
Malam yang panjang membawa senyuman bagi Rendy. Bagaimana tidak, sudah beberapa hari ini, Ros tidak mengizinkan dirinya memberi nafkah batin. Tapi pagi ini, Rendy terbangun dengan suasana hati yang berbunga.
Aktivitas keramas pagi, selalu menjadi favoritnya. Terbangun sebelum ayam berkokok, tak membuat matanya terasa berat untuk terbuka dan terjaga. Apalagi saat menengok ke kiri. Dirinya langsung di suguhi pemandangan sang bidadari hati.m yang selalu membuah harinya berwarna, bagai di taburi bunga
Ros! Satu panggilan nama itu, selalu membuat hati Rendy bergetar. Wanita yang beberapa tahun yang lalu ia kagumi. Cinta yang dulu selalu ia pendam dalam sikap yang cuek dan seakan tak peduli. Kini, telah Rendy miliki seutuhnya.
"Cantiknya istriku..." gumam Rendy pelan. Ia membelai lembut pipi Ros, mengecup keningnya sebelum dirinya melangkah ke kamar mandi.
"Ah, sial! Aku lupa, ini bukan di rumah mewahku," gumam Rendy lagi, saat matanya menyusuri setiap sudut ruangan.
Ada yang berbeda. Sempit dan pengap!
Rendy lupa, jika saat ini, ia dan Ros sedang berada di rumah kontrakan yang baru. Pantas saja, ruangannya terasa sangat aneh. Pikir Rendy dalam hati. Ternyata, ini bukan rumahnya.
...***...
"Pagi sayang?" sapa Rendy saat sudah keluar dari kamar mandi, dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dirinya mendapati Ros sudah terbangun dari tidur. Namun, matanya terlihat masih enggan untuk terbuka. Ros juga masih berada dalam selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Kamu udah mandi?" tanya Ros dengan mata yang masih terasa berat untuk ia buka.
"Sudah..." jawab Rendy pelan, seraya berjalan mendekati Ros.
Muah!
Satu kecupan mendarat lagi di pipi Ros. Wanita itu tersenyum tipis dengan mata yang masih sulit untuk ia terbuka.
"Tidurlah lagi, jika kamu masih mengantuk sayang. Ini masih jam setengah empat pagi," kata Rendy lembut.
"Tapi, kenapa kamu sudah rapi Kak? Kamu mau kemana?" tanya Ros yang mulai membuka mata, dan melihat ke arah suaminya yang sudah terlihat tampan dan rapi.
"Rapi saja atau tampan?" tanya Rendy. Sebelah matanya ia kedipkan, membuat Ros tersenyum tipis.
"Ish! Tentu saja tampan. Rapi dan tampan!" jawab Ros membuat Rendy tergelak dengan kejujuran sang istri.
"Pagi ini aku sibuk sayang," ucap Rendy.
"Sibuk?" tanya Ros keheranan.
"Yap!" balas Rendy tanpa jawaban.
"Sibuk mau kemana?" tanya Ros.
"Sayang... Bukankah saat ini aku bukan lagi Rendy seorang Bos muda?" ucap Rendy sambil melempar pertanyaan.
"Ya... Terus?" tanya Ros belum paham. Dirinya sendiri yang mengajak Rendy untuk menjalani kehidupan baru. Tapi, dirinya juga yang lupa akan hal itu.
"Jadi, aku harus mencari pekerjaan lah. Apa lagi?" jawab Rendy, masih dengan lemparan pertanyaan.
"Ah, aku lupa Kak. Maafkan aku," kata Ros sambil menatap Rendy lekat.
__ADS_1
"Tidak apa sayang. Kalau kamu mau mandi sekarang, aku sudah merebus air hangat untukmu," kata Rendy, membuat Ros kembali tersenyum. Betapa beruntungnya ia, mendapatkan suami seperti Rendy. Di saat para suami lain meminta untuk di layani istrinya, Rendy malah sebaliknya. Ia melayani Ros dengan sepenuh hati.
...***...
"Satu piring mie instan dengan toping istimewa, sudah selesai Tuan Puteri," ucap Rendy sambil menghidangkan semangkuk mie instan dengan toping telur setengah matang untuk Ros.
"Kamu yang masak ini semua?" tanya Ros dengan mata berbinar.
"Tentu, memangnya siapa lagi yang ada di sini? Suamimu ini bukan hanya tampan dan memesona. Tapi juga pandai dalam segala hal, termasuk menyenangkan hati istrinya," ujar Rendy yang membanggakan dirinya sendiri.
