Dia Milikku

Dia Milikku
Lepaskan aku!


__ADS_3

"Kenapa dia ada di sini?" tanya Rendy dengan wajah menyelidik. Ia benar-benar tidak suka dengan kehadiran sosok Anita di kantor istrinya.


"Kenapa kau bicara seperti itu sayang?" balas Ros dengan mengernyitkan keningnya lalu menatap lekat wajah tampan suaminya yang menatap Anita dengan penuh curiga.


"Tidak ada! Aku hanya bertanya saja sayang!" kata Rendy yang telah mengalihkan pandangannya dari Anita, pada sosok cantik yang berdiri anggun di depan matanya.


Rendy menatap lekat Ros dengan penuh kasih sayang. Di matanya begitu banyak cinta yang Rendy tunjukkan pada sang istri.


"Saat siang seperti ini, kenapa wajahmu semakin cantik saja!" kata Rendy dengan penuh pujian yang ia lontarkan kepada Ros, membuat Ros tersipu malu.


Ros tersenyum, ini bukanlah pujian pertama yang keluar dari mulut suaminya sejak pagi. Sudah berkali kali Rendy memujinya dengan berbagai pujian yang keluar dari mulutnya yang manis, semanis madu dan se murni susu.


"Aku bertanya padamu sayang! Dan..., Kenapa wanita itu ada di sini?" kata Rendy, mengulangi lagi pertanyaannya yang masih belum Ros jawab.


"Maafkan aku sayang! Aku tidak sengaja bertemu dengan Anita di restoran xxx, saat aku dan semua pegawai ku selesai makan.


"Tidak sengaja?" tanya Rendy sedikit tidak percaya. Banyak keraguan yang tergambar dari wajahnya saat Ros mengatakan kata tidak sengaja. 'Mungkin kah ini hanya rencana busuk dari wanita bernama Anita itu?' Rendy bertanya-tanya dalam hati.


"Benar sayang, aku tidak sengaja bertemu dengannya!" ulang Ros lagi, meyakinkan jika ia benar-benar tidak sengaja bertemu dengan wanita yang beberapa hari yang lalu ia dan Rendy selamatkan.


"Lalu?" Rendy masih setia mendengarkan semua penjelasan Ros, tanpa menimpali atau mengomentari sama sekali. Membuat Ros leluasa mengatakan semua yang telah terjadi saat mereka berada di restoran.


"Aku bertanya padanya, 'sedang apa kau di sini?' Dan Anita menjawab, bahwa Anita sedang mencari pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya," jawab Ros dengan nada bicara yang terdengar sangat antusias. Namun, juga terdengar seperti kasihan.


"Apa istriku yang cantik ini langsung percaya begitu saja?" tanya Rendy bertanya kembali.

__ADS_1


"Kenapa aku harus tidak mempercayainya?" Ros balik bertanya, dengan mata yang tertuju pada sosok pria yang paling ia cintai.


"Karena kamu baru saja mengenalnya!" jawab Rendy lembut. Matanya menelisik jauh ke kedalaman mata Ros yang jernih dan penuh dengan binar itu.


"Apakah harus saling mengenal lama dulu, jika harus mempercayai seseorang?" lagi lagi Ros balik bertanya. Membuat Rendy harus ekstra sabar beradu mulut dengan sang istri.


'Istriku ini memang terlalu baik! Dia mudah sekali percaya kepada orang lain. Harus bagaimana aku mengatakan pada istriku, jika wanita yang ia selamatkan itu, bukan wanita baik-baik!" Rendy bergumam dalam hati. Ia berkata, bukan karena tidak ada sebabnya. Hati kecilnya mengatakan, jika sosok Anita ini berbahaya, bisa menghancurkan. Namun, entah menghancurkan apa. Yang jelas, hati Rendy mengatakan, jika Anita bukan wanita baik yang bisa di percaya.


"Baiklah, baiklah sayang..., Aku mengalah kali ini!" ujar Rendy yang tidak mau berlama-lama membahas tentang Anita dengan Ros. Biarkan saja wanita dusta itu berbuat sesukanya, karena Rendy akan segeral mencaritahu kebenarannya, cepat ataupun lambat.


"Ayo kita masuk?" ajak Ros kemudian. Ia tidak mau berlama-lama berdebat hal yang pernah ia dan Rendy debat kan beberapa waktu yang lalu. "Oh ya Anita, kamu bisa datang kemari lagi besok pagi. Aku sudah menerima dirimu sebagai salah satu pegawai ku di sini," ucap Ros Kemudian, membuat Anita menganggukkan kepalanya.


