Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 64


__ADS_3

1 minggu kemudian Argana dan Nita tidak pernah bertemu. Keduanya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing hingga akhirnya Nita mendapatkan sebuah perintah dari sang manager untuk mengantarkan sebuah dokumen ke dalam ruangan Argana.


"Apa tuan Argana berada di ruangannya?".


"Iya, beliau sendiri yang minta ini. Tapi karna pekerjaan saya sangat banyak, jadi saya mau kamu yang mengantarnya. Sudah sana pergi, jangan pakai lama, sepertinya tuan Argana sudah menunggu".


"Baik Bu" jawab Nita segera berjalan menuju ruangan Argana yang berada di ujung sana. Lalu ia mengetuknya, tidak menunggu lama, Argana langsung menjawabnya menyuruh dirinya masuk.


Ceklek!


"Taruh saja disitu" ucap Argana tanpa sedikitpun melirik kearah Nita yang telah berada di dalam ruangannya. Namun ia tidak mendengar suara langkah kaki Nita meninggalkan ruangannya, ia pun mengangkat kepadanya melihat Nita tengah berdiri dihadapannya.


"Kamu?".


"Mmmmm, ini aku. Dimana aku menaruhnya? Sepertinya kamu sibuk sekali".


Argana lalu menghentikan kesepuluh jari tangannya dari atas keyboard komputer miliknya melihat Nita sambil menghela nafas panjang.


"Aku sudah menaruhnya ditempat yang baru saja kamu katakan. Kalau gitu aku keluar dulu, maaf sudah mengganggu waktu mu. Permisi!".


"Tunggu" tahan Argana. "Kamu kemari sebentar" Nita lalu melihatnya dengan wajah datar. "Apa kamu tidak mendengar ku? Aku menyuruh mu kemari sebentar" ucap Argana mengulangi.


Dan pada akhirnya Nita pun berjalan kearahnya, "Ada apa?".


Kemudian Argana menatapnya dari atas sampai bawah, semakin hari Nita semakin mengurus membuat Argana merasakan sakit yang Nita rasakan saat ini.


"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.


Nita tersenyum tipis, "Aku baik-baik saja, kalau tidak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan ku, sebaiknya aku pergi saj...


"Maafkan aku" potong Argana menarik tubuh Nita diatas pangkuannya. "Maafkan aku sudah mengabaikan kamu selama ini" lalu ia memeluk tubuh itu dengan sayang tanpa mereka sadari kalau sekretaris Argana baru saja membuka pintu ruangannya. Tetapi setelah itu la menutupnya kembali.


"Arga, sepertinya aku harus pergi. Rasanya sakit sekali" ucap Nita dengan mata berkaca-kaca membuat Argana segera melap air matanya.


"Tidak, kamu harus bertahan. Minggu depan aku akan membawa mu pergi setelah urusan ku selesai. Aku mohon".


"Aku tidak sanggup lagi Arga. Rasanya sakit sekali".

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu, aku akan melakukan segala cara untuk pengobatan mu. Karna itu aku mohon bertahanlah, nanti aku akan memberitahu Bagas mencari rumah sakit terbaik".


Nita pun semakin menumpahkan air matanya mendengar perkataan Argana yang begitu hangat ia dengar. Namun kenapa harus disaat seperti ini Argana baru memperlakukan dirinya seolah-olah ada, kenapa tidak dari dulunya? Kenapa harus di saat detik-detik terakhir kalinya.


"Maafkan aku Ga. Maafkan aku tidak bisa menuruti permintaan mu untuk yang terakhir kalinya. Rasa sakit ini tidak bisa lagi aku tahan Arga" ucap Nita dalam hati melepaskan pelukan Argana. "Kalau gitu aku pergi dulu Ga, pekerjaan ku sangat menumpuk disana".


"Baiklah, kamu boleh pergi" angguk Argana melepaskan tubuhnya. "Kalau terjadi apa-apa dengan mu, jangan lupa segera menghubungi ku".


"Iya, aku akan menghubungi mu".


Setelah Nita keluar dari dalam ruangannya, ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Sedangkan Nita malah menangis senggugukan di balik pintu ruangannya membuat sekretaris Argana menatapnya heran.


Ia pun lalu menghampiri Nita, "Kamu baik-baik saja?" tanyanya.


