Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 28


__ADS_3

Kembali berada di kampus, begitu Nita melihat Argana berjalan bersama dengan Bagas, ia pun langsung menghampiri kedua orang tersebut.


"Arga tunggu! Aku ingin bicara dengan mu. Bagas, bisa kamu tinggalkan kami berdua?".


"Mmmm" angguk Bagas.


Lalu Nita memberanikan diri menggenggam pergelangan tangan Argana untuk yang pertama kalinya membawanya pergi dari sana.


Argana tanpa ada perlawanan, ia terlihat pasrah mengikuti setiap langkah kaki kedua Nita hingga kini mereka berada diujung lorong.


Kemudian Nita melepaskan genggamannya, ia menatap Argana dengan tatapan serius.


"Maaf sudah membawa mu kemari dengan paksa. Aku ingin bicara dengan mu Arga. Apa kamu masih marah terhadap ku?".


Tidak ada jawaban.


"Aku mohon tolong jawab aku Arga. Jangan diam seperti ini, tolong Arga. Kalau memang aku salah karena sudah berani mengatakan hal itu, aku minta maaf Arga. Tolong jangan abaikan aku seperti ini, aku tidak sanggup hidup tanpa mu".


Argana pun tersenyum sinis menatap kedua bola mata Nita yang memerah, "Kamu tidak bisa hidup tanpa aku?".


"Benar. Terserah kamu mau berpikir apa tentang aku Ga. Disini aku mengatakan yang sebenarnya kalau aku tidak bisa hidup tanpa kamu, sebab itu aku meminta maaf dan lupakan apa yang aku katakan kemarin. Aku mohon Ga, tolong maafkan aku".


Lagi-lagi Argana tersenyum sampai ia terbawa suasana membuat ia tertawa kecil menutup wajah. "Yah.. Jangan berlebihan seperti ini. Aku tidak menyukainya" ucap Argana membuat kedua jantung Nita berdetak tak karuan, dan yang ia pikirkan saat ini jangan sampai Argana memutuskan dirinya.


"Arga...


"Cukup!" potong Argana. Ia memperbaiki anak rambut Nita yang tergerai. "Sekali lagi kamu bertingkah seperti anak kecil, jangan salahkan aku jika hubungan kita sampai disini mmmm".


Nita lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku Arga".


"Ooo.. Jadi mulai dari sekarang jangan rewel lagi yah. Aku tidak menyukainya" setelah itu Argana pergi meninggalkannya tanpa ia tahu Nita tiba-tiba merasa kram di bagian perutnya.


"Arga tunggu! Argana tunggu! Aakkhhh.. Ada apa dengan ku? Kenapa perut ku tiba-tiba terasa sakit".


Nita merasa semakin mules. Wajahnya kini sudah dipenuhi keringat dan tubuhnya yang lemas membuat Nita terjatuh ditempat ia berdiri tadi.

__ADS_1


Kemudian Nita meremas pakaiannya, rasa sakit itu semakin membuat tubuhnya semakin lemas dan juga rasa pusing yang melanda dirinya.


"Ya Tuhan, kenapa aku tiba-tiba.." Nita lalu teringat kalau ia belum sempat sarapan dari rumah gara-gara ia harus bertemu dengan Argana. "Astaga! Aku baru ingat kalau semalam aku tidak makan begitu juga dengan tadi pagi. Maag ku pasti lagi kumat".


Lalu seseorang mahasiswa melihat Nita tergeletak diujung sana dengan gaya tengkurap diatas lantai yang kotor.


"Siapa wanita itu? Apa yang sedang dia lakukan?" gumamnya mendekati Nita kearah sana. "Yah.. Apa yang sedang kamu lakukan disini?".


Nita yang mendengar suara tersebut segera melihat kearahnya. "Tolong saya. Saya mohon tolong saya" ucap Nita memohon.


Mahasiswa itu langsung membulatkan mata melihat Nita dipenuhi sekujur keringat di wajahnya. "Kamu baik-baik saja?".


"Tidak, saya tidak baik-baik saja" jawab Nita mengulurkan tangan di hadapannya. "Saya mohon tolong saya".


