
Masih di pagi yang sama, tempat yang berbeda, dengan orang yang berbeda pula.
Ros baru saja terbangun dari tidurnya setelah pergulatan panjangnya semalam bersama Rendy.
"Aaaaaaa...," Ros bersuara saat meregangkan kedua tangannya, "mengapa tubuhku lelah sekali?" ujar Ros
"Sepertinya aku sangat kelelahan- -
"Dan itu semua berkat aku, suamimu!" ujar Rendy yang memotong ucapan Ros, saat Rendy tiba di kamar dengan mendorong troli makanan.
"Iiish...," Ros tak menanggapi ucapan Rendy, Ros memalingkan wajahnya dan berlalu turun dari ranjang menuju kamar mandi.
"Kaki jenjangnya sangat menggoda ku!" ujar Rendy yang memperhatikan Ros dari atas sampai bawah, yang sedang berjalan menuju kamar mandi.
"Sulit sekali mengalihkan pandanganku dari tubuh istriku itu!" ujar Rendy lagi yang mengusap usap tengkuknya yang tidak gatal.
Beberapa saat kemudian, Ros keluar dari kamar mandi masih dengan mengenakan kemeja Rendy yang kelonggaran di tubuhnya. Karena Rendy yang menyuruh Ros untuk mengenakannya.
Bukannya Ros terlihat aneh dengan kemeja yang dikenakannya, justru kemeja yang Ros kenakan membuatnya semakin terlihat seksi dihadapan Rendy.
"Kanapa istriku yang cantik ini malah terdiam di sana?" ucap Rendy.
Ros pun menghampiri Rendy yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Kenapa dengan wajah cantik mu ini? kamu terlihat pucat!" ujar Rendy.
"Tidak papa sayang, aku hanya kelelahan," balas Ros.
"Benarkah? bahkan aku tidak merasakan lelah sedikitpun!" ujar Rendy sambil terkekeh.
"Ish, apakah makanan ini masih panas?" tanya Ros sambil menatap soto dihadapannya dan Rendy silih berganti.
"Tentu saja! aku memesannya langsung pada sang koki untuk membuatkan soto yang dulu pernah kamu buatkan untukku!" jawab Rendy dengan bangganya.
"Benarkah? sepertinya jika soto ini aku masukkan kedalam mulut suamiku yang tidak mau diam ini, pasti akan sangat lezat dan menghangatkan perut!" balas Ros sambil menatap kesal suaminya.
Bisa bisanya Rendy mengatakan jika ia tidak merasakan lelah sedikitpun setelah pertempuran panjang mereka tadi malam.
"Haha!" Rendy tertawa renyah, "apa maksudmu sayang! aku kan hanya bercanda!" ujar Rendy kemudian.
Huh! Ros mendelik kan matanya.
__ADS_1
"Sarapan lah sayang, setelah ini kita akan pulang ke rumahku! ini adalah hari terakhir kita berada di kamar hotel dan juga hotel ini!" ucap Rendy mengalihkan pembicaraan pagi ini.
"Benarkah?" ujar Ros yang langsung tersenyum mengembang.
"Tentu saja!" balas Rendy.
"Akhirnya..., aku sudah bosan berada di kamar ini terus menerus!" ujar Ros.
"Kamu tidak suka berada disisi ku, bersama ku di sini?" ujar Rendy.
"Bukan! bukan seperti itu maksudnya! maksudku- -
"Aku hanya bercanda sayang! kenapa berubah serius seperti ini?" ucap Rendy yang memotong ucapan Ros.
"Kita habiskan sarapan kita, lalu kita bersiap untuk pulang ke rumah!" ucap Rendy lembut, Ros pun menganggukkan kepalanya.
Rendy memberikan satu mangkuk soto kepada Ros sebagai sarapan, karena ros mengigau ingin memakan soto bersama ayahnya semalam.
"Ayah, Ros ingin makan soto bersama ayah! Ros juga sudah pandai membuat soto sekarang!"
Rendy yang melihat sekaligus mendengar Ros mengigau pun, pagi pagi sekali langsung terbangun. Membersihkan tubuhnya dan langsung menuju dapur hotel setelah melihat Ros makasih tertidur lelap di bawah selimut, menemui koki di hotel tempatnya dan Ros menginap beberapa hari ini.
"Sayang?" panggil Ros.
"Kamu ko tau, aku mau makan soto pagi ini!" tanya Ros.