Nita melihatnya, "Mmmmm" angguknya sambil pergi meninggalkannya membuat sekretaris tersebut menatapnya semakin heran dengan kening mengerut.


"Dia bukannya Nita dari ruangan.. Yang biasa mengantar berkas kedalam ruangan tuan Lucas dulu. Kenapa dia sekarang tampak mengurus yah tidak seperti dulunya. Apa dia sedang sakit? Tapi, ada hubungan apa dia dengan tuan Argana? Apa mereka berdua selama ini saling mengenal satu sama lain seperti yang aku lihat barusan?".


"Wah, beruntung sekali dia" ia tersenyum kembali kedalam meja kerjanya.


"Nita!" panggil Nella melihat Nita kembali.


Nella lalu melihatnya dengan kening mengerut, "Kenapa dengan mu? Kamu habis baru menangis Nita?".


"Hhhmmm? Tidak" jawabnya.


"Tapi itu mata kamu kenapa memerah seperti habis baru menangis? Aku benar kan kalau kamu habis menangis? Kenapa Nita, ayo cerita sama ku. Apa tuan Argana baru saja memarahi mu?".


"Tidak seperti itu Nella" geleng Nita kembali berkaca-kaca memeluk Nella ujungnya menangis. "Aarrkkhhh.. Nella, maafkan aku Nella hiks.. Hiks.. Nella".


"Ada apa dengan mu Nita?" kaget Nella sedikit meninggikan suaranya membuat rekan kerjanya yang lain langsung menoleh kearah mereka melihat Nita menangis senggugukan.


"Sakit Nella hiks rasanya sakit sekali Nella hiks aku tidak tahan lagi Nella hiks.. hiks...".


"Sakit bagaimana Nita? Astaga ya Tuhan, kamu sedang membicarakan apa sih Nita. Apa tuan Argana baru saja memukul mu?".


"Tidak" geleng Nita.

__ADS_1


"Terus apa Nita? Kamu jangan membuat ku khawatir seperti ini. Ayo beritahu aku... Astaga Nita" teriak Nella begitu Nita jatuh pingsan di dalam pelukannya.


Mereka yang melihat Nita jatuh pingsan langsung menolong membawanya kerumah sakit.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Riski melihat mereka mondar mandir kesana kemari.


"Itu Bu, Nita tadi jatuh pingsan setelah kembali dari ruangan tuan Argana".


"Apa? Jadi kemana mereka membawanya?".


"Kerumah sakit Bu. Apa Bu Riska mau menyusulnya?".


Ia terdiam sambil berpikir, "Tidak usah, mereka sudah pergi menemaninya. Dia paling kecapean, kalian boleh kembali bekerja".


"Iya Bu" jawab mereka.


.


Setibanya di rumah sakit, para suster segera memberikan pertolongan pertama. Lalu dokter yang berjaga diruang IGD tersebut mendatangi mereka.


"Dokter, tolong teman saya dok" ucap Nella dengan khawatir.


"Iya. Harap tenang dulu" jawab si dokter memeriksa keadaan Nita. Namun setelah ia selesai memeriksa kesehatan Nita yang diluar pikirannya ia melihat Nella dengan wajah kebingungan membuat Nella semakin khawatir.


"Ada apa dok? Kenapa dokter melihat saya seperti itu? Apa dia baik-baik saja dok?".


Si dokter lalu sedikit menjauh dari Nita, "Apa saudara bisa menghubungi walinya sekarang juga?".


"Apa? Kenapa dok? Orang tua dia berada di kampung, dia disini hanyalah seorang diri. Kalau sesuatu terjadi kepadanya dokter bisa memberitahu saya".


"Maaf. Tapi masalah ini masalah serius yang tidak bisa saya katakan sembarangan. Untuk memastikan lebih jauh lagi, kami akan melakukan pemeriksaan tapi orang tua pasien harus berada disini".


"Harus orang tua ya dok? Tidak bisakah dokter memberitahu kepada saya saja".


"Tidak bisa. Maaf".


"Kalau gitu saya akan menunggu pasien sampai siuman dok. Nanti saya akan bicarakan dengannya, soalnya saya tidak tahu mengenai orang tuanya".

__ADS_1


"Baiklah" angguk si dokter pergi.


Kemudian Nella menatapnya dengan tatapan sendu, ia lalu memikirkan perkataan si dokter tadi membuat kepalanya pusing. "Sebenernya ada apa sih Nita?".


__ADS_2