Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 44


__ADS_3

Sesampainya kedua orang itu disana, Nita dan Mita segera naik kelantai atas tempat acara pemberkatan Reysa dengan Reno.


"Wah.. Ini sangat mewah sekali Mita" ujar Nita menatap kagum.


"Iyayah. Lihat kesana Nita, itu Bu Reysa dan calon suaminya.. OMG, ternyata suami Bu Reysa orang Eropa toh. Tampan sekali dia Nita, aku juga mau dong punya suami orang bule mmmm" kagum Mita dengan wajah menghalu.


"Beruntung sekali Bu Reysa. Dia cantik sekali".


"Mmmmm.. Bu Reysa udah dasarnya cantik ditambah lagi Bu Reysa didandani seperti ini semakin tambah cantik" balas Mita melihat salah satu calon keluarga mempelai tersebut.


"Ayo Mita. Nanti kita kena tegur karna kelamaan disini".


"Tunggu Nita!".


"Ada apa?".


"Aku yakin keluarga si mempelai laki-laki pasti yang ada disana. Kamu lihat itu?".


Kedua mata Nita langsung menuju ke orang yang baru saja Mita tunjuk, "Mungkin saja" ia tersenyum.


"Wah..! Ada apa dengan mu Nita? Kenapa kamu tiba-tiba tersenyum seperti itu?".


"Hhhmmm?".


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu Seolah-olah kamu ikut merasakan kebahagiaan yang keluarga itu rasakan?".


Nita tampak bingung dengan apa yang baru saja Mita ucapkan menyentuh wajahnya, "Apa aku barusan tersenyum seperti yang baru kamu ucapakan Mita?".


"Mmmm.. Emang kamu tidak menyadarinya? Astaga! Ada juga seperti itu yah Nita hahahaha.. Ayo kita pergi".


"Ayo" namun sebelum pergi dari sana Nita masih sempat melirik kearah keluarga si mempelai pria itu lagi.


Sedangkan Argana yang duduk di ujung sana hanya bisa menatap dengan tatapan mata kehancuran setelah Reysa dan Reno mengucapkan janji suci mereka dihadapan para tamu undangan.


Kemudian Argana melap air matanya, ia lalu melihat kearah Reysa lagi hingga kedua mata mereka bertemu. "A-argana?".


Reno mendengar suara Reysa menyebut nama Argana. Ia pun langsung ikutan melirik kearah pandangan mata sang istri yang kini sudah resmi menjadi istrinya.

__ADS_1


"Dia siapa?" ucap Reno mengajukan pertanyaan pura-pura tidak mengingat wajah Argana.


Reysa kemudian mengalihkan arah pandangan matanya kesamping.


"Ada apa Reysa? Siapa pria itu? Kenapa kamu melihatnya seperti itu? Kamu menangis?".


Reysa lalu menyeka air matanya, "Tidak ada apa-apa Reno. Kedua kaki ku sudah lelah sekali, bisakah kita duduk saja?".


"Ya sudah" angguknya membawa Reysa duduk diatas kursi yang ada disana. Setelah itu ia melirik kearah Argana yang masih saja melihat kearah mereka. "Reysa sekarang sudah menjadi milik ku Argana. Kamu tidak punya hak lagi untuk merebutnya dari ku" ucap Reno dalam hati.


1 jam telah berlalu. Argana mulai merasa jenuh di dalam sana, ia pun memilih keluar dari dalam aula tanpa ia ketahui kalau saja Reysa dari kejauhan sedang memantaunya.


"Reno, aku keluar sebentar yah" ucap Reysa.


"Kamu mau kemana? Ayo aku akan...


"Tidak Reno. Kamu disini saja, aku hanya sebentar saja mmmm".


"Ya sudah. Nanti kamu jangan lama-lama yah".


"Iya".


Kemudian Reysa melihat Argana berdiri di ujung lorong dengan tatapan kosong melihat kearah gedung-gedung tinggi perkotaan.


Lalu ia melangkah mendekati Argana sambil memanggil namanya, "Argana ini aku!".


Argana yang merasa namanya di panggil, ia memutar tubuhnya kearah sumber suara tersebut.