"Baik Nyonya, terima kasih karena sudah mau menerima saya bekerja di sini!" ujar Anita dengan senyum yang ia buat semanis mungkin.


"Sudah bukan? sebaiknya kamu pulang dan bersiap-siaplah untuk hari esok!" kata Rendy yang lebih terdengar seperti sebuah pengusiran secara halus.


"Apa?" Rendy memandang Ros yang memelototinya. "Ucapanku barusan benar sayang! Dia memang harus pulang, beristirahat dan bersiap untuk hari esok. Karena esok ia akan bekerja di kantormu ini bukan?" sambung Rendy dengan seringai di bibirnya.


"Tidak apa Nyonya, saya memang akan pulang sekarang!" ucap Anita seolah ia merasa tersindir dengan ucapan Rendy. Ia juga memasang wajah sendu saat mengucapkannya.


"Tapi- -"


"Sudahlah sayang, biarkan saja dia pergi. Dia sudah besar, dia wanita dewasa, dan dia bukan anak kecil lagi yang harus selalu kau jaga! Toh, dia juga bilang kalau dia tidak papa," kata Rendy memotong ucapan Ros yang masih belum selesai.


"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu Nyonya! Sekali lagi terima kasih karena sudah mau mempekerjakan saya di kantor nyonya ini!" ujar Anita sebelum wanita itu benar-benar pergi meninggalkan Ros dan juga Rendy.

__ADS_1


"Kenapa masih diam saja? Cepat pergi!" usir Rendy tak tahan lagi.


"Kakak!" pekik Ros, karena sikap Rendy semakin seenaknya kepada Anita, yang esok hari sudah resmi menjadi pegawai barunya.


"Kenapa?" heran Rendy dengan wajah lelah. Menampakan wajah yang sudah tidak tahan lagi ingin segera beristirahat. "Ucapanku benar bukan?" tanya Rendy kemudain.


"Ucapan mu memang selalu benar sayang! Selalu..., benar!" balas Ros dengan menirukan gaya bicara Rendy. Namun, wajah Ros benar-benar madam saat mengatakannya.


"Kalau begitu, ayo cepat kita pulang!" ajak Rendy kemudain. Membuat Ros mengernyit serta keheranan. 'Bukan nya tadi aku mengajaknya masuk ke dalam ruangan kerja, mengapa sekarang kak Rendy malah mengajakku pulang?' Ros bermonolog dalam hati. Bertanya pada dirinya sendiri.


"Pulang! kenapa kita harus pulang?" ucap Ros seraya bertanya. Ia merasa keheranan dengan apa yang baru saja Rendy ucapkan padanya.


Belum sempat Rendy memberikan jawaban. Belum sempat juga, Ros mengiyakan ataupun menyahut, tangan kekar Rendy sudah terlebih dahulu menarik tangan Ros agar cepat mengikutinya.


"Tunggu sayang!" pekik Ros saat Rendy ternyata malah menggendong Ros dalam dekapannya. Setelah Rendy menarik tangan Ros agar mengikutinya.


"Aaa..., sayang lepaskan! Aku malu!" jerit Ros. Namun, masih dengan nada yang terdengar masih pelan.


"Tidak mau! Kamu akan terus mengoceh, bertanya ini dan itu jika aku tidak segera membawamu masuk ke dalam mobil!" sarkas Rendy memang benar adanya. Dan Rendy benar-benar mendaratkan tubuh Ros masuk ke dalam mobil, yang didalamnya sudah berada Herman yang menunggu mereka entah sejak kapan.


...***...


Anita pulang dengan keadaan geram. Ia yang memang sudah merencanakan semuanya dari awal. Pertemuan tidak di sengajanya di restoran dengan Ros, soal mencari pekerjaan, itu semua sudah Anita rencanakan dengan matang. Namun, tiba-tiba saja Rendy datang dan mengacaukan segalanya. Walaupun rencananya tidak bisa dikatakan gagal. Namun nyatanya. Kehadiran Rendy mampu membuat Ros mengikuti apa yang Rendy katakan.


"Berhati-hatilah Rendy sayang! Karena sebentar lagi, kau akan jatuh ke dalam pelukanku!" gumam Anita dengan tawa aneh yang menghiasi wajah cantiknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2