
"Nama saya..., Anita, Nyonya!" jawab Anita.
"Anita!"
"Iya nyonya!" jawab Anita sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Kenapa kau dikejar-kejar oleh orang orang itu?" selidik Rendy lagi, ia merasa ada yang ganjal dengan kejadian ini.
"Mereka..., hiks, hiks, hiks," bukannya menjawab, wanita itu malah menangis dengan sesenggukan saat ditanya oleh Rendy, membuat Rendy semakin kesal dibuatnya.
"Sayang..., kenapa kamu bertanya seperti itu?" ujar Ros, "kamu membuatnya sedih sayang!" lanjut Ros.
"Aku hanya bertanya sayang! memang apa salahnya? kenapa dia harus menangis seperti itu!" balas Ros, "pertanyaan ku tak salah sama sekali! bukan begitu Herman?" Rendy memukul kursi dihadapannya, meminta persetujuan kepada Herman.
"Tentu Tuan, semua yang anda katakan itu benar!" jawab Herman.
"Kamu dengar sendiri kan sayang! Herman pun membenarkan perkataanku, kenapa kamu tidak?" ujar Ros setelah Herman membenarkan ucapannya.
"Tapi sayang- -
"Sudahlah sayang, aku hanya bertanya saja padanya, jika dia memang bukan orang jahat, maka dia tidak akan keberatan dengan pertanyaan ku itu! Bukan begitu?" ujar Ros yang kini memperhatikan kembali wanita itu, dan Ros, kini hanya bisa terdiam mendengar ucapan Rendy yang memang ada benarnya juga.
"Tidak papa Nyonya, apa yang dikatakan oleh Suami nyonya memang benar adanya! suami nyonya berhak tau siapa orang yang sudah ia tolong!" ujar Anita sambil menyeka air matanya yang berjatuhan, dengan tangannya yang kotor, membuat wajahnya semakin berantakan.
Ros pun memberikan beberapa lembar tissue kepada Anita untuk ia gunakan membersihkan wajahnya yang berantakan, agar terlihat lebih baik.
"Terima kasih Nyonya! saya sangat berterima kasih kepada kalian, tanpa kalian, mungkin saya sudah tertangkap oleh mereka yang mengejar saya!" Anita berusaha untuk menahan air matanya kembali menetes, membasahi wajahnya.
"Siapa mereka? kenapa mereka mengejar kamu Anita?" Ros yang kini mulai bertanya seperti mengintrogasi Anita, membuat Rendy senang dan menikmati pemandangan dihadapannya.
__ADS_1
"Ayo Anita, apa yang akan kamu jawab pada istriku! aku yakin kau bukanlah orang baik! aku sama sekali tidak suka melihat keberadaan mu! entah mengapa..., hatiku pun, mengatakan hal yang sama!" batin Rendy.
"Sebenarnya..., mereka adalah orang-orang suruhan mamih Anggun, Nyonya," jawab Anita.
"Mamih Anggun!" Ros dan Rendy saling pandang dan mengerutkan alis mereka cukup lama, hingga Ros bertanya kembali.
"Siapa mamih Anggun itu?" tanya Ros Kemudian.
"Dia..., dia adalah pemilik para wanita malam Nyonya, dia bos saya, huaaaaa...," Anita tak tahan lagi untuk menahan air matanya, dan Anita pun menangis jauh lebih kencang dari yang sebelumnya setelah menjawab pertanyaan Ros.
"Berisik!!!" ujar Rendy dengan nada yang cukup keras, hingga mengagetkan Ros yang berada di sebelahnya.
"Sayang!" bentak Ros dengan kesal
"Dia ini berisik sayang! kupingku sakit mendengarnya!" balas Rendy tak kalah kesal. Membuat Ros mendelik ke arahnya.
"Maafkan saya Tuan, Nyonya, saya sudah membuat kalian bertengkar karena keberadaan saya!" ujar Anita. Sedangkan Herman hanya menyaksikan dan menikmati saja, momen yang sepertinya sudah menjadi momen biasa yang Herman lihat selama beberapa hari ia menjadi supir dari sepasang pengantin baru ini.
"Kamu tahu! ini semua gara-gara kamu!" Rendy menunjuk Anita yang berada didepan Ros.
"Maafkan saya Tuan!" balas Anita.
