
Hari dimana Ferro masih berada di rumah sakit, berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan pengawalan ketat, berjaga di luar ruangan.
Ferro yang sebenarnya sudah sadar dari pingsannya yang cukup lama, membodohi para petugas dengan berpura-pura masih tak sadarkan diri. Hingga para petugas lengah, dan Ferro pun mempunyai celah untuk melarikan diri dari penjagaan para petugas dari rumah sakit.
Perlahan Ferro membuka selang infus yang masih menempel di tangannya dengan perlahan.
"Aaaah..., Sial! ternyata sakit!" Ferro mengumpat dengan suara yang hampir tak terdengar sama sekali.
Saat itu para petugas tengah berjaga di luar, namun dengan kondisi yang setengah sadar lantaran mengantuk, karena hari sudah larut malam. Ferro mengintip dari kaca pintu kamar rawatnya, melihat sekitar, ada dua orang petugas yang tengah berjaga, namun setengah tertidur. Mungkin mereka mengantuk. pikir Ferro.
Ferro pun terdiam sesaat dan mulai memikirkan sesuatu, agar ia bisa kabur dari rumah sakit dan penjagaan petugas. Sekian lama, sekitar setengah jam Ferro terdiam dan menunggu di balik pintu kamar. Ferro pun melihat keluar kembali, apakah kedua petugas itu sudah terlelap atau belum? dan ternyata sudah.
Ferro membuka perlahan pintu kamarnya, namun ternyata, pintu kamarnya di kunci dari luar, "sial! para petugas itu mengunci pintunya dari luar!" ujar Ferro kemudian.
Ferro pun mulai mencari sesuatu untuk membuka pintu tersebut ke sana kemari, namun ia tak menemukan apapun untuk membobol pintu kamar rawatnya itu, hingga-
"Hah! ini dia!" ujar Ferro setelah menemukan sesuatu yang bisa ia buat untuk membuka kunci pintu kamarnya.
Ferro melihat gorden di depannya, yang terpajang di jendela, ia pun mengambil goreng tersebut dengan paska hingga ujung gorden itu terlepas di jendela dan besi yang menahannya. Membuat besi yang berada di ujung gorden itu terlepas seketika. Ferro pun langsung mengambil kawat tersebut dan meluruskan nya.
"Yes! berhasil!" ujar Ferro setelah meluruskan kawat tersebut,. dan Ferro langsung mengakali kunci pintu kamarnya dengan kawat di tangannya dengan memasukkan kawat tersebut dan memutar-mutar nya.
"Ayo terbuka lah!" ujar Ferro yang terus menerus memutar kawat di tangannya, hingga- -
Ceklek!
pintu kamar pun terbuka. Ferro berhasil keluar, dari kamar rawatnya. Ia melihat petugas yang sudah terlelap di depan pintu. Ferro pun dengan sengaja mengibas-ngibaskan tangannya beberapa kali, untuk memastikan bahwa kedua petugas itu memang benar-benar tertidur, dan benar saja, tidak ada reaksi ataupun pergerakan dari kedua petugas yang berjaga di depan pintu kamar rawat Ferro.
__ADS_1
Dengan cepat, Ferro meninggalkan kedua petugas itu dengan tidur nya yang lelap, meninggalkan kamar rawat yang sudah beberapa Minggu ini menahannya.
"Hah! hanya segitu saja penjagaan mu Surya! sangat mudah! kau menyuruh dua petugas bodoh untuk menjaga seorang Ferro Alexander khiell, seseorang yang sangat pintar dan cerdas!" ujar Ferro setelah ia keluar dari dalam rumah sakit dengan cara mengendap-endap.
Dan di waktu yang nyaris sama. Pria paruh baya yang juga menjadi tahanan dari Surya pun ikut melarikan diri dari tahanan Surya dengan cara membobol pintu dan membodohi petugas, bahkan pria paruh baya itu juga menghajar beberapa petugas hingga babak belur di buatnya.
