
Seperti biasa, Argana kembali beraktivitas berangkat kuliah. Ia lalu menuruni anak tangga melihat Bagas berada di dalam rumahnya.
"Bagas! Ada apa kamu kemari? Kenapa kamu tidak memberitahu ku?" tanyanya.
kemudian Bagas tersenyum bangkit berdiri dari atas sofa, lalu merangkul punggung Argana membuat ia mengernyitkan dahi merasa heran.
"Biasa ajah bro. Jangan melihat ku seperti itu, hari ini aku hanya merasa senang saja. Akhirnya aku berhasil kencan dengannya?".
"Siapa? Wanita itu?".
"Mmmmm.. Wah, dia benar-benar tipe ideal aku banget. Jadi hari ini kamu naik mobil ku saja, ok".
Kedua orang itu langsung memasuki mobil, setelah itu Bagas menjalankan mobilnya meninggalkan rumah kebesaran milik keluarga Argana menuju kampus mereka berdua menempuh pendidikan.
Dan hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit, kini mobil sport Bagas telah tiba di parkiran. Dengan penampilan cool Bagas keluar dari dalam mobil begitu juga dengan Argana. Beberapa mata pun langsung tertuju kepada mereka, namun kedua orang itu seperti biasa, mereka tidak peduli meskipun mereka selalu dikagumi di kampus sana.
"Ooo.. Tunggu. Nita?" panggil Bagas melihat gadis cantik itu berjalan kearah mereka. "Sedang apa kamu disini Nita?".
Nita tersenyum, "Bagas. Bisakah aku bicara berdua dengan Argana? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya".
"Berdua?".
"Mmmmm".
"Baiklah. Kalau gitu aku duluan Ga" angguk Bagas menepuk lengan Argana dengan senyuman seperti biasa yang sudah Argana tahu maksud dari senyuman Bagas.
Kemudian Argana menatap Nita dengan tatapan datar tanpa ekspresi. "Ada apa kamu memanggil saya?" tanyanya.
"Arga. Soal semalam aku minta maaf yah. Aku tidak bermaksud membuat kamu merasa tidak nyaman, dan sebenarnya aku mengatakan itu semua benar-benar tulus dari hati aku Ga. Cuman aku tidak berniat kamu akan membalas perasaan aku" jawab Nita menatapnya.
"Tolong yah jangan menghindari ku Ga. Kalau kamu tidak bisa menerima ku sebagai kekasih mu, setidaknya terimalah aku sebagai sahabat kamu atau teman dekat kamu gitu. Bisakah aku mengharapkan itu dari mu Arga?".
Argana lalu menelan ludahnya dalam-dalam sembari membuang nafas, "Nita, apa alasan kamu menyukai ku? Apa karna aku tampan? Apa karna aku anak orang kaya? Apa karna aku pintar atau..
"Semuanya bukan karena alasan itu Ga. Aku menyukai mu ya karena aku tertarik kepada mu Ga meskipun kamu tidak pernah menganggap ku. Tidak salahkan aku menaruh perasaan untuk mu?".
Argana menyeringai menatapnya dengan tatapan benar-benar tidak suka, "Hentikan semua ini Nita. Jangan membuat ku semakin tidak menyukai mu, apapun bisa aku lakukan untuk menyakiti mu. Kamu ingat itu".
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan perasaan ku Arga? Ini jauh lebih menyakitkan" kedua mata Nita berkaca-kaca. "Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana sakitnya mencintai seseorang yang tidak bisa kita miliki" ujar Nita membuat Argana mengepal tangan sampai akar-akar tangannya terlihat jelas di kedua mata Nita.
"Kamu marah?".
"Ini peringatan terakhir untuk mu. Aku tidak suka melihat mu berada di sekitar ku, kalau kamu masih menunjukkan wajah ini dihadapan ku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk membuat mu meninggalkan kampus ini" setelah itu Argana meninggalkannya.
"Ais.." kesal Nita meremas pakaiannya. Ia tidak menyangka akan seperti ini, dari ancaman yang ia dengar keluar dari bibir Argana membuat nyali seketika menciut.
Dan sepertinya Argana benar-benar akan melakukan ancamannya jika Nita masih saja mengganggunya.
"Aarrkkhhh.. Bagaimana ini? Bukannya masalah ini selesai setelah satu malaman aku belajar merangkai kata-kata. Tapi nyatanya malah seperti ini. Ck".
