Dia Milikku

Dia Milikku
Nasi goreng cumi


__ADS_3

"Aku lelah kak!" kata Ros sambil menarik selimut yang berada tepat di bawah kakinya. Tubuhnya lemas, matanya sayu, di dahinya juga terlihat mengeluarkan bulir-bulir keringat yang berjatuhan. Mungkin, wanita itu kelelahan karena sudah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang patuh pada suaminya. Menjalani apa yang telah menjadi kewajibannya.


"Kalau begitu, istirahatlah dulu malam ini. Biar besok kita pulang ke rumah kita yang dulu," ucap Rendy sambil mengusap bulir-bulir keringat di dahi Ros. Pria itu menatap Ros dengan mata penuh cinta dan kasih.


Dalam hati pria itu bersorak gembira, karena ia kembali menjadi penenang dalam pertempuran panjang antara dirinya dan Ros, yang bergulat di bawah selimut yang sama dan di atas ranjang yang sama. Walaupun ranjangnya berukuran kecil dan cukup keras saat di pakai. Namun, keduanya begitu menikmati, karena bukan karena tempat lah mereka merasa nyaman. Melainkan karena keduanya saling menikmati dan melengkapi antara satu dan lainnya.


Ros mengangguk lemah, tak butuh waktu lama lagi, matanya sudah terpejam, seiring dengan berjalannya jarum jam yang bergerak lambat semakin malam.


"Terima kasih sayang, karena sudah menjalankan tugasmu sebagai seorang istri yang baik untukku. Semoga saja, Rendy dan Ros junior, segera hadir dalam rahimmu," gumam Rendy pelan. Ia juga mengusap-usap kepala dan perut Ros dengan lembut dan penuh kasih sayang.


...***...


"Kamu masak apa pagi ini sayang?" tanya Rendy saat keluar dari kamar dengan dandanan yang sudah sangat rapi. Indera penciuman-nya mencium bau yang teramat sedap dari ruangan yang baru saja ia pijaki.


"Nasi goreng cumi spesial untuk suamiku tercinta," jawab Ros dengan senyum semringah. Mata lelah sudah tak terlihat lagi, yang ada pagi ini, hanya kesegaran.


"Sungguh?" mata Rendy berbinar. Ia langsung menghampiri meja untuk melihat dan menyantap apa yang sudah Ros sajikan dengan cinta untuknya.


"Ayo, kita sarapan?" ajak Ros pada Rendy yang menatap penuh nafsu pada makanan di depannya. Sungguh menggoda selera. Pikirnya. Namun, tak mampu ia berkata, saking terhipnotis ia dengan makanan sederhana yang Ros buat.


"Kamu yang membuat nasi goreng cumi ini sayang?" tanya Rendy masih menatap dengan binar kebahagiaan.


"Tentu! Khusus untuk suamiku, aku membuat nasi goreng cumi ini dengan cinta!" jawab Ros sambil menyodorkan sepirinb penuh nasi goreng tersebut pada Rendy.


"Terima kasih sayang. Apa ini tidak terlalu banyak?" tanya Rendy yang memang tergoda untuk segera menyantap makan di hadapannya. Tapi, tidak sepiring penuh makanan terisi juga kali. Pikir Rendy.


Sepiring nasi goreng cumi penuh, kerupuk, timun dan tomat ada di atasnya.


"Ayo di makan!" suruh Ros, ia sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi wajah Rendy saat memakan makanan yang ia buat untuk sarapan pagi ini.

__ADS_1


"Tentu sayang!" jawab Rendy sambil mengambil sendok di piring yang berisi nasi goreng.


Satu suapan besar masuk ke dalam mulutnya.


Rendy menganga! Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Masakan Ros walaupun terlihat sederhana, tapi rasanya begitu luar biasa. Tak kalah rasanya dengan buatan chef ternama.


Tersadar dengan hal konyol yang baru saja ia lakukan. Rendy kembali memasukkan satu sendok nasi goreng cumi berisi satu sendok penuh ke dalam mulutnya. Bahkan, kali ini suapannya semakin besar. Rendy tak menghiraukan wajah Ros yang menatap penuh arti pada dirinya. Yang ia pikirkan saat ini adalah... Betapa nikmatnya makanan ini dan Rendy ingin segera mengisi perutnya hingga kenyang.


