
Kini Argana dan Reysa berada disebuah restoran, keduanya terlihat sedikit menegang saat tatapan Argana begitu sangat dingin Reysa lihat.
"Kenapa? Bukankah sesuatu ingin kamu bicarakan dengan ku?" tanya Argana.
"Mmmmm, tapi jangan melihat ku seperti itu Ga. Kamu membuat ku sedikit takut" jawab Reysa menyambar minuman dingin yang berada di atas meja mereka.
"Jangan perduli-kan" balas Argana. "Sekarang katakan kepadaku apa yang kamu bicarakan. Aku tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama disini".
"Aku akan membantu mu Ga".
"Dengan cara apa?".
"Jika dengan bukti yang kamu punya tidak bisa menunjukkan korupsi yang selama ini papa ku lakukan. Maka aku akan melakukan segala cara untuk membuktikan kalau selama ini papa telah melakukan dosa yang sangat besar".
Argana lalu menatapnya, "Apa aku bisa mempercayai mu?".
"Tentu saja bisa Ga. Beritahu aku kapan pun kamu mau".
"Baiklah kalau gitu. Terima kasih banyak, aku harus pergi".
"Arga tunggu!" tahan Reysa. "Itu-itu, sebelum kamu tiba disini, aku tadi memesan makan siang untuk kita. Tidak bisakah kamu tunggu makan dulu baru kamu pergi".
"Maaf aku tidak bisa. Lain kali saja" jawab Argana langsung pergi meninggalkannya seorang diri disana.
Kemudian Reysa menatap punggung Argana yang sudah menjauh dari hadapannya, ia tidak habis pikir kalau Argana yang dulu ia kenal sangat lembut dan penyayang kini telah sudah berubah 100% menjadi pria dingin sejak pernikahan itu.
"Maafkan aku Ga telah membuat menjadi seperti ini".
Setelah itu ia meminta kepada si pelayan restoran untuk membungkus pesanan yang tadi dia ia minta untuk di bawa pulang dan berencana memberikan kepada karyawannya.
.
Sesampainya Argana di kantor, ia mendudukkan diri diatas kursi kebesarannya dengan nafas berat sembari mengeluarkan ponsel milik Nita dari dalam laci meja kerja, lalu melihat wajah Nita yang begitu sangat cantik di layar ponselnya.
"Apa kabar mu sekarang disana?".
Tok.. Tok..
"Masuk" jawabnya memasukkan ponsel itu kembali di dalam laci.
Ceklek!
Ia melihat Nella memasuki ruangan dengan senyum tipis, "Maaf kalau saya mengangguk waktu tuan" Nella kemudian menaruh berkas tersebut diatas mejanya. "Kalau gitu saya permisi dulu tuan".
__ADS_1
"Tunggu" tahan Argana.
"Iya tuan?".
"Apa kamu pernah memiliki komunikasi dengan ibunya?".
"Maksud tuan ibunya Nita?".
"Mmmmm".
"Tidak tuan, Nita dulunya hanya sering membicarakan tentang keluarganya yang berada di kampung. Dan saya tidak pernah melakukan komunikasi dengan mereka, tapi sebelum terakhir Nita meninggal dunia, ia waktu itu masih sempat memberikan uang senilai 10 juga untuk biaya pengobatan neneknya".
"Neneknya?".
"Iya tuan. Seperti yang pernah ia bicarakan kalau neneknya saat ini sedang berada di rumah sakit. Apa Nita tidak pernah membicarakan ini dengan tuan?".
"Kamu bisa keluar" ucap Argana tanpa menjawab pertanyaannya.
"Baik tuan" angguk Nella.
Setelah itu Argana kembali mengeluarkan ponselnya Nita dari dalam laci, ia lalu membuka mobile banking Nita yang selama ini mengirim ke orang tua dan juga saudara laki-lakinya yang bersekolah di luar negeri.
Dan saat itu juga Argana tau kalau selama ini Nita tidak pernah menyimpan uang dari hasil kerja kerasnya. Ia selalu mengirim ke kampung dan juga untuk saudaranya.
Kemudian ia melirik jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Argana lalu menyimpan ponsel itu kembali di dalam laci. Setelah itu ia menyambar jasnya keluar dari dalam ruangannya menuju kantor polisi tempat dimana Dilan sedang melakukan wawancara saat ini.
"Mmmm" angguknya.