"Ini aku Argana" air mata yang sedari tadi Reysa tahan kini berderai di kedua pipinya sambil berkata. "Maafkan aku Arga! Tolong maafkan aku hiks.. hiks..".


Kemudian Argana menutup mata sambil menarik nafas dalam-dalam, ia lalu membukanya kembali masih melihat Reysa menangis dengan tubuh bergerak. Tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk memeluk tubuh itu mengingat Reysa kini sudah menjadi milik orang lain.


"Argana apa yang harus aku lakukan hiks? Sekarang apa yang harus aku lakukan Argana? Tolong aku Arga! Tolong aku hiks.. hiks...".


"Berhentilah menangis" jawab Argana ikutan meneteskan air mata kehancuran itu lagi. "Aku tidak bisa melihat mu seperti ini Rey. Aku mohon berhentilah menangis".


Namun Reysa bukannya berhenti menangis, ia malah semakin menangis senggugukan tidak sanggup dengan kenyataan yang dia hadapi saat ini.

__ADS_1


"Rasanya sakit Ga. Rasanya sangat sakit sekali Arga. Aku tidak sanggup lagi menghadapi ini semua, rasanya aku ingin mati saja Ga. Apalagi melihat kamu yang seperti ini hiks....


"Reysa?".


Deng!


Suara itu segera membuat Reysa menghentikan tangisannya. Ia lalu melihat kearah Reno yang baru saja memanggil namanya.


"Kenapa kamu kemari Reno?" tanyanya dengan mata sembap dan memerah.


"Apa dia Argana? Pria yang selama ini kamu cintai yang tidak pernah memikirkan dir..


"Hentikan Reno. Sebaiknya kita masuk saja" potong Reysa langsung membawanya dari sana meninggalkan Argana seorang diri.


Kemudian Argana mendengar suara tawa seorang wanita berjalan kearahnya, ia melap air matanya hendak pergi dari sana. Namun ia seketika menghentikan langkah kakinya melihat wanita yang berada di hadapannya itu.


DDDUUAARR..


Bagaimana disambar petir Nita membulatkan kedua mata melihat pria yang berdiri dihadapannya itu.


"Ada apa Nita?" tanya Mita yang selama ini belum pernah melihat Argana secara langsung. "Kenapa kamu jadi diam? Kamu mengenal pria tampan itu?" Mita mangajukan pertanyaan itu lagi ditelinga Nita.


"Mita, bisakah kamu meninggalkan kami berdua sebentar saja? Aku mohon Mita" balas Nita dengan nafas tak beraturan melihat Mita.


"Baiklah. Kalau sesuatu terjadi cepat beritahu aku" angguk Mita meninggalkan mereka.


Kemudian Nita meletakkan peralatan kebersihan yang ada di kedua tangannya diatas lantai.


"A-argana!" panggilnya dengan suara gelagapan. "I-ini semua ti-dak seperti yang kamu pikirkan Ga. A-aku.. Aku.. Akh, ya Tuhan aku harus berkata apa kepada mu Ga" Nita menutup wajahnya dengan kedua tangan di hadapan Argana.


Lalu Nita membuka kedua mata itu lagi melihat Argana masih menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi.


"Arga! A-aku tau kamu pasti sangat kecewa sekali dengan ku. Tolong maafkan aku Arga, aaku.. aku tidak bermaksud membohongi kamu selama ini Arga, tolong maafkan aku. Ya Tuhan".


Argana mendesah suara membuang nafasnya, ia tidak habis pikir kalau selama ini Nita juga membohonginya. Tetapi ia tidak ingin mengeluarkan sepatah dua kata kepadanya, ia malah memilih pergi dari sana. Namun Nita segera menahan pergelangan tangannya.


"Arga tolong maafkan aku Ga. Aku.. Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada mu Ga. Tolong maafkan aku Ga hiks.. Aku melakukan itu semua tidak ada maksud lain Ga, aku hanya tidak ingin orang lain memandang ku dengan hina Ga hanya karna aku orang miskin yang tidak punya apa-apa".

__ADS_1


"Aku mohon Argana. Tolong maafkan aku".


__ADS_2