
Setelah pergi berpisah dengan Adi segera ku jalankan mobilku menuju sebuah café namun bukan miliki Rey. Ku arahkan kakiku untuk masuk kedalam mataku mengarah pada seseorang yang sedang duduk di sudut pojok café yang menatap layar ponselnya segera ku berjalan kearahnya
Laura :”Udah lama?” tanyaku singkat yang kemudian duduklah aku di depannya
Rizal :”Baru aja kok, ini udah aku pesankan minum kesukaanmu” katanya dengan menunjuk segelas vanilla latte dengan ice cream penuh diatasnya yang baru saja datang di bawakan pelayan
Laura :’Thanks” tau darimana pikirku
Rizal :”Aku tau semua ra dan aku minta maaf”
Laura :”Soal apa?” jawab cuekku dengan terus memakan ice cream didepanku
Rizal :”Minta maaf soal semalam yang sebelumnya aku belum memberitahumu kalau aku sudah menikah dan punya anak” berusaha menjelaskan
Laura :”Aku nggak peduli” jawab ku cuek yang sebenarnya menyesakkan hati mendengarkan apa yang dia katakan
Rizal :”Nggak mungkin ra, aku tau perasaanmu karena aku juga merasakan hal yang sama” Deg membuat jantung ku berasa berhenti berdetak
Laura :”Tau apa kamu tentang perasaan orang lain”
Rizal :”Aku menyukaimu ra dan kamu juga mem…”
Laura :”Cukup zal! Buang pikiranmu itu jauh-jauh dan ingat satu hal aku tidak pernah menyukai orang yang sudah beristri apalagi pembohong sepertimu” bentakku dan mataku mulai membendung ingin menjatuhkan airnya yang masih harus aku tahan karena aku tidak mau dia melihatnya
Rizal :”Ra maaf, aku mencintaimu aku juga ingin bersamamu”
Laura :”Nggak, itu nggak akan terjadi cukup aku yang merasakan jangan ada perempuan lain dan mulai sekarang lupakan aku dan jalani hidup kita masing-masing” aku mulai menitikan air mata dan Rizal berusaha menghapusnya dari pipiku
Laura :”Jangan sentuh aku dengan tangan busukmu” kemudian aku beranjak pergi meninggalkannya sakit rasanya hati ini mengetahui yang sebenarnya tapi ini lebih baik cepat berlalu. Ku jalankan mobilku dengan cepat pulang ke apartemenku
Bi Ima :”Non Laura baru pulang semalam kemana non bibi khawatir” sahutnya yang melihatku baru masuk dan aku pulang di siang hari mulai sore
Laura :”Bi, oh semalam aku tidur di tempat teman karena aku terlalu ngantuk untuk pulang menyetir”
Bi Ima :”Oh begitu mau bibi siapkan makan non” tanyanya padaku melihat badanku yang lesu
Laura :”Nggak usah bi, nggak lapar aku mau ke kamar bibi istirahat saja” ucapku yang kemudian meninggalkannya. Ku baringkan tubuhku di kamar dan mulai terlelap tidur lelah akan semua ini.
Nindy :”Bi, Laura mana ?” tanya Nindy yang baru saja datang diikuti Lusy di belakang
Bibi :”Eh, Non Nindy Lusy, itu Non Laura ada dikamar mungkin tidur” jawabnya pada dua gadis itu
Lusy :”Lhaa jam segini masih molor tuh anak kelewatan deh”
Bibi :”Anu Non sepertinya Non Laura kecapekan dia baru pulang sejam yang lalu mukanya sedih matanya sembab non kayak orang habis nangis, bibi nggak berani nanya”
Nindy :”Hah baru pulang, kemana dia apa semalem nggak pulang?”
