
"Mbak- Mbak Ros!" ucap Anita gelagapan. Dirinya yang baru saja tersadar dari tidurnya, langsung di buat kaget dengan kehadiran Ros dan para temannya yang menyebalkan.
"Pagi Anita?" sapa Ros ramah, "apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya Ros tampak basa-basi.
Anita terdiam. Ketiga teman Ros tak mau ikut campur dalam urusan Ros yang akan mengintrogasi Anita.
"Kenapa diam saja? Sudah lupa caranya menjawab? Atau sudah lupa cara berbicara? Ah, aku lupa. Kau bahkan melupakan kebaikanku padamu. Jadi, tentu saja kau tidak akan menjawab pertanyaanku," kata Ros masih dengan nada bicara yang santai.
"Ma-maafkan aku Mbak," kata Anita pelan.
"Akhirnya, beberapa kata terucap juga dari bibirmu," kata Ros sambil berjalan mendekati Anita yang duduk di bangku kayu dengan tangan masih terikat ke belakang.
"Ma-mau apa Mbak?" tanya Anita.
"Mau apa? Kamu bertanya padaku mau apa?" ucap Ros yang balik bertanya, bukan menjawab pertanyaan Anita, "harusnya aku yang mengatakan itu padamu! Mau apa kau mengganggu kehidupan rumah tanggaku dengan Rendy?" tanya Ros sinis.
"Aku- aku hanya di suruh Mbak!" jawab Anita sambil memejamkan mata.
"Di suruh?" Ros mendelik tajam.
"Ya Mbak. Maaf," ucap Anita lirih.
Ros berjalan sedikit menjauhi Anita sambil berbalik. "Untuk apa?" tanyanya sambil membalikkan kembali badannya.
"Untuk..."
"Untuk apa?" tanya Ros dengan nada tinggi.
"Untuk uang mbak," jawab Anita jujur.
Ros mencebik, "demi uang?"
Anita tertunduk.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Ros kemudian.
"Tu-tu-tuan Vero, mbak!" gelagapan Anita menjawab.
"Vero?"
Ternyata benar apa kata teman-temannya tadi. Yang menyuruh Anita melakukan itu semua adalah Vero. Bukankah Vero sudah meninggal? Kenapa tiba-tiba saja, pria itu bisa muncul kembali. Berbagai pertanyaan muncul di benak Ros.
"Jangan bohong kamu! Vero sudah meninggal. Tidak mungkin dia yang menyuruhmu!" ujar Ros masih sulit untuk percaya.
"Aku tidak berbohong Mbak!" sanggah Anita.
__ADS_1
"Tapi dia sudah meninggal!" kata Ros.
"Aku benar-benar tidak berbohong Mbak! Dan aku juga tidak tahu menahu tentang Tuan Vero. Aku hanya orang suruhannya. Tidak lebih," balas Anita, seperti beradu argument dengan Ros.
Ros terdiam. Ketiga temannya kini menghampiri Ros dan membuyarkan lamunan wanita itu.
"Benar 'kan Ros, apa yang kita katakan padamu tadi?" ucap Mila tiba-tiba.
"Entahlah, aku masih tidak percaya dengan semua ini. Apa benar Vero masih hidup?" ungkap Ros.
"Sudahlah Ros. Yang harus kita pikirkan sekarang... Mau kita apakan wanita siluman ini?" tanya Mila seraya mendelikkan mata ke arah Anita.
"Nah, itu yang benar! Mau kita apakan dia sekarang?" Nina menanggapi dengan senyum misterius.
"Bagaimana kalau kita..."
"Mau apa kalian?" tanya Anita yang terlihat memasang raut wajah cemas sekaligus takut. Ia bahkan memotong ucapan Anto yang belum selesai.
...***...
"Sepertinya, ada orang lain di belakang Doni, Ren!" ujar Surya memberitahu.
Rendy menatap sang kakak, lalu mengangkat sebelah alisnya. "Maksudnya?"
"Ada dalang di balik ini semua," jawab Surya.
"Yap. Benar sekali. Ada seseorang di belakang Doni yang memerintahkannya untuk menikahi Kayla, lalu menyiksanya secara perlahan," balas Surya.
"Siapa? Siapa orang yang telah memerintahkan Doni untuk melakukan itu semua?" geram Rendy sambil mengepalkan tangan.
"Aku belum yakin Ren. Tapi, jika tebakanku tidak salah, sepertinya Mathew ada di balik ini semua!" ujar Surya yang membuat Rendy memandangnya tanpa kedip.
