
"Nyonya bisa membantunya dengan memberikan tempat tinggal berupa kontrakan nyonya!" Herman tanpa diduga mengusulkan sesuatu yang sangat baik, yang belum terpikirkan sama sekali oleh Ros dan Rendy.
"Kau pandai Herman, aku setuju dengan usulan mu itu!" ujar Rendy yang langsung menepuk bahu Herman.
"Terima kasih Tuan, atas pujian anda!"
"Bagaimana sayang? kamu setuju dengan usulan dari Herman ini? Aku tidak mau dia tinggal di rumah kita, akan sangat berbahaya!" ujar Rendy dan tampaknya Ros mulai berpikir yang demikian.
"Tapi sayang? bukannya lebih baik jika Anita tinggal di rumah bersama dengan kita? lagi pula di rumah kan banyak para pelayan, dia bisa bergabung bersama pelayan lainnya!" balas Ros yang ternyata masih kekeh dengan pendiriannya.
"Sayang! apa kamu tidak pernah memperhatikan sama sekali? Oh ya, kamu kamu kan baru tinggal dua malam satu hari di rumah kita!" Rendy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Memperhatikan apa?" tanya Ros.
"Di rumah kita itu, tidak ada pelayan yang masih muda sayang! aku memperkerjakan semua pelayan di rumahku yang usianya diatas tiga puluh lima tahun!" jawab Rendy, "Kamu lihat Herman? dia juga berusia diatas tiga puluh lima tahun, usianya bahkan sudah tiga puluh delapan tahun," Rendy menunjuk Herman yang sedang mengemudi.
"Maaf sayang, aku sama sekali tidak memperhatikan mereka! Dan ya! Kenapa kamu tidak memperkerjakan pelayan yang masih muda?" masih belum mengerti alasan dari Rendy yang memperkerjakan pelayan di atas usia tiga puluh lima tahun, kenapa?
"Sudahlah sayang! kamu mau aku menolongnya dengan memberikan tempat tinggal berupa kontrakan atau tidak sama sekali!" ujar Rendy tanpa membalas pertanyaan Ros sama sekali.
"Baiklah sayang! aku akan menyetujui semua yang suamiku ini katakan!" balas Ros dengan sedikit memelas.
"Gadis pintar!" Rendy mengacak-acak rambut Ros lalu membawanya dalam dekapan.
"Tapi, apa sebaiknya kita obati dulu luka luka di tubuhnya itu kak?" ujar Ros kemudian.
"Kita sudah sampai Tuan, nyonya!" ujar Herman.
Tid! Tid!
Herman membunyikan klakson nya beberapa kali, saat mobil yang ia kendarai sudah berada di depan pintu gerbang rumah Ajeng. Beberapa detik berlalu, terlihat seorang berpakaian satpam datang menghampiri dengan tergesa-gesa, lalu membukakan pintu gerbangnya dengan cepat. Herman pun langsung melajukan kembali mobilnya menuju halaman rumah Ajeng yang luas.
"Ayo sayang! kita turun!" ajak Rendy setelah mobilnya berhenti tepat di depan pintu masuk.
"Biar saya bukakan pintunya Tuan!" ujar Herman yang segera turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Tidak us- -
Ucapan Rendy terhenti saat Herman yang ternyata sudah berada di sebelah pintu mobilnya, dan langsung membukakannya.
"Silahkan Tuan!"
Rendy keluar dari dalam mobil.
"Biar saya saja! kamu urus wanita itu, aku tidak mau dia dekat dekat dengan istriku!" ujar Rendy kepada Herman, saat Herman hendak membukakan pintu mobil untuk Ros.
"Baik Tuan!" dan Herman pun merubah haluan, ia berjalan membukakan pintu untuk Anita, dan membawa peralatan p3k untuk mengobati luka luka di tubuh Anita.
"Ayo sayang!" ajar Rendy dengan mengulurkan tangannya pada Ros, dan Ros menyambutnya dengan senang hati, "kita masuk, mamah pasti sudah menunggu kita didalam!" lanjut Rendy kemudian.
"Selamat pagi Tuan Rendy, Nyonya Ros!" sapa seorang satpam yang berjaga di rumah Ajeng.
"Pagi juga pak!" balas Ros dengan ramah, seperti biasanya.
"Mau ketemu Nyonya Ajeng, tuan?" tanya satpam itu. Dan Rendy pun hanya mengangguk sebagai respon, hingga akhirnya, satpam itu pergi ke belakang.
