
"Kau masih belum menjawab pertanyaan ku kak! Siapa wanita ini?" rasa cemburunya mulai menghampiri Ros, wajahnya memerah, hatinya memanas, melihat sosok wanita cantik yang seksi nan menggoda, tangah berdiri tepat di belakang sang suami.
"Dia ini- -
Lagi dan lagi, Ros memotong ucapan Rendy yang masih belum selesai, "Dia siapa?" Ros sudah tak tahan, Rendy terus menjawab dengan nada bicara yang lambat, membuat Ros sangat kesal dan ingin sekali meneriaki Rendy, jika saja ini bukan di tempat umum.
"Nyonya, bagaimana Tuan akan menjelaskan jika nyonya terus menerus memotong ucapan Tuan!" Herman geleng-geleng kepala melihat tingkah Ros yang kekanakan saat ia sedang cemburu.
"Sayang, sayang! kenapa kau terus memotong ucapan ku? aku bahkan belum selesai menjelaskan dia ini siapa kepadamu! tapi kamu terus saja- -
"Terus saja apa? Kau tidak berniat menjelaskan siapa dia kepadaku bukan?" Ros marah, ia kesal, teramat sangat. Bagaimana mungkin suaminya sendiri tega membohongi dirinya sendiri seperti ini.
"Maaf nyonya!" suara lembut keluar dari mulut wanita cantik itu dengan begitu merdunya. Membuat Ros semakin menekuk wajahnya karena kesal dan. Apalagi saat mendengar wanita itu bersuara, rasanya Ros ingin segera membanting Rendy ke arena tinju, untuk ia hajar habis-habisan.
"Lihat wajah istriku! dia begitu menggemaskan saat sedang cemburu seperti ini! Aku sangat menikmatinya Ros, kau benar benar menggemaskan!" batin Rendy yang terkekeh dalam hati.
"Apa-apaan Ros ini! kenapa dia terlihat begitu bodoh saat cemburu?" Nina mengernyitkan keningnya terheran-heran dengan sikap Ros.
"Maaf karena membuat anda salah paham nyonya. Saya hanya sekretarisnya tuan Rendy, buka selingkuhan, apalagi simpanannya!" sekretaris wanita cantik itu menjelaskan sambil tersenyum manis, membuat Herman dan Anto tersenyum dan terbawa suasana tingkah wanita di hadapan mereka, seolah-olah keduanya sedang terhipnotis dengan pemandangan indah nan menyejukkan mata itu.
"Sek-sekretaris?" Ros kaget, ia membulatkan matanya dengan ekspresi wajah yang begitu bodoh. Wajahnya mulai memerah, dan hatinya menciut malu saat mendengar kata sekretaris dari mulut wanita cantik itu.
"Benar nyonya, saya sekretarisnya tuan Rendy. Saya Eva Melia!" sekretaris bernama Eva Melia itu mengulurkan tangannya pada Ros, yang kini tengah bengong dengan raut wajah yang masih sama. Terlihat bodoh!
Cukup lama Ros terdiam, dengan suasana hati yang berseliweran ke sana kemari. Antara kesal, marah, cemburu, dan bertambah menjadi malu! Semua itu bergabung menjadi satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh di lubuk hati Ros yang terdalam.
__ADS_1
"Apa-apaan aku ini! aku bahkan tidak sanggup menatap wajah suamiku sendiri! Bodoh! aku memang bodoh! bisa-bisanya aku cemburu pada sekretaris suamiku sendiri!" Ros mengakui kebodohan sendiri dalam hati. Ia menatap Eva dengan ekspresi wajah yang menunjukan sent keterpaksaan.
"Bagaimana ini? aku malu sekali menatap wajahnya! aku memag benar-benar bodoh!" Ros terus menggerutu dalam hati, sambil mencoba memberanikan diri mengulurkan tangannya, membalas uluran tangan Eva yang sedari tadi menunggunya membalas uluran tersebut.
Eva tersenyum, saat Ros membalas uluran tangannya. Cukup lama mereka berdua bersalaman, Ros dan Eva akhirnya melepaskan uluran tangan mereka masing-masing bedengan perlahan.
