Dia Milikku

Dia Milikku
Rasa sayang lebih mendominasi


__ADS_3

"Apa?" Teriak Rendy, "kamu sedang bercanda bukan?" tanya Rendy kembali memastikan. Dirinya tidak percaya jika Ros benar-benar akan mengajukan sebuah persyaratan agar ia di maafkan.


Tapi, persyaratan macam apa ini? Pikir Rendy sambil menatap Ros tidak percaya. Bahkan, Rendy sampai geleng-geleng kepala di buatnya.


"Aku serius suamiku. Jika kamu tidak mau... Ya sudah! Bermimpi saja untuk mendapatkan maaf dariku," ungkap Ros dengan nada sinis.


"Tapi... Ah, baiklah! Akan aku lakukan demi maaf dari mu," ungkap Rendy akhirnya.


"Serius?" tanya Ros. Matanya tampak berbinar, "baiklah, aku tunggu!" lanjutnya seraya pergi meninggalkan sang suami yang menatapnya dengan tatapan mata tidak percaya. Bahkan setengah bengong saking tidak percayanya.


Rendy yang seorang pengusaha kaya raya. Harus menjalankan kehidupan bak orang biasa, tanpa fasilitas yang selalu siap sedia kapan pun dan di mana pun ia butuhkan. Para pelayan yang siap melayaninya dua puluh empat jam, Rendy harus melepasnya untuk sementara waktu.


...***...


"Sayang, jika aku harus menjadi orang biasa. Lalu, bagaimana dengan perusahaan kita? Siapa yang akan menjadi pemimpin mereka? Tidak mungkin perusahaan dan pekerjanya, bekerja sendiri tanpa arahan dari Bos mereka," tutur Rendy, berharap Ros bisa memikirkan apa yang barusan ia sampaikan.


"Tenang saja Kak, aku sudah memikirkan itu semua. Selama kamu menjalani masa hukuman, perusahaan akan dipimpin kembali oleh Mamah Ajeng-- Dan Mamah Ajeng juga sudah menyetujui itu semua!" tekan Ros karena Rendy hendak memotong ucapan Ros yang belum selesai.


"Oh, jadi--


"Benar Ren, Mamah dan Ros sudah menyetujui persyaratan yang Ros buat untukmu. Mamah juga akan mendukung semua yang Ros katakan dan putuskan. Selama itu baik untuk kamu!" ungkap Ajeng yang tiba-tiba saja datang dan menghentikan ucapan Rendy yang hendak mengajukan lagi semua ocehan dan suara keberatannya atas keputusan Ros untuk menghukumnya.


"Tapi--


"Bahkan, jika Ros menyuruh kamu untuk menjadi seorang pelayan di perusahaan pun, mamah tidak akan melarang dan keberatan sama sekali!" lagi-lagi Ajeng menyela ucapan anaknya yang hendak mengajukan protes kembali.


"Jika itu semua sudah menjadi keputusan kalian berdua... Lalu, apakah Mamah Maya juga menyetujuinya?" tanya Rendy mencari-cari kembali sebuah alasan. Dalam hati, lelaki itu menemukan sebuah cara agar istri dan Mamah nya itu membatalkan niat mereka, karena mertuanya itu pasti akan merasa keberatan dan tidak akan tega jika menantu kesayangan serta satu-satunya, akan di suruh untuk hidup sederhana di luaran sana.

__ADS_1


Maya datang dengan tersenyum ramah, "Mamah sebenarnya sangat tidak setuju dengan persyaratan yang Ros ajukan pada suaminya sendiri Ren." ucap Maya.


Lega!


Satu orang berpihak padanya. Lelaki itu tersenyum tanpa terlihat. Namun, sorot mata-nya mengungkapkan sebuah kebahagiaan. Tentu saja, sebagai seorang ibu dan istri, kedua wanita yang berada di seberangnya, mengetahui apa yang ada dalam pikiran Rendy. Walaupun ekspresi wajah-nya tak menunjukkan itu.


"Tapi..." Ternyata Maya masih hendak melanjutkan ucapannya. Rendy mulai gelisah.


'Kok! Ada tapi-nya sih?' pikir lelaki itu. Namun, hatinya masih masih mengatakan, jika Mamah Maya, tak mungkin Setega itu pada dirinya.


"Tapi... Mau bagaimana lagi, Mamah hanya bisa mendukung, tanpa mencampuri, semua keputusan, ada pada Ros dan Mamah kamu. Walau Mamah rasa, itu sedikit berlebihan!"


Duuarrr!


Bagai di sanjung, di bawa ke langit ke tujuh, lalu di jelekkan dan di jatuhkan ke dasar tanah. Hati Rendy remuk. Kecewa menguasai dada. Mamah mertua yang ia kira berpihak padanya, ternyata sama juga. Sama-sama menginginkan jika ia melaksanakan satu syarat dari Ros yang menurutnya sedikit 'gila'.


