Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 63


__ADS_3

Argana kini berada di perusahaan Hanju group seorang diri. Ia lalu memasuki ruangan Dilan yang berada di lantai atas, kemudian ia melihat Dilan Reno dan Reysa berada disana dengan senyum mengembang di wajah mereka masing-masing.


"A-argana?" kaget Reysa.


Argana pun tersenyum mendudukkan diri dihadapan mereka. "Apa kabar paman? Sepertinya paman terlihat bahagia sekali hari ini?" ucap Argana membuat Dilan seketika menghilangkan senyuman itu.


Kemudian Dilan menatapnya dengan tatapan tidak suka. "Apa yang membuat mu datang kemari?".


"Tentu saja mengunjungi paman setelah 5 tahun lamanya kita tidak pernah bertemu lagi. Apa kabar paman baik-baik saja? Aku sangat merindukan paman".


Mendengar Argana yang sedang mengejeknya membuat Dilan semakin tidak menyukainya. "Sekarang katakan apa tujuan mu kemari? Kalau tidak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan, sebagainya kamu pergi saja dari sini sebelum saya..


"Sebelum apa paman? Sebelum paman menyuruh petugas keamanan membawa ku pergi dari sini Hahahahha.. Ayo silahkan paman panggil mereka, tapi sebelum itu aku harus memberitahu paman terlebih dahulu kalau perusahaan ini akan segera kembali ke tangan pemilik yang sebenarnya" seringai Argana menyilang kedua kakinya dihadapan Reysa dan suaminya.


Lalu Reysa menatap Argana tidak habis pikir kalau Argana seberani itu akan melawan Dilan yang selama ini tidak pernah Argana lawan.


"Tidak usah melihat ku seperti itu Rey. Argana yang dulu kamu kenal sudah tiada. Berhenti menatap ku seperti itu".


Reno yang tidak terima istrinya diperlukan seperti itu oleh Argana tidak terima, ia pun langsung menarik kerah baju Argana dengan sangat marah.


"Tidak Reno" teriak Reysa kaget. "Jangan lakukan itu Reno, jangan memukulnya".


Sedangkan Argana malah tersenyum sinis kepadanya dan juga kepada Reysa membuat Reysa lagi-lagi merasakan sakit hati tidak menyangka kalau Argana akan melihatnya seperti itu. Tatapan sendu dahulu yang pernah ia lihat benar-benar sudah menghilang seiringnya waktu berjalan.


"Hentikan!" ujar Dilan.


Reno lalu melepaskan Argana menatapnya dengan tatapan masih sangat marah. "Kamu tenang dulu Reno. Ayo duduk, biarkan dia bicara sama papa".


"Aku tidak suka Rey kalau kamu diperlukan seperti ini oleh dia".


"Aku tau, maka dari itu kamu tenang dulu. Ini tidak ada urusannya dengan kita, sebaiknya kita keluar saja ayo. Pa, kami permisi dulu".


"Mmmmm" balas Dilan.


Kemudian menatap Argana dengan tajam, "Apa yang sebenarnya tujuan mu kemari?".

__ADS_1


Lagi-lagi Argana tertawa, "Bukankan aku sudah mengatakan kepada paman kalau sebentar lagi perusahaan ini akan jatuh ke tangan yang sebenarnya. Paman lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan".


"Kurang ajar" tiba-tiba Dilan tampak memucat, ia meremas telepon yang berada di sampingnya untuk menghubunginya petugas keamanan agar segera membawa Argana pergi dari sana.


"Paman tenang saja, aku bisa keluar sendiri dari sini. Dan kita lihat saja nanti paman, aku akan membongkar semua kejahatan yang telah paman lakukan dengan perusahaan ini".


Argana bangkit berdiri, setelah itu ia pergi meninggalkan ruangan Dilan menuju ruangan Reza yang selama ini Lucas perintahkan untuk memantau setiap gerak gerik Dilan.


"Kamu sudah datang Arga?" senyum Reza menyuruhnya duduk. "Bagaimana kabar mu Argana?".


"Baik seperti yang bapak lihat sekarang ini" tawa Argana melihat ketidaknyamanan di wajah Reza saat ia menyebutnya dengan sebutan bapak sewaktu kuliah.