Rasa canggung mulai menghampiri Ros, ia menoleh perlahan kepada suaminya, berharap jika Rendy tidak akan mengolok-olok nya setelah ini.
*Satu!
Dua!
Tiga*!
Ros menoleh ke arah Rendy dengan mata yang menyipit. Ia terlalu malu untuk membuka matanya dan melihat ekspresi wajah Rendy setelah kejadian beberapa detik yang lalu. Dan..., benar saja, saat Ros membuka matanya dengan bola mata yang membulat sempurna, Rendy tengah tersenyum ke arahnya. Senyum antara senang, mengejek dan entah apa itu namanya, Ros juga tak tahu.
"Bagaimana sayang? apa penjelasan Eva sudah menjelaskan semuanya?" Rendy mengedipkan matanya nakal ke arah Ros, membuat Ros semakin malu di buatnya.
"Haha! sayang, tadi itu- - tadi itu aku hanya bercanda saja. Aku tidak benar-benar serius dengan ucapanku!" ujar Ros belepotan.
"Oh ya?" Rendy menunjukkan ekspresi wajah kecewa di hadapan Ros, "padahal, aku benar-benar mengharapkannya loh! Aku berharap kamu benar-benar cemburu kepadaku!" balas Rendy sambil menopang wajahnya dengan sebelah tangan yang ia simpan di mejanya.
Ros tidak menjawab, ia memutar matanya ke sana kemari, mencari cari lokasi yang aman untuk ia menyembunyikan ekspresi wajahnya yang merah akibat menahan malu.
"Hahaha!" seketika suasana di meja makan itu menjadi riuh karena gelak tawa dari para penghuni meja makan itu. Mereka semua menertawai kelakuan Ros yang terlihat seperti bocah saat ia merasa cemburu. Dan tawa itu juga menular pada sosok seorang yang Ros curigai yaitu Eva.
__ADS_1
Ros benar-benar malu, ia menyembunyikan wajahnya di balik tas kecil yang ia pegang sedari tadi.
"Beraninya kalian menertawakan istriku!" ujar Rendy dengan wajahnya yang ia usahakan untuk menahan tawanya.
"Tidak perlu membelaku kak! Kamu juga ingin menertawakan ku bukan? aku ini terlihat sangat bodoh kan? Aku tahu itu! Kamu lanjutkan saja tawa mu itu. Aku akan menerima nya dengan lapang dada!" ucapan Ros sama sekali tidak sejalan dengan ekspresi wajahnya yang ia tekuk. Membuat Rendy ingin sekali mencium wajah itu. Wajah yang menahan malu karena cemburu pada dirinya sendiri.
"Hei sayang! Aku akan menghajar orang-orang yang sudah berani menertawakan mu!" ujar Rendy dengan nada bicara yang serius, namun wajahnya mengatakan hal yang sebaliknya. Membuat seluruh penghuni di meja itu, bukannya takut, malah ingin menertawakan Ros kembali.
"Hei Mila! kau jangan coba-coba menertawakan istriku ya? Kalau kau berani, akan ku buang kau ke kutub Utara!"
gleg!
Mila menelan ludahnya dengan susah payah. Kali ini, nada bicara Rendy terdengar benar-benar serius.
"Kau juga Nina, Anto!" Rendy menunjuk satu persatu orang yang ia sebut namanya.
"Dih! dia kembali menjadi Rendy yang mengerikan dan menyebalkan!" Nina menahan kesalnya kepada Rendy. Ia menatap lekat Rendy dengan ekspresi wajah yang menyebalkan.
"Kenapa anda tidak menghajar dulu suami anda nyonya! aku sangat ingin melihatnya! hahaha, sepertinya akan sangat seru jika itu benar-benar terjadi!" batin Herman yang terkekeh.
"Terutama kau Herman!" Rendy menunjuk wajah Herman dengan tatapan mata yang tajam, membuat Herman kesulitan mengeluarkan karbondioksida dalam tubuhnya, untuk ia ganti dengan oksigen yang dibutuhkan untuk tubuhnya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan!"
Gleg!
__ADS_1
Bersambung...