"Aku tau itu..." balas Ros sambil memandang mangkok berisi mie instan di dalamnya.
"Kenapa hanya di pandangi saja? Ayo sayang, di makan. Kamu pasti lapar karena semalam aku mengerjaimu habis-habisan," kata Rendy seraya tergelak.
Slurrrp...
Satu sendok mie yang masih mengepul masuk ke dalam mulut Ros. Wajah wanita itu langsung berubah. Ada yang aneh!
"Kenapa sayang? Apa ada yang aneh? Apa mie buatanku terlalu enak?" tanya Rendy dengan keingintahuannya.
"Ini..."
"Ini apa sayang?" tanya Rendy semakin penasaran.
"Mie nya..."
"Iya, mie nya kenapa? Terlalu enak?" tanya Rendy dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Duuarrr!
Kepercayaan diri Rendy yang tinggi, langsung jatuh seketika. Bagaimana mungkin, mie yang di buat dengan cinta itu tidak ada rasanya sama sekali? Rendy bingung.
"Tidak mungkin sayang! Bagaimana bisa?" ucap Rendy sambil mengambil mangkuk di depan Ros dan mencicipi rasanya.
Slurp!
Sedikit kuah, Rendy coba.
Benar saja! Kuahnya itu tidak berasa sama sekali. Hanya rasa hambar dan panas di lidah saja yang terasa.
Ros tertawa pelan. Rendy cengengesan.
"Maaf sayang, sepertinya aku lupa," ujar Rendy sambil berlalu dengan membawa mangkuk mie milik Ros yang lupa ia berikan bumbu.
"Ini sayang. Aku yakin, yang sekarang ini, pasti tidak akan mengecewakanmu," ujar Rendy yang menemukan kepercayaan dirinya.
"Terima kasih suamiku," Ros menerima mangkuk mie itu dengan senang hati.
"Sama-sama istriku," jawab Rendy sambil meneruskan memakan mie instan miliknya.
__ADS_1
...***...
"Sayang, aku berangkat ya?" ucap Rendy setelah acara sarapan selesai.
Ros yang sedang berada di dapur untuk membereskan bekas sarapan mereka, langsung keluar menemui Rendy.
Dilihatnya Rendy dari atas sampai bawah. Wajahnya tampan. Dandanannya rapi, tubuhnya mengeluarkan aroma wangi. Ros menyipitkan mata. Rendy terheran.
"Ada yang salah sayang?" tanya Rendy, karena Ros menatapnya seperti mengintrogasi.
"Tidak ada. Hanya saja..."
"Hanya saja aku terlalu tampan untuk pergi mencari pekerjaan?" ucap Rendy memotong ucapan Ros yang belum selesai.
"Ish, tau saja!"
Hahaha!
Rendy tertawa.
"Tenang saja sayang. Walaupun aku ini tampan, dan banyak wanita yang mengidamkan. Tapi aku akan selalu mengingat satu hal."
"Apa itu?"
"Aku sudah memilikimu. Memiliki bidadari yang setiap hari selalu menemani langkahku, kemanapun aku pergi," ujar Rendy.
...***...
"Bawa dia kemari?" suruh Rendy pada salah satu anak buahnya yang setia.
"Baik Tuan!" tanpa basa-basi, anak buah Rendy langsung menjalankan apa yang Rendy perintahkan.
'Bruk!'
Seseorang yang anak buah Rendy bawa, jatuh tersungkur, tepat di depan kursi yang Rendy duduki.
Tangannya terikat. Luka lebam di hampir seluruh wajahnya juga terlihat. Bahkan, darah sudah mengering di bawah bibirnya.
"Kurang aj*r! Siapa kau, berani-beraninya memperdaya seorang Rendy? Kau tidak tau siapa aku?" tanya Rendy geram. Sebelah tangannya menjambak pria yang terikat tangannya itu.
'Cih!'
Pria di depan Rendy berdecih. Sebelah bibirnya tersungging, memandang penuh benci pada Rendy.
"Katakan! Siapa kau? Dan siapa yang menyuruhmu?" tanya Rendy. menjambak lebih kencang lagi dari sebelumnya.
"Siapa aku? Apa pedulimu?" ujar pria di depan Rendy.
"Apa peduliku?" Rendy balik bertanya, "aku sama sekali tidak peduli denganmu! Yang ingin aku tau, siapa kau? Ada masalah apa kau denganku Doni?" tanya Rendy dengan nada dingin.
__ADS_1
Bersambung...