"Mari ikut saya tuan" ia pun membawa Argana ke tempat Dilan berada. lalu Argana melihatnya dari ruangan sebelah dengan wajah serius memperhatikan gerak-gerik di wajah Dilan.
"Berapa kali kami sudah mengajukan pertanyaan. Tapi dia tidak mau menjawabnya".
Argana lagi-lagi menatap wajah Dilan dengan tatapan serius hingga akhirnya kedua mata mereka bertemu membuat Dilan menyeringai kepadanya. Tidak mau kalah, Argana pun membalasnya dengan senyuman mematikan yang belum pernah ia tunjukan kepada siapapun sampai membuat Dilan mengepal tangan ingin sekali membunuhnya.
Setelan beberapa jam lamanya, wawancara itu pun selesai. Kemudian Argana memasuki ruangan tersebut melihat Dilan masih disana bersama dengan sekretarisnya.
"Hallo paman" sapanya tersenyum mengejek.
Dilan pun ikutan tersenyum mengejek menyuruh pengacaranya itu keluar. "Duduk!".
"Baiklah" angguk Dilan. "Bagaimana? Apa paman sudah mulai menyukai tempat ini? Aku rasa paman sangat cocok sekali tinggal disini bersama dengan menantu paman nantinya".
"Kurang ajar!" umpat Dilan memerah di wajahnya. "Berani-beraninya kamu mengancam paman mu sendiri".
"Apa? Paman? Hahahhaha.. Sejak kapan paman baru berkata seperti ini? Hahahaha.. Wah" Argana tertawa keras bertepuk tangan.
__ADS_1
Setelah itu ia menatap Dilan kembali dengan wajah serius, "Kini sudah saatnya paman meninggalkan semuanya dan bertobatlah selama paman berada di sel penjara nantinya".
Dilan lalu menutup kedua matanya, dia tidak habis pikir kalau Argana lah orang yang akan menjatuhkan semua apa yang telah ia bangun selama ini.
_
_
Di istana kediaman keluarga Davison Reysa kembali pulang bersama dengan sang suaminya.
"Kenapa kalian berdua baru pulang?" tanya Kirana.
"Iya ma" jawab Reysa melirik kearah Reno yang berada di sebelahnya.
Kirana lalu mengernyitkan dahi menatap keduanya dengan heran, "Kenapa kalian berdua jadi diam seperti itu?".
"Tidak ada apa-apa ma. Papa sudah pulang?".
"Itu dia yang mau mama tanya sama kalian berdua. Dari tadi mama sudah mencoba berusaha menghubungi nomor ponsel papa kamu tapi..
"Ada apa ini?" potong Dilan berjalan di belakang mereka. "Kenapa kalian berdua baru pulang?".
Reno pun akhirnya tersenyum, "Tadi kami berdua habis makan malam dari luar pa" jawabnya berbohong membuat Reysa melihatnya. "Iyakan sayang?".
"A-iya pa. Tadi kami berdua habis makan malam dari luar" jawab Reysa ikutan berbohong agar Kirana tidak merasa curiga setelah apa yang terjadi di perusahaan Hanju group. "Kalau gitu aku masuk kamar duluan yah".
"Iya sayang" angguk Reno.
Kirana melihat suaminya itu, ia terlihat sangat lelah sekali tidak seperti biasanya setiap kali Dilan pulang dari kantor.
"Bisakah kamu membuatkan dua gelas kopi untuk kami berdua?" ucap Dilan.
"Mmmmm, aku akan membuatnya" anggun Kirana segera meninggalkan mereka menuju dapur.
Kemudian Dilan melihat Reno, "Apa semuanya aman?" tanyanya.
"Iya pa. Mereka sama sekali tidak tau mengenai ruangan itu. Jadi semuanya akan aman-aman saja pa selama berkas itu ada di dalam sana".
"Bagus" senang Dilan menepuk punggung Reno. "Anak itu benar sangat kurang ajar sekali, papa tidak menyangka kalau dia akan bertindak sejauh ini".
"Apa kita tidak perlu melakukan sesuatu untuk menakut-nakuti dia pa?".
"Untuk saat ini jangan dulu. Tapi kalau nantinya dia masih saja mencari masalah dengan papa. Maka papa sendiri yang akan turun tangan membuat anak itu...
"Membuat apa?".
__ADS_1
Deng!
Suara itu tiba-tiba muncul dari belakang mereka membuat Dilan dan Reno langsung menoleh kearah sumber suara tersebut yang tak lain adalah milik Lucas yang sedang menertawainya.