Dia Milikku

Dia Milikku
Memaafkan


__ADS_3

"Ros, suaminya selain ganteng, lucu juga ya?" kata Mpok Mirah seraya terkekeh, "padahal 'kan saya cuma bercanda," lanjutnya kemudian.


"Terima kasih Mpok, suami saya memang seperti itu orangnya," tos juga ikut terkekeh mendengar ucapan Mpok Mirah. Apalagi saat melihat ekspresi wajah Rendy.


"Cepetan belanjanya sayang. Jangan lama-lama," suruh Rendy.


"Mau makan apa? Biar aku masakin," tanya Ros tanpa menatap Rendy saat bertanya.


"Apa saja, yang penting kamu yang masak," jawab Rendy cepat.


Mendengar jawaban Rendy, Ros langsung memilah milih bahan-bahan apa saja yang akan ia beli untuk di jadikan menu makanan sore ini. Dan pilihannya jatuh pada seperempat kilogram ayam, satu ikat kangkung, satu plastik kecil ikan cumi, dan bahan sambal. Tidak lupa dengan bumbu-bumbu dapur yang lengkap.


"Ini aja Neng?" tanya Abang penjual sayur.


"Iya pak--"


"Panggil aja Mang Asep, Neng. Nama saya Andi Saepudin Eman Permadi, di singkat jadi Asep," ujar Mang Asep seraya terkekeh.


Ros ikut terkekeh. Rendy semakin melongo di buatnya. Orang-orang di sini aneh. Jangan sampai dirinya dan Ros ikutan aneh juga karena terlalu lama di sini. Pikir Rendy dalam hati. Pria itu bergidik ngeri dengan apa yang terjadi sore ini.


"Baik Mang Asep. Saya beli yang ini aja," kata Ros yang kembali menyerahkan bahan-bahan belanjaannya pada mang Asep untuk di hitung berapa uang yang harus di bayarkan Ros.


"Tambah apelnya sayang," suruh rendy sambil mengambil satu bungkus apel yang ada di depannya.


"Tumben!" selidik Ros.


Hehe!


Pria itu hanya tertawa seadanya.


"Tambah ini Mang Asep," kata Ros menyerahkan apel di tangannya untuk di hitung juga, "jadi berapa Mang totalnya?"


...***...


"Makanan buatan istriku memang paling enak. Tiada duanya," ucap Rendy seraya memuji. Mulutnya penuh dengan nasi. Namun, ia tak henti-hentinya mengatakan jika pasakan Ros sangat enak.


"Pelan-pelan Kak. Kamu nanti bisa terse--"


'Uhuk! Uhuk!'


Belum selesai Ros berucap. Apa yang akan di ucapkan nya sudah terjadi. Rendy tersedak karena terus mengoceh saat mulut masih mengunyah.


"Aku bilang kan apa? Jangan terus mengoceh... Nanti kamu tersedak, dan--"

__ADS_1


'Uhuk! Uhuk!'


"Ini minum?" Ros menyodorkan segelas air putih untuk Rendy melancarkan tenggorokannya.


Dengan sekali tegukan saja, Rendy sudah menghabiskan air di dalam gelas tersebut.


"Maaf sayang. Masakan kamu memang yang terbaik, paling enak," ucap Rendy masih memuji.


"Enak apa lapar?" tanya Ros sambil tersenyum.


"Dua-duanya sayang. Makanan enak itu, bikin perut lapar. Kalau perut sudah lapar, makanan enak akan menjadi semakin enak," jawab Rendy yang kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya, walaupun tadi sudah tersedak.


...***...


"Kamu mau kemana lagi sayang?" tanya Rendy pada Ros. Istrinya itu, sedari tadi tidak mau diam. Berjalan ke sana kemari, membereskan ini dan itu tanpa henti. Bahkan, setelah makan selesai pun, Ros masih saja bekerja membereskan bekas makan mereka. Dan sekarang, Ros akan keluar entah kemana.


"Aku ingin menemui tetangga kak," jawab Ros.


"Tadi 'kan sudah. Ke Napa mesti di temui lagi? Apa para tetangga itu lebih menarik perhatianmu, dari pada aku?" tanya Rendy memasang wajah masam.


"Bukan seperti itu kak. Kita di sini 'kan hidup bertetangga. Aku ingin mengakrabkan diri dengan mereka," jawab Ros santai.


'Selalu saja, ada jawaban atas pertanyaan Rendy,' pria itu menggerutu.


"Baiklah..." jawab Rendy pasrah.


