
"Sebenarnya...," Surya masih tampak ragu-ragu untuk bercerita kepada Rendy dan Ros.
"Sebenarnya apa kak? jangan membuatku mati karena penasaran seperti ini?" ujar Rendy.
"Benar kak, ceritakan saja kepada kami, jika kak Surya sedang ada masalah atau apa! semoga saja kita berdua bisa membantu. Benar kan sayang?" Ros menyentuh tangan Rendy, dan Rendy membalasnya dengan menggenggam tangan Ros yang hangat.
Huuuuh!
Surya menghela napasnya panjang, entah apa yang sedang ia pikirkan, namun tampaknya, setelah kepergian Mila dan Rico, Surya terlihat seperti Surya yang biasanya.
"Kenapa kak? apa ada masalah?" tanya Rendy lagi, "ayolah, ceritakan padaku, jika tidak! aku akan menyuruh mamah untuk membuatmu bercerita!" Rendy mengeluarkan jurus terakhirnya untuk membujuk Surya agar ia mau bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Surya.
"Sebenarnya..., aku sudah menemukan keluargaku Ren, Ros!" Surya berkata dengan tiba-tiba, membuat Rendy dan Ros saling pandang tidak percaya, dan beberapa detik kemudian, tampak Rendy dan Ros yang menatap lekat wajah Surya, mencoba mencari kebenaran tentang ucapannya barusan.
"Kak Surya tidak sedang bercanda bukan?" tanya Rendy.
"Apa kau melihat ada tampang bercanda dari wajahku?" jawab Surya dengan wajah seriusnya, "kau pikir aku berbohong?" lanjut Surya seraya bertanya.
"Bukan kak, bukan itu maksudku! Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu," jawab Rendy.
"Percaya lah kak, kami hanya kaget saja mendengarnya. Dan semua itu benar, maka kami juga ikut bahagia, atas kembalinya keluarga kak Surya. Bukan begitu sayang?" ujar Ros yang lagi lagi menatap Rendy lalu kembali menatap Surya.
"Aku percaya kepada kalian, dan terima kasih," balas Surya dengan lirih.
"Kenapa dari nada bicaramu, sepertinya kau menyimpan sesuatu yang menyedihkan kak?" tanya Rendy lagi.
"Ayahku sudah meninggal Ren," jawab Surya lirih.
Rendy dan Ros memegang tangan Surya yang diletakkan di atas meja, mencoba memberikan energi positif yang ada dalam diri Rendy dan Ros untuk Surya. Sedikit memberi semangat lewat sentuhan tangan.
"Aku turut bersedih kak?" Rendy dan Ros memandang wajah Surya yang jauh berbeda dari sebelumnya, raut wajah kesedihan yang mendalam dari wajah Surya yang terlihat jelas oleh Ros dan Rendy.
"Lalu, bagaimana dengan ibu dari kak Surya?" tanya Ros kemudian, "ada dimana sekarang?'' tanyanya lagi.
Surya menggelengkan kepalanya, ia enggan menjawab pertanyaan Ros, rasanya sangat berat, mengetahui jika keluarga nya masih ada dan selama ini sedang mencari cari Surya selama dua puluh lima tahun lamanya. Bukan karena benci atau tidak suka, tapi lebih tepatnya, Surya sangat kaget, dan masih belum bisa menerima semua kebenarannya.
Surya benar benar belum percaya sepenuhnya.
"Kami tidak akan memaksa kak Surya untuk menjawab semua pertanyaan kami jika kak Surya merasa enggan, tapi percayalah..., jika itu memang berat, maka berbagilah dengan yang lain, kami siap mendengarkan semua keluh kesan mu kak!" ujar Rendy dan Surya pun mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
"Terima kasih Ren, tanpamu dan keluarga mu, aku bukanlah apa apa! aku sangat berhutang Budi pada kalian semua!" balas Surya.
"Sudahlah kak, tidak usah kau ungkit ungkit lagi semua itu, itu sudah menjadi bagian dari masa lalu, kita bangun masa depan kita yang lebih cerah lagi!" tanggap Rendy.
"Oh iya kak, aku rasa..., kak Surya sangat cocok dengan Mila!" celetuk Ros membuat Surya yang tengah minum, seketika itu pun langsung tersedak dengan minumannya sendiri.
uhuk! uhuk!
"Maafkan aku kak! aku tidak bermaksud!" ujar Ros dengan tawanya yang tak tertahankan.
