Dia Milikku

Dia Milikku
Tuduhan pada Vero


__ADS_3

"Kita cek cctv yang ada di rumah sakit ini." Surya melirik Rendy yang berdiri dengan gelisah. Gelisah dengan keadaan yang membuat ia harus kembali berpisah dengan sang kekasih hati, belahan jiwa. Maura Rosalinda.


Vero! Nama itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Sekuat apa pun ia tidak mencurigai Vero karena ketiadaan bukti yang menyatakan jika Vero memang terbukti bersalah. Tapi tetap saja, hati kecil juga perasaannya mengatakan, jika Vero memang dalang di balik ini semua. Apalagi sekarang ia tahu. Saat ini, Vero telah kembali. Kematiannya palsu, hanya untuk mengecoh Ros dan Rendy, serta orang-orang yang berada di pihak kedua-nya.


"Lakukan yang terbaik untuk mencari keberadaan Ros dan Herman kak. Aku tidak ingin kehilangan mereka berdua." Rendy menjawab lirih. Kenapa ia tidak terpikirkan sebelumnya, untuk mengecek cctv di rumah sakit ini. Lebih tepatnya, yang berada di depan ruangan Kayla. Karena di dalam ruangan, Rendy lupa tidak memasangnya untuk berjaga-jaga.


Sungguh sayang, seharusnya Rendy berpikir ke depan, untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Namun, ia benar-benar melupakan segalanya.


"Ikut aku!" perintah Surya yang langsung di sambut dengan anggukan kepala dari Rendy. Pria itu mengikuti langkah besar Surya menuju ruangan cctv, untuk melihat kejadian beberapa jam yang lalu.


"Itu Ros dan herman, juga Rico!" Rendy menunjuk layar monitor yang memperlihatkan Ros dan Herman serta Rico yang tengah berbincang-bincang entah membicarakan apa. Tapi dari gerak tubuhnya, sepertinya tidak ada pembicaraan yang terlalu serius.


Tak lama kemudian, Rico tampak berpamitan kepada Ros, ia berjalan ke arah kiri, dan menghilang dibalik dinding yang Rico lewati untuk berbalik arah.


Mau ke mana pria itu? Tanya Rendy dalam hati. Namun, ia teringat kembali, jika tadi, ia di temukan oleh beberapa orang di toilet pria dengan kondisi tak sadarkan diri. Rico juga sempat di rawat, karena obat bius yang membiusnya terlalu banyak, hingga pria itu harus di tangani oleh pihak kesehatan.


Sekitar sepuluh menit setelah kepergian Rico. Muncul dua perawat yang memakai jubah kesehatan, juga memakai masker yang sangat menutupi wajah mereka berdua.


Surya kesulitan mengenali mereka semua, apalagi Rendy. Pria itu menjambak kasar rambutnya sendiri dengan kedua tangan, saking geram-nya ia pada kedua perawat yang di yakini nya adalah perawat palsu tersebut.


"Sepertinya mereka berdua yang telah menculik Ros dan Herman, Ren!" kata Surya setelah melihat rekaman cctv yang memperlihatkan Ros dan Herman yang berjalan masuk ke dalam ruangan dengan di temani oleh kedua perawat palsu tersebut.


Hingga cukup lama. Ros, Herman dan juga perawat palsu itu tak kunjung keluar juga. Membuat Rendy dan Surya semakin curiga, jika mereka berdua adalah orang-orang yang sudah menculik Ros juga Herman.


"Aku yakin Kak, pasti mereka berdua yang menculik Ros juga Herman. Mereka berdua juga yang telah membuat Rico tak sadarkan diri!" ujar Rendy sambil menunjukkan wajah geram pada Surya.


"Tenang Ren," kata Surya menenangkan, "ada yang aneh dalam rekaman cctv ini," lanjutnya lagi dengan insting kecurigaan pada seseorang.

__ADS_1


"Aneh!" Rendy mengernyit heran, sebelah alisnya terangkat ke atas.


"Ya... Sepertinya rekaman ini terpotong, atau--"


"Sengaja di potong!" lanjut Rendy memotong ucapan Surya. Keduanya saling bertatapan mata, dan mengalihkan pandangan mereka pada seorang penjaga cctv yang saat ini berada di depan mereka.


Mata Rendy dan Surya liar, menatap petugas tersebut.


Mungkin kah, petugas itu juga ada hubungannya dengan penculikan ini? Jika ya... Petugas itu tidak akan lolos dari Rendy juga Surya.