Si mahasiswa pun segera menolong Nita, namun ia malah di buat kebingungan bagaimana caranya membawa Nita dari sana sedangkan ia tidak memiliki tenaga untuk menggendongnya karena ia seorang wanita.


"Tunggu sebentar, aku mencari bantuan dulu".


Dan ketepatan tempat Nita tergeletak bersebrangan dengan ruangan ia sendiri. Si mahasiswa itu pun membuka pintu, ia lalu memberitahu mereka kalau seseorang sedang tergeletak dengan tubuh lemas di ujung lorong sana.


Dan benar sekali, ia melihat Nita tergeletak diatas lantai yang kotor dengan tubuh lemas dipenuhi sekujur keringat di wajah cantiknya.


"Nita!" panggilannya.


Suara yang begitu merdu di kedua telinga Nita, ia melihat pemilik suara itu adalah suara Argana, pria yang sangat ia cintai.


"Tolong aku Arga. Sakit!" ucapnya.


Argana kemudian mengangkat kepalanya, lalu mambawa tubuhnya pergi dari sana menuju rumah sakit terdekat.


Dan setibanya dirumah sakit, suster segera memberikan pertolongan pertama kepada Nita dengan memberinya inpus. Lalu si dokter memeriksa, sama dengan kasus yang dulu pernah Argana dengar. Nita mengalami penyakit lambung yang sudah mulai akut.


Nita terdiam mendengar penjelasan si dokter, ia merasa telah gagal selama ini menjaga kesehatan tubuhnya. Kemudian Argana menatapnya begitu si dokter pergi.


"Terima kasih sudah membawa ku kemari Arga. Kamu boleh pergi, nanti kamu bisa terlambat" Nita tidak berani menatap Argana yang sedang melihatnya dengan tatapan serius.

__ADS_1


Namun Argana bukannya pergi dari sana, ia malah duduk diatas kursi yang berada di sebelah bet tidurnya.


"Kenapa kamu belum pergi Arga? Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Jadi pergilah".


Dan lagi-lagi Argana terdiam, ia masih tetap memandangi wajahnya tanpa sekata dua kata keluar dari bibirnya.


"Argana jangan melihat ku seperti itu. Kamu membuatku takut".


Kemudian Nita mendengar suara helaan nafas Argana yang begitu berat sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apa kamu sudah tidak perduli dengan dirimu sendiri?".


Deng!


Suara itu mampu membuat Nita tidak bisa berkata-kata bercampur merasa sedikit bahagia. Namun kedua bola matanya malah menjatuhkan air mata, tetapi ia tidak tahu air mata itu air mata kebahagiaan atau air mata sedih.


"Arga. Bolehkah aku bertanya?".


Tidak ada jawaban, tetapi Argana masih memandangi wajah pucat pasinya.


"Apakah suatu saat nanti kamu akan pergi meninggalkan aku Ga? dan kalau boleh aku bertanya. Sebenarnya, apakah kamu benar-benar mencintai ku Ga? Sudah dua tahun lamanya kita menjalin hubungan ini, baru pertama kalinya aku menggenggam tangan mu".


lagi-lagi tidak ada jawaban keluar dari kedua bibir Argana hingga pada akhirnya ia menyuruh Nita istirahat.


"Kenapa kamu tidak menjawab ku Arga? Apa segitu marahnya kamu dengan ku? Aku sudah berapa kali mengatakan kepada mu aku minta maaf".


"Jangan banyak bicara. Sekarang kamu harus fokus dengan kesehatan kamu sendiri atau perlukah aku memberitahu kedua orang tua mu kalau kamu sedang jatuh sakit?".


Nita menggeleng.


"Karna itu kamu harus istirahat. Aku akan membelikan makanan untuk mu" Argana lalu bangkit berdiri, namun Nita langsung menahan tangannya. "Kenapa?".


"Jangan tinggalkan aku Arga. Aku mohon jangan pernah berpaling dari ku. Aku mencintaimu tulus, bukan karena seberapa banyaknya harta yang kamu miliki. Tolong percaya kepada ku Arga. Jangan pernah berpikir soal itu".


"Mmmm.. Aku tau itu" setelah itu Argana pergi.

__ADS_1


__ADS_2