"Pelan-pelan Kak," kata Ros pelan, "nanti kamu..."


Belum selesai Ros berucap, apa yang akan ia ucapkan menjadi kenyataan. Rendy tersedak dengan makanannya sendiri.


'Uhuk! uhuk!'


"Kan, apa aku bilang? Pelan-pelan makannya! Baru aku mau katakan nanti kamu bisa tersedak! Belum juga aku mengatakannya, kamu sudah tersedak duluan!" Ros menggerutu. Namun, ia tak lupa untuk memberikan Rendy segelas air minum hangat untuk membuat Rendy menyudahi batuknya.


Beberapa detik kemudian, Rendy kembali melanjutkan makannya yang tertunda. Tidak ingin menunda waktu lagi, Rendy kembali memasukkan satu sendok besar nasi goreng cumi ke dalam mulutnya, tidak lupa dengan timun dan tomat yang menjadi kesukaannya.


Ros hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Rendy kembali makan dengan lahapnya. Ia bahkan tidak mengingat ucapan Ros barusan, untuk makan dengan pelan-pelan saja.


Tapi, ada suatu kebahagiaan tersendiri, kala melihat Rendy makan dengan begitu lahapnya. Ia senang bukan kepalang. Rendy selalu senang dengan apa yang ia masak untuknya.


...***...


"Mau kemana sayang? Bukankah kita harusnya segera berangkat?" tanya Rendy saat melihat Ros hendak keluar dari kamar mereka setelah keduanya berkemas pakaian.


"Aku ingin menemui tetangga kita dulu Kak. Aku tidak enak jika harus pergi tanpa berpamitan pada mereka," jawab Ros sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


"Kalau begitu, aku ikut!" ucap Rendy yang langsung menyusul langkah Ros dengan secepat kilat.

__ADS_1


"Sungguh?" tanya Ros senang.


"Tentu saja!" jawab Rendy sambil mengulurkan sebelah tangannya pada Ros.


Ros menerima dengan senang hati uluran tangan Rendy.


"Ayo!" ajak Rendy setelah keduanya saling bergandengan tangan.


"Ayo!" balas Ros dengan senyum manis yang terukir di bibirnya.


Keduanya berjalan keluar rumah sambil bergandengan tangan. Tidak lupa dengan senyum semringah yang keduanya tunjukkan sebelum dan setelah berada di luar rumah.


Baru beberapa langkah keduanya berjalan keluar. Seorang wanita yang sudah tidak asing lagi di indera penglihatan Ros dan Rendy, berjalan perlahan dengan gaya yang anggun menuju kediaman mereka.


Dalam hati, Rendy merutuki niatnya yang ingin menemani Ros menemui para tetangganya. Ia lupa, beberapa tetangga di sini mempunyai tingkah cukup unik menurut Rendy.


"Eh, Ros, mas Rendy, pada mau kemana nih? Mesra amat!" tanya wanita itu sambil menunjukkan senyum khasnya, tidak lupa dengan dengan tangan yang sengaja ia naikkan ke atas untuk merapikan rambutnya yang sudah sangat rapi. Hingga terlihatlah beberapa cincin emas yang ukurannya cukup besar, juga anting yang tak kalah besarnya dari cincin yang wanita itu kenakan.


Rendy melongo melihat tingkah wanita yang berstatus tetangga di depannya itu. Benar-benar unik. Pikir Rendy.


"Eh, iya Jeng An, kami mau ke tempat tetangga yang pada ngumpul," jawab Ros ramah. Ia tidak memedulikan apa yang Jeng An lakukan di depannya.


"Mau ngapain Ros?" tanya Jeng An mulai mengeluarkan keingintahuannya.


"Kami mau pamit Jeng An," jawab Ros sambil tersenyum.


"Apa? Pamit!" Jeng An cukup syok mendengar apa yang Ros katakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2