
Hari sudah sore kembali. Rendy memutuskan untuk tidak masuk kantor hari ini. Pria tampan yang masih mengharapkan maaf dari istrinya itu,asih berusaha untuk meminta sebuah kata memaafkan dari mulut sang istri.
Rendy berjalan perlahan menuju dapur. Sedari pagi sampai siang, Ros puasa berbicara dengannya. Jangankan untuk menyapa, sekedar bertatap muka saja, Ros sepertinya masih enggan. Rendy menjadi gemas di buatnya.
"Ayolah Mah, bantu Rendy..." bujuk Rendy pada Ajeng dan Maya.
Kedua wanita itu hanya bisa mengangkat kedua bahu masing-masing, menyaksikan tingkah Rendy yang tak ubah anak kecil yang di diamkan ibunya.
Bukan karena tidak kasihan. Ibu dan mertuanya itu hanya ingin Rendy dan Ros dapat menyelesaikan masalah mereka tanpa ikut campur kedua orang tuanya dari kedua belah pihak.
"Maaf Ren, Mamah dan Mamah mertuamu, ingin kalian menyelesaikan masalah kalian masing-masing-- Bujuklah Ros, mamah yakin, dia akan memaafkan dirimu, asal kamu bersabar!" ujar Ajeng seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Ayo Jeng, kita jalan-jalan sore!" ajak Ajeng pada sang besan. Maya langsung mengangguk senang. Sudah lama dirinya tidak berjalan-jalan kaki, walaupun hanya di sekitaran rumahnya.
"Ayo!" sambut Maya.
"Bujuk dia. Buktikan, kalau kamu masih Rendy yang dulu, tidak berubah sama sekali. Tunjukan juga semua perhatianmu pada Ros. Mamah yakin, Ros akan luluh!" ujar Maya sebelum dirinya melangkah pergi mengikuti besannya.
"Baik mah!" seperti mendapatkan semangat baru, Rendy langsung mengangguk dan tersenyum. Ia akan melakukan apa pun, agar Ros kembali padanya dan juga bisa memaafkannya.
...***...
Seperti seorang maling yang takut ketahuan pemilik rumah, Rendy berjalan mengendap-endap menuju tempat Ros berada. Bukan karena takut. Akan tetapi, lebih pada perasaan tidak enak yang membuat pria tampan itu, bersikap demikian.
"Ada apa?" tanya Ros dingin. Rendy tak menyangka, jika sang istri mengetahui keberadaannya. Padahal, Rendy sudah berjalan sepelan mungkin. Bahkan, Rendy sampai tak mengeluarkan suara sedikit pun.
'Uhuk! Uhuk!'
Baru di tanya seperti itu, Rendy sudah salah tingkah. Ia langsung terbatuk kala Ros bertanya 'ada apa?'
"Minum!" Ros menyodorkan segelas air putih yang langsung di terima oleh Rendy.
Dengan sekali tegukan saja, Rendy sudah menghabiskan semua isi dari gelas yang Ros sodorkan.
"Pelan-pelan!" kata Ros memperingatkan. Namun, masih dengan nada yang ketus dan dingin.
"Terima kasih, sayang," kata Rendy.
"Hem!" jawab Ros tanpa mengalihkan pandangannya dari buah-buahan yang sedang ia iris, untuk campuran dari puding buah yang akan ia buat.
"Bicaralah Ros! Aku tersiksa bila kamu terus menerus mendiami aku seperti ini," ujar Rendy memelas.
__ADS_1
Ros masih terdiam. Tangannya terus sibuk mengupas dan memotong buah-buahan.
"Ros?" panggil Rendy. Ros masih tetap diam.
'Krek!'
Ros memotong buah apel dengan tenaga penuh.
'Glek!'
Rendy tertegun sekaligus terkejut. Ia tidak memerhatikan, jika Ros sedang memegang sebuah pisau buah yang tajam.
Takut bukan kepalang. Namun, harus Rendy hadapi. Sekalipun nanti ia akan di iris-iris tipis oleh pisau yang Ros pegang.
"Harus bicara apa aku?" ketus Ros. Ia berbalik badan dan menatap Rendy dengan tajam. Bahkan, tatapannya itu mengalahkan ketajaman pisau yang sedang ia pegang. Mampu menghujam dan merobek pertahan Rendy.
"Ma-maafkan aku Ros! Kamu boleh menghukum ku. Tapi, jangan mendiamkan aku seperti ini. Aku paling tidak bisa di diamkan seperti ini," papar Rendy membuat Ros memperhatikannya.
