
Hampir dua malam setelah kepergian Rendy dan Surya untuk mencari Ros berlalu.
Ketiga sahabat Ros yang kini sedang berada di sebuah kamar hotel milik Ros dan Rendy, masih belum mengetahui dimana keberadaan mereka bertiga.
"Bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan sekarang? kita tidak boleh hanya berdiam diri seperti ini!" ucap Mila yang sedari tadi terus mondar mandir didepan Nina dan Anto.
"Diam lah Mila!" bentak Nina yang sudah sangat kesal dengan tingkah Mila yang terus menerus berjalan kesana kemari dihadapannya, "apa kau tidak bisa diam? aku pusing melihatmu seperti itu!" sambung Nina melanjutkan ucapannya pada Mila.
"Bagaimana aku bisa diam Nina!" ucap Mila tak kalah membentaknya, "aku sangat takut dengan ancaman Rendy yang terus terngiang-ngiang di kepalaku," sambung Mila.
"Sudahlah mba Nina, mba Mila, kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini!" ucapan Anto yang menengahi.
Mereka berdua terdiam dalam pikirannya masing masing.
Namun Mila masih tetap mondar mandir dihadapan mereka berdua, mulutnya mungkin bisa diam, tapi tidak dengan tubuhnya, yang terus menerus khawatir akan keadaan Ros saat ini, dan juga takut dengan ancaman Rendy yang masih terdengar jelas dibenaknya.
"Hiks, hiks, hiks," mamah Maya tampak sedang menangis disebuah kamar hotel dengan Bu Ajeng yang sedari semalam terus menguatkan besannya itu.
"Coba ditelpon lagi Surya nya Bu Ajeng, kita tidak bisa terus begini! hanya berdiam diri disini tanpa mencari dimana keberadaan Ros dan Rendy," ucap mamah Maya pada besannya sambil terisak.
Bu Ajeng kembali mengambil handphone nya, mencoba untuk menghubungi Surya kembali.
Memang Bu Ajeng tampak terlihat begitu kuat dan bisa mengendalikan dirinya dibandingkan dengan besannya itu.
Tut! tut! tut!...
Panggilan telpon tersambung, namun Surya masih tak mengangkat panggilan telepon dari Bu Ajeng.
"Bagaimana Bu Ajeng?" tanya mamah Maya.
"Tersambung jeng, tapi masih belum diangkat sama Surya nya," jawab Bu Ajeng yang masih terus menghubungi nomor Surya.
Di suatu tempat, Surya tengah merasa bingung, apakah dia harus menjawab panggilan telepon dari Bu Ajeng atau tidak?
Handphone nya terus berdering, tapi Surya masih enggan untuk menerima panggilan telponnya.
"Maaf pak, kenapa panggilan telponnya gak diangkat? kenapa didiamkan saja seperti itu?" ucap seseorang yang sedang lewat dihadapan Surya.
"Saya sengaja mendiamkannya pak!" jawab Surya masih melihat handphonenya yang berbunyi.
"Loh, kenapa pak?" seseorang itu bertanya kembali, karena merasa penasaran.
"Jika saya mengangkatnya, saya bingung harus menjawab begitu banyaknya pertanyaan yang pasti dilontarkan dari orang yang menelpon saya," jawab Surya lagi.
"Apa itu dari orang tua pak Rendy dan istrinya pak?" tanya seseorang itu lagi yang mengira ngira.
"Benar pak!" jawab Surya dan mengakhiri suara handphone yang sedari tadi terus menyala.
"Kalau begitu, saya permisi dulu pak!" pamit seseorang itu pada Surya.
Surya hanya mengangguk pelan, sebagai respon jika ia mengiyakan.
Surya mengambil handphone nya yang sudah tak berbunyi lagi, mencoba menghubungi seseorang untuk menanyakan keberadaannya.
__ADS_1
Tut! tut! tut!
Panggilan telpon tersambung, namun sama seperti yang ia lakukan pada panggilan telepon yang Bu Ajeng lakukan, orang yang sedang Surya telpon pun tak kunjung mengangkat panggilan telponnya.
Surya merasa kesal, ia berpikir, sepertinya mamah Ajeng pun sama sepertinya, merasa kesal dan khawatir karena Surya terus mengabaikan telponnya.
Namun Surya tak menyerah, ia terus mencoba menghubungi nomor seseorang yang ia telpon itu, hingga akhirnya, panggilan telpon dari Surya pun tersambung.
"Halo pak!" jawab seseorang disebrang telpon.
"Halo Rico, kenapa kau lama sekali mengangkat panggilan telepon ku!" ucap Surya sedikit membentak.
"Maafkan saya pak! saya sedang menyetir mobil sekarang!" Jawa si penerima telepon yang ternyata adalah Rico.
"Siapa Rico?" tanya seseorang pada Rico yang terdengar oleh Surya.
