
"Aakkhhh!" pekik Nita begitu Ranu tiba-tiba mencekik leher jenjangnya dengan sangat kuat sampai Nita hampir saja kehilangan nyawanya kalau saja seseorang tidak membuka pintu tersebut.
"To-tolong..
"Sshhuueettt" Ranu kemudian menutup mulut Nita dengan tangan kanannya, lalu membawanya bersembunyi dibalik meja. Namun dengan sialnya ia malah tertendang tong sampah di bawah kaki meja.
"Siapa disana?".
"Akh sial.. Yah, kamu diam disini, kalau kita sampai ketahuan aku tidak akan segan-segan membunuh mu" ancam Ranu dengan mata tajam.
Ranu lalu mencoba melihat kearah orang yang baru saja masuk itu, "Nita!" panggilannya membuat sang empunya namanya langsung membulatkan mata, ia tau kalau orang yang baru saja memanggil namanya itu adalah Argana.
"Siapa dia?" tanya Ranu. "Kenapa dia memanggil nama mu?".
Nita menggeleng akibat Ranu yang masih menutup mulutnya.
"Nita kamu dimana?" tanya Argana kembali berjalan kearah mereka. "Nita!".
Ranu tampak mulai gelisah, suara itu semakin mendekat kearah mereka berdua. Ia kemudian melihat ke sisi kirinya berharap ia bisa bergeser untuk sedikit menjauh. Tetapi Nita yang tidak ingin terjadi apa-apa dengannya, ia mencoba mengumpulkan seluruh tenaga untuk melawan Ranu.
Nita pun akhirnya mengigit tangan kanannya, "Aarrkkhhh!!" teriak Ranu kesakitan.
"Arga aku disini, tolong aku Arga" ucap Nita mendorong tubuhnya. Tetapi Ranu dengan cepat langsung menahan tubuhnya dengan mengancam kalau Argana berani mendekat, ia akan membunuh wanita yang berada di hadapannya itu.
"Hiks.. hiks.. Tolong aku Ga hiks tolong selamatkan aku Arga" isak Nita di hadapannya.
Lalu Argana menatap Ranu, sedangkan yang di tatap terlihat sangat jelas di kedua bola matanya ia ketakutan.
"Lepaskan dia" ucap Argana setenang mungkin.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan dia. Sebaiknya anda pergi saja dari sini, ini bukan urusan anda" balas Ranu mengeluarkan sebuah gunting dari dalam saku.
Argana tersenyum sinis, "Bagaimana saya bisa pergi sedang kamu memperlakukan wanita ku seperti ini?".
"Apa?" kaget Ranu.
"Sebaiknya kamu lepaskan dia selagi saya meminta kamu dengan baik-baik. Ayo!".
Tetapi Ranu masih belum berniat untuk melepaskan Nita, ia masih saja tetap menodong gunting tersebut di leher jenjang Nita.
"Saya tidak mempercayai? Bagaimana mungkin wanita biasa seperti dia memiliki kekasih seperti anda".
"Kenapa kamu tidak mempercayainya? Kamu tanya sendiri kepadanya".
"Tidak aku tidak mempercayainya...
BBUUNNGGGHHHH..
Dengan sigap Argana langsung menendangnya dengan sekali tendangan saja tercampak ke belakang.
__ADS_1
"Aakkhhh!" pekik Ranu kesakitan. Lalu Argana berjongkok di hadapannya, "Ampuni saya tuan, tolong biarkan saya pergi..
"Siapa disana?" potong sekuriti yang bertugas menyenter kearah mereka.
"Disini" jawab Argana.
Mereka pun bergegas menghampiri sumber suara tersebut, mereka lalu melihat seorang wanita terkapar diatas lantai bersama dengan seorang pria dan yang satunya lagi.
"Tuan Argana? Apa yang sedang tuan lakukan disini?" kaget kedua orang itu melihatnya.
Kemudian Argana bangkit berdiri, "Dia baru saja ingin melakukan pemerkosaan dan juga pembunuhan terhadap seorang wanita. Bawa dia sekarang juga ke kantor polisi".
"Apa? Baik tuan" jawab mereka segera membawa Ranu pergi dari sana meskipun Ranu mencoba untuk melawan keduanya.
Setelah itu ia melihat kearah Nita yang masih terkapar diatas lantai dengan tubuh bergetar sambil mengeluarkan air mata.
"Dia sudah pergi" ucap Argana menarik tubuhnya bangkit berdiri. "Jangan menangis lagi".
