
Mobil sedan berwarna hitam baru saja menepi di dekat pos satpam, tepat di tempat Rendy berteduh dari deras-nya hujan yang mengguyur malam ini.
Seorang pria yang sudah tak asing lagi di indera penglihatan Rendy, keluar sambil memakai payung.
"Itu dia yang aku tunggu!" kata Rendy setelah melihat siapa yang turun dari mobil dan menghampiri pos satpam.
"Permisi!" sapa pria itu pada satpam penjaga.
"Ya, sebentar!" sahut Indro dari dalam. Rendy pura-pura tak kenal dengan orang yang datang dengan memakai payung berwarna biru tua itu.
"Maaf pak--" kata-katanya terhenti, kala Indro sudah berada di depan matanya. Pria itu membulatkan mata dan menajamkan penglihatan-nya. Mungkin saja ia salah. Atau--
"Loh, bang Indro!" tunjuk pria itu menatap senang dengan siapa yang ia temui malam ini.
"Her- Herman! Kamu Herman 'kan?" balas Indro seraya bertanya, memastikan bahwa ia tidak salah dengan apa yang ia lihat.
"Iya bang! Saya Herman!" balas Herman dengan semringah sambil mengulurkan sebelah tangan, yang langsung di sambut oleh Indro, hingga kedua-nya saling berpelukan, sebagai bentuk pengobat rindu.
'Hah! Apa-apaan mereka? Ternyata, mereka berdua saling kenal!' gumam Rendy dalam hati. Kehadirannya tidak terlihat sama sekali oleh Herman. Bahkan, Indro pun tampak melupakan jika Rendy berada di sana. Di antara Herman dan Indro.
"Aduh!" Herman menepuk jidatnya sendiri, setelah mengurai pelukan dengan Indro. Ia melupakan alasan datang-nya kemari untuk tujuan apa.
"Kenapa Her?" tanya Indro sedikit bingung.
"Saya lupa bang!"
"Lupa?" Indro mengernyit, "lupa apa? Ada yang ketinggalan? Atau--
"Lupa! Kalau saya ke sini, mau cari Bos saya."
"Bos?" ucap Indro.
__ADS_1
"Iya, Bos saya. Aduuh, gawat ini. Kalau bos saya marah gimana? Sudah setengah jam lebih saya buat dia nunggu. Pasti dia marah!" ucap Herman yang tak sadar kalau ucapannya terdengar oleh Rendy yang kehadirannya tak kasat mata oleh Herman juga Indro. Karena Rendy berada di sebelah pojok dan cahaya lampu remang-remang, yang membuat Rendy sedikit tak terlihat.
"Emang kamu kemana aja?" tanya Indro, pertanyaan pancingan yang pertama. Namun, keduanya tak menyadari. Dan Rendy mendengarkan dengan seksama, apa yang sebenarnya Herman lakukan tadi, hingga membuatnya harus menunggu cukup lama.
"Saya dari warung bakso Bang! Tadi 'kan hujan, jadi saya mampir dulu. Saya lupa kalau saya pake mobil," jawab Herman enteng, sambil cengengesan.
Di pojokan sana Rendy geram. Jadi ini yang dia lakukan. gumamnya dalam hati.
"Dasar kamu!" Indro memukul pelan punggung Herman. "Terus ngapain aja kamu di warung bakso?" tanya-nya kembali.
Pertanyaan pancingan nomor dua. Pikir Rendy lagi. Mereka masih tetap tak menyadari.
"Ya apalagi... Tentu saja makan bakso. Kebetulan perut saya sedang lapar. Cacing-cacing di perut juga sudah pada demo, karena cadangan makanan sudah pada kosong!" jawab Herman yang barengi dengan gelak tawa dari bibirnya juga Indro.
"Kualat kamu sama Bos-mu!" ujar Indro sambil geleng-geleng kepala.
"Bos saya 'kan gak tau Bang. Kecuali kalau dia denger. Atau Abang yang cerita sama bos saya. Tapi, memang-nya Abang kenal sama bos say--
"Ekhem!"
Begitu pun dengan Indro, satpam itu benar-benar melupakan kehadiran seseorang yang ia ajak berteduh di pos-nya.