"Sudah ada Herman yang bisa mengobatinya!" balas Rendy, "bukan begitu Herman?" Rendy menatap Herman dengan memberikan kode lewat gerakan matanya. Membuat Herman mengiyakan dalam seketika.
"Anda tenang saja Nyonya, saya akan merawat luka luka Anita dengan sangat baik!" Herman meyakinkan Ros, agar Ros segera masuk ke dalam rumah mertuanya dengan Rendy, meninggalkan Anita dan juga Herman.
"Baiklah, tolong rawat luka lukanya Herman, aku benar benar tidak tega melihat Anita!" balas Ros dan akhirnya ia masuk ke dalam rumah bersama Rendy.
Ting! Ting! Ting!
Ros membunyikan bel beberapa kali.
"Langsung masuk saja sayang! ini kan rumah mamah ku, mertuamu juga!" ujar Rendy yang langsung membukakan pintunya.
Ceklek!
Pintu pun terbuka, Rendy langsung menarik tangan Ros dan membawanya masuk kedalam.
__ADS_1
"Apa tidak papa sayang?" Ros ragu ragu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Ajeng.
"Sudah! ini kan rumah mertuamu juga! kenapa ragu ragu seperti itu!" balas Rendy dan Ros sedikit lega, "biasanya jam segini, mamah itu masih sarapan sayang!" ujar Rendy kemudian.
"Sarapan?" tanya Ros yang langsung melihat jam di pergelangan tangan Rendy, karena ia tak memakai jam tangan, dan jam menunjukkan sudah pukul 08.15 pagi.
"Sayang! ini sudah siang. Apa tidak papa jika kamu masuk kantor kesiangan?" ujar Ros yang memperlihatkan wajah khawatir pada Rendy.
"Kenapa kamu harus se khawatir itu sayang! sudah ku bilang bukan! aku ini bos nya, sesekali aku datang kesiangan, rasanya tidak papa! asal jangan setiap hari saja. Nanti apa kaga para karyawan? jika melihat bos mereka datang kesiangan setiap hari!" ujar Rendy panjang lebar.
"Maka mereka akan meninggalkan mu dan perusahaan mu!" celetuk Ros membuat Rendy tergelak.
"Lakukan saja jika mereka berani!" balas Rendy yang tak kalah membuat Ros tergelak. Dan Keduanya pun tertawa bersama, menertawakan apa yang baru saja mereka bicarakan.
"Kalian sedang sekali tampaknya!" ujar seorang wanita yang tiba-tiba saja berdiri dihadapan Ros dan Rendy dengan tangan memegang piring berisikan beberapa lembar roti yang sudah diolesi berbagai macam selai.
"Mamah!" ujar Ros dan Rendy secara bersamaan, seraya bersamaan. Ros pun langsung berhamburan memeluk Ajeng dengan penuh kebahagiaan.
"Apa kabar mah?" sapa Ros yang kini sudah berada dalam pelukan Ajeng.
"Kabar mamah baik sayang!" jawab Ajeng sambil mengelus kepala Ros dengan sebelah tangannya, karena tangan yang satunya sedang memegang piring, "bagaimana dengan kabar mu?" tanya Ajeng kemudian.
"Ros baik mah!" jawab Ros dengan senyumnya.
"Kenapa hanya Ros yang mamah tanyakan kabarnya? kenapa tidak menanyakan kabar Rendy juga?" Rendy berkata sambil berjalan menghampiri Ajeng dan Ros, membuat Ros dan Ajeng saling menatap, lalu bersamaan menatap Rendy.
"Kamu cemburu Rendy?" tanya Ajeng sambil mengerutkan alisnya, "bisa bisanya kamu cemburu kepada istrimu sendiri!" Ajeng gelang geleng kepala melihat Rendy.
"Rendy kan juga anak mamah, kenapa hanya Ros yang mamah tanyakan kabarnya!" ujar Rendy lagi.
"Baiklah, baiklah, maafkan mamah Rendy. Bagaimana kabarmu?" balas Ajeng seraya bertanya.
"Rendy baik mah!" jawab Rendy yang kini berada di hadapan Ajeng dan Ros, "Tapi stop!" ujar Rendy tiba tiba, saat Ajeng hendak memeluknya.
"Kenapa? kamu tidak merindukan mamah? kamu tidak mau memeluk mamah mu yang cantik dan seksi ini?" ujar Ajeng sambil menatap lekat anaknya.
__ADS_1
Bersambung...