
Sepulangnya Nella dari kantin, ia melihat Nita masih sibuk dengan pekerjaan yang tadi pagi Riska berikan. Lalu ia memberikan roti yang tadi Nita minta diatas mejanya.
"Wah, terima kasih banyak Nella" senang Nita segera membuka bungkus kuenya. "Loh, kenapa ada dua Nella dan juga kopi ini..
"Itu untuk mu" potong Nella menjawabnya sambil duduk.
"Eiskk, terima kasih banyak loh Nella. Kamu baik banget akh. Lain kali aku akan membelinya untuk mu".
"Mmmmmm".
Tidak ingin berlama-lama menikmati kue tersebut, Nita kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sepotong kue ditangan kirinya.
Hingga sore telah tiba, Nita belum juga selesai menyelesaikan pekerjaannya.
"Nita!" panggil Riksa sang manager.
"Iya Bu?" jawabnya.
"Kamu sudah menyelesaikan pekerjaan yang tadi pagi saya minta? Tuan Argana sudah menunggunya".
"Maaf Bu. Sepertinya saya tidak bisa menyelesaikan hari ini juga. Tidak bisakah besok saja Bu?".
"Kamu mau saya kena amukan tuan Argana?".
"Tapi ini sudah jam 6 sore bu, dan yang lainnya juga sudah pada berpulangan. Saya dari tadi siang belum ada istirahat, tolong berikan saya waktu istirahat Bu".
"Saya tidak mau tau Nita, terserah kamu saja. Sekarang ini urusan kamu dengan tuan Argana. Saya pulang dulu" jawab Riska meninggalkannya.
Kemudian Nella meliriknya, "Aku juga harus pulang Nita, sampai bertemu besok pagi. Tidak apa-apakan kalau aku pergi juga meninggalkan mu?".
"Iya" jawabnya mengangguk.
"Kalau gitu aku pergi".
Nita pun lalu mengusap wajahnya dengan kasar, ia melihat dokumen itu masih menumpuk di hadapannya.
"Kenapa harus aku sih? Kenapa Bu Riska tidak memberikan kepada yang lainnya juga? Ya Tuhan, ini benar-benar sangat menyebalkan sekali akh".
"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Ranu menghampirinya. "Apa Nella sudah pulang?".
"Mmmmm" balas Nita.
"Terus kamu?".
Nita lalu berdecak kesal melihat pekerjaannya, "Hari ini aku harus lembur, pekerjaan ku sampai sekarang belum kelar juga. Pulanglah duluan".
"Kamu yakin tinggal sendiri disini?".
__ADS_1
"Mmmmmm".
"Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu".
"Iya, hati-hati di jalan".
Nita pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Sedangkan Argana yang masih berada di ruangannya, ia juga disibukkan dengan pekerjaannya hingga kini ia merasa pegal di seluruh tubuhnya. Ia lalu bangkit berdiri untuk membuatkan segelas kopi panas.
Tok... Tok...
"Masuk" jawab Argana.
Ceklek!
"Tuan, saya permisi izin pamit pulang duluan" ucap sekretaris ya.
"Mmmm" angguk Argana.
"Terima kasih tuan".
Kemudian Argana berjalan kearah kaca ruangannya sambil menikmati segelas kopi penas menatap kearah perkotaan tersebut.
Nita lalu melihat kearah jam, "Astaga udah jam 10 saja. Akhirnya pekerjaan ku selesai juga. Tapi apa mungkin jam segini dia belum pulang? Ck, dari pada kaya gini mendingan tadi aku pulang saja, besok pagi kan aku bisa menyerahkan dokumen ini. Astaga, Bu Riksa benar-benar tidak berperasaan".
"Untuk memastikan kalau dia masih di dalam ruangannya, sebaiknya aku bawa saja ini semua kesana" Ia pun langsung membawa semua dokumennya ke dalam ruangan Argana. Namun sebelum ia masuk, ia tidak lupa mengetuk pintu itu sampai 3 kali lamanya. Tetapi ia tidak mendapatkan jawaban dari yang empunya ruangan tersebut.
Ceklek!
"Aarrkkhhh" teriak Nita membuang dokumen tersebut dihadapan Argana. "Kamu siapa? Ka... Argana?".
Argana lalu melihatnya dengan kesal, "Apa yang sedang kamu lakukan disini?".