"Sayang, kenapa kau menggodanya," ujar Rendy seakan menyalahkan Ros, namun juga ikut tertawa bersama Ros.
"Maafkan aku sayang! aku refleks berkata seperti itu pada kak Surya! jujur aku tak bermaksud untuk- -
"Untuk membuatku tersedak bukan?" ujar Surya memotong ucapan Ros
"Haha!" Ros dan Rendy tertawa setelah Surya merubah kembali ekspresi wajahnya seperti tadi, saat ada Mila dan Rico bersama mereka. Dan kejahilan Ros dan Rendy pun di mulai kembali. Ros terus menggoda Surya, dan Rendy melengkapinya dengan tertawa.
Malam semakin larut, Ros dan Rendy sudah berada didalam mobil mereka menuju perjalanan pulang.
"Sayang?" tanya Rendy sambil mengusap kepala Ros yang di senderkan di dadanya.
"Kamu tidur sayang?" tanya Rendy kemudian.
"Tidak!" jawab Ros.
"Lalu, kenapa diam saja?" tanya Rendy lagi.
"Tidak papa, aku hanya sedang menikmati lagu ini?" Ros menjawab dengan menutup matanya dengan tangan yang tidak pernah diam menyusuri dada Rendy yang bidang.
"Begitukah?" balas Rendy.
"Ya!"
"Kenapa kau suka sekali menyentuh dadaku?" tanya Rendy yang kini menggenggam tangan Ros yang sedari tadi menyusuri dada bidangnya.
"Entahlah, ini membuatku nyaman?" jawab Ros sambil menguap.
"Benarkah?" tanya Rendy.
__ADS_1
"Hmmm...,"
"Sayang? menurutmu, siapa kedua orang tua Surya?" Rendy bertanya sambil menyentuh rambut Ros dan menciuminya dengan gemas.
"Sayang?" tanya Rendy lagi.
"Sayang?" karena merasa tidak ada jawaban sama sekali dari Ros, Rendy pun menundukkan kepalanya untuk melihat Ros. Dan tanpa disangka oleh Rendy, ternyata Ros sudah tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka, membuat rendy gemas ingin menciumnya.
Cup!
Rendy benar-benar mencium bibir Ros dengan sangat lembut, dan mendekap tubuh Ros semakin mendekat ke tubuhnya, menciuminya dengan penuh rasa sayang.
"Herman?" tanya Rendy kemudian.
"Ya Tuan!" jawab Herman sambil melirik ke arah kaca didepannya.
"Apa kau sudah menikah?" tanya Rendy.
"Sudah tuan!"
"Benarkah?"Rendy tampak tak percaya.
"Benar Tuan, saya sudah menikah, saya bahkan sudah mempunyai dua orang anak!" Herman menjawab seperti ingin meyakinkan Rendy.
"Ah..., iya, tentu saja kau sudah menikah dan mempunyai anak, umurmu kan beberapa tahun lebih tua dariku, dan itu artinya kau sudah tua! dan kau pasti sudah menikah dan mempunyai anak, anakmu bahkan sudah dua. Kenapa aku malah bertanya hal yang tidak berguna sama sekali seperti ini!" ucap Rendy begitu mengherankan dengan tangan yang terus mengusap kepala Ros yang berada di pahanya.
"Kenapa anda sangat menyebalkan Tuan!" batin Herman.
"Hei, Herman? kenapa kau tidak menjawab ucapanku?" Rendy menepuk jok depan mobilnya.
"Saya harus menjawab apa Tuan?" tanya Herman heran, ia bahkan mengerutkan keningnya cukup lama, saking bingungnya.
"Bodoh kau! bicara apa saja untuk menanggapi ucapanku barusan!" ujar Rendy.
"Saya memang beberapa tahun lebih tua dari anda Tuan. Maka dari itu, bersikaplah sedikit lebih sopan kepada saya Tuan, karena saya jauh lebih tua dari anda!" balas Herman dalam hati.
Bersambung...
Hai hai, berjumpa lagi kitaš yok..., yang mau ngasih kopi𤣠sini sini, mumpung akoh lagi ngantuk, dikasih kopi pasti langsung melek, apalagi kopinya kopi online, dijamin langsung semangat, bisa lanjut lagi deh bikin alur ceritanya š
__ADS_1
Ayo ayo, pada merapat ngasih kopiš¤£