Seperti tau apa yang Rendy katakan lewat gerakan mata. Surya langsung mencengkeram erat leher petugas itu dengan sebelah tangan. Sedangkan sebelah tangannya lagi ia pakai untuk memegang pistol, mengancam dengan meletakan pistol tersebut di belakang punggung petugas tersebut.


"Cepat katakan! Kau bersekongkol dengan kedua perawat palsu itu bukan?" tanya Surya dengan menekankan nada suaranya.


Petugas itu tampak mengangkat kedua tangan, lalu terlihat takut dengan apa yang Surya lakukan padanya.


"Kenapa diam saja? Cepat katakan!" tekan Surya lagi, agar petugas itu mau membuka mulutnya untuk berbicara.


"Jangan mengelak kau! Kau, pasti bekerja sama dengan mereka berdua kan?"


"Cepat katakan! Atau timah panas ini akan bergerak dan menembus kulit, daging serta tulangmu yang sudah hampir keropos itu!" ancaman Surya tidak main-main, sungguh membuat petugas itu bergidik ngeri dengan hanya mendengar ancamannya saja.


"Cepat katakan!" bentak Surya kembali.


"Ba-ba-baik pak!" jawab petugas itu akhirnya, walau dengan nada gelagapan ia menjawab.


...***...

__ADS_1


"Perasaan saya gak enak Jeng!" ucap Maya pada besannya.


Kedua besan itu saat ini tengah menikmati makan malam di rumah Maya, sebelum keduanya hendak pergi menjenguk Kayla.


"Saya juga. Tapi... kenapa ya? tidak biasanya perasaan kita tak enak seperti ini secara bersamaan," balas Ajeng dengan menatap wajah besannya yang masih cantik saja, walaupun usia mereka sudah sama-sama tak muda lagi.


"Apa... Hanya perasaan kita saja Jeng?" ucap Maya seraya bertanya.


"Bisa jadi Jeng. Tapi-- Ah, sebaiknya, kita habiskan dulu makanan kita. Lalu, kita pergi ke rumah sakit sekarang!" saran Ajeng yang langsung di setujui oleh Maya. Makanan yang tadinya terasa lezat di lidah, kini terasa hambar saja, setelah pikiran-pikiran negatif menyerang perasaan-nya.


"Sudah Jeng May, habiskan dulu makannya. Setelah itu, kita cari tahu. Kenapa perasaan kita bisa sama-sama tak enak seperti ini."


Ajeng mengakhiri percakapannya dengan Maya, dan langsung melanjutkan kembali suapan demi suapan yang masih banyak di dalam piring.


...***...


"Siapa sebenarnya kalian hah?" tanya Ros dengan sebuah bentakan.


Ros terbangun dengan keadaan tengkuk yang sakit, juga kepala yang pusing dan berkunang-kunang. Bagaimana tidak! Ros baru mengingat, jika beberapa jam yang lalu, ia baru saja mendapatkan sebuah pukulan di bagian belakang kepala. Tepatnya di bagian tengkuk, hingga Ros tak sadarkan diri kembali, setelah ia berhasil kabur. Lalu, tertangkap kembali.


"Siapa kami itu tidak penting cantik!" jawab Beno sambil menggoda Ros dengan mencubit dagu Ros yang bersih.


"Ish... Lepas!" bentak Ros yang tak terima dengan apa yang Beno lakukan padanya. Jangankan mencubit dagunya, menyentuh sedikit rambutnya saja, Ros tidak terima.


"Galak sekali wanita ini ya?" ucap teman Beno dengan wajah kesal mengarah ke arah Ros. Dirinya masih dendam dan marah dengan apa yang Ros lakukan padanya. Yaitu, menendang benda pusaka lahir miliknya, hingga ia meringis merasakan sakit.


Ros mendelik, ia menunjukkan wajah yang lebih kesal dan geram dari pada yang pria itu lakukan padanya.

__ADS_1


"Bersiaplah! Tuan kita akan segera datang. Jangan sampai wanita ini kabur lagi. Bisa habis kita nanti!" ujar Beno memberitahu temannya. Membuat Ros terdiam dan berpikir. Siapa orang di balik ini semua? Apakah tuduhannya benar? Bahwa Vero lah yang merencanakan semua ini untuknya juga Rendy. Karena selain dirinya, tidak ada lagi yang membenci Ros dan Rendy, melebihi kebencian Vero.


Bersambung...


__ADS_2