuti ajakan dari Devan .


__ADS_2