
Pagi menjelang. Ros yang beberapa hari ini selalu mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, kini kehidupan-nya kembali lagi seperti semula. Semuanya serba di layani tanpa terkecuali. Tinggal memerintah, dan semua yang ia minta akan segera terlaksana. Tapi, entah mengapa, setelah kejadian itu, Ros menjadi nyaman mengerjakan segalanya sendiri. Walaupun Rendy selalu melarangnya melakukan segala sesuatu sendiri, karena ada si Mbok, bibi dan pelayanan-pelayanan lainnya di rumah ini.
"Mau ke mana sayang?" tanya Rendy setelah ia keluar dari kamar mandi.
"Menyiapkan sarapan untuk suamiku," jawab Ros hangat.
Rendy mendekat.
"Kenapa harus repot-repot sayang? Bukankah di sini ada si Mbok, bibi, juga pelayan lainnya? Tidak perlulah kamu bersusah-susah menyiapkan aku sarapan. Temani saja suamimu ini memakai pakaian," ucap Rendy tak kalah lembut dari jawaban Ros sebelumnya.
"Aku akan membantumu memakai pakaian. Tapi, aku juga akan melakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Yaitu, memenuhi kebutuhan perutnya dengan makanan yang di hidangkan dengan tangan istri sendiri," balas Ros yang mulai membantu Rendy memasangkan dadi berwarna biru navy.
"Aku tidak mau kamu kelelahan sayang. Biarkan para pelayan itu melakukan tugasnya sebagai seorang pembantu di rumah ini," kata Rendy masih membujuk Ros untuk berdiam diri saja. Tidak usah mengerjakan segalanya sendiri.
Ros menggeleng. "Hanya membuat sarapan. Tidak lebih!" kekeh Ros dengan sedikit senyum yang ia tunjukkan pada Rendy, bahwa ia baik-baik saja.
Rendy menghela napas panjang. Ros memang sudah untuk di cegah apalagi di larang ini dan itu, "baiklah!" jawab Rendy akhirnya, pasrah juga dia.
"Mau aku buatkan apa?" Ros tersenyum senang. Lalu, bertanya pada Rendy.
"Apa saja. Asalkan kamu yang membuatnya," jawab Rendy sambil mengusap lembut pipi Ros.
"Kalau begitu... Ayo!" ajak Ros setelah pekerjaan pertamanya pagi ini selesai.
Rendy mengangguk. Tangan mereka saling bergandengan saat keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan.
Di meja makan, ternyata sudah tersedia berbagai macam makanan untuk sarapan. Niat Ros untuk membuatkan Rendy sarapan, gagal. Karena semuanya sudah terhidang. Dari mulai makanan berat hingga ringan, semuanya sudah tersedia. Tersusun cantik dan siap santap, juga masih hangat.
"Sepertinya, aku tidak jadi membuat sarapannya, Kak," kata Ros setelah memandang semua hidangan di atas meja.
"Ya sudah. Kamu siapkan saja apa yang sudah ada di depan mata, untukku. Tapi ingat, menyiapkannya... harus dengan cinta!" Rendy mengedipkan sebelah matanya pada Ros. Membuat Ros tersenyum walau gagal melaksanakan niatnya membuat sarapan.
"Baiklah. Silakan duduk suamiku. Biar istrimu ini yang menghidangkan sarapannya di piringmu," balas Ros sambil membalikkan piring yang sudah berada di depan Rendy.
"Mau ku ambilkan apa?" tanya Ros.
__ADS_1
"Apa saja," jawab Rendy sambil menatap tangan Ros yang cekatan mengambil sarapan untuknya.
Satu potong sandwich dan sosis bakar, menjadi pilihan Ros untuk sarapan Rendy pagi ini.
"Apa cukup?" tanya Ros setelah mengambilkan sarapan untuk Rendy.
"Sudah dulu sayang. Terima kasih," jawab Rendy, yang langsung memakan apa yang Ros berikan di atas piring.
"Sayang?" panggil Rendy setelah sarapan yang di berikan Ros habis tak tersisa.
"Ya?" jawab Ros sambil mengunyah makanannya.
