
Brukkk!
Seorang wanita jatuh tersungkur hampir mengenai ujung meja.
Beruntung, wanita itu dapat menahannya, hingga kecelakaan itu dapat terhindarkan.
"Apa yang kau lakukan padaku? kenapa kau begitu kejam? bukankah kau mencintaiku?" lirih Kayla pada Doni.
"Mencintaimu? hemh!" Doni menyunggingkan sebelah bibirnya.
"Setelah semua yang Rendy dan Ros lakukan pada saudaraku!" ucap Doni sinis, membuat Kayla semakin tidak mengerti dengan jalan arah pembicaraan Doni.
Kayla mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Sudahlah, jangan banyak bicara!" ucap Doni yang kini menjambak rambut Kayla dengan begitu kasar, membuat Kayla meringis kesakitan.
"Ssssssh...,"
"A-apa yang kau lakukan?" ucap Kayla yang kini tengah memegangi tangan Doni yang mencengkram rambutnya.
"Lepaskan Don, sakit!!!" ucap Kayla lirih.
Doni pun melepaskan tangannya dari rambut Kayla, lalu menghempasnya hingga membentur meja.
"Ah, ssssh...," Kayla meringis, lalu menangis.
Apa yang sebenarnya terjadi pada suamiku itu?
kenapa Doni berubah dengan sedemikian rupa?
Apa aku mempunyai salah? Atau apa? aku merasa tidak mempunyai salah apa pun pada Doni.
Kayla berkeliaran dengan berbagai pikirannya.
Namun, tiba tiba saja, pikiran Kayla tertuju pada ucapan Doni yang beberapa kali menyebutkan,
'Salah kan saja pada kakak dan kakak ipar sialan mu itu,'
'Setelah semua yang Ros dan Rendy lakukan pada saudaraku?'
Semua ucapan Doni melintas di pikiran dan benaknya.
Ada tanda tanya besar dalam setiap ucapan Doni.
Apa maksud dari semua ucapan Doni?
--
Brukkk!
Surya memukul meja didepannya dengan cukup keras. menimbulkan suara hingga menyisakan luka memar di buku buku tangan Surya.
"Cepat katakan! siapa kau sebenarnya?" ucap Surya sambil mencengkram kerah baju seorang pria paruh baya yang masih belum diketahui identitasnya itu.
__ADS_1
Pria paruh baya itu nampak menyunggingkan sebelah bibirnya ke atas, di sertai senyum mengejek pada Surya, membuat Surya naik pitam.
"Apa kau sudah menyerah mencari identitas ku? dimana sikap sombong dan so percaya dirimu yang kau tunjukkan padaku waktu itu?" ucap pria paruh baya itu sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja, tepat dihadapan Surya berada.
Surya menatap sinis ke arah pria paruh baya itu, sesekali melirik kaki yang saling bertumpu dihadapannya.
"Kita lihat saja pak tua! siapa yang akan menang diantara kita!" ucap Surya sinis.
Pria paruh baya itu masih dengan gayanya yang santai, pembawaan tenang dan datar, nyaris tanpa ekspresi.
Drettt... drettt... drettt..
Getaran di handphone Surya mengalihkan percakapannya dengan pria paruh baya itu.
Surya berlalu pergi, menjauhi pria paruh baya yang sudah membuatnya kerepotan mencari tahu siapa identitasnya.
"Hallo?"
"Hallo Surya, apa kamu sedang sibuk?" ucap mama Ajeng di sebrang sana.
"Sedikit mah, ada apa? Surya ajakan selalu menyempatkan waktu untuk mamah," jawab Surya.
???
"Apa? mamah tenang ya? Surya akan mencari tahu!" ucap Surya yang langsung menyudahi sambungan telponnya dengan mamah Ajeng.
Tut... Tut... Tut...
Sambung telpon terputus.
Tanpa Surya sadari, ternyata seseorang sedang menguping pembicaraan nya ditelpon dari arah yang cukup dekat.
Surya kembali menghampiri pria paruh baya itu, menatapnya lekat lekat, dengan penuh tanda tanya dan curiga.
Rasa penasaran Surya pada sosok pria paruh baya itu semakin memuncak kala Surya kesulitan untuk mencari semua identitas aslinya.
"Kau sungguh merepotkan ku pak tua!" ujar Surya yang kini kembali duduk berhadapan dengan pria paruh baya itu.
