
"Hei, Herman! Mau makan gaji buta kau ya?" ujar Rendy dari balik sambungan telepon. Pria tampan yang masih setia menunggu kata memaafkan dari mulut sang istri itu, mengomeli sopir pribadinya sendiri, karena sedari semalam, handphone pria itu tak kunjung aktif saat di hubungi.
"Ma-maaf Tuan!" gelagapan Herman meminta maaf. Ia harus buru-buru menjelaskan, alasan mengapa handphonenya sampai tidak bisa di hubungi, "semalam, saya mengantar istri saya yang sedang hamil besar ke rumah sakit, Tuan, karena perutnya mulas. Tapi, setelah tiba di rumah sakit, ternyata istri saya cuma mengalami kontraksi palsu," sambung Herman sambil menjelaskan.
"Lalu, bagaimana keadaan istrimu sekarang?" tanya Rendy mulai luluh. Walau bagaimanapun, Rendy bukanlah seorang pria yang tega dan kejam pada para pekerjanya. Walau terkadang sikapnya suka seenaknya dan menyebalkan. Namun, Rendy adalah orang yang baik.
"Istri saya kembali ke rumah, Tuan!" jawab Herman cepat, "sekali lagi, saya minta maaf," sambungnya.
"Sudahlah, tidak usah meminta maaf. Aku akan memaafkan dirimu, asal kau mengikuti perintahku," ujar Rendy.
"Siap Tuan. Laksanakan! Apa yang harus saya kerjakan?" jawab Herman sigap, seraya bertanya.
"Kau pasti sudah tau 'kan? Kejadian yang menimpaku kemarin?" tanya Rendy penuh selidik. Dirinya yakin, walau Herman tak melihat kejadian kemarin, tapi dia pasti tau kejadian itu dari mulut ke mulut para pelayannya yang kemarin melihat dan menyaksikan ke garangan Ajeng terhadapnya.
"Ma-maaf Tuan... I-iya!" gelagapan lagi Herman menjawab, bahwa tebakan Rendy tidak salah sama sekali. Walaupun dia tidak melihat. Namun, Herman mendengar kejadian langka itu dari sesama pelayan di rumah Rendy. Lebih tepatnya, dari status grup w* para pelayan.
"Hah. Sudah ku duga!" Rendy mendesah berat. Kesal bukan kepalang. Kejadian kemarin menyebar dengan cepat dari mulut para pelayannya. 'Jangan sampai orang-orang kantor juga mengetahuinya!' gumam Rendy dalam hati.
"Ma-maaf, Tuan! Sa-saya tidak bermaksud untuk mencari tau. Tapi..." Herman enggan melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Rendy mulai curiga.
"Ti-tidak Tuan!" jawab Herman.
"Kau belum tau siapa aku ya?" ancam Rendy membuat nyali Herman menciut.
"Beritanya sudah tersebar Tuan!"
"Apa?" ujar Rendy kaget.
"Benar Tuan!"
"Menyebar bagaimana caranya berita ku? Dan dari pelayan mana kau tau?" tanya Rendy penasaran. Bisa-bisanya berita aib-nya itu menyebar di kalangan para pelayan.
"Emh... I-itu...?" Herman gelagapan mau menjawab apa.
"Itu apa? Baiklah, kalau kau tidak mau memberi tau, aku akan memec--
"Jangan Tuan!" Herman memotong cepat ucapan Rendy, kala pria itu hendak mengatakan jika dirinya akan di pecat. Jika Herman di pecat. Lalu, bagaimana dengan anak-anak serta istrinya yang sedang mengandung besar? Bisa kesulitan ekonomi dia. Pikir Herman.
"Bagus! Paham kau ternyata. Jadi, cepat katakan? Tau dari mana kau?" tanya Rendy. Pria itu tersenyum senang, kala dirinya dapat mengancam Herman, hanya dengan sekali gertakan saja. Bahkan, ucapannya itu masih belum selesai, tapi Herman sudah menyela nya dengan cepat.
"Saya... Tau dari grup para pelayan rumah Tuan!" jawab Herman akhirnya. Dirinya tidak mungkin berbohong atau mengelak lagi. Pekerjaan nya sedang di pertaruhkan saat ini. Padahal, jika ia tau, Rendy hanya sedang menggertak nya saja. Tentu, Herman tidak akan mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Apa?" kaget Rendy di balik sambungan telepon.
"Benar, Tuan!" tanggap Herman.
"Grup macam apa itu?" tanya Rendy tidak percaya.
"Grup para pelayan rumah besar, Nyonya Ros dan Tuan Rendy, Tuan!" Herman menjawab.
"Kalian membuat grup seperti itu?" tanya Rendy.
"Ya, Tuan!"
"Untuk apa?" selidik Rendy, "apa untuk menyebarkan berita tentang aku dan istriku?" lanjutnya bertanya.
"Ti-tidak Tuan. Bukan seperti itu," jawab Herman.