Setelah itu Nita menuju kelasnya, ia masih punya waktu 3 menit sebelum dosen memasuki ruangan mereka. Namun bukan Nita namanya kalau tidak melirik kearah Argana yang sedang mendengarkan musik sambil bermain game di ponselnya.
"Astaga! Bagaimana bisa aku tidak tergila-gila dengannya? Tuhan, tidak bisakah engkau jodohkan aku dengan Argana? Pria yang berada di hadapan ku sana sangat menggoda ku" batin Nita.
Tidak lama kemudian dosen mereka memasuki ruangan, ia melihat semua mahasiswa di dalam kelas segera mengeluarkan materi pembelajaran mereka begitu juga dengan Argana dan Bagas.
"Pak Reza" panggil Nita mengangkat tangan.
"Pak, boleh Nita bertanya?".
"Apa itu?".
"Bapak kenapa sampai sekarang belum menikah? Padahal bapak sangat tampan dan juga berwibawa. Apa pak Reza pria yang pemilih sehingga sampai sekarang bapak belum bertemu dengan jodoh bapak sendiri?".
Deng!
Seketika pertanyaan itu membuat mereka semua terdiam menatap kearah Nita yang sudah berani kepada dosen sendiri.
"Astaga ada apa dengan wanita yang satu ini? Apa dia sudah gila mengajukan pertanyaan seperti itu kepada dosen sendiri" gumam mereka berbisik-bisik sana kemari.
"Iya, seperti Nita sudah gila. Berani sekali dia" sambung yang lainnya.
Sedangkan Bagas yang mendengarnya langsung tersenyum menatap Nita yang sudah sangat berani sekali, namun berbeda halnya dengan Argana, ia hanya menyeringai sambil berkata dalam hati. "Dasar wanita gila".
Kemudian Reza menyuruh mereka diam, lalu mendekati meja Nita. "Kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
Nita tersenyum, "Seseorang baru saja menolak ku pak. Dia mungkin berpikiran aku menyukainya karna dia tampan atau karna dia orang kaya. Apa suatu saat nanti dia juga akan seperti bapak?".
Mendengar jawaban Nita membuat Bagas langsung bisa menebak kepada siapa tujuan dari perkataannya. "Dasar wanita!" gumamnya melirik Argana tidak perduli. "Apa kamu benar-benar menolak ya Ga?".
"Hhhmmss.. Wanita itu terlalu bising" jawab Argana meninggalkan kelas. "Saya permisi dulu pak".
"Kamu mau kemana Arga?".
"Toilet pak" jawabnya.
Namun bukannya ke toilet, Argana kini sedang berada di atas gedung dengan sebatang rokok ditangan kanannya sambil menatap kearah lapangan melihat mahasiswa yang lainnya sedang bermain basket.
Ceklek!
"Aku sudah tau kalau kamu akan kemari" Bagas berjalan mendekatinya dengan dua botol minuman kaleng ditangannya. "Ini".
"Terima kasih" jawab Argana melihat Bagas menatap kearah lapangan, "Kenapa kamu kemari?".
"Aku tiba-tiba tidak berniat ingin belajar. Jadi apa benar kamu menolak Nita Ga?".
"Tidak bisakah kamu tidak membicarakan nama wanita itu?" Argana kembali kesal. "Aku tidak menyukainya. Satu wanita saja belum selesai aku pikirkan, jangan menambah beban pikiran lagi Gas".
"Aku tau itu Arga. Tapi tidak berniat kah kamu mengambil kesempatan ini?".
"Kesempatan apa?".
"Kamu bisa menggunakan Nita untuk pelarian kamu Ga. Aku yakin sampai sekarang om Dilan masih memantau kalian berdua dengan Reysa".
"Terus?".
"Gunakan saja Nita biar seolah-olah kamu sudah melupakan Reysa. Nah, entar om Dilan akan percaya kalau kamu dan Reysa tidak memiliki hubungan lagi dan pada akhirnya om Dilan akan membiarkan Reysa kembali ke Indonesia. Setelah itu, kamu bisa menjalani hubungan kembali dengannya. Bukankah kamu sangat mencintainya?".
Argana tersenyum, ia merasa apa yang baru saja Bagas ucapkan sangat bisa dipercayai.
"Bagaimana? apa kamu sudah memikirkannya?".
"Baiklah. Mari kita coba" jawab Argana.
__ADS_1