"Enak ya, makan bakso pas hujan-hujan begini?" tanya Rendy dengan seringai-nya. Herman terlonjak. Ia kaget bukan main.
Sejak kapan, Tuan ada di sini? Pikirnya menerawang.
"Tu-tu-tuan!" ucap Herman gelagapan.
"Ya, Herman!" jawab Rendy terdengar begitu lembut di telinga.
...***...
__ADS_1
"Awas kau Herman! Berani kau membuat aku menunggu seperti tadi, akan ku buat kau menyesal!" ujar Rendy dengan nada kesal. Bisa-bisanya pria itu mementingkan perutnya dari pada bos-nya sendiri, dengan alasan lapar.
Jika saja Herman tau, dirinya juga sangat lapar malam ini. Apalagi tadi hujan. Perut terasa kosong saat cuaca sedang hujan.
Untung saja, ada Indro yang berbaik hati memberikan ia segelas kopi panas plus sepotong roti yang ampuh mengganjal perutnya.
Sebagai tanda balas Budi, Rendy menyalami Indro dengan beberapa lembar uang berwarna merah yang ia selipkan di tangan.
Indro awalnya menolak. Tapi, karena Rendy pandai memaksa, jadilah uang itu di terima juga oleh Indro. Dan kebetulan sekali, Indro memang sedang membutuhkan banyak uang, untuk biaya anak pertamanya yang akan masuk ke sekolah menengah atas, dan anak keduanya yang akan masuk ke sekolah menengah pertama. Serta anak ketiganya yang akan masuk ke sekolah paud. Tidak lupa dengan istrinya yang beberapa bulan lagi akan melahirkan anak ke-empat nya.
Sungguh, Indro sangat bersyukur, dapat di pertemukan dengan orang sebaik Rendy.
"Terima kasih Pak, terima kasih!" ucap Indro penuh haru. Beberapa kali pria itu menganggukkan kepala juga membungkukkan badannya pada Rendy, sebagai ucapan terima kasihnya, walaupun tidak sebanding dengan apa yang di berikan oleh Rendy padanya.
"Maaf Tuan, saya benar-benar tidak sengaja. Lain kali, saya akan berhati-hati lagi," kata Herman sambil melirik kaca spion. Melihat Rendy.
"Jadi maksudmu, kau akan mengulanginya lagi, begitu?" bentak Rendy sambil memajukan badannya, menepak keras bahu Herman.
'Hah! Salah lagi! Mulutku ini memang selalu salah!' gumam Herman dalam hati. Merutuki kebodohannya sendiri.
"Bu-bukan seperti itu Maksud saya Tuan!" jawab Herman gelagapan.
"Terus, maksudmu apa, bicara seperti itu? Akan melakukan dengan lebih hati-hati lagi. Berarti kau akan mengulanginya lagi 'kan?" cecar Rendy dari belakang.
"Ah, itu... Saya salah bicara Tuan. Maafkan saya!" balas Herman sambil tersenyum masam.
"Cepat bawa mobilnya. Aku sudah terlalu lama menunggu. Kalau istriku tahu aku pergi tanpa sepengetahuannya... Kau orang pertama yang akan aku salahkan!" tekan Rendy sambil memejamkan mata.
"A-apa? Kenapa saya Tuan?" tanya Herman bingung.
"Karena kau yang membuat aku harus menunggu, dan terlambat untuk pulang ke rumah!" jawab Rendy ketus. "Sudahlah, cepat bawa mobilnya lebih cepat lagi. Jangan banyak bicara dan bertanya, aku pusing mendengar-nya!" tutup Rendy, membuat Herman bungkam dan enggan untuk bertanya kembali.
__ADS_1
Jika ia bersikap nekad untuk terus menerus bertanya kepada Rendy. Bisa-bisa dirinya di tendang keluar dari dalam mobil, dan harus berjalan kaki, di tengah malam yang gelap gulita ini. Apalagi di luar cuaca masih hujan. Air hujan masih tak henti membasahi bumi, seakan mengerti tentang kesedihan Herman, yang sedari tadi terus di omeli oleh Bos-nya sendiri.
Bersambung...