"Tentu saja aku tau! suami mu ini, bukan hanya tampan dan menggoda, tapi juga selalu tau apa yang istrinya inginkan, walaupun istrinya itu tak mengatakan apapun pada ku!" jawab Rendy sambil cengengesan.
Mendengar jawaban Rendy, Ros puan langsung berhamburan memeluk Rendy dengan eratnya, membuat Rendy bahagia pagi ini.
"Kenapa suamiku ini begitu imut dan menggemaskan!" ujar Ros sambil mencubit kedua pipi Rendy.
"Aku tidak ikut dan menggemaskan sayang! aku ini tampan dan menggoda! dan sekarang kau sedang menggodaku dengan kemeja longgar mu itu!" balas Rendy sambil menyeringai.
"Hei..., menggoda apanya, aku kan hanya memelukmu!" ujar Ros yang langsung menjauhi Rendy dan duduk di kursinya.
"Dengan dirimu memelukku, itu sudah seperti godaan untuk ku sayang!" balas Rendy sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ishh..., aku mau melanjutkan sarapan ku!" ujar Ros mengalihkan topi pembicaraan, yang pastinya jika di teruskan pasti akan merembet kemana-mana.
"Haha! istriku yang cantik itu malu! gemasnya!" ujar Rendy sambil memasukkan sesendok soto dengan nasi ke dalam mulutnya.
"Mau ku suapi?" tawar Ros.
__ADS_1
"Serius?" Rendy balik bertanya.
"Tentu!" balas Ros.
"Baiklah jika istriku ini memaksa!" sahut Rendy.
Ros mengerutkan keningnya sambil tersenyum, matanya menyipit saat mendengar kata memaksa dari mulut Rendy.
"memaksa apanya, aku bahkan tidak menawarkan nya dua kali!" batin Ros yang bergumam. Namun, tetap saja Ros melakukan apa yang ingin ia lakukan untuk suaminya, yaitu menyuapi Rendy dengan senang hati.
Dan begitupun dengan Rendy, Rendy menerima siapa demi suapan dari Ros dengan senang hati dan suasana hati yang sangat baik.
Mereka berdua akhirnya makan dengan saling menyuapi satu sama lain, sama seperti biasanya.
...***...
"Apa maksudnya ini dok! tolong jelaskan!" tanya Surya.
"Tolong rahasiakan semua ini Surya! saya yakin, jika seseorang mengetahui jika kau adalah anak dari keluarga Dipradja, maka kau dan ibumu pasti akan celaka!" ujar Fahri yang lagi lagi membuat Surya tidak mengerti.
"Ibu?" tanya Surya.
"Ya Surya, kau adalah anak dari keluarga Dipradja, kau anak kakak ku, Ayunda Dipradja dan Agung Dipradja. Kau adalah Surya Dipradja, yang dua puluh tujuh tahun yang lalu di culik oleh seseorang yang ingin melenyapkan mu dan ayahmu!" ucap Fahri menjelaskan kepada Surya.
Terlihat Surya meremas kertas dan amplop yang berada ditangannya. Ada raut kemarahan dan kekesalan dari raut wajah Surya yang terlihat oleh Fahri.
"Anda pikir saya bodoh Dok?" tanya Surya dengan nada penuh penekanan.
"Maksudmu?" balas Fahri yang tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan Surya.
"Apa Anda pikir saya ini bodoh! dengan begitu mudahnya saya bisa mempercayai semua ucapan dokter Fahri kepada saya! balas Surya dengan ekspresi wajah datar.
"Surya, saya tidak berbohong Surya. Apa yang saya ucapkan semuanya adalah kebenaran! kau bisa lihat sendiri kan, hasil lab dari kertas yang kau pegang itu!" ujar Fahri meyakinkan Surya.
"Apa hanya dengan sebuah hasil lab ini saya bisa percaya dengan begitu mudahnya?" ujar Surya yang masih tidak bisa menerima.
"Surya- -
"Hentikan Dok! Dokter jangan membodohi saya! kedua orang tua saya tidak tahu ada dimana! apakah mereka masih hidup? atau bahkan sudah tiada! saya tidak mengetahui keberadaan mereka. Dan sekarang dokter membawakan saya surat lab ini yang mengatakan bahwa saya adalah anak dari keluarga Dipradja. Saya mengenal keluarga itu dok! semua anggota keluarga Dipradja sudah meninggal puluhan tahun yang lalu!" ujar Surya panjang lebar, membuat Fahri menggelengkan kepalanya.
"Tidak Surya, hanya ayahmu saja yang sudah meninggal, ibu mu masih hidup!" balas Fahri.
Bersambung...
__ADS_1