"Mathew?" tanya Rendy.
"Ya!"
"Mathew si pria tua Bangka yang memakai tongkat itu?" tanya Rendy memastikan.
"Ya!" jawab Surya lagi. Singkat dan padat. Namun, mampu menjawab semuanya.
"Apa alasannya melakukan itu semua pada adikku?" tanya Rendy lagi. Ia benar-benar tidak percaya dan menyangka.
"Sepertinya, dia ingin membalaskan dendam atas kematian Vero, Ren. Kamu tau 'kan Mathew sangat menyayangi Vero. Apa pun akan dia lakukan demi dirinya. Dan setelah Vero meninggal, dia ingin membalaskan dendam nya padamu, melalui Kayla. Tapi, ini baru asumsiku Ren. Aku akan menyelidikinya lebih dalam lagi," ujar Surya yang tak bisa di abaikan begitu saja.
"Aku ingin secepatnya mengungkap masalah ini kak. Para pelaku di balik kejahatan ini, harus segera terbongkar. Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal atas penderitaan Kayla," kembali, sorot mata Rendy memancarkan kemarahan.
__ADS_1
"Tentu! Aku dan Rico tengah menyelidikinya lebih dalam lagi. Doni, sudah ku bawa ke tempat yang semestinya untuk aku interogasi lebih dalam lagi," ujar Surya.
Dering ponsel berbunyi saat Rendy masih berbicara dengan Surya. Pria itu langsung merogoh saku celananya untuk melihat siapa yang telah menghubunginya.
"Ros!" ucap Rendy pelan. Rasa marah yang baru saja ada di dalam dada, kini pudar sudah dengan sebuah panggilan masuk dari sang bidadari hati.
"Ya sayang. Sudah merindukanku?" tanya Rendy pada Ros.
"Apa?" Rendy yang awalnya tersenyum senang, tiba-tiba saja raut wajahnya berubah seketika setelah mendapatkan kabar yang entah apa dari Ros.
"Baik, tunggu aku di sana sayang. Kamu tidak boleh ke mana-mana!" kata Rendy terdengar seperti memerintah Ros.
"Ingat ucapanku, tidak boleh ke mana-mana! Mengerti!" tekan Rendy lagi memperingatkan.
Panggilan masuk tersebut Rendy tutup. Surya yang melihat perubahan wajah Rendy, langsung bertanya-tanya.
"Ada apa Ren?"
"Ada masalah Kak. Aku akan menyusul Ros ke kantornya!" jawab Rendy terlihat tegang.
"Masalah?" Surya mengernyit heran. Masalah apa? Pikirnya.
"Vero kembali Kak."
"Apa?" Teriak Surya, "sudah kuduga. Ini pasti sudah di rencanakan!" lanjutnya.
"Aku akan menyusul Ros!" ujar Rendy tanpa basa-basi.
"Biarkan aku ikut!" ucap Surya.
"Tentu! Tapi, bagaimana dengan Kayla?" tanya Rendy yang masih mencemaskan adiknya.
"Ada Rico yang aku tugaskan untuk menjaga Kayla," jawab Surya yang membuat Rendy tenang seketika. Pria itu cukup mempercayai Rico, setelah apa yang sudah Rico lakukan untuknya. Terlebih lagi, ternyata Rico adalah adik dari Eva. Salah satu orang kepercayaannya di kantor.
"Bagus! Ayo kita berangkat!" ajak Rendy akhirnya.
"Tunggu!" cegat Surya menahan langkah Rendy yang sudah berbalik badan hendak berjalan keluar.
"Apa lagi kak? Kakak tau 'kan, aku sudah sangat mencemaskan istriku! Kenapa masih menghalangi langkahku? Bukankah kakak juga akan ikut bersamaku?" cerca Rendy yang kesal dengan Surya.
"Apa kamu akan memakai pakaian itu di depan Ros?" tanya Surya mengingatkan, jika ternyata... Rendy sedang memakai setelah kantor yang mewah, bukan baju OB seperti sebelum masuk ke dalam kantor.
"Ah, aku lupa!" Rendy menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan penyamarannya di depan Ros?
"Ceroboh!" ejek Surya.
__ADS_1
"Ya, ya, aku tau! Terima kasih karena sudah mengingatkan aku!" kesal Rendy sambil membuka setelah jas-nya yang mewah. Berganti dengan pakaian OB, sebelum ia masuk ke kantornya sendiri.
Bersambung...