
Sampailah mereka di kediaman Rendy. Rumah bernuansa klasik yang langsung mencuri perhatian Ros, saat mobil berhenti di halaman rumah tersebut.
Rumah yang dalam sekejap langsung membuat mata Ros terbuka dengan sempurna, bahkan dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Indahnya...," gumam Ros saat melihat rumah bernuansa klasik itu dari arah yang cukup dekat.
"Kamu menyukainya?" tanya Rendy yang entah sedari kapan, Rendy sudah berada diluar untuk membukakan pintu mobil Ros.
"Sangat!" jawab Ros dengan pandangan yang masih belum teralihkan, "tapi, ini rumah siapa sayang?" tanya Ros yang dengan berat hati mengalihkan pandangannya melirik ke arah Rendy.
"Ini adalah rumahmu sayang!" jawab Rendy yang membuat Ros membuka mulutnya tidak kuasa menahan senang.
"Kau bercanda? Rumah seluas ini? untukku?" ucap Ros yang masih belum sepenuhnya percaya.
"Aku serius sayang! rumah beserta segala isinya adalah milikmu!" balas Rendy, "bahkan semua yang ada dalam dirimu ini adalah milikmu!" lanjut Rendy membuat Ros berhamburan memeluknya.
"Apa kita hanya tinggal berdua saja di rumah ini?" tanya Ros kemudian.
"Tentu saja tidak!" jawab Rendy, "aku tidak mungkin membiarkan istriku kelelahan dengan rumah sebesar ini," lanjut Rendy.
"Lalu?"
"Ada sekitar dua puluh pembantu di rumah ini, dan mereka mempunyai tugasnya masing masing," balas Rendy.
"Dua puluh?" tanya Ros sambil membulatkan matanya.
"Iya sayang!" balas Rendy, "kenapa? apa mereka semua kurang? kamu mau menambah beberapa pembantu lagi?" tanya Rendy dengan menyelidik.
"Haha! tidak sayang, tidak perlu, mereka semua sudah cukup banyak bagiku!" balas Ros.
"Lalu, kenapa dengan wajahmu itu? kelihatannya kamu tidak senang!" ujar Rendy.
"Bukan begitu sayang! aku sangat senang begitu tahu ini adalah rumah kita yang akan kita tempati sampai tua! hanya
saja- -
"Hanya saja apa?" tanya Rendy yang memotong ucapan Ros yang masih belum selesai.
"Apa rumah ini tidak terlalu besar dan mewah untukku?" jawab Ros.
__ADS_1
"Jangan katakan itu sayang! tidak ada yang lebih bagus dan mewah jika dibandingkan dengan dirimu!" balas Rendy dengan mengecup pipi Ros.
"Kopernya mau saya bawa kemana Tuan?" tanya Herman dengan koper berukuran sedang ditangannya.
"Kau bawa saja ke dalam!" jawab Rendy yang langsung menggandeng tangan Ros, "ayo sayang?" ajak Rendy kedalam.
Ros pun mengangguk, mengikuti langkah Rendy dari samping, karena Rendy menggandeng tangannya dan tampak enggan untuk melepaskannya.
Ros dan Rendy berjalan menaiki satu persatu anak tangga yang berada diluar, menuju pintu utama. Ros terus di buat kagum dengan pemandangan luar rumah yang sangat indah, bernuansa klasik dan tampak elegan.
Lagi dan lagi, saat pintu utama terbuka, dan Ros memasuki rumah tersebut. Ros kembali di buat terpesona dengan seisi rumah ini, luas, mewah, elegan, nuansa klasik semakin kental dari dalam rumah.
"Selamat datang Tuan? selamat datang Nyonya?" sambut para pelayan di rumah besar itu saat majikan mereka, penghuni dan penguasa rumah ini datang.
"Terima kasih!" jawab Ros.
"Selamat datang di surga kita Nyonya Pradana?" ujar Rendy menyambut kedatangan Ros dan dirinya.
"Terima kasih sayang?" balas Ros dengan senyum yang tak mampu Ros tahan dari bibirnya. Senyum yang lolos begitu saja setiap kali Rendy memperlakukannya dengan sangat baik dan romantis.
"Ayo?" ajak Rendy lagi.
"Kemana?" tanya Ros.
Ros mengernyit kan dahinya. "Tempat yang lebih indah?"
"Iya sayang! ayo?" jawab Rendy dengan terus menggandeng tangan Ros.
