Dia Milikku

Dia Milikku
Mencicipi


__ADS_3

'Brukk!'


Suara pintu yang di tendang paksa oleh kaki dari gabungan seorang Rendy dan Surya, membuat pintu itu roboh dalam sekejap mata.


Pria yang menunjukkan jalan menuju gudang tempat penyekapan Ros dan Herman sampai terkesiap dengan apa yang Rendy dan Surya lakukan.


"Angkat tangan kalian!!!" ujar Surya sambil menodongkan senjata api, kala pintu gudang sudah terbuka dengan paksa. Namun, ucapannya barusan, berakhir dengan sia-sia. Pasalnya, di dalam gudang tersebut, tidak ada siapa pun kecuali barang-barang bekas yang sudah tua dan tak terpakai lagi.


Rendy dan Surya menatap sekeliling dengan waspada. Namun tetap saja. Berkali-kali mata Rendy dan Surya menatap ke setiap arah. Tiada siapa pun di sana.


Kosong!


Kemanakah mereka? Apa mereka bersembunyi? Atau mereka sudah kabur dan melarikan diri?


"Kau membohongiku?" tanya Rendy dengan wajah memerah menahan amarah pada pria yang masih terikat tangannya di belakang.


Pria itu menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak Tuan, tidak! Saya benar-benar tidak berbohong! Saya sudah berkata jujur. Saya juga sudah menunjukkan tempat benar!" Jawab pria itu dengan penuh keyakinan.


"Mana buktinya? Istriku dan sopirku tidak ada di sini!" ujar Rendy tetap tidak percaya dengan apa yang pria itu katakan.


"Tapi sungguh Tuan. Saya benar-benar tidak berbohong." Masih terus membela diri sendiri, karena dia merasa benar. Dan apa yang dia katakan, sungguh ada kebenaran yang sesungguhnya.


'Bugh!'


Masih tidak percaya dengan pria itu, Rendy menghajar perut pria itu dengan tangan kanannya. Tentunya dengan sekuat tenaga yang ia punya.


"Ampun Tuan! Saya berkata jujur."


'Bugh!'


Tetap tidak percaya, Rendy memukulnya kembali.


'Bugh! Bugh!'


Dua pukulan sekaligus yang ia layangkan, membuat pria yang tidak bisa membalas pukulan dari Rendy karena tangannya di ikat ke belakang itu, jatuh tersungkur ke lantai. Bukan hanya itu, wajahnya memerah, juga mengeluarkan darah di hidung serta bibirnya, karena bukan hanya di perut saja Rendy memukulinya, melainkan di wajahnya juga.

__ADS_1


"Hentikan Ren!" kata Surya kala Rendy hendak memukul lagi pria yang telah membuat Rendy marah.


"Kenapa kak!" tanya Rendy, "Aku ingin menghajar-nya!" ucapnya lagi sambil memandang tajam pada pria yang sudah jatuh tersungkur di lantai tersebut.


"Lihat itu!" Surya menunjuk sebuah gelang emas milik seorang wanita, pastinya, dengan sebuah pistol yang terus berada di tangannya.


Gelang itu tergeletak begitu saja di atas lantai, dekat dengan sebuah kursi yang terdapat tali yang cukup panjang. Sepertinya, tali bekas mengikat sesuatu. Atau mungkin seseorang.


Rendy menyipitkan matanya. Lalu, berjalan menghampiri kursi yang di mana, di bawahnya terdapat gelang yang sepertinya Rendy kenal.


"Ini--" ucap Rendy terhenti, kala ia melihat gelang yang saat ini ia pegang dengan sebelah tangannya, pikirannya menerawang, seperti sedang mengingat sesuatu.


"Apa itu milik istri-mu?" tanya Surya yang tak mendekat ke arah Rendy. Tetap waspada di sebelah pria yang menunjukkan mereka jalan menuju tempat penyekapan Ros dan Herman.


"Benar Kak. Ini milik Ros, istriku!" jawab Rendy pasti. Ia menatap Surya sekilas, lalu menatap lagi gelang yang berada di tangannya.


"Berarti pria ini tidak berbohong, Ren!" kata Surya.


"Tapi, di mana mereka? Di mana Ros dan Herman?" tanya Rendy sedikit meninggikan suaranya.


"Kabur?" Rendy mengernyitkan keningnya. Lalu, menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal.


"Ya... Lihat itu!" kata Surya lagi. Ia menunjukkan sebuah jendela di sebelah kiri yang kaca-nya pecah tak beraturan, alias berserakan di lantai.