"Sayang! kita ini sedang menolongnya, dia membutuhkan bantuan, kenapa kamu malah menambah bebannya?" ujar Ros kembali, yang membuat Rendy semakin pusing di buatnya.
"Cepat katakan! siapa mamih Anggun itu? dan siapa dirimu sebenarnya? cepat!" ujar Rendy yang tak mampu lagi menahan amarahnya, dan kini Ros tak mampu untuk membalas ucapan Rendy, karena Rendy terlihat begitu marah.
"Saya seorang wanita malam Tuan! saya di jual oleh paman saya beberapa bulan yang lalu! dan saat ini saya sedang kabur, maka dari itu, orang orang itu mengejar saya! karena saya kabur dari diskotik, tempat dimana saya dijual oleh paman saya!" jawab Anita dengan berlinang air mata. Sungguh Ros tak tega melihatnya, dan Ros pun menepuk-nepuk pundak Anita dengan pelan, sebagai bentuk simpatiknya kepada Anita sebagai sesama wanita.
"Maafkan suami saya Anita! suami saya tidak bermaksud untuk mencurigai kamu! dia hanya ingin tahu siapa kamu sebenarnya!" ujar Ros yang masih terus menepuk-nepuk bahu Anita.
__ADS_1
"Tidak papa Nyonya! saya mengerti!" jawab Anita dengan tertunduk lesu, "justru saya berterima kasih kepada Tuan dan nyonya, karena sudah mau membantu saya!" balas Anita.
"Akan kemana kamu sekarang? biar saya dan suami saya antar!" tanya Ros kemudian, dan Anita hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Saya tidak tahu Nyonya, saya tidak punya tempat tinggal di Jakarta! saya ini hanya orang kampung yang dijual oleh paman saya sebagai wanita malam!" ujar Anita.
"Saya- -
Lagi lagi ucapan Ros terhenti karena Rendy langsung menyela ucapannya, "hentikan sayang!" Rendy mengangkat sebelah tangannya ke atas, "aku tidak mau dia ikut bersama kita ke rumah kita!" penolakan tegas dari mulut Rendy, sebelum Ros mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.
"Tapi- -
"Aku tidak ingin dia tinggal bersama kita! tolong mengertilah! ini adalah keputusan final ku sebagai seorang kepala rumah tangga, jika kamu mengakui ku sebagai suami mu!" ujar Rendy kembali mempertegas siapa dirinya di hadapan Ros, dan Ros pun hanya tertunduk setelah mendengar penuturan Rendy yang tegas dan tak seperti biasanya.
"Ayolah sayang, jangan seperti itu! aku tidak suka melihatmu seperti itu!" ujar Rendy kemudian, setelah ia menegaskan siapa dirinya dihadapan Ros.
"Maafkan saya Tuan, Nyonya. Tapi apa yang tuan Rendy katakan barusan adalah benar! tidak baik jika seorang wanita yang tidak dikenal, masuk kedalam rumah tangga sepasang suami istri!" ujar Herman yang sedari tadi terdiam, akhirnya mengeluarkan pendapatnya kepada Ros, membuat Rendy senang karena merasa dibela.
"Kamu dengar sayang! apa yang dikatakan oleh Herman! dia sudah berpengalaman dalam berumah tangga. Tidak baik memasukkan wanita lain di tengah tengah rumah tangga kita! itu bisa menimbulkan fitnah, sayang!" Rendy tampak menyunggingkan sebelah bibirnya ke atas.
"Saya mohon Tuan! saya ini bukan wanita jahat, saya benar benar membutuhkan pertolongan kalian, saya bingung harus pergi kemana! saya tidak punya tempat tinggal, saya tidak punya tujuan, saya juga takut jika nanti saya dikejar lagi oleh orang orang suruhan mamih Anggun! hiks, hiks, hiks," Anita kembali terisak dihadapan Ros, membuat Ros kembali tidak tega dengan nasib yang dialami oleh Anita.
"Aku dan istriku sudah membantu ku lari dari kejaran orang suruhan mamih Anggun itu Anita!" ujar Rendy dengan nada tinggi.
"Sayang..., apa kita tidak bisa membantunya lagi?" ujar Ros yang kembali membujuk Ros, entah apa yang Ros pikirkan, namun Ros seperti terhipnotis dengan apa yang diucapkan oleh Anita.
Bersambung...
Yuhuuu..., double up๐ yuk, yang mau ngasih kopi, mari merapat๐๐
__ADS_1