"Bisa ambilkan aku yang manis-manis?" tanya-nya dengan wajah memohon.
"Tentu saja! Mau aku ambilkan apa?" jawab Ros semangat, sembari bertanya apa yang Rendy inginkan.
"Roti bakar selai cokelat dan nanas." jawab Rendy cepat. Rendy bahkan sudah menatap roti bakar dengan selai cokelat dan nanas yang begitu menggoda lidahnya untuk segera di nikmati kenikmatannya, pagi ini.
Dengan cepat, Ros mengambil apa yang Rendy inginkan. Menyajikannya dengan penuh kasih dan sayang.
"Terima kasih Sayang," ucap Rendy yang entah sudah berapa kali ia mengucapkannya. Karena sedari tadi, ia terus mengulang-ulang kata tersebut.
...***...
"Aku berangkat dulu sayang." Rendy berpamitan pada Ros, setelah keduanya selesai sarapan.
Tas kerja di tangan Ros, ia berikan pada Rendy. Lalu, mencium lembut punggung tangan Rendy cukup lama.
"Hati-hati," balas Ros.
"Setelah mengantarkan aku ke kantor, Herman akan mengantarkan kamu ke rumah sakit. Ingat, jangan pergi sendirian, walaupun kamu bisa mengemudi sendiri. Dan walaupun di sini banyak mobil. Aku tidak mau kamu kenapa-napa. Kamu paham kan sayang?" Tutur Rendy. Ros langsung menganggukkan kepalanya paham. Ros yakin, apa yang Rendy lakukan untuknya, sudah pasti yang terbaik untuknya pula.
"Terima kasih karena menjadi istri yang penurut pada suami. Terima kasih juga karena sudah mau mendengarkan perkataan suami-mu ini."
"Sepertinya, sudah banyak kata terima kasih yang kamu ucapkan pagi ini, Kak!" Ros terkekeh dengan ucapannya sendiri. Tapi, apa yang ia ucapkan pada Rendy, seratus persen benar, dan itu adalah fakta.
__ADS_1
"Sungguh?" tanya Rendy yang ikut terkekeh dengan apa yang Ros katakan padanya barusan.
'Heem!'
Ros menganggukkan kepalanya pasti.
"Siapkan saja kuping kamu untuk selalu mendengarkan aku mengucapkan kata terima kasih sayang. Karena sebanyak apa pun aku berterima kasih, rasanya tidak akan pernah cukup dengan pengorbanan serta ketulusan yang telah kamu berikan untukku," kata Rendy yang begitu menyentuh hati Ros. Wanita itu langsung memeluk Rendy dengan erat.
Tak mau kalah, Rendy pun membalas pelukan Ros tak kalah eratnya, hingga Ros merasakan sesak akibat pelukan Rendy.
"Sesak Kak. Dada-ku sesak," ucap Ros memberitahu. Rendy langsung melonggarkan sedikit pelukannya dari Ros.
"Ya sudah. Kalau begitu, aku berangkat dulu sayang. Ingat semua yang aku katakan." Rendy menekankan juga mengingatkan lagi perkataannya pada Ros, yang langsung di balas dengan anggukan cepat dari kepala Ros.
"Aku akan selalu mengingatnya kak. Pergilah, tak usah kamu khawatirkan aku. Banyak pelayan di sini. Ada satpam juga di depan. Aku pasti aman," kata Ros membuat Rendy tenang.
"Baiklah, aku berangkat!"
"Hati-hati."
"Tentu!"
"Aku berangkat ya?" kata Rendy lagi. Berpamitan kembali, entah sudah beberapa kali, pria itu terus menerus berpamitan pada Ros. Namun, tak kunjung pergi juga.
"Hati-hati."
"Aku pergi ya sayang?" katanya lagi,asih tetap di sini. Berdiam diri di depan sang y.
"Hati-hati sayang." Ros membalas ucapan pamit Rendy.
"Jangan lupa ucapanku!"
"Iya, iya, aku ingat."
"Aku pergi ya?"
__ADS_1
"Iya sayang? Kapan kamu akan pergi, jika kamu terus berpamitan seperti ini. Tapi tidak pergi-pergi juga dari sini!"
Bersambung...