"Hentikan memanggil ku seperti itu Arga. Kamu panggil saja aku seperti kamu memanggil Dilan. Kamu membuat ku tidak nyama saja".


"Terus kapan paman berencana untuk menikah? Apa paman akan seperti ini sampai seterusnya? Ckckc.. Paman sangat menyedihkan sekali".


Reza tertawa, "Kamu urus saja masalah percintaan mu tanpa mengurusi kehidupan pribadiku Arga. Terus bagaimana? Apa Lucas sudah memberitahu kamu yang sebenarnya sebelum dia berangkat keluar negeri?".


"Sudah paman, sebelum papa semalam berangkat, papa sudah memberitahu yang sebenarnya kalau selama ini paman lah yang membantu papa untuk mencaritahu kebusukan paman Dilan".


Argana lalu menerimanya, "Tapi kenapa harus aku paman yang menyelesaikan masalah ini? Kenapa tidak papa saja?".


"Aku juga pernah mengatakan itu kepada papa kamu. Tapi dia berkata kepada ku, kalau dia ingin melihat seberapa hebatnya seorang Argana yang kini sudah tumbuh dewasa".


"Jadi selama ini papa sudah tau kebusukan yang paman lakukan?".


"Iya, aku dan papa kamu sudah tau selama ini. Cuman papa kamu masih menunggu sampai tiba waktunya, dan sekarang ini adalah waktunya. Semuanya ada di tangan kamu Arga, aku sudah memberikan semua bukti itu dan juga ini beberapa berkas yang perlu kamu butuhkan saat pengajuan nanti".


Argana menerimanya lagi, "Aku harap kamu segera menyelesaikan masalah ini. Aku sudah terlalu lama menunggu mu".


"Paman mau kemana setelah itu?".


"Aku akan pergi dengan dunia ku sendiri tanpa harus di hantu i oleh perkejaan ini lagi".


"Terima kasih paman sudah mambantu papa selama ini. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikan paman..

__ADS_1


"Lupakan Reysa. Hanya itu saja yang aku minta Arga" jawab Reza dengan mantap.


Argana lalu tersenyum, "Baiklah kalau itu saja yang paman minta dari ku. Secepat mungkin aku akan melupakan Reysa".


"Terima kasih. Aku yakin kamu akan menemukan yang terbaik darinya".


"Mmmmm".


.


Di dalam rumah kontrakan sederhana milik Nita, ia sedang menonton televisi seorang diri. Dan hari ia tidak bekerja, ia telah meminta izin kepada sang manager untuk beberapa hari kedepannya ia tidak bisa masuk bekerja seperti biasanya dikarenakan kondisi tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.


Namun saat itu manager Riska sempat menolak kalau saja Nita tidak langsung mengancamnya dengan tidak akan bekerja perusahaan itu lagi kalau ia tidak memberikan cuti sakit.


Kemudian Nita menyambar pilnya, ia melihat pil tersebut dengan wajah kesedihan. "Sekarang hidup ku bergantung disini" lalu menghela nafas berat. Setelah itu ia segera meminumnya hingga beberapa menit ia merasa mengantuk.


"Hhooaammm.. Akh, aku mengantuk sekali".


Tok.. Tok...


"Nita" panggil seseorang dari luar pintunya.


Nita yang mendengarnya langsung bisa menebak suara tersebut adalah milik Mita.


"Aku disini. Masuklah".


Mita pun memasuki rumahnya sambil membawa sebuah kantong kresek ditangan kanannya. "Aku sudah membawa pesanan kamu Nita, tapi kenapa kamu tiba-tiba ingin sekali makan mie ayam disiang hari ini?".


"Kamu jam berapa berangkat kerja Mita?" tanya Nita tanpa menjawab pertanyaan.


"Seperti biasa jam 2 nanti. Ini masih jam 11 kurang, aku masih punya waktu untuk bersantai-santai. Kamu mau aku taruh di mangkuk atau di piring".


"Ya di mangkuk lah Mita. Kamu ada-ada saja deh" tawa Nita membuat Mita ikutan tertawa memberikan Mia ayam miliknya.


"Terima kasih Mita".

__ADS_1


"Sama-sama".


__ADS_2