"Itulah keahlian ku- - pria paruh baya itu menunjukkan senyum tipisnya - -aku suka merepotkan semua orang," ucapnya benar benar membuat Surya geram.
Surya meninggalkan pria paruh baya itu tanpa berkata apa apa lagi.
Namun banyak begitu banyak tanda tanya yang berkeliaran dibenaknya untuk pria paruh baya itu.
...***...
"Ada apa mah?" tanya Surya setelah pulang dari kantor dan menemui Bu Ajeng di rumahnya.
"Surya?" ucap Bu Ajeng saat kedatangan Surya.
Bu Ajeng memeluk sekilas tubuh Surya seperti ibu kepada anaknya sendiri.
"Maafkan mamah Surya, apa mama merepotkan mu?" tanya Ajeng.
__ADS_1
"Tidak sama sekali mah!" jawab Surya.
Ajeng membawa Surya yang baru saja datang untuk duduk di meja makan yang sudah tersedia berbagai hidangan.
"Kamu sudah makan?" tanya Ajeng. Surya pun menggelengkan kepalanya dan melempar senyum.
"Syukurlah, karena mamah masak banyak sekali malam ini!" ucap Ajeng sambil mengambil piring dan mengambilkan nasi dan lauk untuk Surya.
"Terima kasih mah," ucap Surya setelah menerima piring yang sudah diisi nasi dan berbagai lauk diatasnya.
"Apa yang ingin mama katakan padaku?" ucap Surya yang mulai bertanya disela sela makanya.
"Sudah beberapa hari ini, setelah kembalinya Kayla dari hotel, Kayla tidak pernah ada kabar, mamah sangat khawatir pada adikmu itu," ucap mamah Ajeng yang menghentikan aktivitasnya mengambil lauk.
Surya mengernyit, "apa mamah sudah menghubungi rumahnya? atau Doni, suami Kayla?" tanya Surya kemudian.
"Sudah, tapi tidak bisa," jawab Ajeng.
"Akan Surya cari tahu secepat-cepatnya," ujar Surya membuat Ajeng merasa lebih tenang.
"Terima kasih Surya, mamah selalu merepotkan mu," ucap Ajeng, membuat Surya menghentikan laju makannya.
"Jangan bicara seperti itu mah, apa yang mamah lakukan untuk Surya tidak ada apa apanya dengan apa yang Surya lakukan saat ini," ujar Surya membuatnya Ajeng terharu.
Anak yang dahulu diselamatkan oleh suaminya, kini berbuat baik dan membalas kebaikan suaminya berkali kali lipat.
Surya dan Ajeng pun melanjutkan makan malam mereka dengan penuh rasa haru.
Masih di malam yang sama, tempat yang berbeda. Dua insan yang saling mencintai, sedang memadu kasih di hangatnya malam penuh bintang. Dengan rembulan yang menjadi sinar penyerangnya.
Makan malam romantis ditepi pantai, gemerlap bulan dan bintang, angin yang menghembus menyeruak ke seluruh tubuh, menerpa rambut indah nan berkilau.
Rendy menatap lekat lekat wajah sang istri, dengan tangan yang menjadi penopang dagu nya.
Menatap Ros tanpa berkedip.
"Kenapa semakin lama, istriku ini semakin cantik saja!" ujar Rendy yang terus menerus memperhatikan gerak gerik Ros yang sedang menyantap makan malam nya.
"Terima kasih atas pujiannya- - ucap Ros seraya tersenyum, menatap balik kearah Rendy - -Kak Rendy memang beruntung menikahi wanita cantik seperti diriku," ucap Ros yang kini kembali menyantap makanannya.
"Aku memang beruntung, betuntung karena telah menjadi suamimu," ujar Rendy membuat Ros mengembangkan senyumnya.
"Tidak mau menyuapi suamimu?" ucap Rendy menggoda Ros.
"Bukankah kakak bisa makan sendiri?" jawab Ros tak kalah menggoda Rendy.
"Kenapa tidak mau menyuapi ku?" tanya Rendy sedikit kecewa.
"Karena kakak bisa makan sendiri dan mempunyai tangan kekar yang sedang menganggur," jawab Ros asal.
Rendy bingung harus berkata apa lagi, ucapan Ros barusan terdengar seperti penolakan, namun juga pujian yang membuat Rendy ingin mendekati Ros.
Rendy pun benar benar mendekati Ros, meletakkan dagunya di bahu Ros, dan mulai membisikkan sesuatu yang membuat Ros membulatkan matanya.
__ADS_1
Bersambung...