Dia Milikku

Dia Milikku
Gagal


__ADS_3

Perlahan tapi pasti. Doni bergerak menuju ranjang tempat Ros berbaring. Dengan cairan yang sudah ia masukkan ke dalam suntikan, Doni hendak menyuntikkannya ke dalam wadah berisi cairan infus yang sudah tersambung dengan Ros.


Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. Rencana yang sudah ia susun bersama pamannya, kali ini akan berhasil ia jalankan.


"Terima ajalmu, wanita pembawa sial! Karena dirimu, kakaku meninggal. Kau, juga harus merasakan hal yang sama," bisiknya begitu pelan. tatapannya begitu menunjukkan sebuah kebencian yang begitu mendalam bagi Ros. Sebenci itu Doni kepada Ros. Hingga ia begitu ingin melenyapkan Ros saat ini juga.


Satu, dua, tiga!


Doni menghitung gerak tangannya yang sebentar lagi akan menyentuh wadah berisi cairan infus itu.


Tak jauh dari Doni, Matthew pun melakukan hal serupa kepada Rendy. Namun, langkahnya lebih lambat dari Doni, karena kondisi kakinya yang pincang.


Kedua pria berbeda generasi itu saling pandang dan memberikan senyum licik satu sama lain, saat hendak menyuntikkan cairan itu pada Ros juga Rendy.


"Mati, kau!" ucap Doni, jarum suntik itu berhasil menembus wadah berisi cairan infus. Dan saat Doni dan juga Mathew hendak berhasil menyuntik mereka berdua--


'Bugh!'


'Bugh!'


Rendy terbangun dengan mata yang terbuka sempurna. Ia memukul Matthew tanpa ampun, dengan kedua tangannya. Begitu pun dengan Doni, terdapat seorang anggota berseragam polisi yang ternyata bersembunyi di bawah ranjang yang Ros pakai untuk berbaring. Seorang anggota polisi itu menendang kaki Doni dengan kakinya, hingga ia jatuh terkapar dengan jarum suntik yang masih menempel di luar wadah.


"Sialan!" ujar Doni geram. Gerahamnya saling beradu. Menunjukkan jika ia begitu kesal dengan apa yang sedang menimpanya saat ini.


Rencana mereka tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan dan susun sebelumnya.

__ADS_1


"Kurang ajar!" Matthew pun tak kalah geram. Ia memandang sengit pada Rendy yang ternyata sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambutnya dan Doni.


"Kenapa? Kalian terkejut?" tanya Rendy sambil memandang remeh pada Matthew dan Doni, silih berganti.


"Kejutan!" Seorang pria dengan pistol di tangannya, datang dengan mendobrak pintu kamar yang sudah di kunci sebelumnya oleh Doni.


Doni pikir, rencananya akan berhasil. Ternyata, Rendy berada dua langkah di hadapannya. Benar benar sangat sial!


"Kau!" tunjuk Matthew pada polisi yang baru saja mendobrak pintu kamar.


"Merindukan aku, tua Bangka!" balas polisi tersebut sambil menodongkan pistolnya pada Matthew yang tak terlihat gentar atau pun takut kepadanya.


"Surya! Harusnya aku sudah bisa menduga semua ini."


Matthew berujar dengan wajah tak menduga ke arah Surya.


Matthew tertawa. "Kau sudah tau rupanya. Baguslah! Tapi, jika boleh aku tahu, tahu dari mana kau, jika aku pembunuh kedua orang tuamu?" ucapnnya seraya bertanya. Kejadian itu sudah menjadi masa lalu. Terjadi sudah lama sekali. Tapi, Matthew mengenali wajah Surya saat pertama kali bertemu. Wajah yang begitu mirip dengan rivalnya dulu.


"Tak penting bagiku untuk memberitahukan dari mana aku tahu perihal itu kepadamu. Namun yang pasti, apa yang aku ucapkan itu benar bukan? Kaulah pembunuh dari kedua orang tuaku. Dasar manusia biadab! Kau harus menerima hukuman atas semua yang sudah kau lakukan." Surya berucap dengan geram. Matanya nyalang menatap ke arah Matthew yang juga bagiku lekat memandang ke arahnya. Kedua pria yang sama-sama memendam itu saling berpandangan satu sama lain, seolah ingin menghajar dan menghabisi lewat tatapan mata.


"Ha ha ha!"


