
Akhirnya, mereka sudah sampai di depan kamar hotel milik Ros dan Rendy.
Betapa terkejutnya Rendy saat sudah membuka pintu kamar hotelnya dan melihat dua orang ibu yang sudah menunggunya, berdiri tepat didepan pintu dengan tatapan yang begitu mengintrogasi nya.
"Ma-ma-mamah!" ucap Rendy gelagapan sambil melihat sekeliling, terdapat pula ketiga sahabat Ros dikamar nya.
Rendy menatap tajam ketiga orang itu, namun tak berani menatap mata kedua ibu yang sudah menunggunya.
Kedua ibu itu masih terus menatap tajam Rendy, namun pandangan mereka kini tertuju pada Ros yang tertidur di gendongan Rendy.
"Kenapa kau menggendong Ros, Rendy? apa yang terjadi pada menantu kesayangan mamah? apa dia sakit? apa dia terluka? kenapa kau tidak menjawab pertanyaan mamah?" ucap mamah Ajeng dengan pertanyaannya yang bertubi tubi, membuat Rendy bingung harus menjawab apa pada mamahnya itu.
"Katakan Ren? apa yang terjadi dengan Ros?" tanya mamah Maya yang juga ikut khawatir dan ingin tahu keadaan Ros.
"Diam lah dulu, para mamah ku yang tersayang ini, biar aku tidurkan dulu istriku ini," bujuk Rendy pada kedua mamahnya yang sudah menunggu nunggu jawaban dari Rendy.
"Baiklah," ucap kedua mamah dengan terpaksa.
Rendy dengan perlahan menidurkan istrinya diatas ranjang , ranjang yang seharusnya sudah menjadi saksi bisu, malam pertama antara suami istri yang baru saja menikah itu.
Dikecupnya kening Ros yang sudah terbaring di atas ranjang dengan penuh kelembutan.
Ros tak bergeming sedikitpun, mungkin ia terlalu lelah dengan kejadian yang sudah menimpanya, ditambah lagi dengan perjalanan yang sangat menguras waktu , dari tempat kejadian menuju ke hotel.
Sungguh sangat melelahkan.
Rendy berjalan kembali, menghampiri kedua ibu yang sudah ingin mengetahui kemanakah mereka pergi? apa yang sudah terjadi? dan masih banyak lagi pertanyaan yang sudah pasti ingin mereka tanyakan kepada Rendy.
Namun sebelum Rendy menghampiri kedua ibu itu, ia menatap tajam, tatapan mematikan yang ditujukan untuk ketiga sahabat Ros, yang berdiri mematung tanpa adanya suara sedikitpun yang keluar dari mulut mereka.
"Ikut aku sekarang!!!" perintah Rendy pada ketiga sahabat Ros.
Karena merasa takut, mereka pun langsung patuh pada apa yang baru saja Rendy ucapkan pada mereka, tanpa bantahan sedikitpun.
Kembali, kedua ibu itu menggunjing Rendy, mencercanya dengan berbagai pertanyaan yang tadi tak sempat terjawab.
Namun sebelum mereka berdua bertanya kembali, Rendy memegang kedua tangan mamah dan mamah mertuanya membawa mereka keluar dari dalam kamar.
Rendy tidak ingin jika istrinya yang sedang tertidur karena kelelahan terganggu dengan suara suara mereka.
__ADS_1
Pletakkk!
Mamah Ajeng memukul kepala Rendy cukup keras saat mereka sudah berada diluar, hingga mengeluarkan bunyi dari pukulannya itu.
"Aw... Ssssh..." Rendy meringis, sambil memegang kepalanya yang dipukul oleh mamah Ajeng.
Ingin rasanya ketiga sahabat Ros, Surya dan juga Rico yang melihat kejadian langka ini tertawa terbahak bahak, tapi jangankan untuk menertawakan Rendy yang terlihat bodoh, ketiga sahabat Ros itu tak berani untuk menatap wajah Rendy sama sekali, hingga mereka hanya mampu menahan tawa mereka dalam hati.
Berbeda dengan Surya dan Rico, mereka berdua masih bisa tertawa, menertawakan Rendy yang tampak bodoh dihadapan ibunya sendiri.
Walaupun tawa mereka tidak lepas dan masih tertahan, tapi setidaknya, mereka berdua masih bisa tertawa.
"Hei kalian berdua!" ucap Rendy pada Surya dan Rico, "aku bisa mendengar suara tawa kalian ya!" sambung Rendy.
Surya dan Rico langsung terdiam setelah mendengar ucapan Rendy.
"Cepat katakan!" ucap mamah Ajeng sambil memukul lengan anaknya itu, "dari mana saja kalian hah!" sambung mamah Ajeng lagi, masih terus memukul mukul anaknya.