"Kakak benar!" Rendy memandang ke arah jendela yang di tunjukkan Surya padanya. Kemungkinan Ros kabur dari tempat ini memang sangat tinggi, karena terdapat bukti yang menguatkan jika Ros pernah di sekap di sini, lalu tidak mereka temukan, karena terdapat jendela yang kacanya pecah berserakan, seperti di tempat sebuah benda tumpul atau semacamnya.


"Ke mana lagi harus kita cari?" Rendy mendesah berat. Di jambaknya rambutnya sendiri dengan kedua tangan. Menandakan jika pria itu tengah frustasi dengan apa yang sedang ia alami.


"Di mana lagi tempat persembunyian kalian?" tanya Surya yang menatap lekat pria yang masih terkapar di lantai, dengan kedua tangan masih terikat.


Sepertinya, Rendy dan Surya belum berniat untuk melepaskan ikatan tangan pria itu. Sampai jatuh tersungkur pun, Rendy dan Surya masih membiarkannya. Enggan untuk membuka.


...***...


"Mau apa kalian?" tanya Ros dengan nada tinggi, kala Beno dan temannya mulai mendekati Ros dengan seringai jahat yang menjijikan.

__ADS_1


"Tenang Cantik. Kami tidak akan melakukan apa-apa padamu," jawab Beno masih menunjukkan seringai-nya yang semakin membuat Ros jijik menatap wajahnya. Kepalanya yang plontos, kumis serta bibirnya yang tebal, di tambah lagi dengan perut yang juga gempal, membuat Ros sebal dan kesal kala melihat pria itu menatapnya dengan aneh.


"Jangan pernah macam-macam kalian!" Bentak Ros membuat Beno dan temannya saling pandang, lalu menatap Ros secara bersamaan.


"Sebentar lagi, Tuan datang bang. Apa kita boleh mencicipinya sebentar saja bang? Itung-itung, sebagai ganti rugi yang atas tendangan yang ia lakukan padaku tadi sore!"


Ros membulatkan mata, kala pria itu mengatakan ingin mencicipinya sebentar saja.


Itung-itung sebagai ganti rugi atas kekerasan yang Ros lakukan padanya, katanya! Apa pria itu tidak punya pikiran? pikir Ros begitu geram. Jika saja tangan dan kakinya tidak terikat kembali, sudah Ros sumpal mulutnya dengan kaos kaki yang sudah di pakai berkali-kali. Juga tak lupa ia tendang kembali barang pusaka kebanggaannya, agar pusakanya itu lemah dan tidak bisa di gunakan kembali. Saking geramnya Ros pada pria itu.


"Mau mau Lu ya!" jawab Beno sambil memukul lengan temannya cukup keras.


Teman Beno meringis, ia mengusap-usap lengannya yang baru saja Beno pukul. Mungkin menurut Beno, pukulannya itu tidak terlalu keras. Tapi baginya, pukulan Beno itu sangat keras. Bahkan, ia sampai meringis merasakan sakit yang hinggap menembus tulang.


Bagaimana tidak menembus tulang. Lah, badannya saja cungkring, jika di lihat dari kejauhan, hanya terlihat seperti tulang kerongkong yang hidup di dunia nyata.


Ros ingin tertawa. Namun, ia terlalu sibuk dengan tangannya yang kembali beraksi di belakang sana, untuk kembali terbebas seperti tadi sore. Walau ia gagal, tapi Ros terus berusaha, agar usahanya berhasil. Dan kembali bisa melarikan diri, sebelum orang yang Beno dan temannya panggil Tuan itu datang dan melakukan hal yang lebih buruk lagi pada Ros.


"Ampun Bang. Maaf!" kata teman Beno dengan wajah meringis.


"Kalau ngomong itu pake ini!" Beno menunjuk kepalanya sendiri, mengatakan lewat gerakan. Jika bicara itu harus menggunakan otak, "bukan dengkul!" lanjut Beno dengan kesal.


"Iya Bang, iya..." balas teman Beno.


"Bikin kesel aja. Tuan nyuruh kita buat nyekap dia!" Beno menunjuk Ros dengan satu jari telunjuknya, "bukan buat nyicip-nyicip dia!" lanjut Beno.


Tuan, Tuan, Tuan!


Siapa yang mereka maksud dengan Tuan itu? Apakah Vero? atau...


Atau siapa? Ros tidak merasa mempunyai masalah dengan siapa pun. Entah, jika orang itu yang mempunyai dendam lama kepada Ros.


Ros semakin bingung. Namun, pikirannya kuat, tertuju kepada Vero.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2