"Woi, jangan kabur kau!" ujar salah satu petugas saat melihat pria itu keluar dari dalam tahanan. Petugas itu pun bersama yang lainnya berhamburan mengejar pria paruh baya itu agar ia tak kabur.
Namun, bukannya takut, pria paruh baya itu malah menunggu para petugas dengan santainya hingga terjadilah perkelahian yang denger, antara pria paruh baya itu dan beberapa petugas lainnya.
Beberapa saat berlalu, ternyata pria paruh baya itu mampu melumpuhkan dan membuat para petugas babak belur hingga tak sadarkan diri.
"Kau bodoh Surya! kau belum tahu siapa diriku, dan kau menempatkan orang-orang bodoh ini untuk menjaga ku!" senyum tipis terlihat dari bibirnya, mencibir kebodohan Surya dan petugas lainnya.
...***...
Beberapa perawat juga dokter disana mulai gusar, pasalnya mereka juga di tugaskan selain untuk merawat, namun juga harus menjaga dan mengawasi gerak gerik Ferro yang di anggap semua petugas rumah sakit masih tak sadarkan diri.
"Maafkan kami pak! kami benar-benar minta maaf, kami tidak tahu!" salah satu petugas medis berujar sambil meremas kedua tangannya yang sudah berkeringat dingin.
"Tidak tahu kalian bilang?" Surya benar-benar naik pitam, ia tidak habis pikir dengan ucapan 'tidak tahu' yang di ucapkan oleh satu satu petugas suruhannya.
"Benar pak! kami juga sudah teledor! maafkan kami!" salah satu dari kedua petugas berujar dengan posisi tegak, namun matanya tak berani untuk menatap mata Surya.
"Ikut saya!" ujar Surya kemudian, ia tak membalas ucapan salah satu petugas yang ia tempatkan untuk menjaga Ferro, ia malah menyuruh kedua petugas itu untuk mengikutinya, dan kedua petugas itu pun menuruti Surya dengan mengikuti langkahnya dari belakang.
Surya merogoh saku celananya, mengambil sebuah benda berbentuk pipih, lalu mendial nomor seseorang yang berada di kontak panggilannya.
__ADS_1
Tut! Tut! Tut!
Nada suara panggilan tersambung, hingga beberapa saat, panggilan yang Surya lakukan pun di angkat oleh si penerima telepon.
"Hallo kak?" sapa seseorang di sebrang sana.
"Hallo Ren!" balas Surya.
"Ada apa kak?" tanya Rendy, si penerima telepon kemudian.
"Ada hal penting yang harus aku bicarakan pada mu Ren!" ujar Surya dengan nada suara yang serius dan wajah yang juga tak kalah seriusnya dari suaranya.
"Apa kak? kedengarannya kau sangat serius sekali!" ujar Rendy yang berada di sebrang sana.
"Benar Ren! aku sangat serius dengan ucapan ku saat ini! Bisa kita bertemu di cafe xxx?"
"Jika sangat serius, kenapa tidak bicara sekarang saja kak! sebentar lagi aku akan ada meeting dengan klien ku yang dari luar kota!"
"Baiklah! aku bicara nanti saja. Aku tidak mau mengganggu konsentrasi mu yang akan segera meeting. Karena aku yakin seratus persen, jika kau sudah mendengar ucapan ku, kau akan kehilangan fokus dan semangat mu hari ini," ujar Surya membuat Rendy mengernyit di sebrang sana, dan bukan hanya itu, Rendy bahkan sangat penasaran di buat Surya.
"Ayolah kak, kenapa harus nanti, kenapa tidak sekarang sa- -
Tut! Tut! Tut!
Belum selesai Rendy bicara, Surya sudah mematikan panggilan telepon nya secara sepihak, membuat Rendy yang sudah penasaran, menjadi kesal dan dongkol, karena ia belum mendapatkan jawaban sama sekali dari Surya, sang kakak.
"Main matikan saja! membuatku penasaran! jika tidak mau mengatakannya sekarang, kenapa harus menelpon ku segala!" kesal Rendy setelah Surya mematikan panggilan telepon secara sepihak.
__ADS_1
Bersambung...