"Benar Ren, katakan pada kami, dari mana saja kalian? mamah dan dan Bu Ajeng sangat khawatir pada kalian berdua," ucap mamah Maya.
"Bukan hanya mereka berdua jeng Maya," mamah Ajeng menyela, "tapi bertiga," sambung mamah Ajeng sambil menatap pada sosok Surya, dengan tatapan yang menurut Surya sangat menakutkan, membuat Surya langsung merinding seketika.
"Pergi jalan jalan kau bilang?" ucap mang Ajeng dengan nada tinggi.
"Jalan jalan kemana, sampai kalian tidak kembali ke hotel sampai seharian seperti ini!" tanya mamah Maya kini.
"Kau juga pasti terlibat kan Surya?" ucap mamah Ajeng, "kenapa kamu tidak menjawab panggilan telepon dari mamah? mamah sampai cemas pada kalian bertiga," sambung mang Ajeng.
"Maafkan kami mah, kami janji tidak aka. mengulanginya lagi," ucap Rendy yang disusul oleh Surya.
"Siapa dia?" tanya mamah Ajeng pada sosok pria disamping Surya.
"Dia Rico mah, salah satu anggota polisi juga," ucap Surya memperkenalkan.
Rico pun mulai menyapa dan menyalami kedua ibu itu dengan sopannya, hingga kedua ibu itu hampir melupakan apa yang sedang mereka lakukan pada Rendy dan Surya.
"Selamat malam nyonya?" sapa Rico sambil menyalami satu persatu wanita paruh baya dihadapannya.
"Eh, malam juga nak Rico!" jawab mamah Ajeng, diikuti mamah Maya.
__ADS_1
"Ini sudah malam nyonya, saya permisi untuk pulang, pasti kedua orang tua beserta adik dan kakak saya sudah khawatir pada saya," pamit Rico pada mamah Ajeng dan mamah Maya.
"Kenapa cepat sekali pulangnya nak Rico? ini sudah lewat tengah malam, nak Rico tidur di kamar hotel saja!" ucap mamah Ajeng menawari Rico.
"Benar itu nak Rico!" ucap mamah Maya menyetujui ajakan Bu Ajeng.
"Tidak usah nyonya, saya pulang saja, permisi?" tolak Rico pada kedua wanita paruh baya itu.
"Baiklah jika kamu menolaknya, saya tidak bisa memaksa," ucap mamah Ajeng kemudian.
Rico pun pergi setelah berpamitan, mengendarai mobilnya untuk segera pulang ke rumahnya.
Karena malam semakin larut, bahkan sudah lewat tengah malam, kedua wanita paruh baya itu menyudahi dulu untuk mengintrogasi Rendy dan Surya.
Mereka kembali ke kamar masing-masing.
Ketiga sahabat Ros yang sedari tadi merasa takut pun, kini mulai merasa lega dengan malam ini, mereka tidak akan diancam lagi oleh Rendy, karena mereka tidak membuka mulut mereka pada Bu Ajeng dan mamah Maya.
"Aku lega sekali," ucap Mila pada Nina dan Anto.
"Aku juga," ucap Nina.
"Anto juga mba Mil, mba Nin," ucap Anto ikut bicara.
"Harusnya kalian membuka mulut kalian pada mamah Ajeng da mertua Rendy, pasti akan sangat menyenangkan jika mereka berdua tahu kejadian yang sebenarnya," ucap Surya berniat bercanda.
Namun ketiga orang yang baru saja merasa lega itu menganggap ucapan Surya serius, mungkin ini efek dari ketakutan mereka pada ancaman Rendy yang membuat mereka terngiang-ngiang.
"Apa maksudmu?" tanya Mila pada Surya.
"Ternyata mas ganteng Surya, gak jauh beda ya sama mas ganteng Rendy?" ucap Anto sambil mendelik, membuat Surya ingin sekali tertawa, namun Surya menahannya.
"Iya, adik kakak gak ada bedanya," u ap Nina menimpali, semakin membuat Surya ingin tertawa, namun ia masih bisa menahannya hingga Surya berlalu tanpa berkata sepatah katapun lagi setelah mereka bertiga yang sudah merasa kesal pada Surya.
"Benar benar ya orang itu?" ucap Mila mengomel setelah kepergian Surya, " tidak adik tidak kakak, sama saja kelakuannya," sambung Mila.
"Sama sama suka membuat orang kesal," ucap Nina dan Anto yang kompak.
"Benar, dia itu sebenarnya jenderal polisi atau jenderal nyinyir sih?" ucap Mila yang mengundang gelak tawa dari kedua orang yang mendengar ucapannya.
__ADS_1
Bersambung...