"Lalu?" masih penasaran dan ingin mendapatkan jawaban. Rendy kekeh ingin bertanya dan mendapatkan jawaban sampai ke akar-akarnya.
"Untuk saling bersilaturahmi dan mengetahui pekerjaan kita masing-masing saja Tuan!"
"Termasuk menyebarkan berita yang mengandung aib-ku?"
"Tidak Tuan, tidak seperti itu!"
"Ah, sudahlah! Terserah kalian mau membuat grup semacam apa pun. Sekarang, kau lakukanlah tugasmu. Cari tau dimana keberadaan si wanita siluman itu. Aku ingin memberikannya pelajaran," mengingat kembali soal Anita, membuat Rendy kembali geram. Berkat dirinya lah, ia dan Ros menjadi salah paham. Ros mendiamkannya seperti orang tak kenal saat ini.
"Bagus!" Rendy mengakhiri sambungan telepon-nya dan memasukkan kembali ponsel ke saku celananya.
...***...
"Itu Anita!" ujar Nina sambil menunjuk seorang wanita yang baru saja turun dari sebuah taksi berwarna biru.
"Ya, aku tau... Mau ke mana dia?" tanya Mila ingin tau.
"Ayo, kita turun sekarang!" ajak Nina pada kedua temannya.
"Tapi, jalanan-nya ini sepi Mbak. Gak ada orang di sini. Anto ko jadi takut ya?" ujar Anto sembari memegangi pundaknya yang meremang. Diperhatikan sekali lagi, jalanan yang memang sepi. Rumah-rumah di sini juga terlihat renggang, sepi bagai tak berpenghuni. Tidak tampak orang dan kendaraan yang lalu lalang di sekitar sini. Hanya terlihat Anita yang sedang mengeluarkan barang-barang belanjaannya yang cukup banyak, dari dalam bagasi taksi yang ia kendarai.
"Ya-elah! Kamu ini laki-laki apa perempuan sih? Masa sama jalanan sepi aja kamu takut!" ejek Mila pada Anto.
"Emang Anto beneran takut kok!" Anto tak malu mengakui jika dirinya memang takut.
"Dasar pria kemayu!" ledek Mila dan Nina nyaris bersamaan.
__ADS_1
"Ish!" bibir Anto maju ke depan.
"Ayo keluar! Kita buat perhitungan dengan wanita siluman itu!" ajak Mila yang langsung di sambut dengan anggukan kepala dari Nina dan Anto.
Ketiganya langsung keluar dari mobil dengan perlahan. Memerhatikan Anita yang masih fokus pada barang belanjaannya.
"Dia itu belanja atau borong satu mall sih Mbak?" tanya Anto keheranan melihat Anita yang membeli bagitu banyak barang.
"Me-ne-ke-te-he!" jawab Mila acuh tak acuh.
"Lihat-lihat!" kata Nina membuat Mila dan Anto menoleh seketika.
"Taksi nya udah mau pergi!" sambut Mila.
"Iya!" sambung Anto.
"Ngumpet-ngumpet!" suruh Mila. Nina dan Anto langsung mengangguk dan bersembunyi di balik samping mobil yang tak terlihat.
"Udah pergi, ayo keluar!" ajak Nina.
"Ayo!" jawab Mila dan Anto serempak.
Ketiga teman itu langsung keluar dari persembunyian mereka secara bersamaan. Menoleh ke kanan dan kiri, memastikan jika tidak ada orang sama sekali di sekitar sini, untuk melancarkan aksi mereka memberikan perhitungan kepada Anita.
"Perhatikan baik-baik, ada cctv-nya atau tidak di sini!" kata Mila membuat Ina dan Anto langsung memerhatikan sekeliling.
"Aman! Di sini gak ada cctv-nya sama sekali!" ujar Nina.
"Bagus! Ayo. Kita buat dia menyesal! Beri wanita siluman itu perhitungan, karena sudah berani berurusan dengan kita!" ujar Mila penuh semangat, kedua temannya langsung mengangguk setuju, dengan semangat empat lima.
"Cepat! Mumpung dia lengah dan tak melihat ke arah kita!"
Suasana yang sepi, tak ada orang ataupun kendaraan yang berlalu lalang, membuat Mila, Nina dan Anto dengan leluasa mendekati Anita yang tengah memindahkan barang-barang menuju rumah yang entah milik siapa itu.
Sepi, bagai tak berpenghuni.
Satu!
Dua!
Tiga!
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Mila dan Anto menutup kepala Anita dengan sebuah karung kecil bekas beras. Tak ingin tinggal diam, Nina pun memegangi kedua tangan Anita agar tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
"Aaaa!" Teriak Anita, "siapa kalian?" tanyanya dengan badan yang ia goyang-goyangkan ke kiri dan ke kanan, mencoba melepaskan pegangan dari orang-orang yang memegang tubuhnya bagai buronan.
Bersambung...