Ros keluar dari dalam rumah kontrakannya yang baru, berjalan mendekati para ibu-ibu yang sedang berkumpul di sebuah warung kecil dekat rumahnya. Di depan warung tersebut, terdapat sebuah pohon nangka yang ukurannya cukup besar. Hingga, pohon itu meneduhkan teras warung tempat ibu-ibu itu berkumpul.


"Selamat sore ibu-ibu?" sapa Ros ramah, seperti biasanya.


"Sore..." jawab ibu-ibu yang sedang berkerumun itu serempak. Semuanya menoleh pada Ros yang baru saja menyapa.


...***...


"Apa? Kurang aj*r! Ini tidak bisa di biarkan. Berani-beraninya orang itu membohongiku dan mempermainkan aku!" ucap Rendy geram. Sebuah sambungan telepon membuatnya tak sanggup lagi menahan amarah. Giginya bergemulutuk, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat.


"Maaf karena saya baru mengabarinya Tuan," ujar seorang perempuan di seberang sana.


"Tidak apa Eva. Terima kasih karena telah memberitahuku," balas Rendy, "apakah Ibuku sudah mengetahuinya?" tanya Rendy serius.


"Sebelum memberitahu Tuan, Bu Ajeng sudah terlebih dahulu mengetahuinya Tuan," jawab Eva sopan.


"Apa? Ah, tentu saja! Tidak mungkin Ibuku tidak tau," gumam Rendy.

__ADS_1


"Pantau terus keadaan Kayla. Awasi juga bajingan itu. Akan aku buat dia menyesal, karena telah melakukan pengkhianatan sebesar ini padaku dan keluargaku!" suruh Rendy sebelum mengakhiri pembicaraan dengan Eva.


Telepon berakhir bersamaan dengan datangnya Ros dengan wajah sumringah.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Rendy pada Ros. Ia tidak mengatakan ataupun memberitahu apapun pada Ros, agar ia tak terbebani. Bukan ingin menyembunyikan sesuatu, hanya saja, Rendy tidak ingin jika Ros terlalu khawatir pada adik iparnya.


"Tidak ada Kak. Hanya senang saja bisa berkenalan dengan para tetangga. Orang di sini unik-unik," jawab Ros seraya bercerita.


"Apa? Jadi kamu baru sadar, kalau orang di sini hampir semuanya unik?" tanya Rendy heran. Kenapa Ros baru menyadarinya?


"Iya!" jawab Ros sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Ya Tuhan sayang..." Rendy ikut geleng-geleng kepala mendengar jawaban Ros barusan. 'Iya' hanya satu kata. Namun, berhasil membuat Rendy terkejut.


"Kemarilah!" ujar Rendy sambil melambaikan tangannya pada Ros.


Ros mendekat dengan perlahan. Masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Ada apa?" tanya Ros lembut.


"Apa kamu sudah memaafkan aku?" tanya Rendy pelan. Ia ingin bicara dari hati ke hati dengan Ros, agar tak ada salah paham lagi di antara mereka berdua.


"Sebenarnya, aku sudah memaafkanmu sejak beberapa hari ini Kak. Hanya saja, aku ingin melihat bagaimana kesungguhan hatimu untuk meminta maaf lebih dalam lagi," ungkap Ros jujur. Dirinya sudah tak bisa menyembunyikan lagi semua ini dari Rendy. Kesenangan bertemu dengan orang-orang baru, membuat Ros berkata jujur dan tidak ingin lagi mengungkit kejadian beberapa hari yang lalu.


"Sungguh?" Rendy berbinar. Ia tidak menyangka, jika Ros memiliki hati seluas samudera.


"Tentu!" jawab Ros pasti.


"Terima kasih sayang!" ujar Rendy sambil berhamburan memeluk Ros yang berada dekat dengan dirinya.


"Maafkan karena aku berusaha mengerjaimu Kak!" kata Ros sambil menunduk.


"Tidak sayang, tidak! Aku senang melakukannya. Aku senang kalau kamu senang," balas Rendy yang semakin memeluk Ros erat.


"Aku juga senang, karena kamu mau menuruti keinginanku Kak," ucap Ros.


"Karena aku mencintaimu Ros. Apapun akan aku lakukan demi kebahagiaanmu."


"Terima kasih," Ros membalas pelukan Rendy lebih erat.


"Kalau begitu, apa boleh aku meminta hak-ku sebagai seorang suami" tanya Rendy. Pria itu menarik turunkan kedua alisnya. Membuat Ros malu di buatnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2