"Astaga! Maaf Ga. Tadi itu aku mau mengantar ini semua ke dalam ruangan mu, cuman aku pikir kamu sudah pulang karna sudah 3 kali lamanya aku mengetuk pintu ruangan mu kamu tidak menjawabnya. Dan ternyata kamu belum pulang Ga maaf".
Argana pun melihat dokumen yang tercecer di hadapannya itu, "Kenapa kamu belum pulang?".
"Aku belum pulang karna ini semua. Sepertinya kamu lagi marah ya sama aku sampai kamu tega menyuruh ku mengerjakan ini semua?".
Argana mengernyitkan keningnya, "Siapa yang menyuruh mu mengerjakan ini semua?".
"Bu Riska. Karna itu aku baru selesai mengerjakannya. Akh, badan ku terasa pegal sekali" Nita memungut kembali dokumen itu semua dari bawah kaki Argana. "Apa aku bisa menyimpannya ini didalam ruangan mu?".
"Mmmmm" jawab Argana. "Berikan kepada ku, biar aku yang membawanya masuk".
"Tidak usah, aku masih bisa membawanya sendiri" Nita langsung masuk ke dalam, ia menaruh di atas meja kerja Argana. "Semua sudah beres, sebaiknya aku pulang saja. Kalau gitu aku pulang dulu yah...
__ADS_1
"Aku akan mengantar mu pulang".
Nita tersenyum senang, "Benarkah Ga?".
"Iya ayo".
"Kalau gitu kamu tunggu aku di depan lift, aku mengambil tas ku dulu. Ok".
"Mmmmm, jangan lama".
"Jangan khawatir, aku hanya sebentar saja".
Nita pun berlari memasuki ruangannya, namun saat ia memasuki ruangan itu kembali ia tiba-tiba melihat semua lampu padam membuat ia seketika takut memasuki ruangan itu.
"Perasaan tadi semua lampu menyala deh. Tapi kenapa sekarang lampu tiba-tiba mati? Tidak mungkin kan sekuriti yang mematikan lampu ini, minimal 5 atau berapa lampu pasti akan menyal... Ranu?" Kaget Nita membulatkan mata melihat Ranu diujung sana seorang diri dengan bantuan sebuah cahaya ponselnya.
Kemudian ia melihat Ranu tersenyum kepadanya, "Sedang apa kamu disini Ranu? Bukannya tadi kamu sudah pulang?".
"Mmmmm" jawab Ranu berjalan kearahnya.
Nita semakin ketakutan, ia perlahan melangkahkan kedua langkah kakinya mundur saat Ranu berjalan kearahnya dengan senyuman yang tidak bisa ia artikan.
"Ra-ranu, kenapa kamu melihat ku seperti itu? Apa yang ingin kamu lakukan Ranu? Tolong jangan berjalan kearah ku. Kamu mau apa?".
"Sshhuueettt.. Kamu jangan bersuara Nita, seseorang bisa mendengar suara mu".
Hingga kini Ranu berdiri dihadapannya.
"Kamu jangan macam-macam Ranu. Kita ini satu team rekan kerja".
Ranu tertawa kecil, "Kenapa Nita? Kamu takut hhmmm? Hahahaha Justru karna kita satu team kerja harusnya kamu tidak takut seperti ini Nita" Ranu lalu menyentuh kedua lengannya.
"Apa kamu sudah gila Ranu? Lepaskan aku".
"Sshhuueettt.. Aku sudah menyuruh mu diam kenapa kamu malah meninggikan suara mu Nita? Kamu mau orang diluar sana mendengar suara mu hhhmmm?".
"Jangan gila Ranu. Lepaskan aku, ayo lepaskan aku".
"Ais, kamu terlalu berisik sekali" Ranu pun mendorong tubuh mungil Nita dibalik tembok sampai membuat ia meringis kesakitan. "Aku sudah menyuruh mu diam kamu malah..
"Tolong! Tolong! tolong aku" potong Nita mencoba untuk berteriak berharap Argana mampu mendengar suaranya.
PPPLLLAAKKK..
Dengan sangat marah Ranu pun menampar pipi kanan Nita sangat kuat. "Apa kamu masih ingin berteriak Nita?".
"Ranu, kamu jangan gila. Aku bisa saja melaporkan kamu ke polisi kalau kamu sampai berani menyentuh ku hiks..hiks..".
__ADS_1
"Cup cup cup.. Apa kamu sedang menangis? Jangan menangis Nita, cantik kamu nanti bisa hilang".
"Aku mohon, tolong lepaskan aku Ranu, tolong lepaskan aku. Biarkan aku pulang Ran....