Awalnya Maya menolak. Namun, karena hasutan dari anak serta besan-nya, akhirnya Maya juga menyetujuinya.


"Apa?" pekik Rendy semakin tidak percaya. Kini, tiada lagi yang berpihak padanya. Satu pun!


"Maafkan Mamah Ren..." ucap Maya, ada rasa tidak tega dalam diri Maya pada Rendy. Tapi ia bisa apa. Semua demi kebaikan bersama.


"Baiklah! Jika kalian sudah mengambil keputusan. Lalu, aku bisa apa?" akhirnya Rendy pasrah. Pria itu menampilkan mimik wajah lesu dan tidak bersemangat. Bagaimana tidak bersemangat, tiga lawan satu. Tentu saja Rendy kalah. Jangankan lawan tiga, lawan satu saja dengan Ros, sudah tentu Rendy kalah. Apalagi sekarang!


"Baik kalau begitu... Silahkan kamu tidur dengan dan nyaman malam ini, karena besok, kehidupan-mu akan berubah. Selamat malam semuanya? Selamat malam Ren, Ros?" ucap Ajeng mengakhiri perbincangan malam ini.


...***...

__ADS_1


"Tidur dengan nyenyak katanya? Tidur dengan nyaman katanya? Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman, kalau besok kehidupan-ku akan berubah. Menyebalkan!" gerutu Rendy tanpa suara. Sang istri sudah terlebih dahulu tertidur dengan nyenyak di sampingnya sambil membelakangi. Itu yang Rendy tahu.


"Sepertinya, guling itu lebih menggoda dari pada suamimu ya?" gumam Rendy pelan. Namun, tanpa di Sangka. Ros terkekeh tanpa suara. Ternyata, wanita yang berstatus istri Tuan Rendy Pradana itu, belum sepenuhnya memejamkan mata dan masuk ke dalam dunia fatamorgana. Dirinya hanya memejamkan mata saja, untuk mengelabui dan ingin mengetahui, akan seperti apa suaminya malam ini? Apakah perkataan Mamah mertuanya benar? Atau hanya bohong belaka? Tapi... tidak mungkin juga, mertuanya itu membohongi Ros.


Ternyata, benar kata Mamah mertuanya tadi. "Rendy pasti mengomel-ngomel malam ini. Kasihan kamu Ros, pasti tidurmu akan tidak nyenyak!" ucap Ajeng sebelum semuanya masuk ke dalam kamar masing-masing.


"Sayang..." panggil Rendy dengan nada memelas. Ia juga ingin di perhatikan dan di peluk dengan posesif seperti guling yang ada dalam pelukan Ros.


"Hemm!" jawab Ros pura-pura terlelap dalam mimpi.


"Sayang?" panggil Rendy lagi. Ros masih belum mau membuka mata dan melepaskan guling-nya.


"Kenapa istriku jadi suka tidur begini?" tanya Rendy tampak kecewa. Ros semakin terkekeh, karena telah berhasil mengerjai suaminya.


"Sayang... Apa guling itu lebih menggoda dan menarik, dari pada suami-mu sendiri?" kembali Ros mendengar pertanyaan itu.


"Ada apa? Aku mengantuk Kak!" akhirnya, Ros berbalik badan juga. Ia juga membuka mata dan suara yang sedari tadi hilang, karena berpura-pura tertidur.


"Aku juga ingin di peluk seperti guling itu sayang!" adu Rendy. Pria itu tak ubahnya seorang anak kecil yang cemburu pada ibunya, karena di peluk oleh ayahnya sendiri.


"Baiklah! Sini?" Ros menyerah juga. Ia merentangkan kedua tangannya agar Rendy masuk ke dalam pelukannya.


Pria itu tersenyum senang. Akhirnya, setelah beberapa malam tak memeluk sang istri, malam ini, ia bisa memeluknya juga.


"Tidurlah yang nyenyak kak, biar aku transfer energi untukmu malam ini dengan pelukan!" ucap Ros pelan. Walaupun wanita itu kemarin marah pada Rendy. Namun, tak bisa di pungkiri, rasa sayang, lebih mendominasi dari pada rasa benci, marah dan merasa di kecewakan.


"Lupakan keburukan-nya, ingat kebaikan-nya. Ingat Ros, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semua pasti mempunyai salah dan dosa. Termasuk suami-mu..." lembut dan menenangkan ucapan Mamah Maya sebelum dirinya masuk ke dalam kamar, membuat Ros sedikit demi sedikit, melupakan kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian yang membuatnya salah paham dan merasa dikhianati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2