
Dokter yang mengetahui situasi dan kondisi pun tidak ingin menjadi pengganggu.
Dokter itu berpamitan pada Ros dan Rendy untuk keluar dari ruang rawat mereka dengan alasan,
"Maaf pak, Bu Ros, saya permisi dulu? masih ada pasien yang harus saya periksa," ucap dokter itu.
"Tentu dok," ucap Rendy.
"Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih dokter Sella?" ucap Rendy lagi yang disusul anggukan kecil serta senyum manis dari sang istri untuk dokter yang telah menangani Ros.
Dokter Sella mengangguk lalu kemudian, berjalan melewati pintu dan menutupnya kembali.
"Kau sedang mempermainkan ku?" tanya Rendy mengandung unsur kelicikan didalam pertanyaannya.
"A-apa maksud mu?" Ros pura pura tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan Rendy.
Rendy semakin mendekatkan wajahnya pada sang istri hingga hembusan nafas keduanya saling terasa menyentuh kulit satu sama lain.
"Jangan lupakan ucapanmu yang tadi," bisik Rendy ditelinga sambil menyeringai.
Hembusan nafas Rendy ditelinga Ros, sukses membuat sekujur tubuh Ros merinding.
Entah karena itu?
apa karena ucapan Rendy padanya?
atau karena hembusan nafas Rendy yang terasa begitu hangat ditelinga Ros? Ros pun nampaknya tak tahu.
Rendy mengecup pelan kening sang istri, menyusuri hingga ke kedua kelopak mata, dan berjumpa di pipi. Dan saat Rendy hendak melanjutkan penjelajahan bibirnya yang belum selesai, tiba tiba saja...
Seorang polisi yang sedari tadi tak terlihat batang hidungnya pun kembali dengan membawa kantong yang sepertinya berisi begitu banyak makanan didalamnya, dan satu lagi paper bag yang sepertinya berisikan baju ganti untuk tuan yang sedang ia kawal.
"Ma-maafkan saya tuan?" ucap polisi itu gelagapan sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pintu, karena ia datang diwaktu yang tidak tepat.
Rendy nampaknya terlihat sangat kesal dengan kedatangan polisi itu, namun apa boleh buat? toh, semuanya sudah terjadi, polisi itu memergokiku Rendy yang akan mencium bibir istrinya Sendiri.
Namun tak jadi karena polisi itu datang secara tiba-tiba lalu menghentikan aktivitas Rendy.
"Tidak papa pak, silahkan masuk!" ucap Rendy ketus, mulutnya mempersilahkan, namun raut wajahnya tampak kesal, begitupun dengan hatinya yang sedang mengomel ngomel sendiri.
"Tidak usah tuan? saya tunggu diluar saja," ucap polisi itu tak enak hati karena sudah menjadi pengganggu.
"Tidak papa pak, masuk saja!" suruh Rendy, "apa itu makanan?" tanya Rendy kemudian.
"Benar tuan!" jawab polisi itu sambil memberanikan diri menghampiri Rendy dan istri nya.
Polisi yang masih tidak diketahui siapa namanya itu pun memberikan kantor plastik yang sedari tadi ia pegang kepada Rendy.
Rendy pun menerimanya dengan suka hati, karena jujur saja, setelah Ros sadar dari pingsannya, ***** makan Rendy kembali membaik.
__ADS_1
Rendy ingin selalu sehat dihadapan sang istri untuk selalu bisa menjaga dan melindungi sang istri.
"Terima kasih ya pak?" ucap Rendy tulus.
"Tidak papa pak, ini sudah menjadi tugas saya dari pak Surya, dengan senang hati saya akan melakukan apapun yang tuan perintahkan pada saya," ucap polisi itu
"Boleh saya tahu siapa namamu?" tanya Rendy kemudian, karena polisi itu sedang tidak memakai seragam dinasnya, jadi Rendy tidak mengetahui siapa namanya.
Dan sepertinya, usianya nampak lebih muda dibandingkan dengan dirinya.
"Nama saya Rico tuan!" jawab polisi itu yang ternyata namanya adalah Rico.
"Ya Rico, berapa usiamu sekarang?" tanya Rendy lagi.
"26 tahun tuan!" jawab Rico lagi.
"Ternyata kau masih muda ya? haha," ucap Rendy sambil tertawa, entah apa yang ia tertawakan, Ros dan Rico pun tidak mengetahuinya.
Namun biarkan sajalah, yang penting tuan Rendy bahagia. Pikir Rico, yang nyaris sama dengan pemikiran Ros.
