
"A-a-a-ampun! Kami berdua minta maaf!" kata Beno dengan suara yang terdengar gelagapan. Sorot ketakutan yang begitu kentara, terlihat jelas di wajahnya. Pria itu sedikit menjauh. Namun, lagi dan lagi, gerakannya terhenti oleh adanya Herman yang selalu siap siaga di belakang tubuhnya dan Tomi.
"Terlambat! Kalian telah bermain-main denganku, kalian sudah menyiksaku, dan kalian juga sudah mencoba untuk menginjak harga diriku dengan cara melecehkan aku! Maka, tidak ada kata maaf yang akan kalian dapatkan dariku!" ungkap Ros terdengar sangat dingin dan kaku. Herman dan Rendy bisa merasakan, kemarahan seperti apa yang Ros pendam saat ini.
'Cekat!!'
Suara pecut itu terdengar menggelegar. Ros sengaja memainkan pecut itu untuk mengancam mental kedua orang di depannya.
Benar saja, Beno dan Tomi semakin ketakutan. Nyali mereka semakin menciut. Apalagi kala Tomi mengingat kembali ingatan beberapa jam yang lalu, yang berkata terang-terangan ingin mencicipi tubuh Ros terlebih dahulu. Kini, perasannya di dera rasa takut yang teramat sangat.
"Kenapa kalian diam hah?" tanya Ros sambil menggerakkan pecut di tangannya, dan mulai mengarahkan pecut itu pada Beno dan Tomi yang kini meringis merasakan sakit yang teramat sangat.
"Ampun! Ampun! Kami minta maaf!" ujar Tomi sambil meringis, merasakan sakit yang bertubi-tubi tiada henti.
Ros tak mau menghentikan aksinya menyiksa kedua anak buah Vero. Harga diri Ros, sudah di injak-injak oleh mereka bertiga, dan Ros akan membalaskan dendam nya saat ini juga. Selagi ada kesempatan.
"Ampun..." jeritan itu semakin terdengar pilu. Ada rasa kasihan yang menyerbu relung hati Ros, hingga ia menghentikan aksinya pada Beno dan Tomi.
'Dorrr!'
Suara pistol yang menggema di tempat sepi itu. Mengalihkan mata setiap orang yang berada di sana, tidak terkecuali Vero. Ia menatap dengan wajah sinis, serta senyum yang menyungging, kala apa yang ia rencanakan, terjadi seperti yang ia inginkan.
Ada apa gerangan? Kenapa Vero tersenyum seperti itu? Suara tembakan apa barusan? Apa suara yang baru saja terdengar itu adalah suara senjata api? Siapa yang menggunakannya? Apakah Kak Surya? Pikir Rendy, bertanya-tanya dalam hati.
Bibir Ros bergetar. Wajahnya memerah seperti menahan sakit. Lalu, seketika itu pula, langsung berubah menjadi pucat pasi. Seperti tidak ada darahnya. Tubuh Ros ikut bergetar, lalu lemas dan terjatuh ke lantai. Bahkan, pecut di tangannya pun ikut terjatuh, karena pemegangnya sudah tak kuat lagi menahan bebannya yang tidak sampai setengah kilogram.
"Rossss..." Teriak Rendy sambil berusaha berlari, walaupun dengan langkah tergopoh-gopoh, karena seluruh tubuhnya terasa sakit dan ngilu.
__ADS_1
Darah bercucuran dari perut Ros, ketika wanita itu menyentuh perutnya sendiri dengan sebelah tangan. Dan mendapati, dirinya sudah terluka tanpa ia sadari.
Tak berbeda jauh dengan Rendy. Herman sang sopir pribadi serta orang yang sudah merangkak sebagai orang kepercayaan Rendy, ikut terkejut dan langsung menghampiri tubuh Ros yang sudah lemas tak berdaya di lantai.
"Nyonya!" kata Herman sambil berjalan cepat menghampiri Ros. Sama seperti yang Rendy lakukan padanya.
"Sayang! Apa yang terjadi?" tanya Rendy panik, kala ia juga melihat darah keluar dari perut Ros. Tangannya menggantikan tangan Ros yang memegangi perut Ros yang keluar banyak darah.