Bibi :”Iya Non”
Lusy :”Ya udah kita langsung ke kamarnya ya bi, ayo Nind” seret tangannua untuk mengikuti
Nindy :”Masih molor aja nih anak”
Lusy :’Ra bangun udah subuh ra” bangunnya sambil menggoyangkan badan Laura
__ADS_1
Laura :”Apasih bi masih ngantuk, 5 menit lagi yaa” sahutnya membenarkan selimut belum sadar siapa yang telah mengusiknya
Nindy :”Sini biar gue bangunin, awas minggir loe” pintanya pada Lusy
Lusy :”Sialan nih anak gue di kira bi Ima” sambil minggir dari kasur setelah mencubit pipi Laura
Nindy :”Ra bangun ra kak Dion dateng ra, cepetan bangun”
Laura :”Hah kak Dion, aduh bentar kak” hah kagetnya bangun gelagapan dan dia sadar siapa yang ada di depannya
Laura :”Hah mana kak Dion, kalian ngerjain gue huh? Sialan loe gangguin gue tidur” jawabnya yang kembali ingin tidur
Nindy :”Eiitzz, mau ngapain loe tidur lagi? Nggak bisa” cegahnya
Laura :"Gue ngantuk"
Lusy :’Iya nih kita kan kesini bawain cake yang enak banget nih toping kejunya banyak lagi.. hmmm sayang kalau nggak dimakan ya gue makan sendiri aja” sambil memakannya dan membuat Laura bangun merebutnya,
Nindy :”Ih jorokk banget sih loe ra cuci muka dulu kek malah langsung makan” mereka yang melihatnya pun heran hingga menggelengkan kepala melihat tingkahnya
Laura :”Biarin bodo amat”
Lusy :”Pelan-pelan ra makannya nggak ada yang bakal ngerebut dari loe”
Laura :”Tadi loe yang mau makan” jawabnya dengan mulut penuh cake yang dia makan
Lusy :”Yaellah non, kalau kurang gue beliin lagi sekalian yang jual biar mampus loe kebanyakan makan cake”
Nindy :”Udah kenapa sih malah ribut gara-gara cake, Ra semalam elo kemana kok nggak pulang?” tanyanya mengidik
Laura :”Ketempat Rey” jawabnya santai tanpa berpaling dari kunyahannya
Laura :”Nggak di apa-apain kok” sahutnya
Lusy :”Bohong banget”
Laura :”Iya gpp kok Cuma baru tau aja kenyataan kalau Rizal udah punya anak istri” jawabnya yang mengagetkan
Lusy :”Hah yang bener loe ra? Kok bisa”
Laura :”Iya semalem anak dan istrinya dateng ke café” ucapnya sedikit lesu
Nindy :”Wah kurang ajar tuh orang berani bikin temen kita nangis, harus di kasih pelajaran tuh orang
Laura :”Udahlah nggak usah kayak gitu, gue gpp kok mending jalan-jalan yuk”
Lusy :”Oke, tapi loe mandi dulu dong bau tau”
Laura :”Bawel loe” ucapnya kemudia pergi untuk mandi
Nindy :”Kasian banget sih dia suka sama suami orang”
Lusy :”Iya gue nggak nyangka bisa kayak gini”
Laura :”Ngomongin apa kalian, pasti ngomongin gue” keluarnya Laura selasai mandi menuju alamarinya
__ADS_1
Nindy :”Sok tau loe”
Laura :”Hmmm terserah, gue pakai baju apa ya? Ini aja deh” kali ini Laura memilih memakai hotpants dan atasan sweater berwarna hitam favoritnya
Nindy :”Nggak pakai baju aja oke kok”
Laura :”Sory ya gue masih waras” ucapnya sambil sedikit merias wajahnya dengan bedak dan lipstick tipis
Laura :”Oke girls lets go shopping, gue nebeng ya” ucapnya sambil cengengesan
Lusy :”Dasar mak lampir” ucapnya kesal
Mereka akhirnya mengelilingi satu mall untuk berbelanja sekalian membuat Laura senang agar dia tidak mengingat Rizal lagi dan sepertinya itu hal yang susah.
Adi :”Laura” ucapnya membuat seseorang menolehnya
Laura :”Adi, kok ada disini?”
Adi :”Jalan-jalan dong ra, Laura habis belanja ya sama temen-temennya”
Laura :”Oh iya kita habis belanja, eh kenalin ini Adi temennya Rey dan Adi ini temen-temen aku Nindy dan Lusy”
“Hallo kak” sahut mereka bersama
Adi :”Hallo panggil aja Adi, kalian mau kemana?” yang dibalas senyuman oleh Lusy dan Nindy
Laura :”Kita mau pulang kak, udah malem juga”
Adi :”Oh gitu, gimana kalau Laura saya anter nggak bawa mobil kan”
Laura :”Eh nggak usah repot-repot kak kita bawa mobil sendiri-sendiri kok iya kan girls” sambil ku tatap kedua temanku agar mengiyakan jawabanku
Nindy :”Iya kita bawa mobil masing-masing kok”
Adi :’Yah sayang banget, padahal aku pengen nganter Laura pulang mungkin next time ya ra”
Laura :”Iya, kalau gitu kita pulang dulu ya”
Adi :’Oke lah bye Laura cantik hati-hati di jalan”
Langsung aku tarik kedua temanku untuk pergi darinya dan segera masuk ke mobil.
Laura :”Astaga leganya”
Nindy :’Loe kenapa sih ra kok kayak ngehindar gitu dari dia?”
Laura :”Iyalah, gue harus ngehindar orang kayak dia apalagi jika kalian tau sifat asilnya”
Lusy :”Emang dia kenapa ra?” tanyanya yang duduk di belakang
Laura :”Dia itu super cerewet tau nggak sih, posesif lagi kan gue bukan siapa-siapa dia males banget sama orang kayak gitu”
Lusy :”Hahaha kan enak ra ada yang merhatiin” membuat Nindy ikut tertawa
Laura :”Ogah, kan gue udah punya kalian yang merhatiin gue” timpalnya membuat terharu temannya
__ADS_1
Lusy :”Duh gemes banget deh” sambil mencubit kedua pipi Laura dari belakang
Hari-hari pun berlalu perkuliahan kini mulai kembali, Laura masih saja mendapat gangguan dari Adi baginya yang terus mengajak memaksanya keluar, hanya sesekali dia mengiyakan.