"Rico?" panggil Rendy lagi.
"Saya tuan!" jawab Rico cepat.
"Terima kasih karena kamu sudah mau mengawal saya sampai disini dan saat ini, saya tidak tahu bagaimana jadinya keadaan istri saya jika tidak ada kamu yang membantu saya," ucapan terima kasih tulus dari mulut Rendy sukses membuat Rico terharu.
"Baiklah, tapi saya tetap berterima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan untuk saya dan istri saya," ucap Rendy kemudian.
Namun Rico tak menjawab lagi ucapan Rendy, hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
Rendy kembali pada sebuah kantong plastik yang masih ditangannya, membukanya dengan tidak sabar.
Selera makannya pun kian bertambah saat kantong plastik ditangannya terbuka lalu memperlihatkan makanan yang begitu menggugah selera makannya.
Rendy mengambil makanan itu dan langsung mempersiapkan nya untuk dirinya dan istrinya yang sudah pasti sangat kelapangan.
"Apa kau sudah makan Rico?" tanya Rendy saat melihat porsi makanan yang tampak terlihat untuk dua orang.
Memang berbagai jenis makanan didalam kantong plastik itu, namun jumlahnya hanya sepasang sepasang.
"Sudah tuan, saya sudah makan duluan tadi, itu saya sengaja membelinya khusus untuk tuan dan istri tuan," jawab Rico.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih untuk perhatian mu pada kami," ucap Rendy lagi, lagi lagi berterima kasih.
Sepertinya, setelah kejadian yang menimpa mereka saat ini, membuat Rendy begitu mudah untuk mengucapkan kalimat terima kasih pada seseorang.
"Kamu lapar?" tanya Rendy pada istrinya.
Ros pun menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Biar aku suapi!" ucap Rendy sambil menyodorkan sesendok makanan yang sudah berada ditangannya.
"Aku bisa sendiri!" jawab Ros, karena Ros tahu jika suaminya itu pasti juga sedang kelaparan.
"Kau masih sakit," ucap Rendy.
Belum sempat Ros menjawab, Rendy sudah memasukkan makanan dalam sendok itu kedalam mulut Ros, hingga Ros tak bisa berkata apa apa lagi karena mulutnya sudah penuh.
"Rico?" panggil Rendy lagi.
"Saya tuan!" jawab Rico yang langsung berdiri dari duduknya.
"Tidak usah berdiri, kau duduk lagi sajalah, aku hanya akan bertanya padamu, bukan menyuruhmu," ucap Rendy yang membuat Rico terduduk kembali ke tempat duduknya.
"Baik tuan," ucap Rico setelah duduk kembali ke posisi awal.
"Apa kau sudah menikah?" tanya Rendy masih dengan menyuapi istrinya.
"Belum tuan, saya belum menikah," jawab Rico jujur.
"Kau sudah punya kekasih?" tanya Rendy lagi, entah apa maksud dari pertanyaan nya itu.
"Belum juga tuan?" jawab Rico lagi, yang membuat Rendy langsung menoleh ke arahnya.
"Lalu apa yang kau punya? kekasih tidak punya, istri apalagi?" ucap Rendy dengan nada tinggi, membuat Ros dan Rico mengerutkan kening mereka karena terheran sekaligus bingung dengan apa yang diucapkan oleh Rendy.
"Saya punya orang tua dan adik perempuan, serta kakak perempuan yang sangat menyayangi saya tuan!" ucap Rico kemudian.
Duarrr!
"Jawaban macam apa itu?" ucap Rendy setengah berteriak dengan wajah yang entah bisa digambarkan seperti wajah orang yang sedang marah atau apa? Ros dan Rico pun tak tahu.
"Aku kan bertanya kau sudah punya istri apa belum? kau sudah punya kekasih belum?" sambung Rendy masih dengan menyuapi istrinya.
Rico dan Ros kian terheran dengan sikap Rendy yang berubah ubah.
"Tapi... jawabanmu bagus sekali sih, haha," Rendy merubah lagi ucapannya dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.
Membuat Rico dan Ros saling pandang penuh heran.
Apa yang terjadi dengan Rendy? kenapa sikapnya begitu aneh?
Apa karena Rendy kelelahan dan kurang asupan makanan, hingga sikapnya jadi aneh begitu?
Atau mungkin karena ia terlalu senang karena istrinya sudah kembali padanya dengan keadaan yang ia harapkan?
Tidak ada yang tahu isi hati Rendy selain ia dan Tuhan lah yang mengetahuinya.
Bersambung...
__ADS_1