Tetapi Nita bukannya berhenti menangis, ia malah semakin menumpahkan air mata di hadapan Argana hingga pada akhirnya ia memeluk tubuh itu.
"Tidak apa-apa, sekarang sudah baik-baik saja. Dia tidak akan pernah bertemu dengan mu lagi, jadi berhentilah menangis".
"Hiks.. Hiks.. Aku sangat takut Ga, aku sangat takut sekali hiks... hiks.." ujar Nita dengan penuh kesedihan.
"Aku tau. Maafkan aku sudah terlambat datang menolong mu".
Saat perjalanan menuju rumahnya, Nita merasakan lapar untuk segera di isi mengingat ia yang sedari tadi pagi belum memakan sebutir nasi pun, "Aku lapar Ga. Tidak bisakah kamu menghentikan mobil mu di sana sebentar?".
"Mmmmm" anggun Argana. Ia pun memberhentikan mobilnya di tempat yang Nita tunjuk, "Kamu tunggu disini saja, biar aku yang membelinya. Kamu mau apa?".
"Nasi campur ayam goreng".
Argana keluar dari dalam mobil, ia berjalan mendekati warung tersebut yang sudah hampir tutup melihat jam telah menunjukkan pukul 12 malam.
"Permisi, apa ini masih buka?" tanyanya.
Si pemilik warung pun terdiam, ia melihat Argana dari atas sampai bawah dengan penuh tatapan kagum. "Ya Allah ganteng banget ni orang" ucapnya membuat Argana terpaksa tersenyum tipis.
"Terima kasih Bu" balas Argana. "Tapi, apa saya masih bisa pesan makanan disini?".
"Haahh.. Hahahhaha.. Khusus untuk kamu masih bisa tampan. Kamu mau pesan yang mana? Rendang ayam, rendang sapi, rendang kambing atau masih banyak ini, kamu bisa pilih sendiri" jawabnya tertawa senang memandangi wajah tampan Argana yang bak paripurna.
"Ya ampun, seandainya putri ku disini. Dia pasti senang sekali melihat pria setampan kamu. Apa kamu sudah menikah? Aku rasa kamu pasti masih sendiri kan?".
"Saya sudah memiliki kekasih Bu. Tolong di bungkus nasinya 1 paket ayam goreng".
"Baiklah. Ternyata kamu sudah punya kekasih, beruntung sekali wanita itu bisa memiliki kamu".
"Iya. Ayamnya ditaruh dua".
__ADS_1
Begitu si pemilik warung selesai membungkusnya, Argana menyerahkan sebuah uang mera di hadapannya.
"Aduh enggak ada uang kembali tampan".
"Sisanya untuk ibu saja".
"Ekh enggak boleh gitu. Sebagai gantinya saya akan membungkus..
"Satu saja Bu".
"Tapi sisanya itu masih banyak".
"Tidak apa-apa, satu bungkus saja".
"Baiklah" senang si pemilik warung membungkus satu bungkus lagi dengan laut rendang sapi dan juga kari daging kambing ia masukkan ke dalam satu pastik. "Terima kasih banyak, semoga rejeki mu banyak selalu".
"Iya Bu".
"Lain kali datang kemari lagi yah, saya akan memberi mu tambahan... Wah, orang kaya. Mobilnya saja bukan mobil yang sering aku lihat".
"Lagi melihat apa Bu?" tanya sang suami kepadanya.
"Itu pak, anak orang kaya baru saja membeli makanan di warung kita".
"Oh.. Berarti itu rejeki kita bu. Sudah ayo kita bereskan ini semua, nanti keburu malam".
"Iya pak".
Argana masuk kembali ke dalam mobilnya, ia lalu memberikan kantong tersebut di atas pangkuan Nita.
"Kenapa sebanyak ini Ga? Tadi aku minta satu".
"Tidak tau, si pemilik warung yang memberikan sebanyak itu".
"Baik sekali dia. Apa karna sudah malam? Sepertinya mereka mungkin sudah mau tutup. Terima kasih banyak ya Ga".
"Mmmmm" balas Argana menjalankan mobilnya.
Kemudian Nita melihatnya, "Kamu sudah makan malam Ga? Atau apa tidak sebaiknya kita makan ini berdua saja? Sayang kalau nantinya tidak habis?".
"Boleh" jawab Argana.
Mendengar jawab Argana yang tanpa berpikir dulu membuat Nita seketika langsung melebarkan senyuman di wajahnya.
"Akhirnya!".
"Apa?".
"Tidak, kamu fokus saja menyetir. Aku sudah sangat lapar sekali ingin makan".
__ADS_1