"Apa itu Rendy?" tanya Surya pada Rico.
"Benar pak!" jawab Rico yang langsung memberikan handphonenya pada Rendy yang berada dibelakang.
"Halo? kak Surya,"
"Iya Ren, apa kau dan istrimu baik baik saja?" tanya Surya cemas.
??????
??????
??????
??????
"baik kak," ucap Surya hingga akhirnya, panggilan telepon pun terputus.
"Terima kasih Rico!" ucap Rendy sambil menyodorkan handphone milik Rico padanya.
"Sama sama tuan!" jawab Rico sambil menerima handphone dari tangan Rendy.
"Rico?" panggil Rendy.
"Ya tuan!" jawab Rico masih dengan mengemudikan mobilnya.
"Berapa lama lagi kita sampai" tanya Rendy kemudian, sambil mengusap usap kepala istrinya yang tengah tertidur bersandar kepala didadanya.
"Sebentar lagi tuan! sebentar lagi kita sampai," jawab Rico kini.
Rendy nampaknya sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai ke hotel, menemui kedua mamah yang sudah sangat khawatir dan cemas memikirkan dirinya dan Ros.
Hingga akhirnya, mobil yang mereka kendarai sudah hampir sampai di halaman dekat hotel.
"Pak!" panggil Rico, membangunkan Rendy yang sudah tertidur pulas bersama istrinya.
Rendy mengerjapkan matanya, mengucek nya dengan kedua matanya.
__ADS_1
"Apa kita sudah sampai?" tanya Rendy pada Rico.
"Sudah tuan, kita sudah sampai," jawab Rico pada Rendy.
"Akhirnya, aku sudah sangat lelah," ucap Rendy sambil menggeliatkan tubuh, untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat terlalu lama berada didalam mobil.
"Istriku masih tertidur rupanya," ucap Rendy saat melihat istrinya masih berada dalam posisi yang sama.
Rico menghentikan laju mobilnya tepat di area parkiran hotel, saat Rico keluar dari dalam mobil, ternyata sudah ada Surya yang menunggu kehadiran mereka tepat disamping mobil yang Rico parkiran.
"Selamat malam pak!" sapa Rico pada Surya.
"Malam, Rendy dan istrinya baik baik saja?" tanya Surya pada Rico.
"Tentu pak! mereka berdua masih didalam mobil, biar saya bukakan dulu pintunya," jawab Rico.
"Tidak usah, biar aku saja," cegat Surya pada Rico.
"Baik pak!" ucap Rico yang baru saja akan membukakan pintu mobilnya.
Surya pun membukakan pintu mobil dari luar, terlihat Rendy yang masih terduduk kaku tanpa bisa bergerak, karena istrinya yang masih tertidur di pangkuan Rendy.
"Mau ku bantu!" tanya Surya menawari bantuan pada Rendy, saat Surya sudah membukakan pintu.
"Tidak usah kak, lagi pula kau mau membantu apa? menggendong istriku begitu?" ucap Rendy sewot.
Surya yang mendengar jawaban Rendy pun mengernyitkan keningnya sambil geleng-geleng kepala tidak mengerti, begitupun dengan Rico yang mendengar nya dari luar.
"Kenapa dia ini? aku kan hanya menawarkan bantuan saja padanya, siapa juga yang mau menggendong istrinya itu! kan sudah ada dirimu, suaminya sendiri, untuk apa aku repot repor harus menggendongnya!" batin Surya.
"Apakah sikap tuan Rendy memang selalu seperti ini pada siapapun?" batin Rico.
"Tolong bantu aku berdiri saja kak, paha dan kaki ku terasa pegal!" ucap Rendy kini, sambil mengulurkan tangannya pada Surya, untuk meminta bantuan.
Setelah tadi ia sewot pada tawaran Surya yang berniat ingin membantunya.
Surya pun ikut menerima uluran tangan Rendy dan langsung membantunya bangkit dari duduk sambil menggendong istrinya.
Rendy menggendong istrinya keluar dari dalam mobil, berjalan menuju hotel yang sudah dua malam ini ia tinggalkan, karena sang penghuni berada dilain tempat.
"Ren?" panggil Surya.
"Hmm..." sahut Rendy.
"Bersiap siaplah!" ucap Surya dari belakang Rendy, bersebelahan dengan Rico.
Rendy menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Surya.
"Maksud kak Surya?" tanya Rendy belum mengerti.
"Bersiap siaplah untuk menghadapi kedua ibu yang akan berubah menjadi macan!" ucap Surya, membuat Rendy merinding.
Rendy tak berkata apapun lagi setelah Surya mengingatkannya, tapi Surya dapat merasakan, jika saat ini, bulu kuduk Rendy sedang berdiri karena ucapannya.
__ADS_1
Bersambung...
Bantu support nya teman teman, like dan komen ceritaku ya?😁🙏