Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 68


__ADS_3

Kemudian Lucas mendudukkan diri diatas sofa melihat Dilan bersamaan dengan Reno yang berdiri disebelah Dilan.


"Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan ku hhmmm? Apa yang hendak ingin kalian lakukan dengan putra ku?".


Lalu Dilan tersenyum ikutan duduk dihadapan Lucas melihat istrinya Kirana membawakan dua gelas kopi panas, "Karna Lucas juga berada disini...


"Tidak usah" potong Lucas. "Aku tidak akan berlama-lama disini, aku hanya ingin memberikan selamat untuk suami mu. Kamu boleh pergi".


Dilan mengepal kedua tangannya. Senyuman yang Lucas tunjukkan kepadanya membuat ia ingin sekali membunuh Lucas saat itu juga bersama dengan putranya. Namun melihat keadaan yang tidak memungkinkan, ia mencoba untuk menahan amarah dengan menyuruh Kirana segera pergi meninggalkan mereka.


Setelah itu ia menyambar gelas kopinya, ia terlihat sangat menikmati seperti tidak ada beban meskipun tidak dengan yang sebenarnya.


Lalu Lucas tertawa kembali, "Bagaimana? Apa kamu sudah merasakan sesuatu akan kehilangan? Aku sengaja menunggu sampai Argana tumbuh dewasa, dan kini saatnya kamu mengembalikan semuanya kepada ku. Karna sampai kapan pun Hanju akan diteruskan oleh ku dan juga keturunan ku. Ingat itu Dilan!".


Mendengar Lucas berkata sedemikian, Dilan pun ikutan tertawa membuat Reno yang sedari tadi mendengar keduanya dibuat kebingungan.


"Apa kamu sudah lupa Lucas kalau perusahaan ini secara resmi telah jatuh di tangan ku? Apa kamu sudah melupakan semuanya?".


"Tentu saja tidak. Dan kamu tidak menyadarinya, sejak kapan kakek Mateo mewariskan perusahaan ini kepada mu? haaahh.. hahahhaha.. Sepertinya kamu tidak tau yang sebenarnya. Baiklah, disidang nanti kamu akan mengetahui segalanya".


"Apa?" geram Dilan menatapnya tajam.


"Mmmmm, aku pamit pulang dulu" angguk Lucas dengan senyuman sinisnya.


Sedangkan Argana yang sedang berada di dalam ruangan Dilan, ia masuk kesana sepulangnya para karyawan dari perusahaan atas berkat berkat bantuan Reysa, ia pun berhasil masuk. Kemudian Ia melihat seisi ruangan Dilan, tampak tidak ada sesuatu yang mencurigakan di dalam itu membuat ia harus secara pelan-pelan mencari ruangan yang tadi Reysa katakan.


Ia lalu berjalan mendekati kursi kebesaran Dilan. Sambil menggeser kursi tersebut, Argana berjongkok memperhatikan setiap ukuran demi ukuran. Dan seperti yang Reysa katakan, ia juga tidak menemukan sebuah celah untuk mengetahui ruangan itu.


Argana menarik nafas panjang. Namun tidak sampai disana saja, ia akan terus mencari cara untuk segera menentukan ruangan tersebut dengan bantuan internet atau yang lainnya.


Hingga waktu terus berjalan, kini jam telah menunjukkan pukul 3 pagi. Tetapi Argana masih saja belum menemukannya sampai ia tiba-tiba mendengar suara langkah kaki mendekati ruangan tersebut.


Ceklek!

__ADS_1


"Argana kamu dimana? Ini aku Reysa".


Mendengar suara itu Argana pun langsung menghela nafas legah bangkit berdiri melihat Reysa berdiri diambang pintu.


"Disini" jawabnya. "Apa yang membuat mu datang kemari? Ini terlalu berbahaya untuk mu".


Reysa lalu berjalan kearahnya, "Kamu tenang saja, aku kemari tanpa sepengetahuan mereka. Apa kamu sudah menemukannya? Ini sudah hampir jam 4 Ga".


"Aku belum menemukannya".


"Aku pikir kamu sudah berhasil menemukannya. Padahal kita harus segera Ga. Tapi dengan cara apa yah? Kenapa... Oh iya Ga, apa menurut mu ruangan itu menggunakan sesuatu untuk membukanya seperti sejenis remote gitu?".


