
Peringatan beberapa hari yang lalu dari Dokter Fahri, membuat lelaki tampan berkulit putih dan pemilik hati Maura Rosalinda itu menjadi semakin protektif terhadap istrinya. Rendy tidak pernah membiarkan Ros hanya berdua saja dengan Anita.
"Ayolah sayang, ikutlah denganku ke kantor! Kalau kamu tidak mau, maka aku juga tidak akan masuk ke kantor hari ini," Rendy merajuk. Pria itu tidak ingin jauh-jauh dari sang istri.
"Tapi sayang, aku juga harus ke kantor. Ada jadwal dengan klien siang ini," balas Ros terdengar manis.
"Pukul berapa kamu meeting dengan klienmu?" tanya Rendy.
"Sekitar jam makan siang," jawab Ros.
"Baguslah! Pagi ini sampai siang, kamu ikutlah dengan suami tampanmu ini. Dan nanti siang, aku sendiri yang akan menemanimu menemui klien mu itu!" keputusan terakhir. Dan ini adalah final tidak boleh Ros ganggu gugat lagi, apalagi sampai membantah.
"Baiklah, biar aku kabari dulu teman-temanku," akhirnya Ros pasrah. Sudah beberapa hari ini, tingkah Rendy semakin menjadi saja. Rendy menjadi semakin protektif dan posesif terhadapnya. Entah apa penyebabnya.
"Siapa yang mau kamu hubungi?" tanya Rendy saat Ros hendak mengambil ponselnya dari atas meja rias.
"An--" belum sempat Ros meneruskan ucapannya, Rendy sudah mendaratkan satu kecupan manis di bibir Ros.
"Aku tidak suka kamu terus menerus dekat dengan wanita itu, sayang!" tutur Rendy terdengar manja. Sedang Ros, ia mengerutkan keningnya seraya tersenyum.
"Wanita yang mana sayang?" tanya Ros.
"Anita, siapa lagi?" ketus Rendy.
Ros tertawa dan mendekatkan tubuhnya pada sang pujaan, pemilik hatinya.
"Kenapa malah tertawa?"
"Karena aku akan menghubungi Anto, kak. Bukan Anita," jawab Ros, "makannya, kalau aku belum selesai berbicara, jangan langsung di potong. Mengerti?" lanjut tos kemudian, sambil mencubit hidung mancung milik Rendy.
"Ah, sayang! Aku lebih tidak suka lagi kalau kamu menghubungi Anto. Hubungi yang lain saja!" lagi dan lagi. Menghubungi Anita tidak boleh, menghubungi Anto juga tidak boleh.
"Hubungi Mila atau Nina saja!" saran Rendy yang langsung mendapatkan anggukan kecil dari Ros.
...***...
Keluar dari rumah megah nan mewah milik sepasang suami isteri yang masih di mabuk indahnya masa pengantin baru. Keduanya langsung di sambut oleh sang supir yang selalu setia menemani kemanapun mereka melangkah pergi.
"Selamat pagi Nyonya, Tuan! Mau kemanakah kalian hari ini?" tanya Herman sambil membukakan pintu mobil untuk majikannya.
__ADS_1
"Terima kasih Herman! Selamat pagi juga," seperti biasa, Ros selalu membalas ramah sapaan dari para pekerjanya. Apalagi Herman.
"Jangan membalas senyumannya sayang. Dia sudah punya isteri. Nanti aku laporkan pada istrinya, kalau suaminya genit pada majikannya sendiri!" seloroh Rendy yang langsung disambut tawa oleh Ros.
"Kenapa malah tertawa?" tanya Rendy heran. Apa ada yang salah dengan ucapannya barusan?
"Lucu saja Kak. Dia 'kan pekerja kita. Masa dia harus bersikap sombong kepada kita! Itu namanya tidak sopan!" jawab Ros dengan pemikirannya.
"Benar juga ya?" gumam Rendy pelan.
"Tentu saja benar. Lagian, kakak ada-ada saja. Kenapa juga aku tidak boleh membalas keramah tamahannya?"
"Karena aku tidak suka sayang! Jangan buat aku dan hatiku meradang dan kepanasan, karena kau memberikan jatah senyummu untukku, pada orang lain. Meskipun orang lain itu adalah supir kita sendiri!" Hah, apa yang baru saja Rendy katakan? Ros bingung di buatnya.
"Tentu sayang! Stok senyumku, tidak terbatas untukmu. Walaupun aku menyumbangkan sedikit untuk orang lain." Ah, jawaban yang sungguh cerdas. Rendy langsung luluh dibuatnya.
"Ekhem! Maaf Tuan, Nyonya. Kemana kita sekarang?" tanya Herman yang sedari tadi di acuhkan oleh keduanya.
"Mengganggu saja. Ke kantorku. Pelan-pelan saja membawa mobilnya. Jangan sampai kau membuat ratuku ini takut dengan cara menyetir mu itu!"