"Sayang! Bertahanlah sayang! Aku akan membawamu ke rumah sakit!" ujar Rendy di kala kepanikannya.
"Hei, kau pecundang! Keluar kau! Kenapa kau menembak istriku hah? Keluar!" teriak Rendy dengan nada memerintah.
'Ha.ha.ha!'
Suara gelak tawa yang entah berasal dari mana, membuat Rendy dan Herman memerhatikan sekeliling. Menatap siaga ke segala arah. Siapa orang yang tertawa barusan?
"Hentikan pendarahannya Tuan! Akan saya awasi, orang yang tertawa barusan! Dia pasti orang yang menembak Nyonya juga!" kata Herman mengambil alih komando.
Tanpa menjawab ucapan Herman barusan. Rendy langsung melakukan apa yang ia sarankan, atau lebih tepatnya Herman perintahkan.
Rendy merobek kaos dalamnya dengan sekali gerakan saja. Membuat kaos itu robek sedikit tak karuan. Bentuknya memanjang tak tentu arah tujuan. Lalu, mengikat perut Ros dengan kaos yang sudah ia robek barusan.
Deru napas kesakitan begitu terdengar lirih di telinga Rendy. Saat ini, Ros tengah berjuang dalam rasa sakit yang mendera perutnya.
Rendy panik, ia khawatir, cemas, dan takut kehilangan, andai sesuatu yang buruk terjadi pada Ros.
"Bertahanlah sayang! Kita akan pergi dari tempat serta orang-orang biadab ini!" ujar Rendy menenangkan Ros dan diri sendiri.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari bibir Ros. Bibirnya terlalu sibuk bergetar, merasakan sakit yang luar biasa.
"Ayolah sayang. Kamu kuat!" kata Rendy menyemangati. Sedangkan Herman, ia masih berjaga-jaga. Matanya awas dan siaga melihat ke sekeliling.
Tidak ada yang aneh. Hanya saja, wajah Vero terlihat mencurigakan. Bibirnya melengkungkan senyum yang penuh dengan arti. Dan saat Herman hendak mengangkat tangannya untuk melayangkan sebuah tembakan pada Vero, suara senjata api itu kembali terdengar.
Tanpa Herman sendiri sadari, ternyata, tembakan itu berhasil mengenai tangannya yang hendak menembak Vero. Hingga, membuat senjata api di tangannya terlepas dan jatuh begitu saja.
"Aw! Sial!" umpat Herman dengan rasa sakit yang mulai menjalari tangannya. Karena tembakan itu, tepat mengenai sasaran. Yaitu, tangan yang memegang senjata api.
"Herman!" Teriak Rendy.
"Saya tidak apa Tuan. Jangan khawatirkan saya!" kata Herman dengan menekankan nada suaranya.
"Tapi tanganmu!"
"Ini hanya luka kecil Tuan. Saya bisa menahannya. Sekarang yang terpenting, adalah keselamatan Nyonya!" ujar Herman kembali. Nyawa majikannya, lebih penting dari pada keselamatan dirinya saat ini. Karena yang Herman alami hanya sebuah tembakan di tangan. Sedangkan Ros, ia mengalami tembakan di perutnya, juga mengeluarkan banyak darah. Jadi, Herman lebih memprioritaskan keselamatan Ros.
"Pengecut! Keluar kau! Apa kau akan terus bersembunyi di tempat yang aman!" kata Herman.
"Kau lihat ini?" Herman berjalan mendekati Vero yang masih terkapar dengan mata yang masih terbuka. Namun, tenaga yang sudah hampir tiada, akibat apa yang Rendy lakukan padanya. Lalu, Herman menodongkan senjata api yang ia pegang di sebelah tangannya yang lain kepada Vero, dengan mata yang terus awas dan jeli memerhatikan sekeliling.
"Kalau kau tidak mau keluar juga. Aku pastikan, kepala pria ini, akan pecah saat ini juga!" teriak Herman dengan nada ancaman yang terdengar begitu serius.
Vero menyunggingkan senyum. Tidak ada raut ketakutan dalam wajahnya. Membuat Herman tertantang dan hendak menarik pelatuknya. Namun, saat hendak menarik pelatuknya. Tiba-tiba saja--
Bersambung...
__ADS_1