"Aku rasa seperti itu" Argana melihat setiap sudut di ruangan Dilan. Kemudian ia berjalan mencari sesuatu, sedangkan Reysa mencari sesuatu di dalam laci meja Dilan siapa tau ia menemukan yang berhasil membuat ruangan itu terbuka. Hingga Reysa melihat sebuah benda yang sedikit mencurigakan berada di dalam pas bunga tepat di samping meja kerja Dilan.


"Arga, kamu kemari deh".


"Kenapa?" tanyanya mendekati Reysa.


Reysa pun mengambilnya dari dalam sana menunjukkan kepada Argana, "Kamu lihat benda ini Ga. Atau jangan-jangan..


"Ini".


Argana langsung menerima benda tersebut, dengan rasa penasaran diantara keduanya ia menekan tombol yang tertera disana membuat keduanya melihat kearah lantai secara otomatis terbuka.


"OMG Arga!" kaget Reysa melihatnya.


Kemudian Argana tersenyum senang, ia pun segera memasuki ruangan itu bersama dengan Reysa. Di dalamnya terlihat beberapa tumpukan berkas yang sangat rahasia bersama dengan beberapa uang dan emas batangan.


"Ya Tuhan, jadi selama ini papa melakukannya? Astaga! Aku enggak habis pikir dengan semuanya ini" dengan kedua mata berkaca-kaca ia sangat malu sekali memiliki orang tua seperti Dilan yang telah melakukan kejahatan besar.


"Mmmmm" angguk Dilan. "Terimakasih sudah mau membantu ku Rey meskipun kamu harus ikutan menanggung rasa malu yang paman lakukan selama ini".


Dengan rasa kasihan melihat Reysa, akhirnya Reysa menangis di hadapannya membuat ia langsung memeluk tubuh itu. "Semua akan baik-baik saja".

__ADS_1


"Hiks.. hiks.. Aku malu Ga. Sebagai anak aku sangat malu sekali jika nantinya kasus ini tersebar ke seluruh penjuru setiap daerah mengetahui kalau CEO dari perusahaan Hanju group telah melakukan korupsi besar dari tahun ke tahun Ga hiks.. hiks..".


"Aku tau itu Reysa".


Argana lalu melepaskan pelukannya, sambil mengusap air matanya ia tersenyum senang akhirnya ia berhasil menemukan bukti yang sangat kuat.


.


Hari demi hari bukti yang berhasil Argana temukan akhirnya diproses oleh pihak yang berkewajiban. Dan saat ini nama baik Dilan telah berubah dan ia semakin dibenci oleh masyarakat yang selama ini mereka kenal sangat berbaik hati, tapi nyatanya itu semua di balik kebusukannya.


"Tidak, jangan bawa suami saya pergi. Jangan bawa suami saya pergi" Kirana berteriak menjerit menahan tangan Dilan saat pihak berkewajiban menangkap Dilan dikediaman keluarga Davison bersama dengan sang menantu.


"Ini tidak benar, kalian tidak boleh membawa suami ku pergi. Rey, tolong lakukan cara agar mereka tidak membawa papa kamu pergi dan juga suami kamu Rey. Ayo lakukan sesuatu Rey".


"Maaf ma, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa" jawab Reysa mencoba memenangkan sang ibu.


"Apa? Apa kamu tidak kasihan melihat papa kamu diperlukan seperti itu seperti buronan saja. Yah, kalian semua lepaskan suami ku".


Kemudian Reysa mengejar sang ibu, ia lalu menyuruh mereka segera pergi dari sana meninggalkan mereka. Sedangkan Brian yang juga berada disana hanya bisa diam sambil meneteskan air mata. Yang ia pikirkan saat ini, ia sangat yakin kalau semua teman-teman satu kampusnya telah mengetahui kesalahan besar Dilan yang selama ini ia bangga-banggakan kepada semuanya.


"Brian tolong kakak" ujar Reysa.


PPPLLLAAKKK..


Dengan sangat marah Kirana langsung menampar wajah Reysa menatapnya tajam. "Mama tau ini semua ulah kamu kan? Ini ulan kamu sama anak kurang ajar itu. Aarrkkhhh, sebaiknya kamu mati saja Rey kalau kamu tidak berharga bagi keluarga mu sendiri. Mama membenci mu mama sangat membenci mu".


"Hentikan ma! Hentikan".


"Apa?".


"Aku bilang hentikan ma. Kenapa mama jadi menyalahkan aku setelah apa yang papa lakukan selama ini terhadap perusaha..


PPPLLLAAKKK...

__ADS_1


"Dasar anak tidak tau diri".


__ADS_2