"Lalu?"
"Lalu... Aku akan melakukan apa pun, asalkan kamu mau memaafkan aku," jawab Rendy cepat. Ia tidak memikirkan jawabannya itu terlebih dahulu.
"Benar?" tanya Ros menyeringai.
"Serius?" Ros kembali bertanya.
"Beratus rius, sayang! Bukan serius lagi!" jawab Rendy lagi, secepat seperti sebelumnya.
"Kakak tidak berbohong?" Ros masih terus bertanya.
"Tentu saja tidak!" Rendy selalu cepat menjawab pertanyaan dari Ros.
"Baiklah..." kata Ros yang masih belum meneruskan ucapannya.
"Baiklah... Apa sayang?" tanya Rendy penasaran.
"Aku akan memikirkan apa yang harus kamu lakukan untuk mendapatkan maafku," jawab Ros yang kembali pada buah-buahan yang baru saja ia tinggalkan.
"Aku menunggunya sayang," mata Rendy berbinar. Secercah harapan, sudah menemui titik terang.
...***...
__ADS_1
"Cepat ikuti dia Mil," ujar Nina yang berada di sebelah Mila.
"Iya Mbak. Jalannya lebih cepat lagi!" tambah Anto.
"Iya, iya..." jawab Mila mulai kesal. Sedari tadi, kedua temannya ini terus menerus menyuruhnya untuk menyetir dengan cepat, agar tak kehilangan jejak Anita yang sedang mereka ikuti.
"Ayo Mil, lebih cepat lagi!" Nina masih terus memaksa Mila.
"Iya... Mbak Mila lelet amat sih! Bisa kehilangan jejaknya wanita siluman itu, kita!" Anto juga tak kalah menyudutkan Mila.
Mila sudah sangat geram. Wanita yang sedari tadi mengemudi itu marah, wajahnya sudah memerah. Bahkan, tangannya sudah mengepal erat kemudi.
"Ko malah makin lambat sih Mil?" kata Nina yang tak melihat dan menyadari perubahan wajah Mila yang sudah memerah marah.
"Iya. Kita 'kan jadi tertinggal in--
"Diaaaaam!" Teriak Mila akhirnya. Ia sudah tak mampu lagi untuk menahan emosi, mendengar suara suara bising dari teman-temannya yang terus menyudutkan dirinya.
"Ko malah marah sih Mil?" tanya Nina heran. Tidak sadar dengan apa yang membuat Mila menjadi seperti ini.
"Iya... Ko Mbak Mila malah teriak sih," Anto pun sama saja. Sebelas dua belas dengan Nina.
"Hei! Bagaimana aku tidak marah hah! Kalian terus menyalahkan dan menyudutkan aku. Menyuruhku ini dan itu, tanpa memedulikan emosiku. Kalau begini terus, kalian saja yang menyetir! Biar aku yang menyuruh-nyuruh kalian!"
Skak!
Mila berujar begitu lantang, membuat Nina dan Anto terdiam. Jika sudah begini, Nina dan Anto tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena di antara mereka, hanya Mila lah yang bisa mengemudikan mobil dengan baik dan lancar.
"Kenapa kalian diam?" suara Mila begitu menggelegar. Nina dan Anto semakin terdiam. Keduanya harus menemukan cara, agar Mila mengalihkan dan melupakan emosinya. Juga, agar dia mau kembali mengemudi dan mengikuti kemana Anita pergi.
"Hehe!" Nina dan Anto kompak menunjukkan senyum manis mereka di depan Mila.
"Tidak usah senyam-senyum begitu. Aku kesal melihatnya!" ujar Mila yang tak tersentuh sama sekali dengan senyuman kedua temannya.
"Ayolah Mil... Maafkan kami berdua ya? Demi pertemanan kita dan demi Ros. Kita harus saling memaafkan kesalahan dan kekhilafan teman kita yang lain-- Mungkin saja aku dan Anto bersikap seperti itu, karena kesal kepada si wanita siluman itu. Kamu tau sendiri 'kan?" kata Nina yang mulai membujuk Mila.
"Benar Mbak Mil--
"Sudah diam!" Mila memotong ucapan Anto yang masih belum selesai.
Suara mesin sudah kembali terdengar. Nina dan Anto bersorak dalam hati.
__ADS_1
"Kalian siap?" tanya Mila penuh semangat. Kali ini, Mila akan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, agar kedua temannya ini tau, seperti apa Mila jika ia sudah kesal.
Bersambung...