"Siap Tuan, laksanakan!" jawab Herman.
...***...
"Selamat pagi Nyonya, Tuan!" sapa seorang satpam dengan ramah. Senyum sumringah terpancar di wajahnya.
"Pagi," balas Ros dengan senyum yang tak pernah pudar. Sedangkan Rendy, pria itu hanya menatap wajah sang satpam sekilas, lalu mengembalikan lagi tatapannya ke depan. Dan setelah mendapatkan sebuah tatapan dari sang Tuan, satpam itu berhenti menebar senyum pada Ros. Bahkan, langsung menundukkan kepalanya seraya meminta maaf.
"Maaf Tuan, Nyonya, saya lancang!" ujar satpam itu. Dirinya cukup takut dengan sang Tuan yang ternyata memberikan tatapan tajam padanya. Tanda jika ia tak boleh memandang isteri majikannya terlalu lama. Ia juga melupakan, jika dirinya dilarang tersenyum pada istri pemilik perusahaan ini.
"Dengar ya, ini adalah perintah langsung dari Tuan Rendy. Saya, kalian para satpam, OB, dan semua pegawai pria di perusahaan ini. Kita semua, tidak boleh dan dilarang untuk memandangi wajah istri Tuan Rendy, apalagi sampai menebar senyum segala. Sekian, dan terima kasih!" ujar kepala HRD beberapa hari yang lalu.
"Memangnya kenapa kita tidak boleh memandang dan tersenyum pada istri Tuan Rendy?" tanya seorang karyawan pria. Sepertinya, dia adalah orang baru di perusahaan ini.
"Karena Tuan Rendy akan sangat marah. Kalian tahu? Dia itu tipe pria posesif," sang kepala HRD memberi tahu dengan suara yang ia pelankan. Bahkan, terdengar seperti sebuah bisikan halus.
"Pokoknya, dengarkan dan turuti saja perintah langsung dari atasan kita ini. Kalau tidak..."
"Kalau tidak apa pak?" di OB yang kepo memotong ucapan kepala HRD.
__ADS_1
"Kalau tidak kalian turuti. Saya pastikan kalian akan langsung keluar dari perusahaan ini, alias di pecat. Paham!"
"Paham pak!" mendengar kata dikeluarkan dan di pecat. Sontak saja, membuat semua pegawai pria itu mengangguk paham, dan tak berani lagi berkata apapun mengenai larangan baru di perusahaan tempat mereka bekerja.
"Kak? Apa ada yang aneh dengan penampilanku pagi ini?" tanya Ros saat sedang beriringan berjalan bersama Rendy menuju pintu lift. Pasalnya, dia begitu Heran dengan suasana kantor. Tidak ada seorang pegawai pria yang berani menatapnya.
"Tidak ada. Sama seperti biasa, anggun dan menawan. Dan juga sangat cantik!" jawab Rendy, mengungkapkan isi hati, tentang apa yang ia lihat dari diri istrinya.
"Aku serius kak?"
"Jawabanku lebih serius dari pada pertanyaanmu!" tidak mau kalah. Rendy kekeh dengan ucapannya.
"Tapi..."
"Sudahlah sayang. Percaya padaku, kamu sangat cantik, dan tidak ada yang salah dengan penampilanmu pagi ini," ucap Rendy meyakinkan. "Ayo!" diraihnya tangan Ros dengan sangat lembut. Lalu, berjalan menuju lift yang sudah terbuka.
...***...
"Terima kasih atas kerjasamanya Nyonya Ros. Saya sangat senang dan puas dengan meeting kita siang ini. Semoga, acara yang akan kita selenggarakan, berjalan dengan lancar sesuai rencana," ungkap seorang wanita paruh baya yang hendak memakai jasa WO Ros dan teman-temannya untuk acara pernikahan yang megah.
"Tentu saja Bu. Semoga semuanya lancar! Mudah mudahan, kita bisa menjalin hubungan kerjasama ini dengan baik. Dan saya bisa bekerja semaksimal mungkin untuk acara yang sangat ibu idamkan ini," balas Ros dengan nada lembutnya.
"Baik kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya, Tuan!" pamit wanita paruh baya itu.
"Panggil saja saya Ros, Bu. Saya tidak enak mendengarnya!" ungkap Ros.
"Baiklah Ros. Saya permisi dulu."
"Tentu Bu. Hati-hati di jalan, dan semoga selamat sampai tujuan!"
"Istriku memang pandai," puji Rendy untuk sang istri, yang wajahnya memancarkan kebahagiaan dan rasa puas, karena telah membuat klien merasa senang.
"Suamiku juga pandai!" balas Ros, tak kalah membuat Rendy berbunga.
"Karena kita sama-sama pandai. Bagaimana kalau kita percepat saja rencana bulan madu kita?"
'Uhuk! Uhuk!'
Ros yang tengah meminum es teh manis, langsung terbatuk kala mendengar ucapan Rendy barusan.
__ADS_1
Bersambung...