Dia Milikku

Dia Milikku
Kematian yang hanya ditangisi oleh pria itu


__ADS_3

"Pasien sudah meninggal dunia, Dok," ucap seorang suster yang sudah menangani pasien dari keadaan kritis hingga di nyatakan meninggal dunia.


Terdengar helaan napas berat yang keluar dari mulut sang dokter.


"Kita sudah melakukan yang terbaik untuk pasien. Tetapi, tetap Tuhan yang mampu dan berkuasa memberikan kesembuhan dan kematian."


...***...


Di balik pohon beringin yang meneduhi sebagian pusara, seorang pria berpakaian serba hitam, menatap lurus ke arah pusara yang masih basah dan di kelilingi oleh beberapa anggota kepolisian. Terdapat Rendy juga Surya di sana.


Pria itu hanya dapat melihat dari kejauhan. Matanya yang tertutup oleh kacamata berwarna hitam, berkaca-kaca. Merasakan kesedihan yang tak mampu di ungkapkan oleh kata-kata. Hanya tangan yang mengepal dengan keras, yang mampu ia tunjukkan pada pohon beringin yang menjadi saksi kehadirannya yang tak di sadari oleh orang-orang yang mengelilingi pusara.

__ADS_1


"Aku akan membalaskan kematianmu Kak. Aku akan membalaskan dendam mu pada mereka semua yang telah membuatmu tiada. Ini adalah janjiku padamu," ucapnya dengan wajah yang memerah. Berucap janji walau di hadapannya tak terlihat siapa pun yang mendengar janji yang ia ucapkan barusan.


Daun beringin berguguran karena tertiup oleh angin. Seakan merespons apa yang baru saja pria itu ucapkan.


"Tunggu aku kak. Aku akan ke sana, setelah para brengs*k itu pergi dari tempat peristirahatan terakhirmu," ucapnya lagi dengan suara serak yang tertahan.


Menunggu sekitar sepuluh menit. Akhirnya, para petugas kepolisian juga petugas rumah sakit yang ikut ke pemakan tersebut pergi. Meninggalkan pusara basah yang kematiannya hanya di tangis oleh seorang pria yang bersembunyi di balik besarnya pohon beringin.


"Aku akan membalasnya, kak. Aku akan membalaskan kematianmu," ucapnya masih dengan kata yang sama. Di ambilnya tanah basah yang menutupi tempat peristirahatan terakhir itu. Menggenggamnya erat, menandakan jika apa yang baru saja ia katakan adalah sebuah janji yang akan ia tepati.


...***...

__ADS_1


"Aku tidak menyangka, Vero akan meninggal sebelum ia mendapatkan hukuman yang setimpal," kata Rendy yang berjalan beriringan dengan Surya dan beberapa anggota kepolisian. Langkahnya sudah sedikit jauh dari tempat pemakaman yang mereka gunakan untuk memakamkan jenazah Vero.


"Ini sudah takdir, Ren. Aku pun tidak menyangka, jika Vero akan pergi secepat ini," balas Surya sambil menepuk-nepuk pundak Rendy.


"Bagaimana dengan keadaan si pria tua. itu? Apa dia tahu, jika keponakan tersayangnya itu telah tiada?" tanya Rendy sedikit penasaran.


Surya menggelengkan kepala. "Tidak Ren. Dia belum tahu, kalau Vero meninggal dunia. Kondisinya masih kritis."


"Apa Kakak yakin, jika ptia tua itu benar-benar belum sadar dari masa kritisnya?" tanya Rendy curiga. Langkahnya terhenti, karena memikirkan sesuatu. Ia sudah pernah di bohongi dengan kondisi Vero yang kritis dan akhirnya tiada. Namun, kematiannya ternyata hanyalah sebuah kebohongan belaka. Dan saat ini, kondisi yang sama di alami oleh Matthew, Rendy tidak mau tertipu untuk kedua kalinya.


"Beberapa anggota polisi, sudah aku tugaskan untuk menjaganya, Ren. Kau tenang saja. Akan aku pastikan, jika kaki ini, Matthew benar-benar ada dalam pengawasanku," balas Surya meyakinkan Rendy.

__ADS_1


Rendy menghela napas panjang, lalu mengangguk paham. "Semoga saja begitu, Kak."


__ADS_2