Akhirnya, Matthew tertawa juga. Entah apa yang membuatnya sampai tertawa seperti itu. Apakah Dia sedang menertawai kejahatannya, atau sedang benar atau Jika ternyata Surya telah mengetahui apa yang sudah menimpa pada kedua orang tuanya di masa lalu.


Di sisi lain, Doni kembali bangkit setelah ia jatuh karena di kakinya ditendang oleh seorang polisi yang bersembunyi di bawah ranjang milik Ros.

__ADS_1


"Kurang ajar! Polisi si*l*n. Aku tak menyangka, Ternyata kalian para polisi cerdik juga. Kalian sudah menyusun rencana ini lebih baik daripada aku dan pamanku. Sungguh luar biasa dan di luar dugaan kami berdua." Doni tersenyum sinis ke arah polisi di hadapannya, Rendy dan juga Surya. Lalu, pandangannya ia hentikan saat matanya menatap lurus ke arah Ros yang menjadi sasarannya malam ini. Namun, harus gagal karena rencananya telah diketahui oleh mereka semua.


"Kami memang cerdik. Makanya kami menjadi polisi!" ujar Surya membalas apa yang Doni ucapkan.


"Jangan senang dulu. Aku bukan sedang memuji kalian para polisi. Aku dan pamanku masih lebih cerdik daripada kalian semua."


Dengan gerakan cepat yang hampir tak terduga, Doni mendekat ke arah ranjang Ros yang hanya dijaga oleh seorang polisi dengan sebuah senjata api di tangannya. Doni sudah bersiap hendak kembali menyantikkan cairan mematikan ke arah Ros. Berharap usahanya bisa berhasil kali ini. Walau dengan resiko gagal yang lebih besar.


'Akh!'


Ros menjerit. matanya menutup dengan rapat. Tangannya pun menyilang di depan wajahnya sendiri. Gerakan Doni begitu tak terduga.


''Ros!" Teriak Rendy. Ia juga tak menyangka, jika Doni bisa berbuat nekat seperti itu. Mendekat ke arah Ros yang sedang terbaring untuk membunuhnya secara perlahan namun pasti. Tapi, keberuntungannya tanya masih berada di pihak Ros. suntikan berisi cairan mematikan itu tidak menembus kulitnya sama sekali. Karena ternyata, polisi di depannya begitu sih gak menghadang Doni yang hendak menyuntikkan cairan mematikan itu kepada Ros. Hingga, tanpa di duga, hal yang tak di inginkan sama sekali oleh Doni terjadi.


suntikan berisi cairan mematikan itu buah kan menyentuh kulit Ros. Tapi, malah menusuk kulitnya sendiri. Membuat Doni seketika langsung diam tak bergerak sama sekali. Bahkan, untuk bersuara pun rasanya Doni tak mampu. Cairan mematikan itu sudah masuk ke dalam tubuhnya. mengalir di aliran darahnya dengan cepat. Hingga, Doni pun jatuh ambruk dan tak sadarkan diri setelah terus suntik oleh suntikan yang ia bawa sendiri.


"Doni!" Teriak Matthew. Matanya membulat kalau ia melihat keponakannya yang hanya tinggal tersisa satu,. jatuh ambruk di hadapan matanya sendiri.


"Kau tak apa apa, Sayang?" tanya Rendy penuh cemas. Ia menghampiri Ros dengan cepat setelah melihat dunia ambruk di hadapan mereka.


Ros menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tak apa."


tubuh Ros gemetaran saat melihat dunia ambruk di hadapannya. Dan yang paling membuatnya terkejut bukan main adalah, Doni ambruk setelah tersuntik oleh suntikan yang ia bawa sendiri. Suntikan yang tadinya akan diarahkan Doni kepada Ros.


Di saat semua sedang terkejut. Apalagi Matthew yang juga terkejut bukan main. Surya memanfaatkan kesempatan itu untuk melumpuhkan Matthew. Surya berjalan mendekat secepat kilat ke arah Matthew. Menendang sebelah kakinya yang pincang hingga Matthew jatuh dan bersimpuh di hadapan.

__ADS_1


"Kau! Ku, kurang ajar sekali, Kau ini, Surya!" ujar Matthew dengan mata nyalang menatap ke arah Surya. Tatapan kebencian itu semakin terlihat dan terasa saat Matthew melihat jika satu-satunya keponakan yang tersisa kini juga ikut tiada menyusul kakaknya.


"Diam di tempatmu sendiri, Orang tua! Kau seharusnya sudah harus pensiun dari dunia mu. Harusnya kau sudah bertobat di usiamu yang sudah tua bangka itu."


__ADS_2