"Baiklah, baiklah!" balas Ros.
Mereka pun berjalan, menyusuri rumah yang begitu luasnya. Ros tak henti hentinya mengedarkan pandangan matanya ke setiap sudut ruangan.
"Ini indah sekali! sayang apa kau menyiapkan semua ini untukku? aku kira kita akan langsung ke rumah mamah Ajeng setelah pulang dari hotel!" ujar Ros dengan pandangan mata yang terus menyusuri setiap sudut ruangan yang tak hentinya membuat Ros terkagum kagum dibuatnya.
"Kau menyukainya?" tanya Rendy yang langsung dijawab anggukan kecil dari Ros, "tentu saja aku menyiapkan semua ini untuk mu!" Jawab Rendy lagi.
"Kamu romantis sekali sayang!" balas Ros.
"Dan untuk pertanyaan mu soal tidak mengajakmu ke rumah mama ku, itu karena aku ingin membuat mu nyaman di rumah kita sendiri!" ujar Rendy, "kau tahu? banyak menantu dan mertua yang sering salah paham akibat keduanya dipersatukan, walaupun mamaku adalah wanita tangguh yang kekinian, namun aku ingin menjaganya! menjaga agar kalian tidak bersilih paham untuk kedepannya!" lanjut Rendy.
"Tapi aku bukan tipe orang yang mudah salah paham kepada seseorang sayang! apalagi pada ibu mertuaku sendiri!" sanggah Ros.
__ADS_1
"Aku tahu sayang! kamu bukan orang yang seperti itu! tapi mamah ku sendiri lah yang menginginkan kita agar kita mempunyai ruang sendiri!" balas Rendy.
"Tapi apa ini tidak terlalu berleb- -
Cup!
Rendy langsung membungkam mulut Ros dengan bibirnya, agar Ros tidak terus menerus berbicara tentang hal yang tidak seharusnya mereka bicarakan.
"Sekali lagi kamu berbicara seperti itu? aku tidak akan mengizinkan mu untuk keluar sampai pagi!" ancam Rendy yang langsung membuat Ros menganggukkan kepala dan membungkam mulut dengan kedua tangannya.
"Bagus! anak pintar, haha" ujar Rendy sambil mengelus-elus rambut Ros.
"Ishh, aku ini istri mu, bukan anakmu!" ketus Ros.
"Aku benar sayang! kau memang anak pintar! anak pintarnya mamah Maya, yang membuat aku begitu tergila-gila padamu!" balas Rendy yang membutuhkan pipibros merona merah, hingga urat urat malu pun tampak keluar dari wajahnya.
"Hahaha, sayang..., wajah malu mu itu manis dan menggemaskan sekali!" ujar Rendy dengan tawa nya yang terbahak bahak.
Ros memukul mukul tangan Rendy dengan cukup kuat, hingga- -
Rendy menahan pukulannya dan langsung menggendong Ros, membawa Ros menuju lift yang berada dirumahnya untuk menuju lantai atas, dimana kamar Ros dan Rendy berada.
Ting!
Pintu lift terbuka. Rendy langsung masuk kedalam lift dengan langsung menekan tombol angka dua yang menjadi tujuannya, dengan Ros yang berada dalam gendongannya.
"Sayang...? lepaskan!!!" ucap Ros dengan sedikit memberontak.
"Tidak mau! dan tidak akan! aku tidak akan melepaskan mu sampai kita berada di atas!" jawab Rendy.
Ros yang hanya bisa memberontak pun akhirnya hanya bisa pasrah dengan apa yang Rendy lakukan. Lagipula, tenaga Ros tak sebanding dengan tenaga Rendy yang sudah sangat teruji beberapa hari saat Ros bersamanya.
Ting!
Pintu lift kembali terbuka, Rendy berjalan keluar dari dalam lift, dengan Ros yang masih dalam gendongannya.
"Apa aku berat?" tanya Ros yang seakan keenakan dengan posisinya saat ini.
"Sedikit!" jawab Rendy dengan sedikit senyum diwajahnya.
"Benarkah! kalau begitu aku akan buat tubuhku sedikit berisi agar kau keberatan untuk menggendong ku!" ujar Ros yang mengundang gelak tawa bagi Rendy.
__ADS_1
Bersambung...
Hai hai, jumpa lagi sama otor๐ Sore sore gini, kayaknya enak deh..., kalau minum kopi๐ wkwkwk apalagi kalau kopi dari para readers ๐